- Ikan ipun merupakan ikan sejenis teri yang biasanya didapatkan masyarakat di Sungai Nangagete, Kabupaten Sikka, NTT.
- Masyarakat yang menetap di pinggiran Sungai Nangagete menganggap, kemunculan ipun di saat-saat tertentu sebagai rezeki dari Ama Pu (Sang Pencipta).
- Dalam pandangan ilmiah, ipun bukan sekadar ikan kecil biasa. Ipun merupakan fase awal kehidupan ikan mulai dari pre-larva, larva, hingga juvenil yang tengah melakukan ruaya dalam siklus hidup ikan.
- Hingga kini, jenis ipun belum dapat diidentifikasi pasti. Diperlukan pengamatan mendalam, identifikasi morfologi dan genetik, serta penelitian lanjutan untuk mengetahui spesies aslinya.
Albinus Lese berjalan di sisi utara Sungai Nangagete. Warga Kampung Wairbou, Desa Watuomok, Kabupaten Sikka, NTT, ini tampak gelisah.
“Bila hujan, takunya sungai banjir,” jelasnya, akhir Maret 2025.
Bila banjir maka ikan ipun, sejenis teri, yang akan ditangkap sulit didapat.
“Kadang banjir juga karena dibukanya pintu air waduk Napun Gete, sehingga airnya mengalir ke sungai,” ucapnya.
Markus Moro, warga Wairbou lainnya, juga mencari ipun menggunakan klabur, alat berbentuk kerucut yang terbuat dari seng. Dulu klabur dibuat dari kulit kayu, ujungnya disumbat dengan anyaman daun lontar.
“Kini ipun sulit dicari,” ujarnya.

Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Dampak banjir
Petrus Pile, warga Kampung Wailoke, Desa Udek Duen, Sikka, mengatakan ipun yang dia tangkap bukan saja untuk dikonsumsi keluarga, tetapi juga dijual.
Pengolahannya masih tradisional, yakni dibakar di daun pisang, digoreng menggunakan tepung beras atau terigu, maupun diawetkan agar tahan hingga setahun.
“Sulit dapat banyak sebab air sungai kotor, tidak jernih dulu,” ucapnya.
Maria Wiloborda, warga Wairbou, menuturkan sejak nenek moyang pihaknya meyakini apabila hasil tangkapan ipun melimpah maka tahun depan hasil panen akan berkurang atau gagal. Namun bila tangkapan sedikit, diyakini panen padi ladang dan jagung tahun depan akan melimpah.
Adanya larangan mandi di kali menggunakan sabun, efektif untuk menjaga kualitas air.
“Dahulu banyak ikan dan udang di Nangagete, namun sejak sungai dikeruk dan bebatuan ditambang maka keberadaan ikan dan udang menurun drastis,” ucapnya.
Kini, hanya sedikit ipun yang tumbuh hingga besar akibat kotornya air dan dampak banjir. “Masyarakat juga sudah jarang mancing,” jelasnya.

Masyarakat Tana Ai, sebutan bagi suku yang mendiami wilayah timur Kabupaten Sikka, masih memegang teguh adat dan budaya. Masyarakat yang menetap di pinggiran Sungai Nangagete menganggap, kemunculan ipun di saat-saat tertentu sebagai rezeki dari Ama Pu (Sang Pencipta).
Menurut cerita masyarakat Tana Ai, ipun muncul dari gumpalan besar menyerupai kantung yang dimuntahkan seekor ikan besar yang disebut ikan raja. Gumpalan ini berupa ikan-ikan kecil mirip ikan teri halus. Satu gumpalan berada di daerah Iyangloeng dan satu lagi di Nangamera.

Fenomena ipun
Di Sikka, masyarakat mengenal istilah ipun untuk ikan ukuran sangat kecil, yang sering muncul di sekitar muara Sungai Nangagete.
Christofel Oktavianus Nobel Pale, Dosen dan Ketua Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, mengatakan dalam pandangan ilmiah, ipun bukan sekadar ikan kecil biasa.
Ipun merupakan fase awal kehidupan ikan mulai dari pre-larva, larva, hingga juvenil yang tengah melakukan ruaya dalam siklus hidup ikan.
“Ruaya atau pergerakan ikan dari satu tempat ke tempat lain, menjadi momentum bagi kelangsungan hidup ipun,” terangnya kepada Mongabay, Jumat (24/10/2025).

Pada fase ini, ikan-ikan muda mencari sumber makanan baru, sekaligus melanjutkan proses regenerasi alamiah di habitat perairan payau dan sungai. Fenomena ipun sering terlihat dalam jumlah besar, membentuk gerombolan padat dengan pola pergerakan teratur.
Formasi itu bukan kebetulan, melainkan strategi pertahanan alami menakuti predator di perairan terbuka. Namun, memasuki muara sungai, gerombolan ipung pecah, masing-masing individu melanjutkan perjalanan menuju sungai. Di sinilah tantangan besar dimulai.
“Larva harus beradaptasi dari lingkungan laut yang hipertonik, dengan kadar garam tinggi, menuju lingkungan sungai yang hipotonik, dengan kadar garam jauh lebih rendah,” ungkapnya.

Christofel menjelaskan, untuk bertahan hidup di sungai, tubuh mereka melakukan penyesuaian osmoregulasi menakjubkan. Mengurangi asupan garam, membuang kelebihannya melalui insang, dan meningkatkan produksi urine encer untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, adalah metode yang dilakukan ipun.
Secara visual, larva ipun yang baru menetas tampak transparan, karena sel pigmen atau kromatofora di kulitnya belum berkembang sempurna.
“Pigmen seperti melanin mulai terbentuk, memberi warna gelap yang menjadi ciri khas pada ikan yang bertumbuh menjadi dewasa,” terangnya.
Hingga kini, jenis ipun belum dapat diidentifikasi pasti. Diperlukan pengamatan mendalam, identifikasi morfologi dan genetik, serta penelitian lanjutan untuk mengetahui spesies aslinya.
“Fenomena ipun menjadi pengingat bahwa di balik kehidupan kecil di muara, tersimpan misteri besar tentang kehidupan laut dan sungai yang menunggu diungkap,” ucapnya.
*****