- Pengetahuan tentang penyakit komodo yang bisa menular ke manusia dan sebaliknya masih sangat terbatas. Meski begitu, kita patut mewaspadai sumber penyakit dari luar yang masuk ke kawasan, terutama lewat satwa yang menjadi mangsa komodo.
- Interaksi antara manusia dan komodo yang tidak terkontrol meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis. Sementara aktivitas pariwisata menghasilkan polutan yang berpotensi memberi tekanan pada habitat komodo.
- Caplak adalah parasit eksternal yang mengisap darah inangnya. ada tiga jenis caplak yang ditemukan pada komodo dan telah teridentifikasi, salah satunya adalah Amblyomma helvolum.
- Konsep One Health mengintegrasikan kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan yang bermuara kesejahteraan bersama.
Kadal raksasa ini menarik minat ratusan ribu wisatawan tiap tahunnya ke Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Mereka ingin melihat langsung komodo (Varanus komodoensis) di habitat liarnya. Komodo, adalah sisa reptil purba yang masih hidup dan tetap menunjukkan perangai primitifnya. Melihatnya seperti membawa kita ke era dinosaurus, meski sebenarnya komodo muncul jauh sesudah era itu.
Jika ada istilah catwalk, semestinya ada istilah komodowalk. Saat melangkah, binatang ini seolah melempar kaki-kakinya lalu menarik kembali, membentuk lintasan melengkung. Kepalanya bergoyang mengikuti goyangan ekor saat berjalan. Lidahnya menjulur seperti ular mengawasi sekitar.
Namun, tingginya minat wisatawan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan sekaligus kelestarian satwa ini. Interaksi antara manusia dan komodo yang tidak terkontrol meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis. Sementara aktivitas pariwisata menghasilkan polutan yang berpotensi memberi tekanan pada habitat komodo.

Zoonosis
Wisnu Nurcahyo, Guru Besar Parasitologi Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan ada beberapa bakteri pada reptil yang bersifat zoonosis atau zoonotik. Dia mencontohkan, antara lain Salmonella, Enterobacter, Micobacterium.
“Meskipun masih belum banyak penelitian tentang penyakit pada komodo, namun bakteri yang normal ada di liur komodo juga dapat menyebabkan intoksikasi. Bakteri pada saliva tersebut di antaranya Pasteurella, Proteus, Providencia, Staphylococcus, Streptococcus,” ungkap Wisnu kepada Mongabay melalui pesan pendek, Sabtu (27/9/2025).
Menurut dia, saat ini pengetahuan tentang penyakit komodo yang bisa menular ke manusia dan sebaliknya masih sangat terbatas. Terlebih kekerabatan manusia dan reptil cukup jauh, sehingga agen penyakit yang cocok di keduanya, misalnya, tidak sebanyak penyakit yang menular dari manusia ke satwa primata.
Meski begitu, kita patut mewaspadai sumber penyakit dari luar yang masuk ke kawasan, terutama lewat satwa yang menjadi mangsa komodo.
“Bila berbicara mengenai penyakit yang masuk ke kawasan, kita juga perlu waspada pada penyakit yang mungkin masuk dan menginfeksi satwa pakan komodo. Karena, ketersediaan mangsa akan menjamin keberlangsungan komodo,” katanya.
Untuk parasit, ada potensi protozoa saluran pencernaan seperti Cryptosporidium, yang dapat menyebabkan diare.
“Ada juga parasit eksternal, caplak komodo dapat menggigit memakan darah manusia,” paparnya.

Pengisap darah
Caplak adalah parasit eksternal yang mengisap darah inangnya. Bersembunyi di lipatan kulit, membuat caplak sulit dijangkau. Menurut Aji Winarso, mahasiswa doktoral Fakultas Kedokteran Hewan UGM, ada tiga jenis caplak yang ditemukan pada komodo dan telah teridentifikasi, salah satunya adalah Amblyomma helvolum.
“Caplak sangat memilih inang dalam mengisap darah. Namun, jenis Amblyomma helvolum dapat menggigit hewan selain komodo, termasuk manusia,” jelasnya kepada Mongabay melalui email, Minggu (28/9/2025).
Menurut Aji yang pernah meneliti infeksi parasit Kapsulotaenia sandgroundi, infeksi berat yang disebabkan oleh caplak dapat menyebabkan anemia dan gangguan pertumbuhan pada komodo. Apalagi jika caplak membawa patogen penyakit darah.
Tiga caplak itu, selain A. helvolum, adalah Amblyomma robinsoni dan Aponomma komodoense. Menurut M Jeri Imansyah yang meneliti caplak pada anakan komodo yang baru menetas, kemungkinan caplak telah mengembangkan strategi untuk menjadi parasit bagi anakan komodo saat keluar dari sarangnya.
Sejauh ini, caplak spesies A helvolum berpotensi menjadi vektor penghubung patogen dari satwa liar ke manusia. Berbagai mikroba potensi patogenik telah terdeteksi pada A helvolum. Di antaranya Rickettsia, Anaplasma, Borrelia, dan Hepatozoon.
“Komodo dapat terinfeksi parasit yang ditransmisikan dari lingkungan, air, makanan, dan vektor. Parasit pada komodo yang ada di taman nasional sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan dalam keseimbangan. Perlu dijaga agar tidak ada parasit baru yang datang,” jelasnya.

Keseimbangan alam
Menurut Hendrikus Rani Siga, Kepala Balai TN Komodo, populasi komodo fluktuatif sesuai dengan ketersediaan populasi satwa mangsa di alam. Tahun lalu, populasinya masih dalam rentang stabil. Laporan Balai TNK yang dikutip Antara (7/3/2025) itu menyebut, pada 2018 sebanyak 2.897 ekor. Pada 2019 menjadi 3.022 ekor, lalu 3.163 ekor (2020), 3.303 ekor (2021), 3.156 ekor (2022), 3.396 ekor (2023), dan 3.270 ekor (2024).
Sejak 2019, Labuan Bajo ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Jumlah kunjungan wisatawan ke pulau Komodo yang menjadi magnet di kawasan ini pun ikut terdongkrak. Namun di balik gemerlap pariwisata super premium ini, juga mengancam habitat alami dan populasi komodo.
“Keseimbangan alam liar harus terpelihara agar roda ekosistemnya berjalan normal. Pengelolaannya berbasis pariwisata berkelanjutan,” jelas Wisnu.
Konsep One Health One Welfare yang didorong oleh organisasi dunia seperti WHO, FAO, dan sejumlah organisasi sipil serta individu, menjadi pola yang bisa diterapkan pada pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Konsep ini mengintegrasikan kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan yang bermuara kesejahteraan bersama.
“Kepada warga lokal dan pengunjung dilakukan edukasi risiko zoonosis, peningkatan fasilitas kesehatan dan sanitasi di area wisata dan desa, screening kesehatan pengunjung, pelaksanaan surveillance kesehatan bagi pemandu wisata dan masyarakat sekitar,” terang Wisnu.
Untuk kesehatan satwa liar melalui monitoring kesehatan populasi komodo, menjaga jarak interaksi satwa dengan manusia, juga larangan memberi makan satwa agar tidak terjadi perubahan perilaku dan kontak berisiko.
Sementara, untuk kesehatan lingkungan berupa pengelolaan limbah dan sampah, konservasi habitat asli agar satwa berada dalam ekosistem sehat, hingga pengendalian pembangunan fasilitas wisata agar tidak menurunkan daya dukung ekosistem. Sedangkan One Welfare mewujudkan kesejahteraan komodo dan satwa lain, masyarakat lokal, juga wisatawan.
Referensi:
Winarso, A., Maha, I. T., Nurcahyo, R. W., Priyowidodo, D., & Foitová, I. (2024). Infection with Kapsulotaenia sandgroundi (Carter, 1943) in Komodo Dragons (Varanus komodoensis Ouwens, 1912) on Rinca Island, East Nusa Tenggara, Indonesia. ARSHI Veterinary Letters, 8(4), 81-82. 10.29244/avl.8.4.81-82
*****