- Dua individu beruang madu (Helarctos malayanus), memulai hidup baru di Hutan Harapan, Jambi, sebuah kawasan restorasi ekosistem yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), Sabtu (30/8/2025).
- Hutan Harapan memiliki daya dukung ideal sebagai rumah baru satwa dilindungi tersebut: ketersediaan pakan alami, habitat beragam, serta keamanan.
- Keragaman vegetasi menyediakan berbagai sumber pakan alami seperti buah dan serangga, yang memastikan beruang dapat beradaptasi dengan baik.
- Selain beruang madu, Hutan Harapan juga menjadi rumah baru bagi satwa titipan dari BKSDA Jakarta, yaitu tiga ekor berang-berang (Lutrinae), empat ekor burung tiong emas (Gracula religiosa), dan 14 ekor ular sanca batik (Malayopython reticulatus). Seluruh satwa ini juga telah melewati pemeriksaan medis dan proses rehabilitasi ketat.
Dua individu beruang madu (Helarctos malayanus), memulai hidup baru di Hutan Harapan, Jambi, sebuah kawasan restorasi ekosistem yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI).
Rochmat Eko Santoso, Kepala Departemen Riset dan Konservasi Hutan Harapan, menyatakan kawasan ini memiliki daya dukung ideal sebagai rumah baru satwa dilindungi tersebut: ketersediaan pakan alami, habitat beragam, serta keamanan.
“Ada tiga tipe habitat utama, yaitu hutan alam, semak belukar, habitat perairan. Semak belukar dan hutan alam sangat cocok untuk beruang madu,” ujarnya, Sabtu (30/8/2025). “Keragaman vegetasi menyediakan berbagai sumber pakan alami seperti buah dan serangga, yang memastikan keduanya dapat beradaptasi dengan baik.”

Beruang tersebut merupakan korban kerusakan habitat. Sang jantan (28 bulan) dan betina (27 bulan) ditemukan seorang warga di Kabupaten Merangin sejak bayi. Keduanya sempat dirawat warga dua bulan hingga akhirnya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.
Zulmanudin, Koordinator TPA BKSDA Jambi, menjelaskan beruang yang sudah lama diasuh manusia, akan berdampak pada perilakunya. Namun, insting liarnya untuk hidup di hutan selalu ada.
“Kami terus memantau kondisinya sebelum dilepasliarkan.”
Saat dilepaskan dari kandang, beruang tidak langsung keluar. Tim harus menunggu satu jam hingga keduanya berlari ke hutan.

Selain beruang madu, Hutan Harapan juga menjadi rumah baru bagi satwa titipan dari BKSDA Jakarta, yaitu tiga ekor berang-berang (Lutrinae), empat ekor burung beo tiong emas (Gracula religiosa), dan 14 ekor ular sanca batik (Malayopython reticulatus).
Seluruh satwa ini juga telah melewati pemeriksaan medis dan proses rehabilitasi ketat.

Perilaku beruang madu
Alitha Mas Juanes, Biodiversity Analisys and Spatial SINTAS, menjelaskan bahwa di habitat alami yang jauh dari gangguan, beruang madu cenderung bersifat diurnal (aktif siang hari) hingga krepuskular (aktif sore hari).
“Ini karena kondisi aman memungkinkan mereka mencari makan seperti buah, serangga, atau lebah pada siang hari,” jelasnya, merujuk studi terdahulu di Borneo.
Namun, perilaku ini berubah drastis di lanskap yang terfragmentasi. “Dekat jalan, kebun, atau desa, beruang cenderung bergeser ke nokturnal (aktif malam hari). Pergeseran ini merupakan strategi adaptif untuk menghindari manusia,” tambahnya.

Temuan ini diperkuat oleh data skripsi Khoirudin (2024) bahwa habitat beruang madu berjarak 4–5 km dari permukiman, menandakan pengaruh tekanan antropogenik terhadap perilaku harian mereka. Variabel jarak ke jalan/permukiman menjadi faktor paling berpengaruh dalam model MaxEnt.
“Individu yang terpaksa dekat tepi kawasan, kemungkinan besar lebih nokturnal.”
Scotson dan kolega, dalam penelitiannya menyebutkan, meskipun aktivitas mencari makan mengikuti musim, namun reproduksi beruang madu bersifat aseasional (tidak bergantung pada musim tertentu). Artinya, mereka bisa berkembang biak sepanjang tahun, tetapi kualitas dan kuantitas makanan tetap memengaruhi jarak jelajah dan waktu aktivitas.

Zulmanudin berharap, warga tidak menjadikan satwa liar sebagai peliharaan.
“Keberlanjutan habitat adalah kunci untuk mencegah konflik manusia-satwa.”
Rochmat Eko menambahkan, pihaknya meiliki tim khusus untuk perlindungan hutan yang berpatroli rutin, guna mencegah terjadinya perburuan ilegal dan kebakaran.
“Setelah beruang dilepasliarkan, tim monitoring keanekaragaman hayati (kehati) akan terus memantau adaptasi satwa dengan dukungan infrastruktur memadai,” jelasnya.
Hutan Harapan memiliki 55 kamera jebak (camera trap) yang dipasang dalam grid tertentu untuk memonitor pergerakan dan perilaku satwa pasca-pelepasliaran. Infrastruktur ini memastikan evaluasi adaptasi berjalan efektif, sehingga peran Hutan Harapan sebagai habitat penting satwa liar di Sumatera berjalan baik.
Referensi:
Khoirudin, M. (2024). Analisis Distribusi Beruang Madu dengan MaxEnt di Sumatera Barat. Skripsi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Scotson, L., et al. (2017). Sun bear Helarctos malayanus ecology and conservation status: a review of the evidence. Mammal Review, 47(2).
*****