- Sejak lama, budaya populer menggambarkan kobra “menari” mengikuti alunan pungi, padahal penelitian membuktikan ular tidak dapat mendengar musik; “tarian” itu adalah respons visual defensif terhadap gerakan pawang.
- Pertunjukan pungi berakar pada tradisi komunitas seperti Kalbelia dan Sapera, namun sejak awal abad ke-20 bergeser menjadi atraksi pariwisata yang sering melibatkan kobra hasil tangkapan liar, meski telah dilarang lewat Wildlife Protection Act 1972.
- Di balik layar, banyak kobra mengalami pencabutan taring, penghilangan kelenjar bisa, atau mulut dijahit; organisasi seperti Wildlife SOS menyelamatkan ratusan ular setiap tahun, tetapi tingkat keberhasilan rehabilitasi rendah karena kondisi fisik ular sering sudah kritis saat ditemukan.
Sejak kecil, banyak dari kita akrab dengan satu adegan ikonik yang sering muncul di film, kartun, hingga iklan pariwisata: seorang pria bersurban duduk bersila di jalanan India, meniup suling panjang berbentuk labu yang disebut pungi, sementara seekor ular kobra di depannya mengembang-kerutkan tudungnya dan “bergoyang” seolah mengikuti irama musik dari sulingnya. Adegan ini begitu sering diulang dalam budaya populer hingga membentuk keyakinan luas bahwa kobra memang mampu “menari” mengikuti alunan suling.
Namun, sains punya jawaban yang sangat berbeda. Penelitian perilaku dan fisiologi ular menunjukkan bahwa kobra sama sekali tidak sedang menikmati musik atau merespons nada. Faktanya, ular tidak memiliki mekanisme pendengaran seperti manusia. Mereka tidak dapat mendengar suara udara dengan baik, apalagi membedakan melodi. Respons “goyangan” yang kita lihat hanyalah reaksi defensif terhadap ancaman visual—dalam hal ini gerakan suling dan tubuh sang pawang.

Mitos ini tidak hanya keliru secara ilmiah, tetapi juga menutupi kenyataan pahit di balik pertunjukan tersebut: praktik yang sering kali melibatkan kekerasan terhadap satwa liar, penangkapan ilegal, dan pelanggaran hukum konservasi.
Mengapa Kobra Tidak Bisa Menari Mengikuti Musik
Secara anatomi, sistem pendengaran ular berbeda jauh dari mamalia. Ular tidak memiliki daun telinga atau gendang telinga eksternal yang berfungsi menangkap gelombang suara di udara. Sebagai gantinya, mereka memiliki telinga dalam yang terhubung langsung ke tulang rahang bawah melalui struktur yang disebut quadrate bone. Tulang ini berfungsi sebagai “penghantar” getaran mekanis dari permukaan padat—misalnya tanah atau batu—ke telinga dalam. Mekanisme ini memungkinkan ular mendeteksi langkah kaki hewan atau manusia, pergerakan mangsa di semak, bahkan getaran dari predator yang mendekat. Namun, karena jalur ini didesain untuk mendeteksi getaran, bukan tekanan suara udara, kemampuan ular dalam “mendengar” nada sangat terbatas.

Penelitian tahun 2012 berhasil menguji respons ular terhadap suara udara dan getaran tanah, dan hasilnya menunjukkan bahwa ular jauh lebih responsif terhadap getaran yang merambat melalui substrat. Mereka memang dapat merasakan suara di udara, tetapi sensitivitasnya rendah dan terbatas pada frekuensi rendah (sekitar 80–1000 Hz), jauh di bawah kompleksitas nada musik yang dimainkan pungi.
Temuan ini diperkuat oleh studi perilaku terbaru tahun 2023, yang menguji berbagai spesies ular di ruang kedap suara. Peneliti menemukan bahwa meskipun beberapa ular bereaksi terhadap suara udara, responsnya sangat bervariasi, ada yang mendekat, ada yang menjauh, namun tidak ada indikasi bahwa ular mengenali atau mengikuti pola melodi. Respons-respons ini lebih mirip reaksi kewaspadaan atau defensif terhadap stimulus lingkungan yang tidak dikenal.
Dengan demikian, pungi yang ditiup pawang tidak menghasilkan “lagu” yang bisa diinterpretasikan ular sebagai musik. Justru yang memicu “tarian” kobra adalah stimulus visual: ular mempertahankan posisi kepala dan matanya selalu menghadap objek bergerak yang dianggap ancaman. Gerakan maju-mundur atau ke kiri-kanan yang terlihat seperti bergoyang adalah bentuk orienting behavior—strategi bertahan hidup untuk mengawasi pergerakan musuh. Pada kobra, postur ini kerap disertai pengembangan tudung leher (hood), yang berfungsi sebagai sinyal peringatan agar predator menjauh.
Sejarah Panjang Pungi dan Pertunjukan Pawang Ular
Pertunjukan pawang ular telah dikenal di India selama berabad-abad, khususnya di negara bagian seperti Rajasthan, Uttar Pradesh, dan Maharashtra. Rajasthan, yang terletak di bagian barat India, terkenal dengan tradisi Kalbelia, sebuah komunitas nomaden yang sering disebut “gypsy” India dan dikenal sebagai penangkap serta penyelamat ular berbisa. Uttar Pradesh, di bagian utara, memiliki sejarah panjang pementasan hiburan rakyat yang menampilkan satwa liar, sementara Maharashtra di bagian barat dikenal sebagai salah satu pusat perayaan dan festival yang kerap memamerkan kobra.
Alat musik tiup pungi, berbentuk labu dengan dua pipa kayu, diyakini berasal dari komunitas tradisional pawang seperti Kalbelia dan Sapera. Pada masa lalu, instrumen ini digunakan dalam ritual penyembuhan tradisional, hiburan rakyat, dan upacara keagamaan. Pungi tidak hanya berfungsi sebagai instrumen musik, tetapi juga simbol identitas budaya kelompok pawang ular.

Transformasi dari ritual sakral menjadi tontonan jalanan komersial mulai terlihat pada awal abad ke-20, terutama di masa kolonial Inggris. Pariwisata internasional yang berkembang saat itu mendorong permintaan akan “atraksi eksotis” bagi wisatawan asing. Pawang ular yang dulunya dihormati di desa sebagai pelindung dari ancaman ular berbisa mulai memanfaatkan pertunjukan ini sebagai sumber penghasilan, tampil di pasar-pasar kota besar, taman publik, dan lokasi wisata populer seperti Jaipur (Rajasthan) dan Varanasi (Uttar Pradesh).
Perubahan besar terjadi pada tahun 1972, ketika India memberlakukan Wildlife Protection Act. Undang-undang ini melarang kepemilikan dan pertunjukan satwa liar, termasuk semua spesies kobra, karena status perlindungan mereka di alam. Meski begitu, praktik ini tidak sepenuhnya hilang. Di beberapa daerah, pertunjukan pungi terus dilakukan secara ilegal, terutama pada festival Nag Panchami—sebuah perayaan Hindu yang jatuh pada bulan Shravan (sekitar Juli atau Agustus), di mana ular kerap dijadikan bagian dari ritual pemujaan Dewa Naga. Di Maharashtra, festival ini bahkan menjadi daya tarik wisata, dengan ribuan orang berkumpul untuk melihat kobra yang dipamerkan atau “diberkati” dengan susu, padahal secara biologis, memberi susu pada ular berbahaya karena ular tidak memiliki enzim untuk mencerna laktosa.

Meski dalam promosi wisata sering digambarkan aman, risiko kobra menunjukkan perilaku agresif tetap ada. Pada awal 2000-an, media lokal India melaporkan beberapa insiden di Rajasthan dan Maharashtra di mana pawang digigit kobra saat pertunjukan berlangsung, terutama jika ular belum dimutilasi (taring belum dicabut, mulut belum dijahit) atau berada dalam kondisi stres tinggi akibat keramaian dan panas. Di festival Nag Panchami tahun 2004 di kota Battis Shirala, Maharashtra—yang terkenal sebagai salah satu pusat perayaan terbesar, pernah terjadi kepanikan massal ketika seekor kobra melompat ke arah penonton setelah pawang kehilangan kendali.
Laporan dari Wildlife SOS juga mencatat bahwa bahkan ular yang telah “diamankan” tetap dapat menunjukkan perilaku menyerang. Stres berat akibat kebisingan, suhu tinggi di musim panas India, serta penanganan kasar membuat ular bereaksi secara defensif. Insiden-insiden ini menguatkan fakta bahwa “tarian” kobra dalam pertunjukan pungi bukanlah tarian dalam arti sesungguhnya, melainkan bentuk kewaspadaan penuh—dan dalam situasi tertentu bisa berubah menjadi serangan.
Kekerasan dan Eksploitasi Kobra
Di balik citra eksotis pertunjukan pungi, banyak kobra yang digunakan mengalami perlakuan menyakitkan demi menciptakan kesan “jinak” di hadapan penonton. Salah satu metode yang umum dilakukan adalah pencabutan taring secara paksa tanpa anestesi. Tindakan ini menimbulkan rasa sakit hebat, merusak rahang, meningkatkan risiko infeksi, dan menghilangkan kemampuan berburu di alam liar. Ada pula praktik penghilangan kelenjar bisa, yang dilakukan secara kasar dan dapat memicu infeksi fatal serta trauma fisik berkepanjangan.

Metode yang lebih ekstrem adalah menjahit mulut ular, biasanya dengan menyisakan celah kecil untuk lidah menjulur. Hal ini mencegah ular makan, mengakibatkan kelaparan, dehidrasi, dan kematian perlahan. Selain itu, ular kerap disimpan di wadah sempit seperti kotak kayu atau karung tanpa ventilasi, air, atau cahaya, yang memicu stres ekstrem, kerusakan kulit, dan penyakit pernapasan. Dalam banyak kasus, kondisi kesehatan ular sudah sangat menurun sebelum tampil di depan publik.
Mitos kobra “penari” bukan hanya keliru secara ilmiah, tetapi juga menjadi pembenaran budaya bagi eksploitasi satwa liar. Edukasi publik perlu menekankan bahwa “tarian” kobra adalah respons defensif terhadap ancaman, bukan hiburan. Memutus siklus eksploitasi juga memerlukan solusi ekonomi bagi komunitas pawang ular tradisional, seperti pelatihan menjadi pemandu wisata alam atau pendidik konservasi.