- Ketonggeng bukan serangga, melainkan arakhnida yang menyerupai kalajengking berekor cambuk. Saat musuh menyerang, ia bisa menyemprotkan cairan asam asetat sebagai mekanisme pertahanan diri.
- Meski penampilannya menyeramkan, ketonggeng tidak berbisa dan tak memiliki sengat seperti kalajengking. Ia punya delapan mata tapi indera penglihatannya buruk, dia mengandalkan indera peraba saat keadaan gelap.
- Ketonggeng berperan penting sebagai predator alami dalam ekosistem, seperti kecoa, rayap, jangkrik dan laba-laba.
- Meski sering dianggap berbahaya, ketonggeng tak seperti kalajengking. Aroma khasnya seperti cuka dan cairannya tidak terlalu membahayakan untuk manusia.
Secara global, Indonesia menjadi negara kedua di dunia dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi. Arthropoda adalah filum hewan dengan jumlah spesies terbanyak di dunia, estimasinya mencapai 10 juta spesies. Ketonggeng atau Ketungging (Uropygi sp.) menjadi salah satu spesies Arthropoda yang bisa mengendalikan hama.
Sekilas ketonggeng tampak seperti kalajengking, tapi hewan ini punya ciri yang berbeda. Ia punya bentuk ekor yang panjang dan ramping yang menyerupai gagang cambuk. Spesies yang masuk dari kelas Arachnida ini sering dianggap sebagai serangga.
Berbeda dengan kalajengking, ketonggeng tidak memiliki penyengat berisi racun dan tidak memiliki gigitan berbisa seperti laba-laba. Penampilannya yang menyeramkan membuat salah satu anggota Arthropoda yang kerap terabaikan.
Ketonggeng identik dengan bau asam menyengat, dan kebiasaannya bersembunyi di tempat gelap dan lembap. Ia sering dianggap mengganggu atau bahkan berbahaya. Padahal, hewan ini memiliki peran penting sebagai predator alami yang membantu mengendalikan populasi serangga hama dalam ekosistem.
Seperti apa peran dari ketonggeng dalam kehidupan sehari-hari kita? Simak selengkapnya:
1. Apa itu ketonggeng atau ketungging?

Melansir dari National Geographic, Ketonggeng atau ketungging adalah serangga predator sejenis arakhnida yang tubuhnya tampak seperti laba-laba dan kalajengking. Seringkali disebut kalajengking cambuk berekor.
Mereka termasuk dalam ordo Thelyphonida dan dikenal dengan sebutan vinegaroon karena kemampuannya menyemprotkan cairan yang mengandung asam asetat, mirip dengan cuka untuk mengusir predator. Meski mengandung asam asetat, cairannya tak berbahaya tapi menyebabkan iritasi ringan jika terkena kulit atau mata manusia.
Selain di Indonesia, habitatnya berada pada iklim tropis dan subtropis, seperti Amerika Serikat bagian Selatan dan Meksiko. Hewan ini biasanya aktif pada malam hari atau cenderung hewan nokturnal dan lebih suka tinggal di tempat yang lembab, seperti di bawah batu, kayu lapuk, atau di dalam tanah.
Baca: Bentuk Kalajengking 430 Tahun yang Silam
2. Cairan untuk melindungi diri hingga punya delapan mata

Ada beberapa hal yang unik dari ketonggeng mulai dari cairan untuk mempertahankan diri, punya delapan mata hingga baunya yang mirip cuka. Meski tampak menyeramkan dan aromanya seperti cuka, ketonggeng banyak dipelihara karena tidak berbisa.
Ketonggeng memiliki cairan yang mengandung asam asetat dan asam kaprilat yang digunakan untuk mempertahankan diri dari predator. Aroma menyengat seperti cuka berasal dari kandungan asam asetat tersebut.
Uniknya, satwa ini memiliki delapan mata, tapi penglihatannya tergolong buruk. Setelah kawin, ketonggeng betina akan bersembunyi dan mengandung telur selama beberapa bulan. Tiap bertelur, betina menghasilkan 30–40 butir dan menjaga telur tersebut selama dua bulan.
Saat nimfa menetas, mereka akan menaiki punggung induknya selama sekitar satu bulan. Selama periode ini, induk ketonggeng tidak makan sama sekali (Animal Diversity Web).
3. Si kecil pengendali hama

Seperti pepatah yang mengatakan, ‘don’t judge a book by its cover’, hewan ini meski tampak menyeramkan seperti kalajengking, beraroma menyengat seperti cuka, dan terkesan menggelikan, tapi memiliki manfaat untuk mengendalikan hama.
Ketonggeng adalah hewan karnivora yang aktif berburu pada malam hari. Ketika menemukan mangsa, ia akan menangkapnya menggunakan pedipalpus, lalu membawanya ke rahang untuk dimakan. Mangsa ketonggeng antara lain cacing, siput, kecoa, jangkrik, rayap, serangga lainnya, kalajengking cambuk yang lebih kecil, dan laba-laba (A-Z Animals)
Oleh karena itu, jika melihat ketonggeng jangan langsung dibunuh karena mereka tidak berbahaya dan justru membantu dalam mengendalikan hama.
*Daffa Ulhaq merupakan mahasiswa Ilmu Sejarah di Universita Indonesia. Daffa aktif sebagai jurnalis dan aktivis muda di Generasi Setara yang memiliki minat pada isu pendidikan, gender, dan lingkungan.
Ternyata Racun Tidak Hanya Ada pada Hewan: Tumbuhan, Jamur, bahkan Bakteri Juga Ada