- Burung potoo dijuluki “burung neraka” karena wajahnya yang aneh dan suara malamnya yang melengking seperti ratapan makhluk halus.
- Ia adalah ahli kamuflase ekstrem yang mampu menyatu sempurna dengan batang pohon, dan hanya bertelur satu butir tanpa membuat sarang.
- Meski sulit ditemukan, potoo kini viral di internet, dan suara uniknya digunakan ilmuwan dalam riset bioakustik untuk pemantauan populasi dan konservasi hutan Amerika Latin.
Di hutan tropis Amerika Latin, ada seekor burung yang penampilannya membuat orang sulit menentukan: lucu, menyeramkan, atau keduanya. Matanya besar seperti melotot, kepalanya bundar, paruhnya lebar, dan mulutnya bisa menganga lebar hingga terlihat seperti karikatur yang hidup. Dialah burung potoo (Nyctibius spp.), yang di banyak wilayah dijuluki burung neraka karena suaranya yang melengking dan misterius di malam hari, terdengar seperti jeritan dari dunia lain.
Dua riset terbaru mengungkap perilaku tersembunyi yang memperkuat reputasinya. Studi pada tahun 2018 terhadap lebih dari 1.500 foto Common Potoo menunjukkan bahwa 96,8% individu memilih batang atau tunggul pohon dengan diameter dan tekstur yang sangat mirip tubuhnya—strategi masquerade mimicry yang sangat efektif dalam menyembunyikan diri, termasuk saat menjaga telur dan anak.
Sementara itu, penelitian yang laian yang berbasis data citizen science mengungkap perilaku migrasi parsial, populasi Common Potoo di Brasil Selatan, Uruguay, dan Argentina berpindah ke wilayah tropis saat musim dingin, lalu kembali untuk berkembang biak.
Baca juga: Di Tempat Asalnya, Si ‘Buruk Rupa’ ini Dijuluki Burung Neraka
Ahli Kamuflase yang Hampir Mustahil Dideteksi
Di siang hari, burung potoo menjelma jadi ilusi visual paling sempurna di antara makhluk hutan. Ia akan bertengger tegak di ujung cabang atau batang pohon mati, menyatu total dengan latar pepohonan berlumut, serat kayu, atau kulit pohon yang pecah-pecah. Bulu-bulunya disusun dengan pola warna abu-abu, cokelat, hingga krem pudar—meniru tekstur dan warna ranting mati secara luar biasa akurat.

Yang paling menakjubkan, kelopak matanya memiliki celah kecil seperti jendela intip, memungkinkan burung ini tetap mengamati sekelilingnya tanpa membuka mata sepenuhnya. Saat predator mendekat, ia tak akan kabur. Sebaliknya, ia justru diam sepenuhnya dalam pose menyerupai batang patah, dengan paruh terangkat dan leher memanjang ke atas. Ia bahkan bisa menahan napas sejenak agar tak terdeteksi. Teknik ini disebut “freeze camouflage“, dan membuat potoo hampir mustahil dibedakan dari dahan pohon, bahkan dari jarak sangat dekat.
Kamuflase ekstrem ini bukan hanya untuk menghindari pemangsa seperti burung hantu, ular, atau kucing hutan, tapi juga menjadi senjata untuk berburu. Potoo adalah pemburu malam yang sangat sabar. Ia menunggu mangsa seperti ngengat, kumbang, dan serangga terbang lain hingga cukup dekat, lalu menyergapnya dengan kecepatan mendadak. Teknik ini dikenal sebagai “sally hunting”, yaitu terbang singkat dari tempat bertengger untuk menangkap mangsa di udara, kemudian kembali ke posisi semula.
Beberapa spesies besar, seperti Great Potoo, bahkan tercatat memangsa kelelawar kecil dan burung passerine nokturnal, menunjukkan fleksibilitas makanan yang cukup luas. Dengan paruh lebar dan mulut yang bisa terbuka seperti corong, potoo mampu menyedot serangga besar dalam sekali gerak. Menariknya, meski tampak pasif dan pemalas, strategi berburu potoo justru sangat efisien, minim tenaga, minim gerakan, dan sangat efektif di lingkungan hutan gelap.
Strategi “diam total” ini adalah puncak dari evolusi penyamaran, yang menjadikan potoo sebagai salah satu contoh paling ekstrem dalam dunia burung. Dalam kondisi ideal, bahkan peneliti sekalipun bisa melewati mereka tanpa sadar bahwa ada makhluk hidup di hadapannya. Itulah sebabnya, meski distribusi mereka luas, potoo tetap jadi burung yang sangat jarang terlihat di alam liar.
Tujuh Spesies dari Meksiko hingga Argentina
Keluarga potoo (Nyctibiidae) terdiri atas tujuh spesies yang semuanya memiliki kemampuan kamuflase tinggi namun menempati wilayah yang berbeda:
- Common Potoo (N. griseus) – Spesies paling luas penyebarannya, ditemukan dari Nikaragua hingga Argentina, dan paling sering terdokumentasi.
- Northern Potoo (N. jamaicensis) – Umumnya ditemukan di Meksiko, Amerika Tengah, dan sebagian Karibia, termasuk Jamaika dan Hispaniola.
- Great Potoo (N. grandis) – Yang terbesar dari semua potoo, hidup di Amerika Tengah dan bagian utara Amerika Selatan, dikenal karena memangsa hewan yang lebih besar.
- White-winged Potoo (N. leucopterus) – Spesies langka yang hanya ditemukan di hutan primer Amazon Brasil dan Guyana, ditandai dengan bercak putih mencolok di sayapnya.
- Long-tailed Potoo (N. aethereus) – Ditemukan di hutan Amazon dan Atlantik Brasil, memiliki ekor paling panjang di antara spesies lain.
- Andean Potoo (N. maculosus) – Hidup di ketinggian pegunungan Andes, jarang terlihat dan hanya sedikit yang diketahui tentang perilakunya.
- Rufous Potoo (N. bracteatus) – Yang terkecil dan paling mencolok secara warna, dengan rona kemerahan dan totol putih; hidup di Amazon barat dan sangat sulit diamati.
Seluruh spesies ini menyebar dari Meksiko hingga Argentina, dengan keragaman tertinggi di cekungan Amazon. Beberapa spesies juga hadir di pulau-pulau Karibia seperti Jamaika, Hispaniola, dan Tobago.
Kehidupan di Pohon dan Reproduksi yang Unik
Potoo adalah burung monogami. Pasangan induk biasanya hanya menghasilkan satu telur per musim kawin. Uniknya, mereka tidak membuat sarang, telur diletakkan langsung di cekungan alami cabang atau tunggul pohon.
Pengeraman berlangsung sekitar sebulan, bergantian antara induk jantan dan betina. Anak potoo lahir dengan bulu putih halus, dan sejak kecil sudah menunjukkan “pose kamuflase” seperti induknya saat merasa terancam. Anak mulai belajar terbang pada usia sekitar 25–30 hari, tapi masih bergantung pada induknya untuk makan selama beberapa waktu.

Potoo tinggal di hutan hujan tropis, hutan semi-lembab, dan hutan kering terbuka. Mereka menyukai pohon tinggi dengan pandangan luas untuk mengawasi lingkungan. Namun, habitat semacam ini kini makin terfragmentasi.
Menurut IUCN Red List, semua spesies potoo berstatus Least Concern, tetapi penurunan populasi tetap terjadi. Great Potoo, misalnya, kehilangan sekitar 7% habitatnya dalam 23 tahun terakhir akibat deforestasi untuk pertanian, perkebunan, dan infrastruktur.
Suara dari Dunia Lain
Salah satu alasan kuat mengapa julukan “burung neraka” melekat pada potoo adalah suaranya yang tak biasa—melengking panjang, bernada rendah tapi menghunjam, dan seringkali terdengar seperti ratapan yang merambat di kegelapan malam. Bagi sebagian orang, suaranya mengingatkan pada tangisan atau jeritan makhluk halus. Di banyak komunitas lokal di Amerika Latin, khususnya di Brasil, Venezuela, dan Kolombia, suara ini dianggap sebagai pertanda buruk, atau dikaitkan dengan roh penasaran yang belum menemukan kedamaian.
Legenda rakyat Brasil menyebut burung ini sebagai jelmaan seorang wanita yang kehilangan anaknya—ia menangis tanpa henti setiap malam dari atas pohon, memanggil anaknya yang hilang. Di beberapa desa, masyarakat percaya bahwa jika suara potoo terdengar terlalu dekat, itu berarti seseorang akan tertimpa kemalangan. Beberapa komunitas adat bahkan menghindari menyebut namanya secara langsung pada malam hari.
Namun bagi para ilmuwan, suara “seram” ini justru menjadi alat penting dalam pemantauan populasi. Karena potoo sangat sulit ditemukan secara visual akibat kemampuannya menyamar, para peneliti dan pengamat burung lebih mengandalkan survei bioakustik, yaitu rekaman dan analisis suara alam liar untuk mengidentifikasi spesies berdasarkan vokalisasi mereka.

Vokal potoo memiliki struktur frekuensi yang khas dan tidak mudah tertukar dengan burung lain. Beberapa penelitian di Amazon dan hutan Atlantik Brasil menggunakan suara potoo untuk memetakan sebaran mereka, mengukur aktivitas malam, bahkan mencatat musim kawin.
Studi bioakustik juga membantu konservasionis dalam menilai dampak gangguan manusia, seperti deforestasi dan kebisingan antropogenik, terhadap pola komunikasi dan perilaku malam burung-burung ini. Dengan kata lain, suara yang dulu dianggap mengganggu kini justru menjadi kunci untuk melindungi si “burung neraka” dari ancaman nyata.
Meski langka dijumpai langsung, potoo menjadi sensasi internet. Ekspresinya yang seperti “kaget permanen” dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar viral di berbagai platform. Banyak meme, video TikTok, hingga konten edukasi lahir dari keunikan wajahnya.
Fenomena ini punya dampak positif: memperkenalkan spesies yang sebelumnya hanya dikenal oleh ilmuwan dan birdwatcher kepada publik global. Kesadaran ini, dalam beberapa kasus, mendorong minat terhadap pelestarian hutan habitat aslinya.