- Tunggu Tubang adalah sistem adat yang berlaku di masyarakat Semende Darat di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Sistem ini memberikan kuasa kepada perempuan untuk mengelola alat produksi (pusaka keluarga) berupa sawah, rumah, kebun, dan tebat (danau buatan).
- Dalam membangun sebuah Tunggu Tubang baru, setiap keluarga wajib memiliki sebuah kebun atau sawah, dan sebuah rumah.
- Pada saat ini tercatat puluhan hingga seratusan keluarga di Semende tengah membangun Tunggu Tubang yang baru.
- Budaya Tunggu Tubang membuat wilayah adat Semende terjaga dari ekspansi perusahaan perkebunan dan industri, serta menjaga kedaulatan pangan.
Sudah lima jam pasangan muda, Elianah dan Dapawi, jalan kaki, melewati kebun kopi dan hutan. Lima kali mendaki bukit yang tingginya kisaran 50 meter. Mereka juga harus meyeberangi Sungai Aik Enim Kidaw sepanjang 50 meter, melalui jembatan berupa dua batang bambu yang diikat tali seling. Menjelang tengah hari, Elianah sampai di lahan yang baru dibuka Dapawi untuk dijadikan kebun kopi di Antaran Palang Mayan, tanah Marga Semende, di kaki Bukit Balai Embun atau sekitar lima kilometer dari kawasan Hutan Lindung Bukit Balai Embun.
Selama sepekan, Elianah menemani suaminya yang mulai menanam pohon kopi di lahan seluas dua hektar. Mereka tinggal di sebuah dangau atau pondok seluas delapan meter persegi. Penerangannya menggunakan lampu teplok dan masak pakai kayu bakar.
“Saya merasa lelah dan frustasi saat itu. Meskipun saya jeme Semende (orang Semende), tapi masa kecil hingga remaja, saya hidup di kota, yang nyaris tidak pernah masuk hutan. Saya tidak pernah lupa peristiwa 25 tahun lalu tersebut,” kata Elianah (46), warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, awal Juli 2025.
Perjalanan itu merupakan awal dari ratusan perjalanan selanjutnya. Setelah tiga tahun berkebun kopi, mereka mendapatkan hasilnya. Mereka mampu membeli satu unit sepeda motor, sehingga memangkas waktu perjalanan menjadi dua jam.

Elianah dan Dapawi anak tengah. Mereka bukan Tunggu Tubang, yang mendapatkan pusaka berupa rumah, sawah, dan kebun. Dalam budaya Suku Semende, anak tertua perempuan atau laki-laki (jika sebuah keluarga tidak memiliki anak perempuan) akan dijadikan Tunggu Tubang. Mereka akan mengelola pusaka berupa rumah, sawah, dan kebun, untuk kepentingan keluarga. Pusaka tersebut tidak boleh diperjualbelikan, dan diwariskan ke generasi berikutnya. Fungsinya, sebagai kedaulatan pangan dan ekonomi bagi keluarga.
“Selama tiga tahun atau saat kebun kopi belum menghasilkan, kami tidak memiliki alamat tetap pulang ke desa. Terkadang menetap di rumah keluarga saya, atau di rumah keluarga istri,” kata Dapawi (49).
Setelah kebun kopi menghasilkan, mereka baru mampu menyewa sebuah rumah. “Kami membeli rumah pada 2013 dan membuka kebun kopi lain. Selama 10 tahun kami menetap di kebun dan rumah kontrakan,” kata Dapawi.
Bahkan, selama balita, anak pertama mereka dibesarkan di kebun. “Saya mulai jarang ke kebun, saat anak pertama kami masuk sekolah, hingga lahir anak kedua kami,” kata Elianah.
Tahun 2016, Elianah kembali aktif menemani suaminya ke kebun. Naas, beberapa bulan kemudian, di tengah malam, Elianah terjatuh di dangau dan mengalami pendarahan.
“Di tengah hujan dan gelapnya malam, saya bersama seorang kerabat membawa istri menggunakan tandu dari kain sarung ke dusun. Malam itu kami membawanya ke rumah sakit di Muara Enim.”
Setelah sepekan dirawat, Elianah mengalami kelumpuhan. “Selama setahun, kedua kaki saya lumpuh. Katanya saya mengalami saraf kejepit di pinggul. Rasanya dunia mau runtuh. Kebun kopi kami nyaris tidak terawat, kedua anak kami hidup secara mandiri,” kata Elianah.
“Sejak 2018 saya tidak pernah lagi ke kebun. Baru hari ini, saya datang,” kata Elianah, di kebun kopi miliknya di Padang Basung, Desa Tanjung Agung, Kecamatan Semende Darat Ulu.

Membangun Tunggu Tubang
Perjuangan Elianah dan Dapawi membuat kebun kopi dan membangun rumah di Semende, bukan semata alasan ekonomi atau pekerjaan.
“Kami ingin membangun Tunggu Tubang. Keinginan tersebut yang membuat kami bertahan selama ini. Saudara dan orang tua saya hidup di Jakarta. Kami beberapa kali ditawari menetap di sana, tapi kami tetap memutuskan hidup di Semende, dan bertekad membangun Tunggu Tubang,” kata Elianah.
Saat ini, kebun dan rumah yang mereka tempati sudah diserahkan kepada anak perempuan pertama mereka sebagai Tunggu Tubang. “Kami hanya menumpang. Meskipun sudah menikah, dia masih menyelesaikan kuliahnya di Prabumulih.”
Dijelaskan Dapawi, hidup di Semende bersama budaya dan alamnya yang masih lestari, membuat dirinya dan istri hidup tenang dan bahagia. “Berbagai tradisi membuat kami hidup berdampingan dengan alam, dekat keluarga dan kerabat, serta Tuhan.”
“Semua itu berkat adanya budaya Tunggu Tubang,” katanya.
Perjuangan mereka membangun Tunggu Tubang, kata Dapawi, mungkin jauh lebih ringan dibandingkan para leluhur mereka sekian ratus tahun lalu. “Dulu, mungkin kondisi alamnya lebih sulit. Tidak ada jalan dan kendaraan bermotor seperti saat ini, begitu pun hutannya masih lebat. Semua itu dilakukan demi menjamin kehidupan anak dan cucunya. Kami pun belajar dari keinginan tersebut.”

Membangun Tunggu Tubang baru di Semende, yang dilakukan anak tengah, bukan hanya oleh pasangan Elianah dan Dapawi. Terdapat puluhan hingga ratusan keluarga di Semende yang tengah membangun Tunggu Tubang baru.
“Saya anak tengah dan sekarang membangun Tunggu Tubang,” kata Samlon (49), yang merawat kebun kopinya di Padang Basung, Desa Tanjung Agung.
“Saya dan keluarga hidup bahagia di Semende. Saya ingin kebahagiaan ini juga dirasakan anak dan cucu, sehingga saya berkebun kopi untuk membangun Tunggu Tubang baru,” katanya.
“Awalnya saya bingung saat menjadi calon Tunggu Tubang. Tapi setelah memahaminya, saya menerima dan tidak mau kehilangan apa yang sudah dibangun orang tua dan leluhur kami dalam menjaga nilai-nilai kebaikan dunia akhirat,” kata Devi Minalia (23), warga Desa Kota Agung.
Devi, lulusan dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, yang saat ini mengajar pada sebuah madrasah di Semende, orang tuanya adalah anak tengah. Mereka tidak menerima pusaka dari orang tuanya. Mereka membangun sendiri kebun kopi dan rumah.
Tunggu Tubang adalah sistem adat yang berlaku di masyarakat Semende Darat di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Sistem ini memberikan kuasa kepada perempuan untuk mengelola alat produksi (pusaka keluarga) berupa sawah, rumah, kebun, dan tebat (danau buatan).

Tidak Tumbang
Beberapa penelitian dan bahkan karya seni mengungkapkan adanya beberapa perempuan yang menolak atau tidak bersedia menjadi Tunggu Tubang, dikarenakan Tunggu Tubang dinilai adalah marginalisasi perempuan, tampaknya tidak akan menumbangkan budaya Tunggu Tubang.
“Budaya Tunggu Tubang tidak akan hilang. Sebab Tunggu Tubang bukan hanya lahir dari keluarga yang lama, keluarga baru juga membangun Tunggu Tubang. Jika ada anak perempuan menolak menjadi Tunggu Tubang, bukan berarti Tunggu Tubang pada sebuah keluarga akan hilang, dia akan digantikan dengan anak yang lain,” kata Hasan Zen (70), tokoh adat Suku Semende.
Selain itu, budaya Tunggu Tubang juga membuat wilayah adat atau ruang hidup Suku Semende tetap bertahan. Misalnya dari ekspansi perusahaan perkebunan skala besar, pertambangan, maupun industri lainnya. Kedaulatan pangan jeme Semende dengan beragam jenis padi lokal, juga dikarenakan adanya budaya Tunggu Tubang. Termasuk, beragam tradisi yang membangun nilai-nilai luhur.
“Tunggu Tubang tidak akan tumbang, sebab fungsinya menjaga keberadaan wilayah adat Suku Semende saat ini dan masa mendatang. Setiap generasi Semende, dipastikan melahirkan atau melestarikan budaya Tunggu Tubang,” paparnya.

Yulion Zalpa, pengajar di FISIP UIN Raden Fatah Palembang, sebelumnya kepada Mongabay menuturkan, Tunggu Tubang merupakan upaya masyarakat Semende menjaga lanskap berkelanjutan. Sebab penjagaan sawah, rumah, kebun, dan tebat [danau buatan], dengan aturan tidak boleh diperdijualbelikan atau dialihfungsikan, juga berarti mempertahankan lanskap Semende Darat.
“Terjaganya bentang alam Semende Darat, maka terjamin pula ketersediaan pangan, papan, dan sandang bagi masyarakatnya. Setahu saya, selama ini masyarakat di Semende Darat tidak pernah mengalami krisis pangan, meskipun pada saat yang sama di wilayah lain di Sumatera Selatan mengalami kesulitan pangan akibat gagal panen, disebabkan kemarau atau musim hujan panjang,” tandasnya.
*****
Tunggu Tubang, Sistem Adat Masyarakat Semende Jaga Ketahanan Pangan