Nekad Beroperasi, Dua Truk Berisi Bibit Sawit Globalindo Disita

Bibit-bibit sawit yang disita dari truk Globalindo di Kabupaten Kuala Kapuas. Perusahaan ini masuk kategori belum clear and clean hingga harus menghentikan operasi, tetapi mereka masih beroperasi hingga dilakukan penyitaan. Foto: Nordin, Save Our Borneo
Bibit-bibit sawit yang disita dari truk Globalindo di Kabupaten Kuala Kapuas. Perusahaan ini masuk kategori belum clear and clean hingga harus menghentikan operasi, tetapi mereka masih beroperasi hingga dilakukan penyitaan. Foto: Nordin, Save Our Borneo

PT Globalindo Agung Lestari (Globalindo), masuk perusahaan sawit yang belum clear and clean hingga harus menghentikan operasi. Namun, perusahaan nekad tetap jalan. Akibatnya, dua truk pengangkut 300 bibit sawit siap tanam diamankan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kapuas, Senin (16/9/13).

Penyitaan ini seiring Surat Gubernur no. 540/647/EK tentang Penghentian Operasional Perusahaan Swasta Besar (PBS) yang belum clear and clean. Ia ditindaklanjuti dengan Surat Bupati Kuala Kapuas No. 525. 26/1460/disbunhut/2013.

“Jika merujuk pada dua surat itu, seharusnya sudah tidak boleh ada lagi kegiatan penanaman dan pembibitan. Tapi Globalindo masih melakukan menanam. Kegiatan sudah berlangsung lama,” kata Dehen, aktivis Kelompok Masyarakat Independen.

Dehen mengatakan,  dua truk  bernomor polisi DA 2782 AH dan DA 9086 TF itu disidak sekitar pukul 13.00 saat hendak masuk ke lokasi penanaman di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Dadahup Kuala Kapuas. Perusahaan ini belum memiliki perizinan sesuai ketentuan berlaku. Dua pengemudi bernama Adiyanto dan Sotrisno langsung di BAP di kantor Kepala Desa Sumber Makmur.

Dehen mengatakan, bibit sawit ini disita dari atas desakan masyarakat sekitar yang keberatan perusahaan masih beroperasi. Ada surat bupati yang memerintahkan 13 PBS termasuk Globalindo harus menghentikan kegiatan operasi. “Masyarakat sudah melaporkan ke pemda yang hasil sidak oleh BKSDA. Mereka tertangkap basah membawa bibit sawit ke perkebunan.”

Dari hasil sidak itu dua truk digiring ke kantor Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kuala Kapuas.  Saat ini, ratusan bibit sawit masih ada di depan halaman kantor. “Harusnya Pemkab Kuala Kapuas bisa bertindak tegas. Globalindo harus ditutup sesuai surat edaran gubernur dan bupati. Penegakan hukum harus dijalankan,” kata Dehen.

Saat ini, ada 13 PBS di Kuala Kapuas sudah dihentikan. Mayoritas perusahaan berada di lahan ex proyek lahan gambut (PLG), program yang digagas mantan Presiden Soeharto.

Sumber: Save Our Borneo
Sumber: Save Our Borneo
Sumber: Save Our Borneo
Sumber: Save Our Borneo
Dehen, tengah menunjukkan bibit-bibit sawit Globalindo, yang disita. Foto: Nordin, Save Our Borneo
Dehen, tengah menunjukkan bibit-bibit sawit Globalindo, yang disita. Foto: Nordin, Save Our Borneo

Kredit

Topik

Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba

Kekayaan hayati Papua menyimpan keunikan luar biasa melalui keberadaan mamalia bertelur ekidna yang dianggap keramat serta spesies langka seperti kanguru pohon, tikus babi, dan karnivora mungil quoll. Satwa-satwa endemik ini memegang peran krusial sebagai arsitek alam dan petani hutan yang menjamin regenerasi ekosistem hutan hujan tropis. Namun, masa depan benteng terakhir keanekaragaman hayati ini kini […]

Artikel terbaru

Semua artikel