Selepas hujan, ketika Gunung Menumbing diselimuti gelap, seekor primata mungil mulai bergerak di antara pepohonan. Matanya yang besar membantunya beraktivitas pada malam hari, sementara kaki belakangnya yang panjang memungkinkan tubuhnya melompat secara vertikal. Satwa itu adalah mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus).
Pada siang hari, mentilin sulit ditemukan. Selain berukuran kecil, primata nokturnal ini biasanya sedang beristirahat. Belum ada angka pasti mengenai populasinya di Taman Hutan Raya Gunung Menumbing. Namun, petugas pengamanan hutan memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu di kawasan tersebut.
Gunung Menumbing berada di Kabupaten Bangka Barat dan memiliki luas sekitar 3.300 hektar. Kawasan ini lebih dikenal sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Mohammad Hatta pada masa Agresi Militer Belanda II. Akan tetapi, di balik nilai sejarahnya, hutan Menumbing juga menjadi salah satu kantong penting kehidupan liar di Pulau Bangka.
Sekitar 1.898 hektar atau 57 persen wilayahnya dinilai memiliki tingkat kesesuaian habitat tinggi bagi mentilin. Kepadatan satwa ini di Kabupaten Bangka diperkirakan berkisar 2,22-17,78 individu per kilometer persegi. Meski demikian, populasinya secara global terus menurun. Cephalopachus bancanus beserta subspesies C. b. bancanus berstatus Rentan menurut IUCN.
Sebagai pemburu malam, mentilin sangat bergantung pada kelimpahan serangga. Makanannya didominasi ngengat, jangkrik, dan belalang. Sesekali, satwa ini juga memangsa vertebrata kecil seperti burung, kelelawar, dan ular. Hilangnya hutan berarti berkurangnya ruang berburu sekaligus sumber makanan.
Ancaman itu nyata di Menumbing. Sekitar 50 persen kawasan diperkirakan telah terdegradasi akibat penambangan timah ilegal. Lubang-lubang bekas tambang masih ditemukan di sekitar batuan granit. Aliran sungai kecil juga kerap dibendung untuk memisahkan timah dari tanah. Tekanan lain datang dari pembalakan, perluasan perkebunan rakyat, dan perburuan satwa.
Mentilin bukan satu-satunya penghuni yang terancam. Gunung Menumbing juga menjadi habitat musang congkok, binturong, pelanduk, kukang bangka, elang brontok, dan elang laut. Hutannya ditumbuhi ulin, pelawan, durian namlung, serta anggrek Bung Karno. Kawasan ini juga menjadi hulu sejumlah sungai yang mengalir menuju Kota Mentok.
Meski menghadapi berbagai tekanan, Menumbing masih dinilai sebagai kawasan paling aman untuk pelepasliaran satwa di Pulau Bangka. Pintu masuknya terbatas dan dijaga petugas pengamanan hutan. Alobi Foundation telah melepasliarkan mentilin, kukang bangka, trenggiling, elang laut, dan elang bondol di sana.
Harapan bagi mentilin bergantung pada patroli yang lebih kuat, terutama di sepanjang aliran sungai, serta keterlibatan masyarakat dalam konservasi. Menjaga Gunung Menumbing bukan hanya menyelamatkan primata bermata besar tersebut, tetapi juga mempertahankan sumber air, tumbuhan, satwa lain, dan sejarah yang hidup bersama hutannya.