Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang.
Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu kaku tersebut menjadi penghalang bagi semut yang mencoba menggigit atau menyengat. Dugaan ini menawarkan penjelasan tentang salah satu fungsi tubuh berbulu pada laba-laba besar tersebut.
“Bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula, menyulitkan semut untuk menggigit atau menyengatnya,” kata Alireza Zamani, ahli arachnologi Universitas Turku, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian. “Kami yakin, bulu-bulu itu telah berevolusi sebagai mekanisme pertahanan.”
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Natural History pada Agustus 2024 itu meninjau berbagai hubungan tarantula dengan hewan lain. Zamani dan koleganya menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengamatan lapangan terbaru. Karena penjelasan tentang evolusi bulu masih berupa hipotesis, temuan tersebut menunjukkan kemungkinan mekanisme pertahanan yang perlu dipahami lebih jauh.
Hubungan dengan semut tentara ternyata tidak selalu merugikan tarantula. Para peneliti menemukan bukti bahwa semut dapat mengeluarkan sisa makanan lama dari liang. Meski mendapat manfaat tersebut, tarantula tetap memerlukan perlindungan dari gigitan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan tarantula menutupi kantung telur dengan bulu untuk mencegah serangan semut.
Tidak semua tarantula menghadapi ancaman dengan cara serupa. Jenis yang hidup di pepohonan dan memiliki lebih sedikit bulu dapat menggunakan strategi berbeda. Dalam sebuah pengamatan di Peru, Avicularia hirschii terlihat bergelantungan di ujung daun untuk menghindari serbuan semut.
Tim peneliti juga menyoroti hubungan tarantula dengan amfibi. Mereka menghimpun sekitar 60 pengamatan dari 10 negara mengenai katak dan kodok yang menggunakan persembunyian tarantula. Menurut Zamani, tempat tersebut dapat membantu amfibi berlindung dari predator.
“Mereka memakan serangga yang dapat membahayakan laba-laba, telurnya, dan anak-anaknya. Dapat dikatakan, tarantula tidak seseram yang digambarkan selama ini,” paparnya.
Berbagai pengamatan itu memperlihatkan bahwa liang tarantula bukan sekadar tempat tinggal satu hewan. Di dalam dan sekitarnya, ada hubungan yang melibatkan perlindungan, makanan, serta ancaman. Bulu tubuh, perilaku menghindar, dan kehadiran hewan lain menjadi bagian dari cara tarantula menghadapi kehidupan di habitatnya.
Tarantula sendiri dapat hidup di bawah tanah maupun di pepohonan pada wilayah hangat. Perbedaan tempat hidup itu membantu menjelaskan mengapa pertahanannya beragam: sebagian mengandalkan bulu sebagai penghalang, sementara yang lain menjauh dari jalur semut. Hubungan-hubungan tersebut membuat perilaku tarantula lebih kompleks daripada kesan menakutkan yang sering melekat padanya.