<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=e-e-ampou&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/e-e-ampou/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 13 Jul 2026 09:15:37 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 09:15:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07064905/SaveClip.App_568176351_18382487137183415_733977403012204759_n-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130181</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak 2019, Julian Puput Lendri tinggal di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta. Tiap hari, sayur dan bahan dapur menjadi barang rebutan. Saat kapal sayur datang, banyak orang berkerumun. Pengalaman ini tak pernah terjadi saat dia tinggal di Jakarta. Tiap tengah hari atau sekitar pukul 2 siang, para perempuan mulai berkumpul di sekitar Dermaga Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/">Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak 2019, Julian Puput Lendri tinggal di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta. Tiap hari, sayur dan bahan dapur menjadi barang rebutan. Saat kapal sayur datang, banyak orang berkerumun. Pengalaman ini tak pernah terjadi saat dia tinggal di Jakarta. Tiap tengah hari atau sekitar pukul 2 siang, para perempuan mulai berkumpul di sekitar Dermaga Pulau Kelapa. Semula, mereka membuat antrean, tetapi itu menjadi kacau saat kapal sayur mulai merapat. Ibu-ibu saling berebutan kebutuhan untuk mengisi meja makan hari ini. Suasananya sangat riuh. “Di sini kalau sayur berebut. Kita sampai ke tukang sayur, semuanya habis. Mending kalau segar, nggak segar pula kita dapetnya, tapi cepat habis,” kata Julian sambil tertawa, Selasa (10/6/25). Semua kebutuhan sayur, warga Pulau Kelapa masih bergantung pada Jakarta. Kapal sayur setidaknya menempuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai tepian dermaga. Jika cuaca tak bersahabat, kapal tak akan merapat. “Itu (sayur) kadang (di kapal) ya keinjek-injek, kena panas hawa mesin. Sampai sini, ya layu,” ujarnya. Julian tak ada pilihan, dia tetap memburunya. “Kalau disini tetap, walaupun kuning, berebut,&#8221; katanya. Akibat biaya transportasi yang tinggi, harga sayuran pun meningkat dua kali lipat, misal, kangkung seharga Rp2.000-2.500 per ikat menjadi Rp5.000-Rp7.500. Rak hidroponik berisi berbagai jenis sayuran daun di kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. Foto: Dokumentasi pulauseribu.jakarta.go.id Keresahan Julian juga warga Pulau Kelapa rasakan. Hingga akhirnya, sejak 2018, para perempuan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun dengan binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Kepulauan Seribu. Mereka mengajukan inisiatif untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Tokek Lebih Nyaman Hidup Dekat Manusia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 08:12:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13080533/Tokek-rumah-Foto-Falahi-Mubarok-Mongabay2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130533</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Benarkah tokek lebih suka hidup di sekitar manusia ketimbang hutan? Pertanyaan tersebut mendorong para peneliti menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu, untuk membuktikan anggapan tersebut Hasilnya menunjukkan bahwa dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Temuan tersebut membuka cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/">Apakah Tokek Lebih Nyaman Hidup Dekat Manusia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Benarkah tokek lebih suka hidup di sekitar manusia ketimbang hutan? Pertanyaan tersebut mendorong para peneliti menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu, untuk membuktikan anggapan tersebut Hasilnya menunjukkan bahwa dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Temuan tersebut membuka cara pandang kita tentang kemampuan reptil yang dikenal Gekko gecko ini beradaptasi di tengah perubahan bentang alam. Muhammad Fakhri Fauzan (31), peneliti utama dalam studi yang dipublikasikan di Jurnal Biologi Indonesia (2022), menjelaskan temuan paling menarik tak sekedar jumlah individu, tetapi juga  kemampuan tokek beradaptasi. “Hampir setiap tiang listrik yang kami lewati ada tokeknya,” jelas Fakhri, kandidat doktor Biosains Hewan, IPB University, Jum’at (10/7/26). Penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan IPB itu, mencatat 273 individu tokek melalui pengamatan langsung. Berdasarkan kepadatan populasi, tim memperkirakan daratan Kepulauan Seribu dihuni sekitar 11.930 individu dengan kepadatan rata-rata 13,6 individu per hektar. Habitat tokay gecko sebenarnya berada di kawasan hutan. Namun, perubahan bentang alam membuat satwa nokutrnal ini beradaptasi dengan lingkungan permukiman. “Kondisi yang menguntungkan bagi mereka.” Tokek rumah yang sering terdengar keras suaranya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Menurut Fakhri, lampu-lampu rumah yang menyala malam hari menarik kehadiran berbagai serangga mulai ngengat, laron, hingga kumbang. Bagi reptil yang masuk CITES Apendiks II ini, kondisi tersebut menyediakan sumber pakan melimpah. “Tokek hanya menunggu mangsa datang.” Bangunan juga menjadi tempat berlindung. Celah dinding, rongga di balik atap, hingga lubang pada tiang listrik merupakan lokasi aman untuk tokek beristirahat dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya &#8220;Mata Kedua&#8221; di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:41:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13033756/Aipysurus_laevis_23225579-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130507</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/">Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya &#8220;Mata Kedua&#8221; di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons terhadap cahaya yang terjadi langsung melalui kulit, tanpa melibatkan organ mata sama sekali. Fenomena ini pertama kali diungkap secara menyeluruh oleh tim peneliti dari University of Adelaide yang dipimpin Jenna Crowe-Riddell. Hasil penelitian mereka terbit di jurnal Molecular Ecology, dengan judul &#8220;Phototactic tails: Evolution and molecular basis of a novel sensory trait in sea snakes&#8220;. Sebelum penelitian ini, kemampuan serupa memang sempat tercatat pada beberapa hewan air lain seperti ikan dan amfibi, namun belum pernah diteliti secara sistematis pada reptil. Untuk memastikan sejauh mana kemampuan ini tersebar, tim peneliti menguji 17 ekor ular laut dari delapan spesies berbeda. Hasilnya, kemampuan mendeteksi cahaya lewat ekor tidak hanya dimiliki ular laut zaitun, tapi juga ditemukan pada dua spesies lain, yaitu A. duboisii dan A. tenuis. Sebaliknya, lima spesies lain yang diuji, termasuk beberapa dari genus Hydrophis, tidak menunjukkan respons serupa sama sekali. Dari pola ini, peneliti menduga kemampuan tersebut berevolusi pada nenek moyang bersama dari enam spesies dalam genus Aipysurus, atau sekitar 10 persen dari total spesies ular laut yang ada saat ini. Secara biologis, kulit di bagian ekor ular ini mengandung sel-sel yang peka terhadap cahaya, tapi cara kerjanya jauh berbeda dari mata. Sel ini tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Semua Spesies Badak Bernasib Sama, Apa yang Membedakan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:37:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/24042744/Sumatran_rhinoceros_four_days_old-1200x817-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130508</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/">Tidak Semua Spesies Badak Bernasib Sama, Apa yang Membedakan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang terlalu kecil untuk dapat bertahan dalam jangka panjang. Selama lebih dari dua dekade, konservasionis berupaya melindungi badak dari pemburu liar. Pendorong utamanya masih sama: tingginya permintaan cula badak di Asia Timur. Cula diperdagangkan sebagai simbol status dan digunakan dalam pengobatan tradisional, meski berbagai penelitian telah membantah manfaat medisnya. Nilai jualnya di pasar gelap bahkan dilaporkan dapat melampaui emas atau berlian. Berbagai strategi konservasi pun diterapkan, mulai dari patroli bersenjata, pemotongan cula (dehorning), hingga penelitian reproduksi berbantu. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, tetapi belum cukup untuk mengamankan seluruh spesies badak. Laporan terbaru tersebut memperlihatkan bahwa kondisi lima spesies badak kini berkembang ke arah berbeda. Badak bercula satu besar (Rhinoceros unicornis) di India dan Nepal berhasil menunjukkan pemulihan populasi signifikan. Badak hitam (Diceros bicornis) di Afrika juga mengalami peningkatan, dengan jumlah populasi diperkirakan naik sekitar 10 persen, dari 6.195 individu pada 2021 menjadi 6.788 individu pada 2024. Sebaliknya, tiga spesies lainnya masih berada dalam tren penurunan. Populasi badak putih (Ceratotherium simum) di Afrika turun dari 15.942 menjadi 15.752 individu dan kini mencapai titik terendah dalam hampir dua dekade. Menurut para peneliti, ancaman terhadap badak putih tidak lagi hanya berasal dari perburuan. Kekeringan berkepanjangan yang diperparah krisis iklim&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Logam Berat pada Daging Hiu Ancam Perkembangan Janin dan Anak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:08:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/18101114/Seorang-nelayan-mengangkat-hiu-hasil-tangkapannya-di-sekitar-Pulau-Semujur-Kepulauan-Bangka-Belitung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130504</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan. Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/">Logam Berat pada Daging Hiu Ancam Perkembangan Janin dan Anak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan. Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling berisiko mengalami dampaknya bukanlah orang dewasa sehat, melainkan ibu hamil, janin yang sedang dikandung, serta anak-anak yang sistem sarafnya masih berkembang. Ancaman ini berawal dari posisi hiu sebagai predator puncak di lautan. Sepanjang hidupnya, hiu memangsa berbagai ikan dan hewan laut lain yang telah menyerap polutan dari lingkungan. Merkuri, arsenik, kadmium, dan timbal menumpuk di tubuh hiu melalui proses bioakumulasi. Akibatnya, kadar logam berat pada hiu jauh lebih tinggi dibandingkan banyak jenis ikan lainnya. Di antara berbagai logam berat tersebut, merkuri dalam bentuk metilmerkuri menjadi perhatian utama karena mampu menyerang sistem saraf manusia. Para peneliti menggunakan indikator yang disebut Target Hazard Quotient (THQ) untuk memperkirakan risiko kesehatan akibat paparan logam berat sepanjang hidup. Nilai THQ di bawah satu umumnya dianggap masih dapat ditoleransi, sedangkan di atas satu menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan. Pada beberapa spesies hiu yang banyak dikonsumsi, nilai THQ bahkan mencapai puluhan kali di atas batas tersebut, sehingga para peneliti tidak lagi merekomendasikan mengkonsumsinya. Risiko terbesar muncul pada masa kehamilan. Berbeda dengan banyak zat lain yang dapat disaring tubuh, metilmerkuri mampu menembus plasenta. Artinya, ketika seorang ibu hamil mengkonsumsi daging hiu yang mengandung metilmerkuri, zat tersebut tidak hanya masuk ke tubuh sang ibu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 01:12:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/11163802/Jajaran-Bukit-Gunung-Salakan-dan-Papan-Penunjuk-Arah-Untuk-Evakuasi-Saat-Bencana-Datang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130452</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nur Aini melangkah menyusuri jalan setapak menuju kebunnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (8/6/26). Dia sudah hafal betul setiap sudut kawasan itu. Termasuk, letak pondokan para petani, jalur ke kebun, hingga batas-batas lahan yang masyarakat kelola. Hari itu, Paini, sapaan akrabnya,  menemukan ada yang berbeda. Di satu sudut areal kerja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/">Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nur Aini melangkah menyusuri jalan setapak menuju kebunnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (8/6/26). Dia sudah hafal betul setiap sudut kawasan itu. Termasuk, letak pondokan para petani, jalur ke kebun, hingga batas-batas lahan yang masyarakat kelola. Hari itu, Paini, sapaan akrabnya,  menemukan ada yang berbeda. Di satu sudut areal kerja Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonoasih Makmur Sejahtera (WAMS), berdiri  pondok beratap terpal yang belum pernah dia lihat sebelumnya. &#8220;Saya langsung tahu itu bukan pondok petani. Saya hafal semua pondok yang ada di sini,&#8221; katanya. Rasa penasaran segera berubah menjadi kegelisahan ketika Paini bersama 15 petani lain mengetahui pondok itu milik tim survei geolistrik yang tengah bekerja di Gunung Salakan. &#8220;Yang membuat saya heran, mereka mendirikan pondok di lahan  yang kami kelola tanpa pernah memberitahu saya ataupun pengurus kelompok tani,&#8221; katanya. Menurut Paini, sekitar 20 orang berada di lokasi ketika itu. Dia menduga aktivitas itu  berkaitan dengan rencana eksplorasi emas di wilayah yang selama beberapa tahun terakhir masuk dalam konsesi eksplorasi perusahaan tambang. Bagi sebagian orang, survei geolistrik mungkin hanya kegiatan ilmiah untuk memetakan kondisi bawah permukaan bumi. Namun bagi warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi itu, aktivitas ini membangkitkan ingatan lama soal  berubahnya  Gunung Tumpang Pitu akibat tambang emas. &#8220;Kami tidak ingin Salakan bernasib seperti Tumpang Pitu. Gunung ini bukan hanya tempat kami bertani, tetapi juga jalur penyelamatan jika tsunami datang. Salakan harus tetap lestari,&#8221; tegas Paini. Aksi solidaritas warga Banyuwangi tolak tambang emas Tumpang Pitu, PT Bumi Suksesindo, kala sidang putusan Budi Pego di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 07:30:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/23195051/Setelah-gagal-operasi-sejumlah-peralatan-di-PLTU-Koto-Ringin-dicuri.-Kasusnya-sampai-ke-pengadilan.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125143</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Setengah Hati Beralih ke Energi Terbarukan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Yayasan Indonesia Cerah mengusulkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Koto Ringin, Kabupaten Siak, Riau, yang mangkrak hampir dua dekade, jadi sumber pembangkit energi bersih dan terbarukan, bersumber matahari (surya). Mereka sampaikan itu pada sejumlah pejabat Siak, akhir Mei. “Kami ingin bantu Pemkab Siak cari pilihan atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/">Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Yayasan Indonesia Cerah mengusulkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Koto Ringin, Kabupaten Siak, Riau, yang mangkrak hampir dua dekade, jadi sumber pembangkit energi bersih dan terbarukan, bersumber matahari (surya). Mereka sampaikan itu pada sejumlah pejabat Siak, akhir Mei. “Kami ingin bantu Pemkab Siak cari pilihan atau alternatif, agar aset ini tidak terhenti dengan menggunakan peluang yang ada. Pemerintah daerah harus berperan dan kontribusi dalam kebijakan transisi energi berkeadilan,” kata Ahlul Fadli, Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Riau. Kedua lembaga ini menawarkan dua sumber energi bersih untuk menggantikan aset PLTU Koto Ringin yang terbengkalai itu yakni pembangkit listrik energi surya dan hibrid, gabungan surya dan bersumber air (mini hidro). Data Global Horizontal Irradiation (GHI) mencatat potensi energi surya di Siak, berkisar antara 1.580-1.657 kWh/m2/tahun. Angka ini tergolong baik dengan estimasi kapasitas antara 18%-18,9% jadi perlu  PLTS sekitar 23,3 MWp untuk menghasilkan energi listrik 36.792 MWh per tahun,  setara kapasitas PLTU Koto Ringin 2&#215;3,5 megawatt (MW) itu. Lahan pun hanya 24,2 hektar, lebih sedikit ketimbang areal PLTU Koto Ringin saat ini, 30 hektar. “Sehingga menyisakan ruang cukup luas untuk pengembangan lanjutan atau fungsi pendukung lainnya,” kata Sartika Nur Shalati, Peneliti Yayasan Indonesia Cerah. Kondisi itu makin memperkuat argumen PLTS merupakan alternatif pembangkit efisien secara spasial dan lebih ramah lingkungan. Dari segi investasi, proyek PLTS 23,3 MWp akan memerlukan estimasi capital expenditure (capex) antara US$16,31 juta&#8211;US$20,97 juta,  kurs Rp16.500, dengan biaya  Rp269 miliar-Rp346 miliar. PLTU, katanya, memang lebih konsisten menghasilkan daya listrik sepanjang waktu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anatomi Hujan Jakarta: Ada &#8220;Penumpang Gelap&#8221; Beracun di Setiap Tetesnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 04:49:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22002556/ANTISIPASI-MENINGKATNYA-POLUSI-UDARA-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130468</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, pencemaran air, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan Anda sedang berdiri di bawah rintik hujan Jakarta, menikmati udara yang perlahan mendingin. Namun, sains punya kabar kurang romantis: air hujan tersebut tidak lagi murni. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa setiap tetes air hujan yang membasahi Ibu Kota kini telah terkontaminasi mikroplastik, serpihan plastik tak kasat mata yang berukuran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/">Anatomi Hujan Jakarta: Ada &#8220;Penumpang Gelap&#8221; Beracun di Setiap Tetesnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan Anda sedang berdiri di bawah rintik hujan Jakarta, menikmati udara yang perlahan mendingin. Namun, sains punya kabar kurang romantis: air hujan tersebut tidak lagi murni. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa setiap tetes air hujan yang membasahi Ibu Kota kini telah terkontaminasi mikroplastik, serpihan plastik tak kasat mata yang berukuran kurang dari 5 milimeter hingga 1 mikrometer. Muhammad Reza Cordova, Profesor Riset BRIN, bersama timnya telah melacak fenomena ini sejak 2022. Hasilnya mengejutkan: di wilayah pesisir Jakarta saja, rata-rata ada 15 partikel mikroplastik yang jatuh di setiap meter persegi tanah setiap harinya. Dalam dunia sains, fenomena langit yang &#8220;muntah&#8221; plastik ini disebut sebagai atmospheric microplastic deposition. Bagaimana bisa plastik naik ke langit? Ini adalah konsekuensi dari hukum alam yang brutal: plastik tidak pernah benar-benar hancur, mereka hanya menolak hancur dan memilih menua menjadi potongan yang lebih kecil. Di kota sibuk seperti Jakarta, yang menghasilkan ribuan ton sampah plastik setiap hari, degradasi plastik terjadi secara masif di ruang terbuka. Ditambah lagi dengan gesekan ban kendaraan di aspal, asap pembakaran, hingga serat kain sintetis dari pakaian yang kita jemur. Partikel yang super ringan ini kemudian terbawa oleh hembusan angin dan udara hangat, terbang tinggi ke atmosfer, berbaur dengan awan, dan akhirnya turun kembali ke bumi saat hujan deras tiba. Masalahnya, partikel mikroplastik ini bukanlah remahan biasa. Mereka layaknya &#8220;spons beracun&#8221; yang membawa zat kimia berbahaya seperti BPA (Bisphenol A) dan ftalat. Ketika jatuh ke bumi, mikroplastik ini mengalir ke sungai, meresap ke lahan pertanian, hingga mencemari sumber&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/anatomi-hujan-jakarta-ada-penumpang-gelap-beracun-di-setiap-tetesnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Efek Deforestasi, Nyamuk Hutan Terpaksa &#8220;Ganti Selera&#8221; Gigit Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 04:37:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/18165148/51264-1.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130466</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kerusakan hutan ternyata tidak hanya membuat satwa besar kehilangan rumah, tetapi juga mengubah perilaku serangga kecil seperti nyamuk. Sebuah studi terbaru dari Hutan Atlantik (Atlantic Forest) di Brasil mengungkapkan fenomena sains yang mengkhawatirkan: nyamuk-nyamuk liar kini mulai beralih memburu darah manusia sebagai menu makanan utama mereka. Fenomena ini dipicu oleh menyusutnya habitat alami akibat ulah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/">Efek Deforestasi, Nyamuk Hutan Terpaksa &#8220;Ganti Selera&#8221; Gigit Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kerusakan hutan ternyata tidak hanya membuat satwa besar kehilangan rumah, tetapi juga mengubah perilaku serangga kecil seperti nyamuk. Sebuah studi terbaru dari Hutan Atlantik (Atlantic Forest) di Brasil mengungkapkan fenomena sains yang mengkhawatirkan: nyamuk-nyamuk liar kini mulai beralih memburu darah manusia sebagai menu makanan utama mereka. Fenomena ini dipicu oleh menyusutnya habitat alami akibat ulah manusia. Hutan Atlantik dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Namun, akibat ekspansi manusia dan deforestasi, kini hanya tersisa sepertiga dari luas aslinya dalam bentuk potongan-potongan hutan yang terisolasi. Kehilangan habitat ini memicu efek domino: mamalia, burung, dan amfibi yang biasanya menjadi inang alami, alias sumber darah bagi nyamuk hutan, mulai punah atau bermigrasi. Ketika &#8220;makanan&#8221; alami mereka menghilang, nyamuk-nyamuk ini harus beradaptasi untuk bertahan hidup. Pilihan paling mudah dan melimpah di sekitar mereka tak lain adalah manusia. Untuk membuktikan pergeseran perilaku ini, tim peneliti dari Institut Oswaldo Cruz dan Universitas Federal Rio de Janeiro melakukan eksperimen di dua cagar alam yang dikelilingi permukiman. Mereka memasang perangkap cahaya dan berhasil mengumpulkan 1.714 ekor nyamuk dari 52 spesies berbeda. Fokus utama mereka adalah nyamuk betina yang perutnya buncit karena kekenyangan mengisap darah. Di laboratorium, para ilmuwan menggunakan teknik canggih berupa analisis DNA untuk melacak dari mana asal darah di dalam perut nyamuk tersebut. Hasilnya mengejutkan! Dari sampel yang teridentifikasi secara akurat, mayoritas besar, yaitu 18 dari 24 sampel, berisi darah manusia. Sisanya hanyalah campuran kecil dari darah anjing, tikus, burung, dan amfibi. Bahkan, ada nyamuk yang terdeteksi membawa darah campuran antara amfibi dan manusia, membuktikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/efek-deforestasi-nyamuk-hutan-terpaksa-ganti-selera-gigit-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>12 Individu Spesies Baru Hiu Berjalan Ditemukan di Perairan Dangkal, Berpotensi Rentan Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 02:15:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/12020850/Currie_BREAKER_dcd534.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130460</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim peneliti kelautan dari University of the Sunshine Coast, Australia, mengumumkan penemuan spesies baru hiu berjalan di perairan Milne Bay, ujung tenggara Papua Nugini. Spesies ini diberi nama Hemiscyllium dudgeonae, atau Dudgeon&#8217;s Walking Shark, sesuai nama peneliti yang menangkap spesimen pertamanya secara langsung dengan tangan, Christine Dudgeon. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the Ocean [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/">12 Individu Spesies Baru Hiu Berjalan Ditemukan di Perairan Dangkal, Berpotensi Rentan Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim peneliti kelautan dari University of the Sunshine Coast, Australia, mengumumkan penemuan spesies baru hiu berjalan di perairan Milne Bay, ujung tenggara Papua Nugini. Spesies ini diberi nama Hemiscyllium dudgeonae, atau Dudgeon&#8217;s Walking Shark, sesuai nama peneliti yang menangkap spesimen pertamanya secara langsung dengan tangan, Christine Dudgeon. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the Ocean Science Foundation. Hiu berjalan adalah kelompok hiu kecil dalam genus Hemiscyllium yang menggunakan sirip dada dan sirip perut yang berotot untuk bergerak melintasi rataan terumbu karang (reef flat) yang terpapar udara saat air surut. Dengan cara ini, mereka berpindah antar kolam-kolam kecil sisa air laut di celah karang untuk mencari mangsa, dan mampu bertahan hingga dua jam dalam kondisi kadar oksigen rendah tersebut. Kemampuan bertahan dalam kondisi hipoksia ini sebelumnya sudah diteliti pada spesies yang lebih dulu dikenal, hiu epaulette (Hemiscyllium ocellatum), yang mendapat namanya dari bercak gelap di belakang sirip depan menyerupai tanda pangkat militer. Menurut Dudgeon, penemuan spesies hiu baru tergolong jarang terjadi. &#8220;Spesies hiu baru tidak sering ditemukan, dan ini jelas yang pertama diberi nama sesuai nama saya,&#8221; ujarnya dalam pernyataan resmi dari University of the Sunshine Coast. Pola Garis Putih yang Berbeda dari Perkiraan Setelah spesimen pertama dibawa ke atas kapal, tim peneliti mengukur panjang tubuhnya, sekitar 90 sentimeter, dan mengambil sampel darah untuk analisis genetik. Hasil analisis ini yang menjadi dasar utama konfirmasi bahwa hiu tersebut merupakan spesies baru, bukan sekadar variasi dari spesies yang sudah dikenal. Spesies ini menjadi hiu berjalan pertama yang dideskripsikan sejak 2013. Yang menarik perhatian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/12/12-individu-spesies-baru-hiu-berjalan-ditemukan-di-perairan-dangkal-berpotensi-rentan-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Biarkan Siamang Hidup Liar di Hutan [3]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 01:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08150745/Siamang-di-Taman-Wisata-Kera-Sibaganding-Sumatera-Utara-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130298</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tepi Danau Toba, tepatnya di Monkey Forest Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, suara dedaunan yang bergesekan kerap bersahutan dengan pekikan suara primata. Di antara rimbun pepohonan itu, seorang pria berdiri sambil membawa pisang. Dia memanggil satu per satu “penghuni” hutan. Baginya, merekaini bukan sekadar satwa liar, melainkan keluarga. “Keinginan saya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/">Biarkan Siamang Hidup Liar di Hutan [3]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tepi Danau Toba, tepatnya di Monkey Forest Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, suara dedaunan yang bergesekan kerap bersahutan dengan pekikan suara primata. Di antara rimbun pepohonan itu, seorang pria berdiri sambil membawa pisang. Dia memanggil satu per satu “penghuni” hutan. Baginya, merekaini bukan sekadar satwa liar, melainkan keluarga. “Keinginan saya, tidak ada lagi primata mengemis di jalan,” kata Abdul Rahman Manik, Minggu (12/10/26). Selain itu, keselamatan pengguna jalan juga penting. Jalan di pinggir Danau Toba terjal, sempit dengan tikungan tajam, serta  banyak jurang. “Ketika fokus pengemudi terganggu, karena memberi makan primata, bisa berbahaya untuk mereka sendiri dan pengguna jalan lain.” Abdul Rahman Manik yang peduli pada kehidupan siamang dan berharap mereka hidup liar di hutan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Pria yang akrab disapa Detim Manik itu bukan orang baru. Dia anaknya Umar Manik, seorang parherek, sebutan lokal bagi penjaga kera yang sejak 1984 merawat hutan kecil di Sibaganding. Tradisi itu turun kepadanya, meski dengan cara berbeda. Saat mengambil alih pengelolaan kawasan pada usia 22 tahun pada 2013, Detim berhadapan pada kenyataan mengusik. Kawanan primata turun ke jalan raya, mengais makanan dari pengendara. “Kera di sini juga kerap berkonflik dengan warga, bahkan ada yang ke setrum pagar listrik di area pertanian warga.” Di kawasan ini terdapat empat jenis primata, yaitu beruk, kera ekor panjang, siamang, dan kiak-kiak. Namun keterbatasan pakan membuat mereka meninggalkan habitatnya. Risiko paling besar mengintai siamang. Primata arboreal itu, jika turun ke jalan, rentan kena buru atau ditangkap. “Kalau siamang turun, bisa diambil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/12/biarkan-siamang-hidup-liar-di-hutan-3/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Tapir di Mesuji, Muncul di Jalan Lintas Sumatera Berakhir Jadi Rica-rica</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 10:06:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/11095550/Tapirus-indicus-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130439</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangkapan video viral memperlihatkan seekor tapir tampak kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, pada Kamis sore (2/7/26). Beberapa jam lagi, malam tiba. Waktu bagi tapir ini mencari makan karena sifatnya nokturnal/aktif malam hari. Beberapa orang terlihat mengelilinginya. Mereka berusaha menghalau satwa liar dilindungi itu ke pinggir. Jalan Lintas Sumatera di wilayah Register 45, Mesuji, Lampung, sore [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/">Kisah Tapir di Mesuji, Muncul di Jalan Lintas Sumatera Berakhir Jadi Rica-rica</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangkapan video viral memperlihatkan seekor tapir tampak kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, pada Kamis sore (2/7/26). Beberapa jam lagi, malam tiba. Waktu bagi tapir ini mencari makan karena sifatnya nokturnal/aktif malam hari. Beberapa orang terlihat mengelilinginya. Mereka berusaha menghalau satwa liar dilindungi itu ke pinggir. Jalan Lintas Sumatera di wilayah Register 45, Mesuji, Lampung, sore itu ramai kendaraan lalu lalang. Sejurus kemudian tapir menepi dan berlari mencoba menemukan jalan pulang. Di ujung video sepanjang 42 detik itu, terekam seorang pria bertelanjang dada berlari ke arah tapir yang malang sambil membawa tombak. Aparat keamanan yang mendapat laporan segera menuju lokasi. Tapi polisi mendapati tapir yang melintasi kawasan permukiman warga itu telah mati. Kepalanya dipenggal, dagingnya dibagikan ke sejumlah warga, ada yang dimasak rica-rica. Polisi menangkap empat dari enam tersangka. Dua orang masih buron. Sontak peristiwa itu mengundang keprihatinan banyak pihak. Di antaranya dari Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI). Budi Setiadi Daryono, Ketua KOBI. Mengutuk keras dan menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa pembunuhan tapir (Tapirus indicus) yang terjadi di wilayah Lampung. “Tapirus indicus merupakan satu-satunya spesies tapir di Asia yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Pembunuhan tapir adalah pelanggaran hukum sekaligus kemunduran upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Tindakan ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun,&#8221; tegas Budi, yang juga Dekan Fakultas Biologi UGM itu, Rabu (8/7/26). Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, menyatakan keprihatinan mendalam. Hilangnya satu individu tapir merupakan kerugian besar bagi kekayaan biodiversitas dan keseimbangan ekosistem. “Kementerian Kehutanan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 07:46:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/05/22051254/Banjir-Siberut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130393</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tiga jam setelah hujan turun, air Sungai Sirilanggai mulai meluap hingga menggenangi jalan dan halaman rumah warga Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang siang, banjir sudah lebih dari satu meter. Dapur dan kamar mandi rumah Barnabas Saerejen, tokoh masyarakat Siberut  tak luput dari banjir hari itu. &#8220;Nanti kalau hujannya berhenti, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/">Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tiga jam setelah hujan turun, air Sungai Sirilanggai mulai meluap hingga menggenangi jalan dan halaman rumah warga Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang siang, banjir sudah lebih dari satu meter. Dapur dan kamar mandi rumah Barnabas Saerejen, tokoh masyarakat Siberut  tak luput dari banjir hari itu. &#8220;Nanti kalau hujannya berhenti, baru airnya pelan-pelan surut,&#8221; katanya, awal Juli. Meski banjir terus meninggi, sebagian warga tetap beraktivitas ke ladang. Mereka melewati banjir dengan berjalan kaki sambil menyandang orek (tas tradisional Suku Mentawai untuk membawa hasil ladang), sedang  anak-anak bermain bola di lapangan sekitar kampung.  Barnabas bilang, banjir  bukan hal baru bagi warga sekitar. Kampung mereka berada di dataran rendah hingga kerap kebanjiran saat sungai meluap. Namun, beberapa tahun terakhir, frekuensi makin meningkat. Dulu,  banjir besar hanya terjadi sekali dalam setahun,  kini, setiap kali hujan turun dalam dua jam, hampir pasti kebanjiran.  Menurut dia, banjir makin sering terjadi sejak hutan di hulu mulai terbuka untuk aktivitas penebangan kayu. Dia tidak bisa memastikan secara ilmiah bahwa pembalakan menjadi penyebab banjir yang semakin sering terjadi. Namun sebagai orang yang lahir dan besar di kampung itu, dia merasakan sendiri perubahan aliran sungai dan kondisi hutan yang berbeda ketimbang puluhan tahun lalu. &#8220;Kalau hujan lebih dari dua jam saja, apalagi cukup lebat, kami pasti kebanjiran,&#8221; katanya. Banjir besar pada akhir November 2025 menjadi peristiwa yang paling membekas dalam ingatan warga. Selama hampir tiga pekan, banjir merendam sebagian besar Kecamatan Siberut Utara. Rumah-rumah warga terendam, lahan pertanian rusak, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Gigitan Komodo, Apakah Satwa Purba Ini Menyerang Manusia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 07:19:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003449/indonesia-komodo-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130432</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali muncul kabar warga atau wisatawan digigit komodo, pertanyaan yang sama selalu mengemuka: mengapa satwa purba ini menyerang manusia? Banyak orang menganggap komodo (Varanus komodoensis) sebagai predator yang agresif. Padahal, para peneliti menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar kasus justru terjadi karena manusia dan komodo bertemu dalam situasi yang memicu respons alami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/">Kasus Gigitan Komodo, Apakah Satwa Purba Ini Menyerang Manusia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali muncul kabar warga atau wisatawan digigit komodo, pertanyaan yang sama selalu mengemuka: mengapa satwa purba ini menyerang manusia? Banyak orang menganggap komodo (Varanus komodoensis) sebagai predator yang agresif. Padahal, para peneliti menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar kasus justru terjadi karena manusia dan komodo bertemu dalam situasi yang memicu respons alami satwa tersebut. Komodo merupakan predator puncak yang telah hidup di Kepulauan Komodo, Rinca, Gili Motang, Gili Dasami, dan sebagian Flores selama jutaan tahun. Mangsa alaminya adalah rusa, babi hutan, monyet, hingga kerbau. Manusia bukan bagian dari menu utama maupun target buruannya. Lalu, mengapa gigitan ke manusia dapat terjadi? Menurut para peneliti, komodo umumnya menyerang ketika merasa terganggu, terkejut, atau ketika akses menuju sumber makanannya terhalang. Sebagai predator, mereka tidak menghabiskan energi mengejar sesuatu tanpa alasan. Respons menggigit lebih sering muncul sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri atau mempertahankan sumber daya yang dianggap penting. Sejumlah kasus yang pernah terjadi menunjukkan pola yang serupa. Ada warga yang digigit saat mencari madu di kawasan hutan Pulau Rinca, wilayah yang relatif jarang dilalui manusia. Komodo di lokasi seperti ini cenderung lebih liar dibandingkan individu yang terbiasa melihat wisatawan. Kasus lain terjadi ketika seseorang duduk di atas batu yang ternyata menutupi bangkai rusa. Tanpa disadari, orang tersebut menghalangi jalan komodo menuju makanannya. Dalam peristiwa berbeda, seekor komodo yang sedang mengejar kambing justru menggigit manusia yang berada paling dekat setelah mangsanya berhasil lolos. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa komodo tidak secara aktif memburu manusia. Sebaliknya, sebagian besar insiden dipicu oleh interaksi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Indah Bulan, Orangutan Korban Perdagangan yang Menjadi Induk di Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 04:31:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08184821/Habitatnya-hancur-Orangutan-Sumatera-betina-ini-terjebak-dalam-kawasan-perkebunan-sawit-di-Langkat-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130426</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setelah lebih satu dekade sejak diselamatkan dari perdagangan satwa liar, Bulan akhirnya menorehkan kisah yang menjadi harapan baru bagi konservasi orangutan sumatera. Orangutan betina yang pernah menjalani rehabilitasi panjang ini melahirkan seekor bayi di habitat alaminya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar. Bayi jantan yang kemudian diberi nama Badar itu, menandai sebuah tonggak penting bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/">Kisah Indah Bulan, Orangutan Korban Perdagangan yang Menjadi Induk di Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setelah lebih satu dekade sejak diselamatkan dari perdagangan satwa liar, Bulan akhirnya menorehkan kisah yang menjadi harapan baru bagi konservasi orangutan sumatera. Orangutan betina yang pernah menjalani rehabilitasi panjang ini melahirkan seekor bayi di habitat alaminya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar. Bayi jantan yang kemudian diberi nama Badar itu, menandai sebuah tonggak penting bahwa individu hasil rehabilitasi tidak hanya mampu bertahan hidup di alam liar, tetapi juga berkembang biak secara alami. Kelahiran Badar merupakan ke-10 yang terkonfirmasi di kawasan Pelepasliaran Orangutan Jantho sejak program itu mulai pada 2011. Hal ini menunjukkan, orangutan yang berhasil selamat dari konflik dengan manusia, perdagangan ilegal, maupun kepemilikan ilegal dapat melewati rehabilitasi, dan berkembang biak secara alami di habitatnya. Kelahiran Badar pertama kali dikonfirmasi oleh tim Post Release Monitoring Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)–Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) pada 22 Mei 2026. Saat itu, Bulan terlihat lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain sambil menggendong bayinya yang diperkirakan baru berusia sekitar satu bulan. Bayi tersebut tampak sehat dan terus menempel pada tubuh induknya, sementara Bulan memperlihatkan naluri keibuan yang kuat dengan melindungi anaknya selama beraktivitas di kanopi hutan. Perjalanan Bulan hingga kembali menjadi induk di alam liar bukanlah hal yang singkat. Ia diselamatkan pada 2014 ketika masih berusia sekitar dua tahun setelah menjadi korban perdagangan ilegal. Selama lebih dari sepuluh tahun, Bulan menjalani berbagai tahap rehabilitasi untuk mempelajari kembali keterampilan yang dibutuhkan agar dapat hidup mandiri di hutan, mulai dari mencari makan, membangun sarang, hingga menghindari ancaman. Setelah dinilai siap, ia dilepasliarkan ke Cagar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 01:58:13 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28044044/Morelia-azurea-Foto_-Imam-Ramdhani-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=130411</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bentang alam Papua menyimpan kekayaan herpetofauna luar biasa yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular endemik unik, mulai dari perilaku sanca hijau utara dengan kemampuan kamuflase tingkat tinggi hingga spesies berbisa seperti ular putih yang hingga kini belum memiliki antivenom. Dinamika kehidupan para penguasa rimba ini menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya ancaman perburuan liar untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/">Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bentang alam Papua menyimpan kekayaan herpetofauna luar biasa yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular endemik unik, mulai dari perilaku sanca hijau utara dengan kemampuan kamuflase tingkat tinggi hingga spesies berbisa seperti ular putih yang hingga kini belum memiliki antivenom. Dinamika kehidupan para penguasa rimba ini menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya ancaman perburuan liar untuk perdagangan satwa ilegal serta dampak pemanasan global yang mulai menggeser ruang hidup ular berbisa ke dekat pemukiman manusia. Selain itu, gangguan keseimbangan ekosistem akibat invasi spesies asing di pulau-pulau kecil turut memperparah status keberadaan mereka. Seluruh ancaman ekologis serta keunikan karakteristik satwa tersebut menjadi potret penting mengenai kondisi riil ekosistem pedalaman saat ini sekaligus menjadi alarm bagi masa depan konservasi satwa liar di tanah Papua. The post Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Mandatori Biodiesel B50</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 01:43:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10073322/Perluasan-perkebunan-sawit-menjadi-ancaman-menurunnya-produksi-serta-minat-menanam-sayuran-masyarakat-Bangka-Belitung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130407</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mulai Juli ini, Pemerintah Indonesia mulai jalankan program biodiesel 50% (B50). Sejumlah pihak mengkritik kebijakan mandatori B50  dan menguji klaim pemerintah yang menyebut program ini dapat menghemat devisa negara mencapai Rp157,28 triliun pada 2026. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengklaim kebijakan B50 dapat mengurangi kebutuhan impor solar jauh lebih besar dari tahun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/">Menyoal Mandatori Biodiesel B50</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mulai Juli ini, Pemerintah Indonesia mulai jalankan program biodiesel 50% (B50). Sejumlah pihak mengkritik kebijakan mandatori B50  dan menguji klaim pemerintah yang menyebut program ini dapat menghemat devisa negara mencapai Rp157,28 triliun pada 2026. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengklaim kebijakan B50 dapat mengurangi kebutuhan impor solar jauh lebih besar dari tahun lalu ketika pemerintah masih mandatori B40. “Penghematan devisa Rp133,3 triliun  tahun lalu, maka penghematan devisa dari penurunan impor solar melalui kebijakan B50 pada tahun ini meningkat sekitar 17,9%,” ujar Dwi Anggia, Juru Bicara KESDM dari Antara. Pernyataan Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, penghematan lebih tinggi lagi. Saat peluncuran program ini 9 Juli lalu,  dia  mengatakan, mandatori biodiesel B50 berpotensi menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun. Mengutip IDN, dia bilang,  penghematan terjadi karena kebijakan ini mampu mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap impor solar. “Jadi,  dari B40 ke B50, kita bisa menahan devisa kita Rp170 T,” kata Bahlil masih dari IDN. Benarkah dapat menghemat devisa negara? Yayan Satyakti, Dosen Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran mengkaji klaim pemerintah ini. Dia bilang, penghematan devisa lewat program B50 memang terjadi, tetapi tidak otomatis berarti menghemat anggaran negara. Biodiesel, sumber energi di Indonesia dominan berasal dari sawit. Subsidi-subsidi untuk biodiesel sawit pun banyak mengalir ke perusahaan-perusahaan. Foto: dari laporan Koalisi Transisi Bersih Benarkah penghematan? Sebaliknya, menurut Yayan, B50 berpotensi menimbulkan biaya fiskal, tekanan terhadap pasar minyak goreng, risiko pembukaan lahan sawit baru, dan utang karbon hingga seabad lebih. Dia bilang, program B50 memang bisa gantikan impor solar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tawa Kera Besar Bantu Ungkap Asal-usul Bahasa Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 10:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/04/22035733/Gorilla4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130391</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penelitian terbaru mengungkap bahwa manusia dan kera besar memiliki pola tawa yang sangat mirip. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan tawa ritmis bukanlah ciri khas manusia semata, melainkan telah diwariskan dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Commonications Biology pada Juni 2026 ini memberi petunjuk baru tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/">Tawa Kera Besar Bantu Ungkap Asal-usul Bahasa Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penelitian terbaru mengungkap bahwa manusia dan kera besar memiliki pola tawa yang sangat mirip. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan tawa ritmis bukanlah ciri khas manusia semata, melainkan telah diwariskan dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Commonications Biology pada Juni 2026 ini memberi petunjuk baru tentang bagaimana kemampuan vokal manusia, termasuk bahasa, berevolusi. Baik manusia maupun kera besar seperti orangutan, gorila, bonobo, dan simpanse menghasilkan tawa melalui siklus napas pendek yang memicu getaran pita suara. Pola tersebut membentuk ritme vokal khas, seperti &#8220;ha-ha-ha&#8221;, dengan struktur waktu yang serupa di seluruh spesies. Selain sebagai ekspresi emosi, tawa juga berfungsi memperkuat ikatan sosial dan dapat menular kepada individu lain. Menurut tim peneliti dari Universitas Warwick, Inggris, mempelajari perilaku kera besar merupakan salah satu cara terbaik untuk memahami asal-usul kemampuan vokal manusia. Berbeda dengan bentuk tubuh yang dapat ditelusuri melalui fosil, evolusi suara dan bahasa tidak meninggalkan jejak fisik sehingga perilaku vokal kera besar menjadi petunjuk penting untuk merekonstruksi kemampuan komunikasi nenek moyang manusia. Tim peneliti berpandangan, perilaku tawa kera besar merupakan fosil dalam bentuk lain. Tawa bukan hanya luapan emosi spontan. Tawa merupakan jejak biologis yang menyimpan rahasia asal-usul bahasa manusia. Untuk menguji hipotesis tersebut, peneliti menganalisis rekaman tawa empat orangutan, dua gorila, tiga bonobo, empat simpanse, dan empat anak manusia berusia enam bulan hingga tujuh tahun. Hasil analisis menunjukkan seluruh spesies memiliki interval ritmis yang relatif konsisten, memperkuat dugaan bahwa pola dasar tawa diwarisi dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Garangan yang Gagal Membasmi Hama Tikus di Perkebunan Tebu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 09:19:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15015651/9145959089_d5326d5a35_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130380</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak akhir abad ke-19, manusia kerap mendatangkan satu spesies untuk mengendalikan spesies lain yang dianggap hama. Salah satu contohnya adalah introduksi atau pelepasan garangan kecil India ke sejumlah perkebunan tebu di Jamaika, Hawaii, dan Fiji, antara 1870-an hingga awal 1880-an, dengan tujuan menekan populasi tikus (didominasi Rattus rattus) yang merusak tanaman. Rencana ini terdengar sederhana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/">Kisah Garangan yang Gagal Membasmi Hama Tikus di Perkebunan Tebu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak akhir abad ke-19, manusia kerap mendatangkan satu spesies untuk mengendalikan spesies lain yang dianggap hama. Salah satu contohnya adalah introduksi atau pelepasan garangan kecil India ke sejumlah perkebunan tebu di Jamaika, Hawaii, dan Fiji, antara 1870-an hingga awal 1880-an, dengan tujuan menekan populasi tikus (didominasi Rattus rattus) yang merusak tanaman. Rencana ini terdengar sederhana di atas kertas; garangan adalah predator, tikus adalah mangsa, jadi tinggal melepas garangan dan tikus akan berkurang karena dimangsa garangan. Tapi ternyata, hasilnya jauh dari harapan, dan bahkan sebagian dampaknya masih terasa sampai sekarang. Garangan kecil India (Herpestes auropunctatus), spesies yang didatangkan ke perkebunan tebu di Jamaika, Hawaii, dan Fiji pada abad ke-19 untuk mengendalikan hama tikus. Foto: Kementerian Lingkungan Hidup Jepang (Government of Japan Standard Terms of Use, kompatibel dengan CC BY 4.0) Perkebunan tebu di pulau-pulau tropis kala itu menghadapi kerugian besar akibat serangan tikus. Sebagai jalan keluar, para pemilik lahan mendatangkan garangan kecil India, yang kini lebih tepat disebut Herpestes auropunctatus, dari wilayah Calcutta, India. W.B. Espeut, pemilik perkebunan di Jamaika, tercatat sebagai orang pertama yang mendatangkannya pada 1872. Hawaii dan Fiji kemudian mendapat garangan dari Jamaika, bukan impor baru dari Asia. Spesies ini sempat dikenal luas dengan nama ilmiah Herpestes javanicus, yang mengandung kata &#8220;javanicus&#8221; merujuk ke Jawa, meski spesimen introduksi tidak pernah berasal dari Indonesia. Nama itu adalah hasil kekeliruan taksonomi awal yang menganggap garangan Asia Selatan sama dengan garangan Jawa, sebelum keduanya belakangan dipisahkan sebagai dua spesies berbeda. Pada masa introduksi itu, pengetahuan soal perilaku predator masih sangat terbatas,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri  [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 09:00:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07132113/Bayi-siamang-yang-diselamatkan-dari-rencana-penyeludupan-di-Tanjung-Balai-Asahan-Sumatera-Utara-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130244</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, kera besar, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Safri, nama samaran, masih mendekam di lembaga pemasyarakatan di  Aceh. Dia kena bui  karena memperdagangkan  orangutan sumatera. Bahkan, dia pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari Kabupaten Aceh Tamiang ke Provinsi Satun, Thailand, menggunakan speedboat selama delapan jam. Bukan hanya orangutan, burung, dan siamang juga dia bawa. “Biasanya, toke dari Indonesia dan Thailand berkomunikasi mengatur jadwal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/">Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri  [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Safri, nama samaran, masih mendekam di lembaga pemasyarakatan di  Aceh. Dia kena bui  karena memperdagangkan  orangutan sumatera. Bahkan, dia pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari Kabupaten Aceh Tamiang ke Provinsi Satun, Thailand, menggunakan speedboat selama delapan jam. Bukan hanya orangutan, burung, dan siamang juga dia bawa. “Biasanya, toke dari Indonesia dan Thailand berkomunikasi mengatur jadwal pesanan,” katanya, 27 Oktober 2025 lalu. Pengiriman lancar karena pimpinan mereka di Surabaya, sudah menyiasati agar aman melintasi Selat Malaka. Para penyelundup merasa aman setelah meninggalkan daratan. Alasannya, mereka memiliki mesin kapal bertenaga kuat untuk menghindari kejaran aparat penegak hukum. “Jika keadaan aman, yang dipakai hanya satu atau dua mesin. Tapi, jika ada patroli maka semua mesin dihidupkan.” Safri mengaku, ketika di Thailand mereka tidak bisa turun dari speedboat, karena sudah ada tim yang menunggu. Setelah satwa berpindah tangan, mereka segera pulang ke Aceh. “Di laut tidak banyak yang memantau.” Mongabay Indonesia berkunjung ke Pelabuhan Kota Langsa,  Aceh, untuk melihat langsung speedboat maupun kapal yang pelaku penyeludupan gunakan.  Bea dan Cukai Kota Langsa sita kapal  yang terbuat dari fiber itu. Kapal gunakan tiga bahkan lima mesin 200 PK. Dari situs penjualan, harga mesin tempel  sekitar Rp200 juta per unit. Konsumsi bahan bakar mencapai 81 liter per jam untuk setiap mesin. Mengapa Thailand? Jarak dari Aceh maupun Sumatera Utara, ke provinsi di Thailand lebih dekat ketimbang daerah lain di Indonesia. “Selat Malaka terlalu gampang dilewati para penyelundup. Pengamanan tidak ketat. Saya melaut hingga tiga minggu dan jarang melihat kapal patroli penegak hukum,” kata Sulaiman, nelayan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>