<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=andi-muttaqien&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/andi-muttaqien/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 30 Apr 2026 08:59:53 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Suara dan Perjuangan Warga Untuk Keadilan Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>30 Apr 2026 07:29:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/31104604/Birute-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=127087</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, produk kelautan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Musim makin sulit ditebak. Udara panas musim kemarau makin terasa, namun beberapa daerah masih mengalami hujan hingga puting beliung. Peringatan dari ilmuan terkait El-Nino pun bisa menjadi upaya adaptasi bersama untuk menghadapi kemarau yang panjang. Di berbagai daerah di Indonesia, ancaman terhadap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/">Suara dan Perjuangan Warga Untuk Keadilan Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Musim makin sulit ditebak. Udara panas musim kemarau makin terasa, namun beberapa daerah masih mengalami hujan hingga puting beliung. Peringatan dari ilmuan terkait El-Nino pun bisa menjadi upaya adaptasi bersama untuk menghadapi kemarau yang panjang. Di berbagai daerah di Indonesia, ancaman terhadap alam tak hanya datang secara alami, tapi lebih akibat dari aktivitas manusia. Banyak lokasi yang dulunya menjadi penyangga kehidupan, kini berubah cepat hingga dampaknya pun datang bersamaan. Ada beragam peristiwa di bulan April yang perlu kamu tahu. Mulai dari Jawa Tengah hingga Kalimantan Selatan, semua berbicara tentang relasi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Mulai dari kisah inspiratif masyarakat Desa Colo dengan buah parijotonya hingga ditemukannya pelanggaran HAM pada proyek panas bumi. Cerita itu menunjukkan bagaimana upaya masyarakat untuk dapat terus hidup berdampingan dengan alam di tengah tantangan krisis iklim dan korporasi yang merusak lingkungan. Ada suara kelompok rentan yang tak didengar padahal sangat berperan dalam keberlangsungan hidup hingga potongan realitas kerusakan lingkungan. Dari lereng gunung hingga pesisir, tiap cerita membawa sudut pandang yang beragam. Yuk, dengarkan ceritanya dalam artikel pilihan untuk bulan ini dalam Mongabays Snaps! &nbsp; 1. Saat buah parijoto menjadi identitas masyarakat Kudus Tumbuhan parijoto yang menjadi simbol konservasi Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Tak sekadar tanaman, parijoto menjadi identitas daerah bagi masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Khususnya, di lereng Gunung Muria. Para petani membudidayakan tumbuhan semak ini dengan memanfaatkan naungan pohon besar agar tidak terkena sinar matahari langsung.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/#respond</comments>
					<pubDate>30 Apr 2026 02:27:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[produk laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/25053856/Salah-satu-indukan-kepiting-bakau-di-di-Hatchery-Instalasi-Guntung-yang-banyak-berasal-dari-wilayah-mangrove-tersisa-di-pesisir-timur-Pulau-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127056</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, politik dan hukum, dan produk laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin berhembus pelan di pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (14/4/26). Cahaya matahari sore yang melemah memantul di permukaan air tambak milik Jamil. Lelaki 63 tahun itu berdiri di bibir kolam sambil menenteng ember berisi ikan rucah dan kepala ayam yang sudah dicacah kecil-kecil. Dia menebar pakan ke beberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/">Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin berhembus pelan di pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (14/4/26). Cahaya matahari sore yang melemah memantul di permukaan air tambak milik Jamil. Lelaki 63 tahun itu berdiri di bibir kolam sambil menenteng ember berisi ikan rucah dan kepala ayam yang sudah dicacah kecil-kecil. Dia menebar pakan ke beberapa sudut tambak. Sesekali riak air pecah. Sejumlah kepiting bakau keluar dari persembunyian dengan capit yang muncul lebih dulu sebelum tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan. “Kalau jam segini mereka mulai aktif makan. Paginya lebih banyak diam di lubang,” kata Jamal sambil memperhatikan gerak air. Di tambak sederhana itu, Jamil membesarkan kepiting hasil tangkapan nelayan yang masih kecil atau belum layak jual. Setelah beberapa bulan, kepiting akan tumbuh besar, berat bertambah, yang itu berarti harganya naik. Cara ini menjadi salah satu strategi warga pesisir untuk mendapat nilai lebih tinggi dari komoditas yang kian diminati pasar itu. Tidak jauh dari tambak Jamil, di rumah sederhana berdinding batako, Eli Ernawati sedang memilah kepiting yang baru suaminya panen. Sebagian akan dijual ke pengepul, sebagian lagi dipesan pembeli tetap. Dari aktivitas kecil di rumah itu, Eli mampu biayai kebutuhan harian keluarga, mulai dari beras, listrik, hingga ongkos sekolah anak-anaknya. “Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah. Kalau sepi ya harus pintar mengatur,” ujar ibu tiga anak itu. Hamparan mangrove di pesisir Sugian, Lombok Timur yang menjadi habitat penting kepiting bakau. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Budidaya dan konservasi mangrove Selama ini kepiting bakau lebih dikenal sebagai hasil tangkapan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Komitmen Jumawan Jaga Kelestarian Penyu di Cilacap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/#respond</comments>
					<pubDate>30 Apr 2026 01:56:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/30014629/Penyu-lekang-di-konservasi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127070</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jumawan (33) mengangkat ember berisi ikan segar seukuran empat ruas jari orang dewasa, untuk diberikan kepada seekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Patrick, nama penyu tersebut, yang dikarantina di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Tiga tahun lalu, Jumawan menerima sebanyak 90 telur penyu sisik dari nelayan. Dia meneteskannya, lalu sebagian tukik dilepasliarkan, termasuk si Patrick [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/">Komitmen Jumawan Jaga Kelestarian Penyu di Cilacap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jumawan (33) mengangkat ember berisi ikan segar seukuran empat ruas jari orang dewasa, untuk diberikan kepada seekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Patrick, nama penyu tersebut, yang dikarantina di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Tiga tahun lalu, Jumawan menerima sebanyak 90 telur penyu sisik dari nelayan. Dia meneteskannya, lalu sebagian tukik dilepasliarkan, termasuk si Patrick di Pantai Sodong, Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala. Namun, selang sehari, Patrick kembali ke pantai. Jumawan memutuskan mengkarantina, hingga ia benar-benar siap dikembalikan ke alam. “Penyu hasil pembesaran itu tidak sembarang dilepasliarkan,” ujar Jumawan yang merupakan Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, kepada Mongabay, Sabtu (11/4/2026). Penyu sisik merupakan satu dari tujuh spesies penyu di dunia. Bentuk tubuhnya datar; dewasa dapat tumbuh sampai satu meter dengan berat 80 kilogram. Umumnya, hidup di perairan tropis Samudra Hindia, Pasifik, dan Atlantik –termasuk di pesisir selatan Asia dan Asia Tenggara, seperti selatan Pulau Jawa. Populasi penyu sisik secara global diperkirakan tersisa sekitar 15-25 ribu individu betina yang bersarang setiap tahun. Sejumlah enelitian mennjelaskan, populasinya menurun akibat krisis iklim dan ulah tangan manusia, seperti perburuan ilegal, pencurian telur, hingga pencemaran laut. Penyu lekang di area Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Jumawan juga membesarkan satu penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan dua penyu hijau (Chelonia mydas), sejak netas tahun lalu. Menurut Daftar Merah Badan Konservasi Global (IUCN), penyu lekang berstatus Rentan (Vulnerable/VU) sementara penyu hijau digolongkan Risiko Rendah (Least Concern/LC). Di pesisir Cilacap, Jumawan kerap menemukan telur penyu lekang ketika patroli malam dan pagi hari. Ia mengidentifikasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dela Mawar Bahagia Merawat Bayi Orangutan Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 13:26:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/29131757/Bayi-orangutan1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127050</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dela Mawar (20) bukan hanya keeper di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, di Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dia adalah penjaga harapan orangutan yang nyaris kehilangan masa depan. Tugasnya mulia. Setiap hari, dia merawat, memberi makan, hingga memantau perkembangan bayi-bayi orangutan yang menjalani rehabilitasi. “Ada empat bayi orangutan, yaitu Lukas, Hannes, Jack, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/">Dela Mawar Bahagia Merawat Bayi Orangutan Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dela Mawar (20) bukan hanya keeper di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, di Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dia adalah penjaga harapan orangutan yang nyaris kehilangan masa depan. Tugasnya mulia. Setiap hari, dia merawat, memberi makan, hingga memantau perkembangan bayi-bayi orangutan yang menjalani rehabilitasi. “Ada empat bayi orangutan, yaitu Lukas, Hannes, Jack, dan yang baru datang Panji,” terangnya di PPS Long Sam, Minggu (12/4/2026). Sebelum menangani bayi-bayi orangutan, Mawar lebih dulu mengurus kandang owa. Setelah itu, rutinitasnya dimulai. Dia menyiapkan makanan, lalu menggendong mereka menuju sekolah hutan. Di sana, Mawar berperan sebagai pengasuh sekaligus guru; mengajarkan cara memanjat, mengenalkan pohon, hingga melatih insting liar yang sempat hilang. “Seperti bayi manusia, mereka juga takut melihat orang selain pengasuhnya. Mereka sering menangis dan rebutan makan. Setiap hari, selalu ada tingkah lucu dan itu membuat kami para perawat tidak pernah bosan mengurus mereka,” ujarnya. Dela Mawar tersentuh hatinya merawat bayi-bayi orangutan yang kehilangan induk di PPS Long Sam, Berau, Kalimantan Timur. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia Kearifan Suku Dayak Mawar merupakan warga asli Desa Merasa, yang wilayahnya dikelilingi hutan tropis lebat. “Saya asli Suku Dayak. Kalau ditanya masalah hutan, itu rumah kami. Jadi kalau memilih jalan konservasi sebagai pekerjaan, tentu buat saya ini pilihan tepat. Bersama hutan dan segala isinya, kami tidak mengenal lelah.” Mawar tumbuh dengan nilai bahwa hutan bukan hanya tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga. Dia melihat langsung orangutan kehilangan habitat, akibat deforestasi dan perburuan. “Pertama kali saya melihat bayi orangutan itu Lukas. Kulitnya merah, matanya sayu dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilmuwan Menguak Misteri Makhluk Hidup yang Tidak Pernah Menua, dan Mungkin Bisa Hidup Selamanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 11:30:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013257/Hydra-700x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127046</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di kolam air tawar yang tenang, tersembunyi di antara tanaman air, hidup makhluk mungil bernama Hydra. Polip transparan sepanjang satu sentimeter ini tampak menentang hukum alam karena tidak pernah menunjukkan tanda-tanda penuaan. Tidak ada kerutan, tidak ada penurunan fungsi organ, dan tidak ada pelemahan tubuh seiring waktu. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, Hydra seolah memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/">Ilmuwan Menguak Misteri Makhluk Hidup yang Tidak Pernah Menua, dan Mungkin Bisa Hidup Selamanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di kolam air tawar yang tenang, tersembunyi di antara tanaman air, hidup makhluk mungil bernama Hydra. Polip transparan sepanjang satu sentimeter ini tampak menentang hukum alam karena tidak pernah menunjukkan tanda-tanda penuaan. Tidak ada kerutan, tidak ada penurunan fungsi organ, dan tidak ada pelemahan tubuh seiring waktu. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, Hydra seolah memiliki kemampuan biologis untuk hidup tanpa batas waktu. Klaim ini diperkuat oleh penelitian bertahun-tahun di laboratorium yang menunjukkan bahwa tingkat kematian mereka tidak pernah meningkat seiring bertambahnya usia, sebuah fenomena yang sangat langka di dunia hewan. Rahasia utama keawetmudaan Hydra terletak pada strategi regenerasi seluler yang sangat agresif. Berdasarkan pemetaan sel tunggal (single-cell RNA sequencing) yang dipublikasikan di jurnal Science, ilmuwan menemukan bahwa Hydra memiliki tiga lini sel induk mandiri: ektodermal, endodermal, dan interstisial. Ketiga lini ini memastikan bahwa seluruh sel dalam tubuh Hydra diganti sepenuhnya kira-kira setiap 20 hari. Dengan kata lain, Hydra yang Anda lihat hari ini secara fisik adalah individu yang berbeda dalam tiga minggu ke depan. Proses pembaruan konstan ini mencegah akumulasi kerusakan seluler yang biasanya menjadi penyebab utama penuaan pada makhluk hidup lain. Hydra, organisme dengan kemampuan luar biasa bertahan hidup. Sumber: Wikimedia Commons/Green Hydra [Hydra viridissima]/Frank Fox/CC BY-SA 3.0 Germany/free media repository Sel induk interstisial (ISC) dalam tubuh Hydra bahkan memiliki kemampuan multipoten yang luar biasa. Sel-sel ini bertindak sebagai &#8220;pabrik&#8221; yang terus-menerus memproduksi sel saraf, sel kelenjar, hingga sel penyengat (nematosista) yang kompleks. Penelitian tahun 2019 tersebut berhasil mengidentifikasi sinyal genetik yang mengatur bagaimana sel-sel induk ini &#8220;memutuskan&#8221; nasibnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pihak Ingatkan Risiko Proyek Energi Sampah Pemerintah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 06:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28140517/20230524_135555-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127015</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, infrastruktur, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terus dorong proyek pengolahan sampah jadi energi listrik (PSEL) di sejumlah daerah. Berbagai organisasi masyarakat sipil mengkritik dan mengingatkan berbagai risiko dari proyek sampah jadi energi ini. Pemerintah targetkan bangun PSEL mulai Juni 2026 di lima  lokasi, yakni, Kota Bekasi, Bogor Raya, Bandung Raya, Denpasar Raya, dan Yogyakarta. Dalam pembangunan, pemerintah menggandeng Danantara dan  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/">Para Pihak Ingatkan Risiko Proyek Energi Sampah Pemerintah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terus dorong proyek pengolahan sampah jadi energi listrik (PSEL) di sejumlah daerah. Berbagai organisasi masyarakat sipil mengkritik dan mengingatkan berbagai risiko dari proyek sampah jadi energi ini. Pemerintah targetkan bangun PSEL mulai Juni 2026 di lima  lokasi, yakni, Kota Bekasi, Bogor Raya, Bandung Raya, Denpasar Raya, dan Yogyakarta. Dalam pembangunan, pemerintah menggandeng Danantara dan  swasta. Kepala daerah di tiga lokasi tahap pertama pembangunan PSEL yakni Kota dan Kabupaten Bogor serta Bali menandatangani kerjasama dengan badan usaha, Selasa (21/4/26) di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pangan. Di Bekasi, PT Wangneng Bekasi Environment Nusantara akan menggarapnya, PT Welming Nusantara Bogor New Energy untuk PSEL di Bogor, lalu PT Welming Nusantara Bali New Energy  di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Zulkifli Hasan, Menko Pangan menargetkan groundbreaking terlaksana kurun waktu tujuh minggu. Dia bilang, proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sangat mendesak, karena Indonesia darurat sampah. “Ini perintah bapak (presiden) langsung. Kalau dalam tujuh minggu enggak selesai, terpaksa kita ambil alih. Kita ini sudah masuk darurat sampah, sudah menggunung, kemarin ada bencana di Bantargebang,” ucapnya saat penandatanganan kerjasama. Pemerintah, katanya, menargetkan PSEL di 31 lokasi atau aglomerasi yang mencakup 86 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. ia mengacu Peraturan Presiden (Perpres) 12/2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yang menargetkan 100% sampah terkelola pada 2029. Saat ini, timbulan sampah nasional mencapai 144.839 ton per hari, sedang kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) terbatas. Pemerintah targetkan PSEL mampu kurangi timbulan sampah hingga sekitar 40.000 ton per hari, atau 22,48% dari total timbulan nasional pada 2029.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Data Emisi PLTU Batubara Bukan Informasi Rahasia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 02:12:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bondan Andriyanu*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230703/IMG_3607-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127021</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 April 2026 menandai satu babak penting dalam perjuangan panjang keterbukaan informasi publik di sektor energi. Setelah hampir tiga tahun berproses, gugatan Greenpeace Indonesia terhadap PT PLN (Persero) akhirnya membuahkan hasil,  data emisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara sebagai informasi publik yang wajib dibuka. Putusan ini tidak sekadar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/">Opini: Data Emisi PLTU Batubara Bukan Informasi Rahasia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 April 2026 menandai satu babak penting dalam perjuangan panjang keterbukaan informasi publik di sektor energi. Setelah hampir tiga tahun berproses, gugatan Greenpeace Indonesia terhadap PT PLN (Persero) akhirnya membuahkan hasil,  data emisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara sebagai informasi publik yang wajib dibuka. Putusan ini tidak sekadar kemenangan prosedural. Ia adalah koreksi atas praktik lama yang menempatkan data lingkungan sebagai wilayah gelap, tertutup oleh dalih “rahasia dagang” atau “rahasia negara.” Pengadilan tegas membatalkan putusan Komisi Informasi Pusat Nomor 155/XI/KIP-PSI/2023 yang sebelumnya justru mengamini penutupan informasi itu. Padahal, sejak awal perkara ini sederhana, publik berhak tahu apa yang mereka hirup. Perjalanan menuju putusan ini mencerminkan problem mendasar tata kelola energi di negeri ini. Pada 2023, Greenpeace Indonesia mengajukan sengketa informasi untuk membuka data emisi dan peta jalan pemantauan emisi PLTU. Namun dalam sidang di Komisi Informasi pada 2025, PLN menyatakan tidak menguasai data emisi  ini. Jika itu pengakuan jujur justru mengkhawatirkan daripada penutupan informasi itu sendiri. Jika operator pembangkit tidak memiliki data emisi, bagaimana pengawasan lingkungan dijalankan? Jika data ada namun tidak dibuka, bagaimana publik dapat menilai kepatuhan? Putusan Komisi Informasi kala itu memperparah situasi dengan mengecualikan data pemantauan emisi dan membatasi informasi perubahan izin lingkungan atas nama kepentingan bisnis dan negara. Di titik ini, transparansi tidak hanya tertunda, juga dilemahkan secara sistematis. Melalui putusan terbarunya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengembalikan prinsip dasar keterbukaan, bahwa informasi lingkungan adalah milik publik. Hakim memerintahkan PLN untuk membuka seluruh informasi yang diminta dalam waktu paling lambat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga NTT Terdampak Pembangkit Panas Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>28 Apr 2026 12:03:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/18044728/4A-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=123123</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Andi Nawa dan  yang lain bergantian menceritakan dampak kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko. Tepatnya di Dusun Turetogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Nusa Tenggara Timur (NTT). Andi mengenang, sebelum pembangkit itu ada, hasil panen kopinya bisa mencapai 350 kilogram. Sejak dua tahun ini, hasilnya terus berkurang hingga hanya dapat 50 kilogram. “Dulu kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/">Nestapa Warga NTT Terdampak Pembangkit Panas Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Andi Nawa dan  yang lain bergantian menceritakan dampak kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko. Tepatnya di Dusun Turetogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Nusa Tenggara Timur (NTT). Andi mengenang, sebelum pembangkit itu ada, hasil panen kopinya bisa mencapai 350 kilogram. Sejak dua tahun ini, hasilnya terus berkurang hingga hanya dapat 50 kilogram. “Dulu kami disini sering tanam sayur untuk dijual ke pasar, sekarang kami harus beli sayur di pasar,” sebut Andi saat ditemui di rumahnya, Kamis (28/5/2025). Andi sempat mengajak Mongabay melihat semburan lumpur panas dari lubang-lubang yang berada sekitar 300 meter sebelah utara rumahnya. Dulu, lahan dimana semburan itu berada adalah kebun warga. Namun, dua tahun belakangan ini keluar lumpur panas dengan aroma menyengat dari lubang-lubang yang bermunculan. Pihak perusahaan kemudian membeli lahan tersebut dan memagarinya dengan bambu. “Kalau ada perbedaan, ada warga yang menolak dan menerima kehadiran geothermal bukan urusan kami. Kami warga yang merasakan dampak langsung dari kehadiran proyek ini,” ungkapnya. Pengembangan panas bumi di lokasi yang berada 15 kilometer sisi timur Bajawa, ibu kota Ngada itu berlangsung sejak 1984. Tahun 1997-2002, Direktorat Vulkanologi dan Jepang (GSJ, West JEC, MRC dan NEDO) kemudian bersama-sama melakukan eksplorasi. Kerjasama itu menghasilkan dua sumur, yakni MT-1 dan MT-2. Sementara MT-3 dan MT-4 pengeboran berlangsung pada 2003 oleh Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral. Sumur semi eksplorasi MT-5 dan sumur reinjeksi MT-6 berhasil terselesaikan pada tahun 2005. Sedangkan pada 2007, pemasangan pipa menuju lokasi Steam Gathering (SG). Di tahun itu pula berlangsung uji coba gabungan berlangsung. Secara total, PLTP Mataloko berada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mencari Pengelola Baru Bandung Zoo, PKBSI Ingatkan Harus Kompeten</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/28/mencari-pengelola-baru-bandung-zoo-pkbsi-ingatkan-harus-kompeten/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/28/mencari-pengelola-baru-bandung-zoo-pkbsi-ingatkan-harus-kompeten/#respond</comments>
					<pubDate>28 Apr 2026 09:52:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komuniitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/06/22050517/Kebun-Binatang-1073-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126996</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana perkembangan pengelolaan Kebun Binatang Bandung? Ternyata, proses mencari  pengelola baru Bandung Zoo,  sudah masuk tahap seleksi. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung baru menjaring banyak pihak untuk terlibat dalam pengelolaan lembaga konservasi umum yang sudah berdiri sejak 1933 itu. Proses penjaringan ini dianggap sebagai upaya penataan ulang pengelolaan Bandung Zoo setelah sengketa izin dan konflik internal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/mencari-pengelola-baru-bandung-zoo-pkbsi-ingatkan-harus-kompeten/">Mencari Pengelola Baru Bandung Zoo, PKBSI Ingatkan Harus Kompeten</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana perkembangan pengelolaan Kebun Binatang Bandung? Ternyata, proses mencari  pengelola baru Bandung Zoo,  sudah masuk tahap seleksi. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung baru menjaring banyak pihak untuk terlibat dalam pengelolaan lembaga konservasi umum yang sudah berdiri sejak 1933 itu. Proses penjaringan ini dianggap sebagai upaya penataan ulang pengelolaan Bandung Zoo setelah sengketa izin dan konflik internal yang berlangsung lebih dari setengah tahun. Annisa Rahmawati,   Senior Wildlife Campaigner Geopix menilai,  konflik di lembaga konservasi eks-situ hampir selalu mempengaruhi standar kesejahteraan satwa. Ketika konflik berlangsung, perhatian pengelola cenderung bergeser dari pemenuhan kebutuhan satwa ke persoalan administratif dan perebutan kendali lembaga. “Dampaknya,  itu saja sangat berpengaruh pada aspek paling dasar yaitu perawatan satwa,” katanya saat dihubungi Kamis (9/4/26). Dia bilang, kecukupan pakan, layanan kesehatan hewan, perawatan kandang hingga program pengayaan perilaku satwa pun mengalami penurunan. Hal ini menjadi sangat krusial karena satwa di kebun binatang sepenuhnya bergantung pada kunjungan. Meskipun saat ini pemerintah berupaya mencari kandidat baru, katanya, namun selama konflik, penanganan begitu lambat dan penuh dengan ketidakpastian. Semestinya, kata Annisa, kasus kekurangan pakan hingga kematian satwa karena virus menjadi peringatan. Setidaknya, pengambilalihan sementara bisa pemerintah lakukan agar standar minimum kesejahteraan satwa tetap terjaga. “Minimalnya, prinsip-prinsip konservasi tetap dijalankan,” katanya. Selain itu, katanya, upaya pembenahan Bandung Zoo tak cukup hanya dengan mengganti pengelola. Langkah paling mendesak justru mulai dari audit independen dan transparan untuk menentukan arah perbaikan berikutnya. Tanpa itu,  katanya, perbaikan tata kelola hanya akan menjadi perubahan administratif. Padahal, katanya,  konflik tidak hanya merusak reputasi pengelola kebun binatang, juga menggerus kepercayaan publik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/mencari-pengelola-baru-bandung-zoo-pkbsi-ingatkan-harus-kompeten/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/28/mencari-pengelola-baru-bandung-zoo-pkbsi-ingatkan-harus-kompeten/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Ular Sanca Hijau Utara di Hutan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/28/jejak-ular-sanca-hijau-utara-di-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/28/jejak-ular-sanca-hijau-utara-di-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>28 Apr 2026 04:51:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28044044/Morelia-azurea-Foto_-Imam-Ramdhani-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126990</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hujan turun deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Malam itu, aktivitas pengamatan dihentikan lebih cepat dari rencana. Tim memilih kembali ke titik awal demi keselamatan. Namun, di antara langkah pulang yang tergesa, sebuah perjumpaan tak terduga terjadi -sunyi, singkat, tetapi membekas lama. Begitu penuturan Muh. Imam Ramdani, anggota komunitas Bogor Nature Wildlife Photography. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/jejak-ular-sanca-hijau-utara-di-hutan-papua/">Jejak Ular Sanca Hijau Utara di Hutan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hujan turun deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Malam itu, aktivitas pengamatan dihentikan lebih cepat dari rencana. Tim memilih kembali ke titik awal demi keselamatan. Namun, di antara langkah pulang yang tergesa, sebuah perjumpaan tak terduga terjadi -sunyi, singkat, tetapi membekas lama. Begitu penuturan Muh. Imam Ramdani, anggota komunitas Bogor Nature Wildlife Photography. Di tengah gelap hutan dan sisa hujan yang masih menetes dari kanopi, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa. Seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak. Ular itu adalah Morelia azurea, atau dikenal sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di pepohonan dan jarang terlihat manusia. “Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,” ungkapnya, Senin (20/4/2026). Perjumpaan itu bukan pertama baginya, tetapi tetap hadirkan rasa yang sama. Bukan takut, melainkan kagum. Baginya, melihat langsung ular pembelit di habitat aslinya selalu menghadirkan sensasi berbeda dibanding sekedar melihat di kandang atau dokumentasi. “Seneng, excited.” Malam itu, kenang Imam, ular yang tersebar juga di Papua Nugini berada lebih rendah dari biasanya. Tidak di ketinggian kanopi, melainkan dekat permukaan, meski tetap menempel pada batang pohon. Dugaannya, perilaku tersebut berkaitan dengan aktivitas berburu. “Biasanya di atas, sekitar 10-20 meter. Tapi kadang turun, mungkin sedang cari makan.” Morelia azurea atau yang dikenal dengan nama sanca pohon hijau utara. Foto: Muh. Imam Ramdani Perubahan warna Morelia azurea merupakan spesies nokturnal yaitu aktif malam hari. Dalam posisi diam, melilit, dan menunggu, ia mengandalkan kesabaran untuk menyergap mangsa yang melintas. Gerakannya nyaris tak terlihat, namun instingnya tajam. Menurut Imam, satu daya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/jejak-ular-sanca-hijau-utara-di-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/28/jejak-ular-sanca-hijau-utara-di-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Kian Limbung Ketika Limbah Cemari Sungai Ciujung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/28/limbah-mengalir-di-sungai-ciujung-petani-kian-buntung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/28/limbah-mengalir-di-sungai-ciujung-petani-kian-buntung/#respond</comments>
					<pubDate>28 Apr 2026 03:24:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ukat Saukatudin]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/23044456/IMG_20260315_165830_059-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126620</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, huhutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pencemaran air di Sungai Ciujung, Banten terus berulang dan kian meresahkan. Para petani yang menggantungkan nasib pada  irigasi dari air sungai merasakan dampaknya. Arman dan Jarnudi, misal, dua petani  ini selalu harap-harap cemas ketika masa menanam padi tiba. Kalau beruntung, mereka bisa panen dan bisa membayar modal awal. Sebaliknya, jika gagal panen, mereka  menanggung beban [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/limbah-mengalir-di-sungai-ciujung-petani-kian-buntung/">Petani Kian Limbung Ketika Limbah Cemari Sungai Ciujung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pencemaran air di Sungai Ciujung, Banten terus berulang dan kian meresahkan. Para petani yang menggantungkan nasib pada  irigasi dari air sungai merasakan dampaknya. Arman dan Jarnudi, misal, dua petani  ini selalu harap-harap cemas ketika masa menanam padi tiba. Kalau beruntung, mereka bisa panen dan bisa membayar modal awal. Sebaliknya, jika gagal panen, mereka  menanggung beban berlipat ketika modal bertani dari utang. Di usianya yang lebih dari setengah abad, Arman masih setia merawat tanaman padi miliknya. Tangannya  begitu cekatan memilah bulir padi yang masih layak untuk dia panen. Dia potong setiap batang padi menggunakan arit, lalu menumpuknya di pematang sawah. Srekkk..srekkk.. Lahan Arman berada di pinggiran Muara Sungai Ciujung, tepatnya di Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Seperti halnya Arman, sawah-sawah di Desa Tengkurak mengandalkan air Sungai Ciujung sebagai sumber utama pengairan. &#8220;Kalau di sini setiap tahun (lahan pertanian tercemar limbah), penyakitnya (masalahnya) itu,&#8221; kata Arman saat Mongabay temui, Minggu (15/3/26). Selain Tirtayasa, pencemaran parah juga terjadi di Kecamatan Tanara, yang meliputi Desa Carenang dan Lebak Wangi. Sungai ini memiliki panjang 147 kilometer dan melintasi dua kabupaten, Lebak dan Serang. Air sungi berwarna keruh kehitaman dengan bau tidak sedap yang sangat menyengat. Pertemuan limbah dengan aliran Sungai Ciujung, Provinsi Banten. Aliran ini akan mengaliri irigasi sawah dan perkebunan warga. Foto: Ukat Saukatudin/ Mongabay Indonesia Kehidupan sehari-hari Arman dan keluarganya bergantung pada hasil tani dan Sungai Ciujung. Luas sawah sekitar  satu hektar. Jika pencemaran tak parah dan musim baik, dia bisa panen dua kali dalam setahun. Sekali panen, Arman bisa mendapat 4-6 ton&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/limbah-mengalir-di-sungai-ciujung-petani-kian-buntung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/28/limbah-mengalir-di-sungai-ciujung-petani-kian-buntung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Fans K-Pop Desak Hana Bank Hentikan Danai PLTU Batubara di Pulau Obi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/27/ketika-fans-k-pop-desak-hana-bank-hentikan-danai-pltu-batubara-di-pulau-obi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/27/ketika-fans-k-pop-desak-hana-bank-hentikan-danai-pltu-batubara-di-pulau-obi/#respond</comments>
					<pubDate>27 Apr 2026 22:48:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22010310/pltu-batubara-kawasan-industri-batubara-rifki-anwar-768x494.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126973</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Hana, Bring K-Pop Not Coal! Hana Bank wins K-pop fans&#8217; hearts from their collabs with G-Dragon and An Yujin. But why did 12 K-pop fanbases send them an open letter?” Begitu pesan Kpop4Planet, para penggemar K-Pop dalam petisi “Hana, Bring K-pop Not Coal” yang menyerukan Hana Bank menyetop pembiayaan proyek PLTU batubara baru  di kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/ketika-fans-k-pop-desak-hana-bank-hentikan-danai-pltu-batubara-di-pulau-obi/">Ketika Fans K-Pop Desak Hana Bank Hentikan Danai PLTU Batubara di Pulau Obi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Hana, Bring K-Pop Not Coal! Hana Bank wins K-pop fans&#8217; hearts from their collabs with G-Dragon and An Yujin. But why did 12 K-pop fanbases send them an open letter?” Begitu pesan Kpop4Planet, para penggemar K-Pop dalam petisi “Hana, Bring K-pop Not Coal” yang menyerukan Hana Bank menyetop pembiayaan proyek PLTU batubara baru  di kawasan industri nikel Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Sejak rilis 9 April 2026, petisi ini sudah mengumpulkan lebih 2.000 penggemar K-pop yang mendesak Hana Bank segera berhenti mendanai PLTU captive. Para penggemar K-pop ini menyuarakan keresahan atas keterlibatan bank mendanai proyek yang merusak lingkungan. Kpop4Planet, merupakan organisasi iklim yang rilis pada 2021 untuk dan dari penggemar K-pop yang mencintai bumi dan idola K-pop mereka. Sebelumnya, pada Februari lalu, melalui kampanye “Hana, Bring K-pop Not Coal,”  Kpop4Planet bersama 12 basis penggemar K-pop di Indonesia mengirim surat terbuka langsung ke Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, untuk berhenti mendanai perusahaan yang masih bergantung pada batubara. Hana Bank tak menjawab tuntutan mereka. Hana Bank mengklaim akan mengembangkan kebijakan untuk mendukung pengurangan karbon melalui penguatan manajemen risiko terkait batubara. Tetapi tak ada kejelasan dari mereka untuk keluar dari pendanaan itu. “Dampak proyek nikel sudah terbukti merusak lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar Pulau Obi. Jawaban Hana Bank kian naif. Mereka tidak sungguh-sungguh ingin mencari solusi dan menunjukkan aksi nyata menyetop pendanaan tersebut,” kata Nurul Sarifah, juru kampanye Kpop4Planet di Indonesia sekaligus pemimpin kampanye Hana Bring K-pop Not Coal. Salah satu pengurus fanbase My Day and Jars Social Project yang merupakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/ketika-fans-k-pop-desak-hana-bank-hentikan-danai-pltu-batubara-di-pulau-obi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/27/ketika-fans-k-pop-desak-hana-bank-hentikan-danai-pltu-batubara-di-pulau-obi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Banding Jaksa Atas  Putusan Bebas Petani Ruteng</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/27/menyoal-banding-jaksa-atas-putusan-bebas-petani-ruteng/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/27/menyoal-banding-jaksa-atas-putusan-bebas-petani-ruteng/#respond</comments>
					<pubDate>27 Apr 2026 08:33:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/26014607/2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126908</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan poltiik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kejaksaan Negeri (Kejari) Manggarai memutuskan untuk mengajukan banding atas kasus Yohanes Flori, petani asal Desa Ngkiong Dora, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, yang diputus bebas oleh pengadilan negeri (PN) Ruteng . Cakra Perwira, Kepala Seksi Intelijen Kejari Manggarai kepada Mongabay, membenarkan upaya banding itu. “Kami mengajukan upaya hukum banding berdasarkan KUHAP, karena dalam KUHAP  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/menyoal-banding-jaksa-atas-putusan-bebas-petani-ruteng/">Menyoal Banding Jaksa Atas  Putusan Bebas Petani Ruteng</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kejaksaan Negeri (Kejari) Manggarai memutuskan untuk mengajukan banding atas kasus Yohanes Flori, petani asal Desa Ngkiong Dora, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, yang diputus bebas oleh pengadilan negeri (PN) Ruteng . Cakra Perwira, Kepala Seksi Intelijen Kejari Manggarai kepada Mongabay, membenarkan upaya banding itu. “Kami mengajukan upaya hukum banding berdasarkan KUHAP, karena dalam KUHAP  yang dilarang (banding) putusan bebas adalah upaya hukum kasasi,” katanya. Sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Ruteng memutus, bebas Yohanes Flori dalam sidang dengan agenda pembacaan vonis pada Jumat (10/4/26). Pengadilan menyebut,  Flori yang ditahan sejak 17 Desember 2025 dinyatakan tidak terbukti  sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan jaksa. “Memulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya.Membebankan biaya perkara kepada negara,” kata majelis hakim dalam sidang yang berlangsung Jumat (10/4/26) itu. Maximilianus Herson Loi, Penasihat Hukum  Flori mengatakan,  menerima pemberitahuan pengajuan banding dari PN Ruteng. Dia pun mengkritik upaya banding oleh jaksa. “Terobosan hukum macam apa ini sampai-sampai Undang-Undang Nomor 20 tahun 2025 tentang KUHAP dilanggar dan penegak hukum pula yang melanggarnya,” katanya  yang juga Ketua Pelaksana Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Nusa Bunga ini. Penyambutan Yohanes Flori oleh Tetua dan warga adat Gendang Lando-Lawi.Foto : AMAN Nusa Bunga. Jadi preseden buruk Dia katakan, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) 2025 merupakan panduan dalam penegakan hukum di Indonesia. Beleid itu memberi batasan terhadap putusan mana yang bisa dan tidak bisa dilakukan upaya hukum. Menurut dia, putusan yang bisa dilakukan upaya hukum adalah putusan pemidanaan dan putusan lepas. Sedangkan, terhadap putusan bebas tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/menyoal-banding-jaksa-atas-putusan-bebas-petani-ruteng/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/27/menyoal-banding-jaksa-atas-putusan-bebas-petani-ruteng/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tawa Orangutan dan Simpanse Ternyata Punya Makna</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/27/tawa-orangutan-dan-simpanse-ternyata-punya-makna/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/27/tawa-orangutan-dan-simpanse-ternyata-punya-makna/#respond</comments>
					<pubDate>27 Apr 2026 06:57:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/27065146/Simpanse-bercanda-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126962</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pernahkah Anda memperhatikan dua orang berpapasan, saling menatap, lalu berbagi senyum? Kapan manusia mulai mempraktikkan gestur tanda persahabatan ini? Ketika bahasa masih sangat sederhana, bagaimana leluhur manusia mengawali saling berbagi senyum dan tawa? Sekelompok peneliti coba mencari jawabannya dengan mengamati perilaku orangutan dan simpanse. Seperti diketahui, orangutan dan simpanse adalah kerabat manusia yang tergabung dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/tawa-orangutan-dan-simpanse-ternyata-punya-makna/">Tawa Orangutan dan Simpanse Ternyata Punya Makna</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pernahkah Anda memperhatikan dua orang berpapasan, saling menatap, lalu berbagi senyum? Kapan manusia mulai mempraktikkan gestur tanda persahabatan ini? Ketika bahasa masih sangat sederhana, bagaimana leluhur manusia mengawali saling berbagi senyum dan tawa? Sekelompok peneliti coba mencari jawabannya dengan mengamati perilaku orangutan dan simpanse. Seperti diketahui, orangutan dan simpanse adalah kerabat manusia yang tergabung dalam Famili Hominidae, terdiri dari orangutan, gorila, simpanse, dan bonobo. Simpanse menjadi kerabat terdekat manusia yang berbagi DNA sekitar lebih dari 98 persen. Mereka hidup dalam kelompok sosial, hirarkis, dan politis. Sementara orangutan menjadi yang terjauh dibandingkan dengan kera besar lainnya, yang berbagi DNA dengan manusia sekitar 97 persen. Bedanya, orangutan lebih penyendiri. Mempelajari mereka sama halnya membuka tabir perilaku leluhur manusia. Laporan penelitian mereka diterbitkan dalam Scientific Reports, dengan judul &#8220;Towards the complexity of laugh communication in great apes: exact facial replications in laugh faces of orangutans and chimpanzees&#8221; (2026). Para peneliti mengamati perilaku satwa-satwa itu menirukan wajah tertawa saat berkomunikasi. Mereka menguji apakah orangutan dan simpanse punya kemampuan menirukan wajah tertawa lewat varian otot wajah yang spesifik seperti halnya manusia secara spontan, yaitu di bawah tiga detik. Replikasi yang tepat dianggap sebagai tanda kecerdasan sosial tinggi karena membantu individu untuk selaras secara emosional dan memprediksi perilaku lawan mainnya. “Studi kami mengungkapkan bahwa orangutan dan simpanse menunjukkan replikasi wajah yang tepat untuk wajah tertawa dengan gigi atas tidak terbuka, yaitu, jenis varian yang paling tidak terkait dengan permainan kasar atau berisiko,” tulis Diane A. Austry, mewakili sesama rekan peneliti. Austry adalah pakar perilaku primata dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/tawa-orangutan-dan-simpanse-ternyata-punya-makna/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/27/tawa-orangutan-dan-simpanse-ternyata-punya-makna/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Hitung Metana, Data Emisi Industri Batubara Sebenarnya Lebih Tinggi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/27/tak-hitung-metana-data-emisi-industri-batubara-sebenarnya-lebih-tinggi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/27/tak-hitung-metana-data-emisi-industri-batubara-sebenarnya-lebih-tinggi/#respond</comments>
					<pubDate>27 Apr 2026 04:30:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22001940/Tambang-batubara-di-Kecamatan-Bathin-XXIV-Batanghari-yang-sebelumnya-merupakan-wilayah-Suku-Anak-Dalam-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126921</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Data emisi gas rumah kaca (GRK) dari industri batubara masih belum akurat.  Selama ini, pemerintah terlalu fokus pada karbon dioksida (CO2), sedang, beberapa emisi, seperti metana (CH4), banyak yang tak tercatat. Riset Extractive Industries Transparency Initiative (EITI) bersama Publish What You Pay (PWYP) mengungkapkan itu. Sebelumnya, Kajian EMBER pada 2024 menyebut, emisi tambang batubara berpotensi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/tak-hitung-metana-data-emisi-industri-batubara-sebenarnya-lebih-tinggi/">Tak Hitung Metana, Data Emisi Industri Batubara Sebenarnya Lebih Tinggi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Data emisi gas rumah kaca (GRK) dari industri batubara masih belum akurat.  Selama ini, pemerintah terlalu fokus pada karbon dioksida (CO2), sedang, beberapa emisi, seperti metana (CH4), banyak yang tak tercatat. Riset Extractive Industries Transparency Initiative (EITI) bersama Publish What You Pay (PWYP) mengungkapkan itu. Sebelumnya, Kajian EMBER pada 2024 menyebut, emisi tambang batubara berpotensi delapan kali lebih besar dari data resmi yang pemerintah Indonesia keluarkan. Astrid Meliala, dari EITI, menyebut, emisi GRK industri itu termasuk dinitrogen oksida (N2O), hydrofluorocarbons (HFCs), perfluorocarbons (PFCs), sulfur heksafluorida (SF6), dan metana. Sementara, metana tambang batubara, menurut kajian EMBER, memiliki dampak yang lebih besar terhadap perubahan iklim ketimbang CO2. Dia menjelaskan sumber GRK perusahaan batubara terbagi menjadi tiga. Pertama, emisi langsung dari operasi perusahaan. Kedua, emisi tidak langsung, yaitu berupa pembelian listrik, panas, dan uap yang perusahaan gunakan. Ketiga, emisi selama aktivitas di rantai pasok. Metana merupakan salah satu GRK dari kelompok pertama yang perusahaan batubara hasilkan sebagai emisi fugitive, yaitu gas yang terlepas dari lapisan batubara selama proses ekstraksi. “Sayangnya, metana ternyata tidak termasuk dalam parameter yang dimultiplikasi oleh pemerintah.&#8221; Indonesia sebenarnya sudah punya berbagai kebijakan yang mengatur pelaporan emisi. Salah satunya, Peraturan Presiden 98/2021. Pada implementasinya, perusahaan masih menggunakan metodologi dan teknologi pelaporan yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan data yang tidak konsisten. Belum lagi, ada masalah transparansi data. Meski pemerintah telah memiliki berbagai aplikasi pada sistem pelaporan emisi, namun data tersebut belum bisa publik akses secara langsung. Sebab, datanya bersifat internal untuk pemerintah dan perusahaan. Seharusnya, kata Astrid, data itu terbuka agar masyarakat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/tak-hitung-metana-data-emisi-industri-batubara-sebenarnya-lebih-tinggi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/27/tak-hitung-metana-data-emisi-industri-batubara-sebenarnya-lebih-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Monyet-monyet Ini Memakan Tanah, Ilmuwan Ungkap Kaitannya dengan Perilaku Turis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/27/monyet-monyet-ini-memakan-tanah-ilmuwan-ungkap-kaitannya-dengan-perilaku-turis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/27/monyet-monyet-ini-memakan-tanah-ilmuwan-ungkap-kaitannya-dengan-perilaku-turis/#respond</comments>
					<pubDate>27 Apr 2026 02:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/27022254/macaque-dirt-eating-960x510-1-768x510.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126949</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah studi mendalam mengungkap fenomena unik yang terjadi pada populasi kera Barbary (Macaca sylvanus) di Gibraltar. Para ilmuwan menemukan bahwa monyet-monyet ini secara rutin mengonsumsi tanah atau melakukan perilaku yang dikenal sebagai geofagi. Temuan ini menjadi bukti kuat mengenai bentuk adaptasi cerdas satwa untuk mengatasi gangguan kesehatan akibat pola makan yang tidak alami. Penelitian yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/monyet-monyet-ini-memakan-tanah-ilmuwan-ungkap-kaitannya-dengan-perilaku-turis/">Monyet-monyet Ini Memakan Tanah, Ilmuwan Ungkap Kaitannya dengan Perilaku Turis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah studi mendalam mengungkap fenomena unik yang terjadi pada populasi kera Barbary (Macaca sylvanus) di Gibraltar. Para ilmuwan menemukan bahwa monyet-monyet ini secara rutin mengonsumsi tanah atau melakukan perilaku yang dikenal sebagai geofagi. Temuan ini menjadi bukti kuat mengenai bentuk adaptasi cerdas satwa untuk mengatasi gangguan kesehatan akibat pola makan yang tidak alami. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports menunjukkan hubungan kausalitas yang nyata antara interaksi manusia dan kebiasaan memakan tanah. Tim peneliti dari Gibraltar Macaques Project mencatat bahwa kelompok monyet yang paling sering berada di area wisata memiliki tingkat konsumsi tanah yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, kelompok monyet yang tinggal di area terisolasi dan jarang bersentuhan dengan manusia hampir tidak pernah melakukan perilaku tersebut. Monyet ini memakan makanan olahan yang diberi oleh wisawatan | Foto oleh Martin Nicourt / Gibraltar Macaques Project Para peneliti pertama kali mengamati perilaku ini secara tidak sengaja saat memantau populasi monyet di semenanjung Iberia tersebut. Secara administratif, pemerintah setempat sebenarnya sudah menyediakan pasokan rutin berupa buah-buahan dan sayuran segar bagi 200 hingga 300 ekor monyet yang ada. Namun, arus wisatawan yang masif membawa perubahan besar pada asupan nutrisi mereka. Banyak monyet yang mendapatkan tambahan makanan dari turis baik melalui pemberian langsung maupun dengan cara mencuri tas milik pengunjung. Sylvain Lemoine merupakan seorang antropolog biologi dari University of Cambridge sekaligus penulis senior studi ini. Ia menjelaskan bahwa temuan ini menyoroti bagaimana primata menyesuaikan diri di bentang alam yang didominasi manusia. Fenomena memakan tanah ini sering kali diamati terjadi sesaat setelah monyet mengonsumsi camilan manis&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/27/monyet-monyet-ini-memakan-tanah-ilmuwan-ungkap-kaitannya-dengan-perilaku-turis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/27/monyet-monyet-ini-memakan-tanah-ilmuwan-ungkap-kaitannya-dengan-perilaku-turis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Kondisi Hutan dan Satwa Liar Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/26/bagaimana-kondisi-hutan-dan-satwa-liar-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/26/bagaimana-kondisi-hutan-dan-satwa-liar-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>26 Apr 2026 16:43:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/23095411/Orangutan-tapanuli2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126928</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap 22 April, dunia memperingati Hari Bumi. Pada 2026, dilansir dari Earthday.org, peringatan kali ini mengusung tema “Our Power, Our Planet” atau Kekuatan Kita, Planet Kita. Tema ini menyerukan sebuah gerakan fundamental bahwa kemajuan lingkungan tidak bergantung pada satu kebijakan atau pemimpin, melainkan pada aksi kolektif dari komunitas, pendidik, pekerja, hingga level keluarga. Tema utama ini juga menekankan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/bagaimana-kondisi-hutan-dan-satwa-liar-indonesia/">Bagaimana Kondisi Hutan dan Satwa Liar Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap 22 April, dunia memperingati Hari Bumi. Pada 2026, dilansir dari Earthday.org, peringatan kali ini mengusung tema “Our Power, Our Planet” atau Kekuatan Kita, Planet Kita. Tema ini menyerukan sebuah gerakan fundamental bahwa kemajuan lingkungan tidak bergantung pada satu kebijakan atau pemimpin, melainkan pada aksi kolektif dari komunitas, pendidik, pekerja, hingga level keluarga. Tema utama ini juga menekankan mengenai perlindungan lingkungan adalah tanggung jawab berkelanjutan yang melampaui siklus politik, administrasi, maupun pemilihan umum. Seruan global ini menjelaskan bahwa perlindungan lingkungan merupakan isu universal yang berdampak pada kesehatan manusia, keamanan ekonomi (seperti bagi petani dan nelayan), serta nilai spiritual dan moral. “Selain itu, ekosistem global saling terhubung dan kualitas hidup generasi mendatang sangat bergantung pada lingkungan yang sehat,” tulis seruan aksi dari Earthday.org. Di Indonesia, beberapa pekan sebelum Hari Bumi 2026, Auriga Nusantara merilis data deforestasi 2025 yang memprihatinkan: luas hutan yang hilang melonjak drastis menjadi 433.751 hektar. Atau, meningkat 66 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 261.575 hektar. Angka ini bahkan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Auriga Nusantara, yang sejak 2023 konsisten merilis data deforestasi tahunan melalui platform Simontini (Sistem informasi tutupan lahan dan izin), menggunakan metode yang sangat ketat dan melakukan verifikasi lapangan di 49.321 hektar lokasi deforestasi yang tersebar di 38 desa, 28 kabupaten, 16 provinsi mulai Sumatera hingga Papua. Kalimantan sebagai pulau dengan deforestasi paling tinggi, mencapai 158.283 hektar, naik 28.387 hektar atau 22% dari tahun sebelumnya. Pulau ini berturut-turut menjadi pemuncak deforestasi sejak 2013. Sumatera jadi pulau kedua dengan deforestasi terbanyak, mencapai 144.150 hektar. Papua berada di urutan ketiga. Deforestasinya bertambah 348%, dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/bagaimana-kondisi-hutan-dan-satwa-liar-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/26/bagaimana-kondisi-hutan-dan-satwa-liar-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aksi Para Perempuan dari Kelola Ratusan Bank Sampah sampai Kembangkan Energi Surya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/26/aksi-para-perempuan-dari-kelola-ratusan-bank-sampah-sampai-kembangkan-energi-surya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/26/aksi-para-perempuan-dari-kelola-ratusan-bank-sampah-sampai-kembangkan-energi-surya/#respond</comments>
					<pubDate>26 Apr 2026 14:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25045017/Pengelolaan-Sampah-Organik-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126873</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, solusi iklim, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para kader Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, berhasil mengembangkan pengelolaan sampah sampai energi surya berbasis komunitas. Terobosan ini pun melibatkan banyak perempuan. Di Banten, Desty Eka Putri Sari bersama Sampah Digital Banten memiliki 315 bank sampah tersebar di Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Awal gerakannya bermula dari rukun tetangga (RT)  tempat tinggalnya, pada 2020. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/aksi-para-perempuan-dari-kelola-ratusan-bank-sampah-sampai-kembangkan-energi-surya/">Aksi Para Perempuan dari Kelola Ratusan Bank Sampah sampai Kembangkan Energi Surya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para kader Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, berhasil mengembangkan pengelolaan sampah sampai energi surya berbasis komunitas. Terobosan ini pun melibatkan banyak perempuan. Di Banten, Desty Eka Putri Sari bersama Sampah Digital Banten memiliki 315 bank sampah tersebar di Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Awal gerakannya bermula dari rukun tetangga (RT)  tempat tinggalnya, pada 2020. “Sampah turut menyumbang emisi karbon apalagi jika tidak dikelola dengan baik,” katanya  menerangkan motivasinya. Platform yang dia kembangkan itu mencatat, mendistribusi, dan mengelola sampah secara digital. Sehingga, pengendalian emisinya optimal dari hulu ke hilir. Dia sebutkan, dengan memaksimalkan pengelolaan sampah organik di unit terkecil, sampah tidak menumpuk di TPA. Tumpukan sampah organik di TPA membusuk secara anaerob atau tanpa oksigen, yang menghasilkan gas metana lebih besar. Padahal, gas ini merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat menangkap panas atmosfer ketimbang karbon dioksida, sehingga memicu krisis iklim lebih jauh. Dia bilang, total relawan yang terlibat dalam gerakan ini sekitar 6.800 orang, dengan 98% perempuan. Partisipasi ini, menurutnya, efektif dalam mengatasi masalah sampah, sebab, ibu rumah tangga memiliki peran yang signifikan. Hasil surveynya mendukung hipotesa itu. “Sebelum memulai platform ini, saya bikin survei kecil-kecilan yang menyasar 100 rumah di lingkup RT tempat tinggal saya. Perempuan terutama ibu rumah tangga jadi pihak yang paling terganggu dengan masalah sampah, mereka juga bersedia berpartisipasi,” katanya. Saat itu, solusi masalah yang ada hanya menaruh sampah di lahan kosong lalu membakarnya. Bukannya menyasar akar masalah, cara itu justru menimbulkan polusi udara akibat asap pembakaran, juga menambah emisi karbon. Sampah pun masih banyak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/aksi-para-perempuan-dari-kelola-ratusan-bank-sampah-sampai-kembangkan-energi-surya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/26/aksi-para-perempuan-dari-kelola-ratusan-bank-sampah-sampai-kembangkan-energi-surya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Bintan Protes Ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/#respond</comments>
					<pubDate>26 Apr 2026 02:23:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25111048/Foto-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126886</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Bintan dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Perikanan Kelautan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan nelayan dari berbagai desa di pesisir Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) mendatangi kawasan PT Bintan Alumina Industri (BAI), Selasa (21/4/26). Kedatangan mereka untuk menolak rencana perluasan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang (KEK-GB). Dari atas perahu, nelayan bentangkan spanduk bertuliskan protes.  “Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Laut dan Darat Bintan untuk Nelayan dan Masyarakat.&#8221;  &#8220;Tolak PSN [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/">Nelayan Bintan Protes Ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan nelayan dari berbagai desa di pesisir Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) mendatangi kawasan PT Bintan Alumina Industri (BAI), Selasa (21/4/26). Kedatangan mereka untuk menolak rencana perluasan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang (KEK-GB). Dari atas perahu, nelayan bentangkan spanduk bertuliskan protes.  “Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Laut dan Darat Bintan untuk Nelayan dan Masyarakat.&#8221;  &#8220;Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Ruang Hidup Rakyat.” Para nelayan khawatir  dampak buruk PLTU BAI dan menyebut sebagai ancaman bagi masa depan. “Kami berharap aspirasi ini dapat sampai kepada Presiden Prabowo,”  kata Musthofa Bisri, warga Desa Kalong, usai aksi. Dia bilang, kehadiran kawasan industri di Bintan berdampak luas pada lingkungan dan nelayan pesisir, apalagi terus  memperluas cakupan hingga ke Pulau Poto. Sebagai pulau kecil, kata Bisri, Pototak layak menanggung beban sebagai kawasan industri. Selama ini, warga tak mendapat informasi apapun terkait rencana pembangunan kawasan industri di pulau itu. “Kami sering disebut sudah terlibat dalam proses perancangan Amdal, tetapi nyatanya tidak ada. Kami tidak tahu persis informasi terkait pembangunan Pulau Poto,” katanya. Pemandangan di kampung nelayan Pulau Poto, Kepulauan Riau. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia. &nbsp; Bisri mengaku,  telah berulang kali sampaikan protes. Namun, sampai kini tak mendapat tanggapan berarti. Santoni, Direktur Utama BAI yang pengelola PSN KEK-GB menyebut aksi warga sebagai hal biasa. Dia menduga,  itu terjadi karena mereka belum mendapat informasi  utuh terkait proyek itu. “Jika mereka sudah memahami kajian yang kami miliki, tentu akan berbeda. Kami tidak mungkin merusak mata pencaharian nelayan, karena itu juga menjadi perhatian kami,” katanya saat Mongabay konfirmasi, Rabu (22/4/26). Aksi serupa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kerak Ungu, Spesies Invasif yang Kian Akrab di Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>25 Apr 2026 14:01:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25134931/Kerak-ungu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126902</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tidak banyak yang menyadari kapan pertama kali kerak ungu muncul di Jakarta. Burung itu sudah ada di taman kota, di jalur pedestrian, bahkan di jantung ibu kota. Hadir tanpa gaduh, tapi perlahan jadi biasa. Di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) hingga Monumen Nasional, kehadirannya kini nyaris tak lagi mengejutkan. Acridotheres tristis hinggap di dahan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/">Kerak Ungu, Spesies Invasif yang Kian Akrab di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tidak banyak yang menyadari kapan pertama kali kerak ungu muncul di Jakarta. Burung itu sudah ada di taman kota, di jalur pedestrian, bahkan di jantung ibu kota. Hadir tanpa gaduh, tapi perlahan jadi biasa. Di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) hingga Monumen Nasional, kehadirannya kini nyaris tak lagi mengejutkan. Acridotheres tristis hinggap di dahan yang sama dengan kerak kerbau, burung lokal yang lebih dulu akrab dengan lanskap kota. Sekilas tak ada yang berbeda. Keduanya nampak berbagi ruang, mencari makan, lalu terbang kembali ke arah yang tak selalu bisa diikuti mata. Bagi Melisa Qonita (26), citizen science pemandangan itu sudah jadi bagian dari rutinitas sejak 2023. Dia kerap menjumpai kerak ungu di pusat kota Jakarta. “Hampir selalu ada. Bahkan dalam satu pohon bisa bareng kerak kerbau,” ujarnya, Senin (20/4/2026). Tetapi, yang nampak biasa ini menyimpan cerita lain. Kerak ungu bukan spesies asli Indonesia. Kehadirannya diduga akibat introduksi manusia dan ia mampu beradaptasi di lingkungan perkotaan. Walau terlihat koeksis, ada potensi persaingan yang tak kasat mata. Misalnya, kompetisi makanan juga ruang hidup. Spesies invasif, jelasnya, cenderung lebih adaptif dan efisien dalam memanfaatkan sumber daya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran. “Bila dibiarkan, bukan tak mungkin burung lokal akan kehilangan ruangnya sendiri.” Kerak ungu merupakan jenis burung invasif. Foto: Hammas Zia Urrohman Anshari Pola yang konsisten Hammas Zia Urrohman Anshari (26), citizen science lain, menuturkan di Ragunan polanya cukup konsisten. Kerak ungu punya pohon tertentu yang digunakan sebagai tempat bersarang. Dalam satu kali pengamatan, jumlah yang terlihat sekitar 2-3 individu. Namun, menariknya burung asli dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>