- Ular manfaatkan panas dari lingkungan untuk mengatur suhu tubuh, termasuk melalui paparan sinar matahari dan permukaan yang hangat.
- Penelitian menunjukkan suhu udara, suhu subrat, serta kondisi mikrohabitat berkaitan dengan suhu tubuh dan aktivitas reptil.
- Perilaku ular perlu dilihat dari kondisi lingkungan dan aktivitasnya sebelum ditemukan. Gonyosoma jansenii umumnya melakukan basking di pepohonan.
- Dokumentasi Annisa Ramdani menjadi data awal keberadaan Gonyosoma jansenii di Morowalii, Sulawesi Tengah, sekaligus membuka peluang penelitian tentang persebaran, habitat, dan perilakunya.
Mengapa seekor ular kadang terlihat berjemur di bawah sinar matahari? Dikenal sebagai reptil berdarah dingin, apakah ia sedang menghangatkan tubuh? Atau, ada alasan lain yang membuat makhluk melata ini berada di tempat terbuka?
Pertanyaan ini muncul dari sebuah perjumpaan sederhana di Morowalii, Sulawesi Tengah. Sekitar pukul 09.00 WITA, Annisa Ramdani, seorang biodiversity surveyor, sedang menuju lokasi survei keanekaragaman hayati di lokasi tersebut.
Perjalanan itu terhenti tatkala jebolan Magister Biologi Universitas Nasional (UNAS) itu melihat seekor ular di tepi jalan.
Cuaca kala itu cukup terik. Dari kondisi itu, Annisa menduga ular yang dilihatnya sedang basking, yaitu perilaku reptil memanfaatkan sumber panas dari lingkungan untuk membantu mengatur suhu tubuh.
“Sepertinya si ular sedang berjemur,” terang Annisa, akhir September 2026.
Dia mendokumentasikan ular itu.
Perjumpaan tersebut bukan bagian dari pencarian khusus terhadap ular Gonyosoma jansenii atau disebut ular tikus hitam celebes. Baginya, dokumentasi penting karena setiap perjumpaan dengan satwa bisa memberikan tambahan informasi mengenai keberadaan dan kondisi biodiversitas di suatu kawasan.
Namun, ada satu hal yang menarik perhatian. Ular tersebut tak ditemukan di atas pohon atau dalam tutupan vegetasi, melainkan di jalan. Padahal, Celebes black-tailed ratsnake ini dikenal sebagai ular yang punya kemampuan memanfaatkan vegetasi.

Strategi mengatur suhu tubuh
Secara ekologis, basking tak sekedar aktivitas tubuh yang terkena panas matahari.
Perilaku ini adalah bagian dari behavior thermoregulation, yakni strategi hewan mengatur suhu tubuh dengan memilih kondisi lingkungan tertentu.
Penelitian Dubiner dan kolega yang terbit dalam Global Ecology and Biogeography 2024 memberikan gambaran luas mengenai hubungan suhu tubuh dengan lingkungan pada squamata, kelompok yang mencakup ular dan kadal.
Penelitian menganalisis 20.231 individu dari 210 spesies di 25 negara, dengan membandingkan suhu tubuh satwa dengan suhu udara, suhu subtrat, serta perilaku dan pola aktivitasnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa suhu tubuh reptil berkaitan dengan kondisi termal lingkungan, termasuk suhu udara dan permukaan tempat satwa berada.
Temuan ini penting, sebab menunjukkan bahwa sumber panas bagi reptil tak selalu dipahami sebagai sinar matahari yang mengenai tubuh secara langsung.
Substrat yang jadi hangat juga berperan dalam lingkungan termal yang dimanfaatkan reptil. Dengan begitu, saat ular berada di tempat terbuka, pertanyaan ekologisnya tak hanya apakah tubuhnya terkena matahari, namun juga bagaimana kondisi mikrohabitat di sekitarnya.
Konteks Indonesia memperlihatkan pola yang serupa.
Penelitian Sepsamli dan Hidayat di Hutan Kemuning, Jawa Tengah, yang diterbitkan pada 2026, menemukan bahwa variasi suhu dan kelembapan berhubungan dengan aktivitas komunitas reptil.
Kondisi mikroklimat yang lebih hangat pada musim kemarau mendukung aktivitas termoregulasi reptil diurnal, sementara suhu lebih rendah dan kelembapan tinggi pada musim hujan berkaitan dengan menurunya aktivitas di permukaan.
Reptil menggunakan strategi perilaku untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan kondisi lingkungan. Dalam konteks ini, basking bisa dipahami sebagai bentuk pengaturan perilaku tersebut, bukan sekedar aktivitas pasif saat tubuh terkena matahari.

Tak bisa langsung disimpulkan
Maula Haqul Dafa, praktisi sekaligus peneliti herpetofauna dan Skill Trainer pada Divisi Penelitian dan Pengembangan Yayasan Sioux Ular Indonesia, mengatakan perilaku ular di tempat terbuka tidak bisa langsung disimpulkan sebagai aktivitas basking atau berjemur.
Menurutnya, untuk memastikan perilaku tersebut, kondisi lingkungan dan aktivitas ular sebelum ditemukan perlu diamati secara menyeluruh.
“Lingkungannya bagaimana dan sebelumnya sedang apa,” jelas Dafa, Senin (5/10/26).
Karakter ekologis Gonyosoma jansenii juga perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan mengenai perilakuknya. Menurutnya, spesies tersebut umumnya melakukan basking di pepohonan.
“Karena, biasanya tidak di tanah.”

Keberadaan individu Gonyosoma jansenii di permukaan tanah jadi temuan yang menarik untuk diamati lebih jauh. Ada kemungkinan ular itu sedang memanfaatkan kondisi termal disekitarnya, tetapi bisa pula sedang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.
Dalam konteks identifikasi, Dafa katakan dokumentasi visual yang baik sebenarnya sudah dapat membantu mengenali Gonyosoma jansenii. Baik dari bentuk kepala dan badan, serta perwarnaan.
Tetapi, dengan individu dengan variasi warna yang tidak umum, pemeriksaan lebih rinci diperlukan, termasuk melalui karakter morfologi atau penghitung sisik tertentu.
Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa Gonyosoma jansenii merupakan spesies ular yang minim kajian dan informasinya.
Referensi:
Dubiner, S., Aguilar, R., Anderson, R. O., et al. (2024). A global analysis of field body temperatures of active squamates in relation to climate and behaviour. Global Ecology and Biogeography, 33(4), e13808. https://doi.org/10.1111/geb.13808
Sepsamli, L., & Hidayat, I. (2026). Variasi musiman komunitas reptil di Hutan Kemuning, Jawa Tengah: Seasonal variation of reptile communities in Kemuning Forest, Central Java. Jurnal Hutan Tropika, 21(1). https://doi.org/10.36873/jht.v21i1.24740
*****
Ular Pasir Afro-Asia Muncul Lagi di Pinggir Jalan Setelah Satu Setengah Abad Hilang dari Pengamatan