- Santi adalah anak kucing kuwuk yang ditemukan di area perkebunan dalam kondisi lemah dan tanpa induk. Ia dirawat intensif oleh dokter hewan dari Jaringan Satwa Indonesia.
- Selama rehabilitasi, Santi dipulihkan kesehatannya dan dilatih kembali naluri liarnya, termasuk berburu mangsa hidup seperti mencit, burung dan kadal.
- Setelah dinilai mampu berburu dengan perilaku alaminya, Santi akhirnya dilepasliarkan di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Gilimanuk, Bali.
- Kucing kuwuk tersebar di hutan dataran rendah hingga lahan pertanian di Bali, tetapi jumlah populasinya belum diketahui karena keterbatasan survei ilmiah.
Malam-malam panjang jadi perjalanan Farida Ulya, dokter hewan muda Jaringan Satwa Indonesia (JSI). Setiap dua jam sekali, perempuan jebolan Fakultas Kedokter Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, harus bangun untuk memeriksa seekor anak kucing kuwuk yang datang dalam kondisi sangat lemah.
Tubuhnya kecil, tanpa induk, dan memerlukan susu.
Anak kucing itu diberi nama Santi, yang beberapa bulan kemudian dilepasliarkan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Gilimanuk, Bali.
Bagi Farida, kisah Santi tak hanya cerita penyelamatan satwa liar. Melainkan, pengalaman pertamanya dengan kucing yang disebut juga kucing hutan, yang dirawatnya sejak bayi.
“Waktu pertama datang, saya khawatir sekali,” katanya, Jum’at (13/3/2025).
Ini dikarenakan kondisi Prionailurus bengalensis masih lemah imun tubuhnya. Sebab, umumnya bayi satwa liar bergantung pada induknya untuk mendapatkan nutrisi dan perlindungan. Tanpa induk, peluang bertahan hidupnya kecil.
Dari rekam jejaknya, Santi ditemukan di area perkebunan yang usianya diperkirakan tiga minggu.
“Awalnya dia lemah, kedinginan, dan kurang mau minum susu.”
Setelah dirawat intensif, Santi menunjukkan progres. Menurut Farida, perawatan bayi kucing kuwuk bukan perkara mudah. Berbeda dengan satwa dewasa yang biasanya sudah punya daya tahan tubuh lebih kuat, bayi satwa liar sangat rentan terhadap penyakit dan stres.
Dalam kasus Santi, tim rehabilitasi harus memastikan kebutuhan dasar seperti suhu tubuh, nutrisi, dan kebersihan benar-benar terjaga.
“Saya bangun tiap dua jam untuk memberi susu dan memastikan ia tetap hangat.”

Perjalanan rehabilitasi
Proses rehabilitasi sekitar lima setengah bulan. Mulanya, ia hanya diberi pakan lunak. Setelah kondisinya stabil, tim mulai perkenalkan daging ayam dan daging sapi. Pakan ini masih dalam kondisi mati.
Berikutnya, diperkenalkan dengan pakan hidup sebagai langkah penting untuk menguji naluri berburu.
“Pakan hidupnya seperti mencit, burung, atau kadal.”
Mencit atau Mus musculus yang dilepaskan di kandang akan bergerak bebas. Dari atas tempat bertenggernya, Santi biasanya mengamati pergerakan mangsa sebelum akhirnya melompat turun untuk menangkapnya. Respons ini jadi penilaian penting bahwa naluri alamiahnya terjaga.
Satu tantangan terbesar dalam rehabilitasi adalah membatasi interaksi dengan manusia. Jika Santi terlalu sering berinteraksi dengan manusia, nantinya akan terbiasa dan kehilangan naluri liar, hal yang justru berbahaya saat dilepasliarkan. Tim rehabilitasi memantau perilaku Santi melalui kamera pengawas.
“Saat memberi makan pun, petugas tak mendekat langsung. Makanan dilempar melalui pintu kandang, agar tidak menjadikan manusia sebagai pemberi makanana.”
Satu hal menarik, bagi Farida, adalah kebiasaan Santi beristirahat di tempat tinggi. Ini juga yang menjadikannya menarik untuk diteliti lebih lanjut. Apakah di alam liar, kucing hutan beristirahat di atas pohon untuk hindari predator sekaligus memantau mangsa?
“Kalau malam, ia sering naik ke rumah kayu yang dibuat di kandang,” tuturnya.
Perilaku ini jadi poin tambahan bahwa insting alaminya masih kuat. Pertimbangan lain adalah kemampuan berburunya. Selain mencit yang diberikan sebagai pakan hidup, terkadang ada cicak yang masuk ke kandang.
Tanpa bantuan, Santi menunjukkan respons berburu.
“Ini jadi indikator penting bahwa ia siap dilepasliarkan.”

Puncak emosional
Momen pelepasliaran jadi puncak perjalanan emosional Farida. Setelah berbulan merawat Santi, dari bayi lemah hingga tumbuh jadi kucing yang siap hidup di alam liar.
“Rasanya haru, lega dan senang.”
Bagi tim rehabilitasi, pelepasliaran tak sekadar seremoni membuka kandang. Proses ini merupakan titik akhir dari rangkaian panjang perawatan medis, pembentukan kembali naluri liar, hingga penilaian untuk bertahan hidup di alam.
Meski optimis dengan kemampuan Santi berburu, Farida mengaku ada kekhawatiran setelah pelepasliaran. Seperti perburuan, jerat, hingga pembukaan hutan.
Untuk itu, tim masih melakukan pemantauan awal di sekitar lokasi pelepasliaran. Tujuannya, memastikan keberadaannya dengan mencari tanda-tanda seperti jejak kaki dan sisa makanan atau feses. Selain itu, laporan petugas lapangan di kawasan hutan juga jadi bagian sistem pemantauan.
“Kucing hutan seperti Santi adalah predator kecil dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karenanya, masyarakat jangan pelihara. Tempat terbaiknya adalah di habitat alaminya,” paparnya.

Sumarsono, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali, mengatakan pada Jum’at (13/3/2025), keberadaan kuwuk di wilayah kerjanya tersebar di hutan-hutan dataran rendah, kawasan agroforestri, hingga lahan pertanian.
Hingga kini, jumlah populasinya belum dapat dipastikan. Ini disebabkan keterbatasan survei ilmiah yang dilakukan secara komprehensif terhadap kucing nokturnal ini.
“Sementara ini, data bersumber dari laporan masyarakat dan temuan insidental. Termasuk, yang berada di pusat rehabilitasi,” tegasnya.
*****