- Ikan kakatua (parrotfish) memiliki peran ekologis yang sangat besar di laut. Sudah seharusnya keberadaanya dilindungi secara hukum. Bukan malah diburu, apalagi untuk konsumsi. Beberapa negara sudah menerapkan itu. Hukumannya berat, baik denda maupun kurungan penjara.
- Wisatawan di Karimunjawa kerap menyantap ikan kakatua. Alasannya hanya karena penasaran, tak mengindahkan fungsi ikan secara ekologis. Alih-alih melakukan edukasi tentang pentingnya keberadaan ikan kakatua, beberapa pemandu wisata lokal justru memberi informasi tak benar.
- Ni Kadek Dita Cahyani, Peneliti di Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengatakan ikan kakatua berperan penting dalam kesehatan terumbu karang dan berperan dalam pembuatan pasir putih. Jika musnah, maka ekosistem laut dan pembentukan pasir putih bakal terganggu.
- Endi Faiz Effendi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah tegaskan seluruh pelaku wisata bahari dan wisatawan di Karimunjawa perlu diberi pemahaman akan pentingnya ikan Kakatua. Karena ikan Kakatua merupakan komponen vital ekosistem perairan. Pelbagai pihak akan digandeng, baik dinas terkait maupun NGO.
Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah, masih jadi destinasi favorit para pelancong. Sepanjang 2024, hampir 100.000 orang dari dalam dan luar negeri menikmati keindahan bawah laut pulau berjuluk hidden paradise of Java itu. Namun, minimnya pengawasan dan edukasi membuat ikan kakatua (parrotfish) terancam untuk konsumsi.
Bersama nemo (clownfish) dan ikan zebra (Abudefduf vaigiensis), ikan ini menjadi ikan tropis penghuni terumbu karang di Karimunjawa. Mirisnya, wisatawan yang datang tidak tahu informasi ihwal pentingnya ikan ini bagi ekosistem di Karimunjawa.
“Saat siang snorkeling lihat ikan itu cantik. Terus malam dimakan karena penasaran rasanya,” Kata Silvi, wisatawan asal Bandung.
“Iya kata guide bisa dimakan, ada yang jual. Jadi, kami mencari karena penasaran,” imbuh Imam, wisatawan lain, menimpali.
Di mata wisatawan, kulineran menjadi daya tarik mereka datang ke lokasi wisata.
“Satu paket, jadi food experience gitu. Mikirnya ikan yang bisa dimakan, gak mikir hal lain yang penting halal aja,” ucap Ricky, wisatawan asal Jakarta.
Sayangnya, salah satu yang mereka makan adalah ikan yang berguna bagi kesehatan terumbu karang.
Ni Kadek Dita Cahyani, Peneliti di Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, menyebut, meski bukan termasuk ikan dilindungi, tetapi konsumsi kakatua harus dikurangi, karena ikan ini herbivora yang memakan alga yang hidup di karang.
“Ikan kakatua berperan penting dalam kesehatan terumbu karang. Karena alga itu biasa menutupi karang serta menyebabkan kematian karang,” katanya.
Dita bilang, ikan karang ini juga berperan dalam pembuatan pasir putih. Sesuai namanya, ikan ini memiliki ‘paruh’ atau beak yang keras. Sehingga ketika ikan memakan alga, maka kalsium karbonat dari karang juga termakan.
“Nah, itulah yang kemudian dikeluarkan sebagai pasir.”
Jika kakatua musnah, maka kesehatan karang juga terganggu. Karena, tidak ada pembersih karang alami seperti yang ikan ini tunjukkan.
Jika karang mati, maka ekosistem terumbu karang terganggu.
“Karena karang menyediakan oksigen bagi ekosistem terumbu karang, makanan, tempat memijah dan lain-lainnya,” katanya.
Selain itu hilangnya ikan ini juga memperlambat pembentukan pasir putih. Dia bilang, pada akhirnya pembentukan pasir putih hanya tergantung pada hasil aktivitas ombak yang mengikis karang saja.

Adakah perlindungan hukum?
Karena peran ekologinya yang besar, beberapa negara sudah menerapkan sistem perlindungan hukum bagi ikan kakatua. Bermuda, misal, melindungi ikan karang ini sejak 1993 berdasarkan Undang-undang Perikanan 1972. Jika terbukti menangkap, membunuh, dan/atau menjual ikan kakatua maka denda hingga US$50.000 dan penjara dua tahun. Sedangkan di Mexico, perlindungan terhadap ikan ‘berparuh’ ini sudah ada sejak Oktober 2018.
Namun, sepengetahuan Dita, tidak ada atau belum ada larangan penangkapan dan konsumsi ikan kakatua di Indonesia. Meski di beberapa lokasi sudah ada imbauan untuk mengurangi penangkapan dan konsumsi.
Dia menyadari perlu usaha sangat besar dalam pembentukan regulasi tersebut. Sebab, harus ada lembaga yang konsisten memantau populasi ikan kakatua.
Endi Faiz Effendi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah, mengatakan, pentingnya menjaga keberadaan ikan kakatua agar tetap lestari. Karena, ikan itu ini komponen vital ekosistem perairan, khususnya ekosistem terumbu karang.
“Walaupun untuk saat ini Pemerintah Indonesia belum memasukkan ikan kakatua sebagai salah satu spesies yang dilindungi, sehingga yang bisa kami lakukan menghimbau agar keberadaan ikan ini wajib dijaga dari penangkapan yang berlebihan,” katanya.
Dia bilang, para pelaku wisata bahari dan wisatawan di Karimunjawa harus mendapat pemahaman pentingnya kakatua bagi ekosistem laut. Caranya, dengan menggandeng dinas terkait dan lembaga non pemerintah.
“Bersama-sama menyosialisasikan dan mengajak kepada masyarakat untuk ikut serta dan peduli dalam menjaga kelestarian ikan kakatua dengan tidak menangkap dan apalagi memakan ikan kakatua.”
Selain itu, katanya, perlu juga upaya konservasi perairan untuk memberikan perlindungan terbatas terhadap habitat ikan kakatua. Termasuk, penguatan patroli pengawasan di kawasan konservasi.

*****