- Yaki, monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) memilih tempat tidur yang tinggi dan besar sebagai benteng pertahanan hidup dari predator.
- Pohon beringin (Ficus) adalah pohon favorit Yaki karena berfungsi ganda: sebagai tempat tidur aman dan sumber pakan sepanjang tahun.
- Batang pohon yang sangat besar dan struktur kompleks menjadi strategi jitu Yaki menghindari predator seperti ular sanca.
- Populasi Yaki menurun yang membuat statusnya Kritis. Salah satu penyebabnya, hutan menyusut dan terfragmentasi.
Yaki, monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) yang menjadi ikon kritis di hutan tropis Sulawesi Utara, memiliki kebiasaan penting setiap malam. Primata berbulu hitam legam dengan pantat merah muda ini, ternyata sangat selektif memilih tempat beristirahat.
Ini berbeda dengan anggapan umum bahwa primata bisa tidur di sembarang pohon. Memilih lokasi tidur merupakan perilaku penting bagi primata arboreal seperti Yaki, karena saat tidur kewaspadaan mereka menurun dan kerentanan terhadap predator meningkat. Untuk itulah, monyet berjambul ini tidak sembarangan memilih pohon.
Bagi Yaki, pohon bukan sekadar tempat bernaung, melainkan benteng pertahanan hidup. Berdasarkan studi di Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, Yaki menunjukkan preferensi yang kuat terhadap ketinggian. Mereka menghindari semak belukar rendah dan memilih puncak-puncak pohon tinggi sebagai “rumah aman” atau benteng pertahanan terbaik dari serangan predator.
Sylvia Laatung, peneliti dari Universitas Sam Ratulangi yang memublikasikan risetnya dalam Jurnal Zootek, mengungkapkan bahwa Yaki paling sering memanfaatkan stratum A dan B, yaitu lapisan tajuk pohon dengan ketinggian di atas 10 hingga lebih 20 meter.
“Persentase pemanfaatannya sebesar 65,21%. Stratum ini merupakan kumpulan pohon yang membentuk suatu kanopi tertutup dengan tajuk bersentuhan,” ungkap Laatung dalam laporannya.
Dia menambahkan bahwa Yaki menyukai pohon tinggi, besar, dan memiliki percabangan banyak. Kriteria banyak cabang ini bukan tanpa alasan. Percabangan yang rimbun memungkinkan seluruh anggota kelompok, yang jumlahnya bisa mencapai puluhan individu, tidur bersama di satu pohon atau pohon berdekatan. Struktur tajuk rapat dan membentuk kanopi tertutup juga memudahkan mereka berpindah antarpohon, tanpa harus turun ke tanah, sebagai sebuah strategi jitu untuk menghindari predator.

Pohon beringin jadi favorit
Jika ada satu jenis pohon yang menjadi favorit Yaki, itu adalah Ficus atau beringin. Dalam penelitian terpisah yang dilakukan Adha Yakseb bersama tim di Suaka Margasatwa Manembo-nembo, Minahasa, ditemukan bahwa beringin (Ficus benjamina) menjadi pohon pilihan.
“Jenis tumbuhan pakan yang menjadi preferensi tertinggi adalah Ficus benjamina dan Dracontomelon dao atau buarau/dao,” tulisnya.
Menariknya, pohon ini berfungsi ganda: sebagai kasur yang nyaman di malam hari sekaligus tempat untuk mendapatkan makanan. Pentingnya pohon Ficus juga ditekankan oleh para peneliti karena tajuknya yang berbentuk seperti payung memberikan perlindungan maksimal. Selain itu, buah Ficus tersedia sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Penelitian lainnya yang diterbitkan dalam International Journal of Primatology, memantau kelompok kerabat dekat Yaki, yakni monyet moor (Macaca maura) yang dapat memberikan gambaran perilaku dan sangat mungkin juga dilakukan Yaki.
Penelitian tersebut dilakukan di Taman Hutan Raya Bontobahari, Sulawesi Selatan. Selama 12 minggu pengamatan intensif, para peneliti menemukan pola mencolok: dari berbagai jenis pohon yang tersedia di hutan, pohon dari genus Ficus mendominasi 68% pilihan lokasi tidur monyet tersebut.
Dalam risetnya, César Rodríguez del Castillo, peneliti utama studi ini, bersama tim menjelaskan bahwa pemilihan pohon raksasa dengan struktur cabang kompleks ini kemungkinan besar merupakan strategi bertahan hidup dari predator utama mereka, yaitu ular sanca kembang (Python reticulatus).
“Ukuran batang yang sangat besar menyulitkan ular untuk memanjat karena menghambat kemampuan ular melakukan lokomosi concertina (gerakan melilit untuk memanjat),” jelas para peneliti.
Selain itu, pohon beringin yang besar mampu menampung banyak individu sekaligus, yang memfasilitasi kohesi kelompok dan meningkatkan interaksi sosial positif. Studi ini juga menjelaskan peran ganda pohon beringin sebagai sumber pakan.

Ancaman
Meski terampil hidup di ketinggian, Yaki tidak bisa lepas dari ancaman yang datang dari tanah. Gaya hidup arboreal mereka justru menjadi sangat rentan ketika pohon-pohon tempat mereka bergantung mulai menghilang.
Ketika hutan menyusut dan terfragmentasi, maka hanya menjadi ancaman bagi yaki. Apalagi, saat sumber makanan alami di hutan berkurang, Yaki terpaksa turun ke kebun dan lahan pertanian warga untuk mencari makan. Hal ini memicu konflik langsung dengan manusia, yang sering berakhir dengan pembunuhan atau pengusiran terhadap Yaki.
Ancaman lain yang tak kalah serius adalah perburuan untuk diambil dagingnya. Praktik ini, ditambah dengan perdagangan ilegal Yaki muda untuk dijadikan hewan peliharaan, yang terus menggerogoti populasi yang sudah berada dalam status Kritis (Critically Endangered) berdasarkan daftar merah IUCN.
Referensi:
del Castillo, C. R., Maulany, R. I., Ngakan, P. O., Amici, F., & Majolo, B. (2025). Sleeping site selection in a wild group of Moor Macaques (Macaca maura) in Sulawesi. International Journal of Primatology, 46, 1014–1038. https://doi.org/10.1007/s10764-025-00510-5
Laatung, Sylvia. (2015). Stratifikasi penggunaan tajuk oleh Yaki (Macaca nigra) di Cagar Alam Tangkoko Duasudara Sulawesi Utara. Zootec, 35(1), 151-163. https://doi.org/10.35792/zot.35.1.2015.7224
Yakseb, A., Tasirin, J. S., & Lasut, M. T. (2018). Daerah jelajah dan perilaku Macaca nigra di Kawasan Suaka Marga Satwa Manembo Nembo. Jurnal Cocos.
*****