- Sinkhole atau lubang amblas. Bisa terjadi di mana saja, namun umumnya di kawasan karst. Secara alami jenis batuan di area ini mudah larut, yang akhirnya runtuh dan membentuk rongga.
- Sinkhole juga dapat terjadi di wilayah dengan aktivitas manusia yang mempercepat pelarutan dan erosi, misalnya di kawasan tambang.
- Tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculan. Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara visual. Namun demikian, keberadaan rongga batu gamping sebenarnya dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.
- Kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batu gamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Tanda yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
Kemunculannya yang tiba-tiba menjadi sensasi di media sosial, juga berita di berbagai media. Sawah warga di Sumatera Barat, tanahnya ambles. Rongga yang terbentuk berisi air jernih. Masyarakat yang penasaran pergi ke lokasi dan mencoba melihat dari dekat. Garis polisi pun dipasang di sekeliling lubang.
Awalnya ada rekahan kecil. Rekahan di sawah warga di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, ini menjadi jalur masuknya air hujan ke dalam tanah. Curah hujan yang tinggi menghasilkan aliran makin besar. Rekahan tergerus.
Pada 4 Januari 2025, sebuah lubang dengan diameter sekitar 7 meter dan kedalaman sekitar 5,7 meter tercipta. Warga menemukannya saat hendak bekerja di sawah. Sumber lain menyebut, ada warga yang mendengar suara keras sebelum kejadian.
Dalam istilah geologi, fenomena alam itu disebut sinkhole atau lubang amblas. Bisa terjadi di mana saja, namun umumnya di kawasan karst. Secara alami jenis batuan di area ini mudah larut, yang akhirnya runtuh dan membentuk rongga.

Terkait munculnya sinkhole di Sumatera Barat, Wahyu Wilopo, dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM menjelaskan, hal itu terjadi akibat kombinasi beberapa faktor geologi. Seperti pelarutan batu gamping, erosi material lapuk, dan curah hujan tinggi. Seperti diketahui, wilayah Sumatera dan sekitarnya didera siklon Senyar pada akhir November 2025, yang memicu curah hujan tinggi.
“Pencegahan total sulit dilakukan, tetapi mitigasi dapat melalui pemantauan geologi, pengendalian tata guna lahan, serta sistem drainase yang baik,” ungkapnya, dikutip dari situs resmi UGM, Rabu (7/1/2026).
Lokasi terjadinya sinkhole dikenal sebagai kawasan karst. Topografi kabupaten ini berbukit, yang dilalui gugusan pegunungan Bukit Barisan. Ada tiga gunung, yaitu Sago, Bungsu, dan Sanggul.
Menurut Wahyu, fenomena sinkhole tidak bisa muncul di semua jenis tanah. Tapi, tidak selalu terjadi di karst. Sinkhole juga dapat terjadi di wilayah dengan aktivitas manusia yang mempercepat pelarutan dan erosi, misalnya di kawasan tambang. Wilayah dengan material vulkanik lapuk pun mudah erosi hingga rentan amblas.
“Ada pula karena eksploitasi air tanah berlebihan, sehingga menurunkan muka air, memperbesar rongga, dan melemahkan struktur tanah,” tambahnya.

Deteksi kemunculan
Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculan. Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara visual. Namun demikian, keberadaan rongga batu gamping sebenarnya dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.
“Metode seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini,” jelasnya di laman BRIN, Rabu (14/1/2026).
Adrin mengingatkan, kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batu gamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Tanda yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
“Bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan.”
Adrin menegaskan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami dan mengantisipasi fenomena sinkhole. Ada metode rekayasa geoteknik untuk mencegah pembentukannya di daerah batu gamping. Metode tersebut adalah cement grouting, yaitu menginjeksi semen, mortar atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga yang ada di lapisan batu gamping bawah permukaan.
Namu menurut Wahyu, penanganan sinkhole bukan hanya soal menutup lubang, tetapi juga mengelola air, memperkuat tanah, dan melibatkan masyarakat dalam kewaspadaan. Setelah proses evakuasi warga, survei geologi dan geofisika bisa dilakukan untuk identifikasi kedalaman lubang baik dengan geolistrik, seismik, Ground Penetrating Radar (GPR).
Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan pengisian material padat maupun teknik grouting. Langkah lain menurutnya ialah perbaikan drainase dan aliran air, serta rekayasa struktur penguatan pondasi.

Sering terjadi
Fenomena sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia. Masih mengutip laman BRIN, beberapa daerah yang dikenal rawan antara lain Gunungkidul, Pacitan, dan Maros. Kawasan tersebut secara geologi memiliki lapisan batu gamping cukup tebal di bawah permukaan tanah.
Berdasarkan penelusuran, fenomena sinkhole bisa terjadi di mana saja. Dari perdesaan hingga perkotaan, dalam skala dan dampak beragam. Penyebabnya pun bermacam. Misalnya, pada 2025 lalu, ladang warga di Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, amblas. Lokasi sebelumnya kerap tergenang air dan terdapat ponor atau rekahan tempat air mengalir ke dalam tanah. Warga menyebut rongga amblasan tanah sebagai luweng.
Pada 2023, sinkhole terjadi di Kedisan, Tegallalang, Gianyar. Lubang dengan diameter 30 meter dan kedalaman 70 meter memutus akses jalan wisata. Tanah yang amblas sudah terjadi pada 2021 akibat cuaca ekstrem, namun makin lama melebar. Pada 2018, amblasan tanah terjadi di jalan raya Gubeng, Surabaya, selebar selebar 30 meter dan sedalam 20 meter.
Luas bentang alam karst Indonesia tercatat sekitar 15,4 juta hektar atau sekitar 8 persen luas daratan. Ketika wilayah karst ini dimanfaatkan secara intensif, baik untuk permukiman, pertanian, pengambilan air tanah, maupun pembangunan infrastruktur, dengan sendirinya potensi bencana meningkat. Sebab, perubahan tata air dan beban di permukaan dapat mempercepat runtuhan tanah.
Sinkhole bukan sekadar fenomena geologi alamiah, melainkan juga potensi bencana yang nyata bagi Indonesia. Terutama, jika pengelolaan ruang dan sumber daya tidak mempertimbangkan karakter khas dan kerentanan ekosistem karst.
*****