- Bagi petani di Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, sagu bukan hanya warisan leluhur, namun sumber ekonomi utama yang menopang kebutuhan keluarga.
- Pengolahan sagu masih pertahankan cara-cara tradisional, namun tetap dipadukan dengan mesin sederhana.
- Pohon sagu ramah lingkungan, tak butuh pupuk atau pestisida, bergantung pada air bersih alami, serta berperan penting menjaga tata air.
- Potensi sagu sangat besar untuk mendukung kedaulatan pangan.
Pagi di Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, selalu dimulai suara alam. Mohamad Rifai Wasolo (51), jalani rutinitas lebih dari dua dekade ini dengan mengolah sagu.
Dia bukan petani baru. Pengetahuan tentang sagu diperolehnya dari generasi sebelumnya, tanpa sekolah, tanpa pelatihan resmi. Langsung praktik setiap hari.
“Sagu ini dari nenek kakek beta,” jelasnya, Rabu (10/12/2025).
Dari sagu, Rifai mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Dia masih pertahankan cara lama dalam beberapa tahap penting pengolahan sagu.
“Kalau tebang pakai mesin bisa turunkan kualitas batang sagu. Saya masih gunakan kapak”
Setelah pohon tumbang, batang dipotong dan dibelah manual sebelum masuk tahap pengolahan. Di sini, Rifai mulai padukan cara tradisional dengan teknologi sederhana. Dia pakai mesin parut untuk hancurkan empulur batang sagu, lalu memerasnya hingga menjadi pati.

Rifai merakit rangka mesin sendiri, lalu membuat peti sagu manual, sedangkan mesinnya dibeli terpisah. Modal awalnya dari pinjaman bank. Tidak ada koperasi, pun kelompok tani, semuanya dikelola seorang.
“Usaha ini jalan sendiri.”
Pengetahuan merakit dan menggunakan mesin dia peroleh dari temannya. Sejak 2010, penggunaan mesin sederhana ini membantunya mempercepat proses pengolahan sagu, walau tetap bergantung pada fisik dan kondisi alam.
Mengolah satu pohon sagu, perlu waktu sekitar tiga hari. Hari pertama untuk menebang dan memotong batang. Berikutnya, membelah batang dan memarutnya. Terakhir, hasil parutan dimasukkan ke wadah, kemudian diperas hingga menghasilkan pati.
Proses pemerasan tak makan waktu lama, namun memerlukan ketelatenan. Air digunakan untuk melarutan sari pati, lalu disaring hingga mengendap dan membeku, jadi sagu siap jual.
“Kalau sudah ditebang, tiga hari habis.”

Siklus kerja ini berulang. Dalam sebulan, produksi sagu nyaris tidak pernah terputus. Setiap tiga hari, proses dimulai lagi dari awal. Semua pekerjaan itu dilakukannya sendiri.
Kalsum (40), istrinya membantu pada tahap akhir yaitu menjual sagu ke pasar. Pembagian peran ini kunci keberlangsungan usaha rumah tangga mereka.
Rifai mengaku, satu pohon bisa menghasilkan hingga 20 tumang sagu. Jumlah itu maksimal dengan harga jual stabil dan sudah ada patokan pasar. Dari sisi harga dan produktivitas, sagu tidak memiliki masalah berarti.
“Hanya saja, tidak ada anak muda yang mau kerja olah sagu di sini.”
Padahal, jadi petani sagu menurut Rifai menguntungkan. Dibandingkan tanaman lain, sagu sangat adaptif. Tanaman dengan nama latin Metroxylon sagu tak membutuhkan pupuk dan nyaris tak punya penyakit.
“Perawatannya juga minimal, cukup bersihkan area sekitar batang,” ujar lelaki yang kelola sagu seluas satu hektar ini.

Peran ekologis
Selain bernilai ekonomi, sagu juga punya peran ekologis yang penting. Hal ini tercermin dari pengalaman Ismail Toluhli ((50), petani di Desa Sepa, yang juga gantungkan hidupnya dari tanaman andalan masyarakat Maluku tersebut.
Menurutnya, produksi sagu bisa dilakukan hampir setiap hari dan tak bergantung pada pola pertanian intensif, seperti pupuk maupun pestisida. Sagu sangat bergantung pada ketersediaan air bersih alami. Dalam praktiknya, kualitas lingkungan jadi faktor penentu keberhasilan produksi.
“Kalau air bercampur lumpur karena hujan deras, hasil sagu tidak murni dan produksi harus dihentikan sementara.”

Kondisi ini menunjukkan, sistem produksi sagu relatif ramah lingkungan dan minim risiko pencemaran tanah maupun air. Meski begitu, keterbatasan sarana produksi, khususnya mesin pengolahan kerap jadi kendala di lapangan.
“Keberlanjutan sagu tak hanya ditentukan faktor ekologis, namun juga dipengaruhi dukungan kebijakan yang tepat. Tanpa dukungan itu, potensinya sebagai pangan berkelanjutan sulit dikembangkan secara optimal.”

Ilham Tauda, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, menyatakan sagu sebagai bahan pangan lokal berperan mendukung kedaulatan pangan daerah dan nasional.
Potensi lahan sagu di Maluku sangat luas, bila dikelola optimal bisa membantu pencapaian swasembada pangan, khususnya tantangan krisis pangan global.
“Pengembangan sagu berbasis kearifan lokal dan produk olahannya perlu diperkuat supaya bisa memberi nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam,” jelasnya, dikutip dari Tribun Maluku, 28 Januari 2025.

Kajian Hariyanto (2011) menyebut, sagu tak hanya sumber pangan alternatif, tetapi juga tanaman strategis dalam sistem ekologi tropis karena kemampuannya beradaptasi pada kondisi lingkungan yang tak sesuai bagi tanaman semusim lainnya.
Fungsi penting ekologisnya yaitu menjaga tata air. Bisa tumbuh optimal di lahan basah dan rawa tergenang, sehingga berperan sebagai penyangga hidrologis alami. Adanya hutan sagu membantu perlambat aliran air permukaan, mengurangi risiko banjir.
“Juga menjaga ketersediaan air pada musim kering,” tulisnya.
Dengan sistem perakaran yang kuat dan rapat, pohon sagu mencegah erosi tanah dan degradasi lahan, terutama di wilayah pesisir dan dataran rendah Maluku serta Papua. Serta, mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Refrensi:
Hariyanto, B. (2011). Pemanfaatan tanaman sagu dalam penyediaan pangan dan pengendalian kualitas lingkungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian RI https://media.neliti.com/media/publications/144078-ID-none.pdf?utm_source
*****