- Banjir bandang yang menerjang Aceh pada Rabu (26/11/2025) lalu, tidak hanya membawa lumpur dan material tanah, tetapi juga kayu gelondongan.
- Di sejumlah tempat, kayu-kayu tersebut terhampar menyerupai lautan. Pemandangan ini terlihat jelas di Pesantren Darul Mukhlisin, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, serta di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
- Mongabay menelusuri kemungkinan sumber kayu, dengan menyusuri Wilayah Sungai (WS) Jambo Aye yang membentang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, dan Aceh Timur.
- WS Jambo Aye memiliki 13 daerah aliran sungai (DAS), salah satunya DAS Jambo Aye. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 246/KPTS/M/2014 tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Jambo Aye, yang diterbitkan pada 19 Mei 2014, luas DAS Jambo Aye mencapai 541.032 hektar.
Banjir bandang yang menerjang Aceh, tidak hanya membawa lumpur dan material tanah, tetapi juga kayu gelondongan.
Pantauan Mongabay menunjukkan, hampir di seluruh lokasi terdampak banjir yang terjadi Rabu (26/11/2025) lalu, kayu-kayu besar berserakan di permukiman penduduk, lahan pertanian, hingga menutup alur sungai.
Di sejumlah tempat, kayu-kayu tersebut terhampar menyerupai lautan. Pemandangan ini terlihat jelas di Pesantren Darul Mukhlisin, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, serta di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.

Dari mana kayu-kayu tersebut berasal?
Mongabay menelusuri kemungkinan sumber kayu, dengan menyusuri Wilayah Sungai (WS) Jambo Aye yang membentang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, dan Aceh Timur.
WS Jambo Aye memiliki 13 daerah aliran sungai (DAS), salah satunya DAS Jambo Aye. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 246/KPTS/M/2014 tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Jambo Aye, yang diterbitkan pada 19 Mei 2014, luas DAS Jambo Aye mencapai 541.032 hektar.
Dalam keputusan tersebut disebutkan, sejumlah persoalan serius di wilayah ini, terutama pada DAS Jambo Aye. Ada penebangan hutan, ketidaksesuaian luas kawasan hutan lindung dan kawasan suaka alam dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW), aktivitas pertambangan, serta tingginya laju konversi lahan irigasi menjadi perkebunan dan permukiman.

Satu lokasi tumpukan kayu terbanyak akibat banjir, berada di sungai mati Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
“Kayu-kayu ini berasal dari perusakan hutan di sekitar DAS Jambo Aye, yang hulunya di Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tengah, lalu bermuara ke Selat Malaka di Aceh Timur. Kayu tersebut menghancurkan rumah dan kebun warga,” ujar Hasyim, warga terdampak banjir di Langkahan, Jumat (26/12/2025).

Hasyim menyebutkan, sebagian besar bantaran Sungai Jambo Aye, khususnya di Langkahan, kini telah berubah menjadi kebun sawit. Pembukaan lahan masih berlangsung di sejumlah lokasi dan kayu dibiarkan menumpuk.
“Ada juga pembalakan liar di beberapa titik di sepanjang sungai.”

Hendra, warga Langkahan lainnya mengatakan pernah menyusuri Sungai Jambo Aye hingga mendekati wilayah Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah.
“Saya melihat langsung beberapa lokasi penebangan kayu. Mereka tidak hanya menarik manual, tetapi juga menggunakan alat berat,” ujarnya, Jumat (26/12/2025).
Puluhan orang terlibat aktivitas pembalakan, namun tidak terlihat adanya penegakan hukum.
“Tidak mungkin mereka memiliki izin, karena penebangan terjadi di kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang masuk Kawasan Ekosistem Leuser.”

Afifuddin, Ketua Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh, menilai kayu-kayu yang terbawa banjir bandang berasal dari pembukaan lahan sawit, pembalakan liar, serta aktivitas pertambangan emas ilegal di sepanjang sungai.
“Di Langkahan terjadi pembukaan lahan sawit besar-besaran. Kayu hasil tebangan yang tidak bernilai ekonomi dibiarkan begitu saja, lalu terbawa banjir,” katanya, Senin (29/12/2025).

Pemantauan Walhi menemukan, pembukaan kebun sawit baru di Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, berlangsung sejak 2022 yang lokasinya sangat dekat Sungai Jambo Aye.
“Memang berada di areal penggunaan lain (APL), tetapi pembukaan lahan dekat sungai sangat berisiko. Sebaiknya segera dihentikan.”

Penegakan hukum
Aktivitas ilegal juga terjadi di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan hulu DAS Jambo Aye.
“Sungai Jambu Aye rusak akibat penambangan emas ilegal. Mereka menggali sungai menggunakan alat berat yang tidak hanya merusak sungai tetapi juga hutan sekitar. Banjir membawa kayu dan menghantam apa saja,” kata Supriadi, warga Linge, Jumat (19/12/2025).
Kegiatan liar ini sudah terjadi beberapa tahun, namun tidak ada tindakan hukum.
“Dampak buruknya sangat terasa sekarang,” ungkapnya.

Aliansi Masyarakat Gayo (AMG) pernah mendesak penegak hukum untuk menindak penambangan emas liar di Linge.
“Ada 14 unit excavator beroperasi di lokasi tanpa izin resmi. Kuat dugaan keterlibatan pihak luar, yang bukan warga setempat,” kata Sadikin Arisko, Koordinator AMG, Minggu (22/12/2024).

Aktivitas ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga berdampak serius terhadap lingkungan hidup masyarakat setempat.
“Kami mendesak penegak hukum segera mengambil langkah tegas demi terjaganya lingkungan dan ekosistem hutan.”

Penelusuran Mongabay menggunakan citra Google Earth, menguatkan keterangan warga dan Walhi Aceh, pembukaan kebun sawit di Desa Lubok Pusaka, berada pada koordinat 4°47’58.64″ LU 97°24’7.08″ BT dan 4°48’10.79″ LU 97°24’50.98″ BT. Sementara, sejumlah lokasi pembalakan liar terdeteksi di koordinat 4°46’50.72″ LU 97°21’29.05″ BT dan 4°46’16.01″ LU 97°20’4.52″ BT.
Adapun pertambangan emas ilegal di Kecamatan Linge, terpantau lebih 10 titik. Salah satunya, pada koordinat 4°18’57.04″ LU 97°7’44.77″ BT dan 4°19’30.02″ LU 97°8’12.92″ BT.
*****