- Banjir parah yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan semata karena curah hujan tinggi. Tetapi, gejala krisis tata kelola ruang di Pulau Sumatera.
- Banjir dan longsor yang menghancurkan Sumatera, merupakan tanda bahwa model pembangunan berbasis ekstraksi sumber daya alam sudah mencapai titik buntu.
- Secara alamiah, kawasan hutan alam tropis seperti di Sumatera atau Kalimantan, tajuk hutannya mampu menangkap dan menyimpan air hujan sampai 35 persen, sekitar 65 persen lainnya sampai ke tanah.
- Jika permukaan tanah tidak terganggu, misalnya aktivitas pembangunan, maka air yang masuk ke dalam tanah bisa sampai 55 persen dari air hujan yang jatuh. Sisanya, sekitar 10-20 persen masuk ke sungai. Neraca air ini merupakan rumusan yang berlaku di kawasan hutan.
Ada yang tidak biasa pada perilaku siklon tropis, yang kali ini bernama siklon Senyar. Sebelumnya, bibit siklon Senyar terpantau muncul di kawasan Selat Malaka, bagian timur Aceh. Jika biasanya siklon patuh pada lintasannya, siklon Senyar ini bergerak zig zag. Saat memasuki daratan yang harusnya melemah, ternyata tetap kuat. Akibatnya, hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung beberapa hari mengguyur Pulau Sumatera.
“Sekarang itu kan bareng-bareng, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara. Karena Apa? Karena siklonnya tuh mampir-mampir. Anomali. Biasanya kalau masuk daratan itu energinya hilang, ini masih masuk ke dalam bahkan menyeberang,” papar Dwikorita Karnawati, Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Kamis (4/12/2025), dalam Forum Pojok Bulaksumur di Selasar Gedung Pusat UGM.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (21/11/2025), mengeluarkan peringatan dini. Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (26/11/2025), Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG, mengatakan cuaca ekstrem masih berpotensi memicu bencana hidrometeorologi untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau dan sekitarnya dalam 2-3 hari ke depan.
Pada Rabu jelang tengah malam, 26 November, hujan dengan intensitas sangat tinggi melanda Aceh yang menyebabkan banjir. Namun, laporan menyebutkan sehari sebelumnya banjir telah merendam Solok. Banjir yang terjadi di Sumatera ini membawa serta lumpur dan kayu gelondongan. Ribuan kubik kayu bisa ditemukan mulai dari Pidie Jaya (Aceh), Tapanuli Selatan (Sumatera Utara), hingga Padang (Sumatera Barat).
Hingga Sabtu (6/12/2025), data BNPB menunjukkan, jumlah korban meninggal sebanyak mencapai 916 jiwa, orang hilang sebanyak 274 jiwa, dan korban luka mencapai 4.200 jiwa.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Dwikorita yang pernah menjadi kepala BMKG, mengingatkan potensi terbentuknya siklon tropis di belahan bumi selatan masih dapat terjadi sampai Maret. Bisa saja siklon terbentuk di kawasan seperti barat daya Bengkulu, bergeser ke selatan mendekati selat Sunda, Jawa, dan Nusa Tenggara yang membuat wilayah tersebut rentan mengalami bencana hidrometeorologi.
Siklon tropis yang terjadi di bawah 5 derajat dari khatulistiwa seperti siklon Senyar sebenarnya jarang terjadi. Dalam sejarah pengamatan moderen, siklon tropis yang pernah berada di wilayah Indonesia adalah siklon Seroja pada 2021 lalu. Siklon Seroja menyebabkan angin kencang, banjir, longsor, dan gelombang pasang di Nusa Tenggara Timur. Para pakar menyebut anomali pembentukan siklon tropis ini merupakan dampak perubahan iklim.

Endapan purba
Dwikorita juga mengungkap, sebagian wilayah Indonesia memiliki faktor kerentanan alamiah berupa gerakan tanah. Hal ini membuat risiko terjadinya tanah longsor semakin tinggi. Zona merah rawan gerakan tanah itu ada di Pulau Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Lalu Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Cirinya antara lain, terdapat pegunungan memanjang, misalnya Bukit Barisan. Karena proses geomorfologi tertentu, perbukitan yang terbentuk berkontur curam lalu datar. Ini meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang.
Sambil memperlihatkan sebuah video, Dwikorita memaparkan pengalamannya saat melakukan kajian banjir bandang yang terjadi di Bahorok, Langkat, Sumatera Utara pada 2 November 2003. Kala itu air yang membawa material dan kayu gelondongan menghantam permukiman, menyebabkan sekitar 300 orang tewas dan ratusan bangunan hancur. Padahal, dari satu DAS saja.
Sebelum peristiwa itu terjadi, hujan turun di bagian hulu. Ada gempa dengan magnitude kecil yang tidak dirasakan manusia namun mampu melongsorkan tanah. Banyak titik longsoran terbentuk yang saat itu menyeret pepohonan. Material longsoran lalu mengaliri sungai sempit, lurus dan menyiku. Saat sungai tersumbat, seolah membentuk bendungan alami, tekanan air meningkat dan bendungan alami itu jebol. Terjadi banjir bandang.

Seperti kejadian 22 tahun lalu, tempat hunian yang terkena dampak banjir bandang saat ini sebenarnya berdiri di atas lapisan sisa banjir bandang.
“Tempat-tempat hunian saat ini merupakan akumulasi tumpukan banjir bandang purba yang sudah berkali-kali. Sehingga, kalau terjadi lagi memang di situ jalannya,” jelas Dwikorita.
Persoalannya, jika pada masa lalu periode kejadian banjir bandang cukup lama, setidaknya 50 tahun, sekarang menjadi lebih pendek 5 atau 10 tahun. Menurut Dwikorita, banjir bandang Sumatera kali ini merupakan akibat dari kombinasi anomali iklim, kerentanan geologi, diperparah faktor antropogenik.
“Antropogenik yaitu lahan yang berubah. Enggak usah diubah, enggak usah dirusak lahannya itu sudah rapuh, apalagi dirusak. Sehingga tingkat kerusakan itu berperan bukan pada kejadiannya, tapi berperan pada seringnya terjadi.”

Hatma Suryatmojo, pakar konservasi sumber daya hutan dari Fakultas Kehutanan UGM, menerangkan bahwa pegunungan vulkanik seperti Bukit Barisan memiliki ciri kelerengan curam, dengan alur lembah sempit. Sementara di bagian hilir, memiliki kipas aluvial vulkanik tempat material dibuang sebelum sampai ke laut.
“Bagian kipas vulkanik yang datar, subur, banyak sedimen itu menarik untuk dihuni manusia. Sepanjang Pulau Sumatera, terutama di Bukit Barisan bagian muara pasti banyak permukiman. Contohnya Kota Padang,” jelasnya, Kamis (4/12/2025).
Bagian datar yang subur itu, sebenarnya adalah tempat parkir air yang bakal selalu terisi air. Setiap kali hujan ekstrem seperti sekarang, air dan material dari hulu pasti kembali mengisi tempat itu. Ketika air meminta tempatnya kembali, manusia terkena dampaknya.
Mengacu beberapa kajian, Hatma menerangkan, saat terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 50 mm, kawasan Sumatera pasti didera banjir. Pada kejadian banjir bandang itu, curah hujan mencapai 380 mm.
Secara alamiah, kawasan hutan alam tropis seperti di Sumatera atau Kalimantan, tajuk hutannya mampu menangkap dan menyimpan air hujan sampai 35 persen, sekitar 65 persen lainnya sampai ke tanah.
Jika permukaan tanah tidak terganggu, misalnya aktivitas pembangunan, maka air yang masuk ke dalam tanah bisa sampai 55 persen dari air hujan yang jatuh. Sisanya, sekitar 10-20 persen masuk ke sungai. Neraca air ini merupakan rumusan yang berlaku di kawasan hutan.

Krisis tata ruang
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai, banjir parah yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan semata karena curah hujan tinggi. Tetapi, gejala krisis tata kelola ruang di Pulau Sumatera.
“Situasi tersebut tidak bisa lagi dijelaskan hanya dengan narasi ‘cuaca ekstrem’, melainkan harus dibaca sebagai akibat langsung dari rusaknya ekosistem hulu dan DAS oleh industri ekstraktif,” tulis Jatam dalam siaran persnya, Jumat (28/11/2025)
Banjir dan longsor yang menghancurkan Sumatera, merupakan tanda bahwa model pembangunan berbasis ekstraksi sumber daya alam sudah mencapai titik buntu.
“Ruang hidup rakyat dikonversi menjadi deretan konsesi tambang dan mega proyek energi. Namun, risiko ditanggung warga yang berada di bantaran sungai, kaki bukit, serta pesisir yang setiap tahun dipaksa hidup dalam sirene darurat bencana.”
*****