- Bagi anak orangutan, induk adalah segalanya. Pelindung, sumber pengetahuan, dan penopang kehidupan.
- Dalam sekolah kehidupan, anak orangutan akan belajar mengenal lebih dari 250 jenis pakan. Mulai serangga, daun, buah, hingga kulit kayu. Mereka juga belajar bagaimana cara memperolehnya, menentukan musim, dan lokasi.
- Sekelompok peneliti, baru-baru ini menggunakan lebih dari 12 tahun data perilaku orangutan sumatera (Pongo abelii) menelaah hubungan pengasuhan, pembelajaran, dan pola makan orangutan sumatera.
- Pelajaran awal yang diterima anak orangutan dari induknya adalah menunjukkan apa yang boleh dimakan dan tidak. Anak akan dibawa ke ratusan lokasi makan dan sang induk akan makan di situ, sementara anak orangutan akan memperhatikan. Seolah, sang induk menunjukkan daftar menu apa saja yang boleh dan layak dimakan di hutan.
Bagi anak orangutan, induk adalah segalanya. Pelindung, sumber pengetahuan, dan penopang kehidupan. Anak orangutan berada dalam pengasuhan induknya hingga usia sekitar 7,5 tahun, bahkan ada yang 9 tahun. Selama itu pula, ia menjalani sekolah kehidupan, bekal yang akan menentukan apakah kelak bisa bertahan hidup di hutan atau tidak.
Dalam sekolah kehidupan, anak orangutan akan belajar mengenal lebih dari 250 jenis pakan. Mulai serangga, daun, buah, hingga kulit kayu. Mereka juga belajar bagaimana cara memperolehnya, menentukan musim, dan lokasi.
Uniknya, pengetahuan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika generasi ini diputus, generasi berikutnya hampir mustahil bisa melewati kehidupannya karena tak mungkin menjalani dengan coba-coba. Misalnya, terlalu berisiko bagi anak orangutan untuk hidup mandiri sebelum mengenal tumbuhan beracun dan bukan.
Pengetahuan itu tidak diperoleh seketika. Namun berlangsung bertahun-tahun, melalui pengamatan dan eksplorasi sosial bersama orangutan lain. Suatu proses yang kemudian dikenal sebagai budaya.
Sekelompok peneliti, baru-baru ini menggunakan lebih dari 12 tahun data perilaku orangutan sumatera (Pongo abelii) menelaah hubungan pengasuhan, pembelajaran, dan pola makan orangutan sumatera. Delapan peneliti itu berasal dari Swiss, Jerman, Britania Raya, dan dua orang Indonesia yaitu Tatang Mitra Setia dan Deana Perawati dari Pusat Riset Primata, Universitas Nasional, Jakarta.
“Kami memberikan bukti meyakinkan bahwa budaya memungkinkan orangutan liar membangun repertoar pengetahuan yang jauh lebih luas daripada yang dapat mereka pelajari secara mandiri,” kata penulis pertama Elliot Howard-Spink, peneliti pascadoktoral dari Institut Perilaku Satwa Max Planck, yang kini menjadi peneliti di Universitas Zürich, Swiss, dikutip dari Phys.
Laporan penelitian mereka dimuat dalam jurnal Natural Human Behavior, 24 November 2025, dengan judul “Culture is critical in driving orangutan diet development past individual potentials”.

Pembelajaran
Peneliti mengidentifikasi 262 jenis pakan orangutan dari 116 spesies tanaman, dan 9 kelompok taksonomi tinggi, seperti rayap. Data pengamatan dikumpulkan dari orangutan sumatera liar yang hidup di wilayah penelitian Suaq Belimbing, TN Gunung Leuser, Aceh Selatan, dari 2007 hingga 2019. Data yang didapat berasal dari 2.676 pengamatan, fokus pada 132 individu, dengan total 22.547 jam pengamatan.
Pelajaran awal yang diterima anak orangutan dari induknya adalah menunjukkan apa yang boleh dimakan dan tidak. Anak akan dibawa ke ratusan lokasi makan dan sang induk akan makan di situ, sementara anak orangutan akan memperhatikan. Seolah, sang induk menunjukkan daftar menu apa saja yang boleh dan layak dimakan di hutan.
“Manusia terbiasa mempercepat perolehan informasi mereka melalui pembelajaran sosial dan mengumpulkan repertoar informasi yang ditransmisikan secara sosial dan bergantung budaya. Kami menunjukkan bahwa efek ini ada dalam budaya spesies non-manusia: orangutan sumatera,” tulis Elliot Howard-Spink dan rekan dalam jurnal itu.

Untuk mengetahui seberapa banyak pembelajaran sosial mempengaruhi perkembangan pola makan orangutan, para peneliti membangun tiga simulasi. Peneliti mencatat peristiwa makan, jenis pakan, jumlah individu, jarak posisi anak dan induk, dan data lokasi makan. Data-data itu kemudian digunakan untuk membuat simulasi.
Pertama, saat anak orangutan melakukan pengamatan jarak dekat terhadap orangutan lain di saat mereka makan di hutan. Kedua, jarak sangat dekat dengan orangutan lain saat makan. Ketiga, hanya dipandu ke tempat makan yang sesuai tanpa kontak sosial lebih lanjut.
Hasilnya, ketika ketiga jenis pembelajaran sosial tersedia, anak orangutan mengembangkan pola makan seperti orangutan dewasa liar. Mereka mampu mengenali 224 jenis pakan pada usia yang hampir sama dengan orangutan liar. Saat meniadakan simulasi pembelajaran pertama, jumlah itu turun menjadi 85 persen. Angkanya semakin kecil ketika simulasi kedua dihilangkan.
“Kami menyimpulkan bahwa pola makan orangutan adalah repertoar pengetahuan yang bergantung pada budaya yang dimiliki oleh spesies non-manusia, dan bahwa pola makan orangutan berkembang cukup cepat hanya melalui pembelajaran sosial,” tulis laporan itu.
Kemampuan untuk membangun pengetahuan yang bergantung pada budaya mungkin telah dimiliki nenek moyang manusia dan kera besar lainnya sekitar 13-15 juta tahun lalu. Masih mengutip laporan itu, temuan memberikan bukti bahwa pengetahuan budaya nenek moyang homonid mungkin mencakup pengetahuan subsisten dasar, tentang apa saja yang bisa dimakan.

Implikasi
Berapa jumlah anak orangutan yang terpisah dari induknya belum diketahui pasti. Namun dari angka-angka berikut bisa didapat gambaran. Misalnya, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOSF) dalam situsnya menyebut selama tiga dekade terakhir sebanyak 1.200 orangutan kalimantan memasuki pusat rehabilitasi sebagai bagian dari proses penyelamatan dan rehabilitasi. Sekitar 450 orangutan berada di Nyaru Menteng (Kalimantan Tengah) dan Samboja Lestari (Kalimantan Timur). Sebagian besar orangutan yang dirawat itu adalah anak-anak dan remaja.
Sementara situs Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) menyebutkan, lebih dari 360 orangutan diselamatkan dan dirawat. Sebanyak 270 individu telah dilepasliarkan kembali. Sebagian dari mereka juga anak-anak dan remaja.
Di tempat-tempat itu, individu orangutan mendapat pelajaran mengenali makanan. Pengetahuan dasar yang sangat penting agar bisa bertahan hidup setelah dilepasliarkan. Mengutip Phys, studi yang dilakukan Howard-Spink memiliki kepentingan praktis terkait populasi orangutan yang semakin menipis. Orangutan yang dilepasliarkan tanpa mendapat makanan alami yang cukup dapat menghadapi kelaparan atau keracunan akibat tanaman yang tidak dikenal.
“Studi kami menekankan betapa pentingnya hal ini untuk mewariskan menu budaya lengkap mereka, sehingga satwa-satwa ini memiliki peluang keberhasilan terbesar di alam liar,” kata Caroline Schuppli, peneliti lainnya.
Studi ini menggarisbawahi pentingnya program reintroduksi dari sekolah hutan yang lebih panjang, dan meniru ikatan ibu-anak orangutan. Tujuannya, agar setiap pelepasliaran orangutan bukan akhir dari penyelamatan, tapi awal dari kehidupan mandiri berkelanjutan.
Di tengah populasi orangutan yang kian menyusut, memberikan waktu yang cukup dan merawat ikatan anak dan induk orangutan bukan hanya soal melestarikan spesies. Namun juga, menjaga warisan jutaan tahun pengetahuan hidup dunia orangutan, yang menjadi cermin penting bagi kita sebagai manusia.
Referensi:
Howard-Spink, E., Tennie, C., Mitra Setia, T., Perawati, D., van Schaik, C., Barrett, B., … & Schuppli, C. (2025). Culture is critical in driving orangutan diet development past individual potentials. Nature Human Behaviour, 1-12.
*****