- Macan kumbang bernama Mancak, yang diselamatkan di Kampung Sepang, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Banten, Rabu (26/3/2025) lalu, terpapar virus Canine Distemper Virus (CDV) dan Feline Panleukopenia Virus (FPV).
- Karena kedua penyakit ini disebabkan virus, tidak ada obat khusus yang bisa menghilangkan secara langsung. Penanganan yang diberikan, lebih fokus pada penguatan daya tahan tubuh, seperti vitamin, perawatan suportif, pengawasan berlaku, serta isolasi penuh agar tidak menular ke macan tutul lain.
- Kondisi neurologis dan insting alamiah Mancak jadi perhatian. Ia tidak menunjukkan perilaku liar. Tidak agresif, tidak ada respons memangsa yang kuat. Ini jadi catatan apabila hendak dilepasliarkan.
- Proses pelepasliaran satwa liar, termasuk macan tutul, tidak sesederhana membuka kandang dan membiarkannya kembali ke hutan. Melepas hewan yang belum pulih sepenuhnya, justru bisa membuatnya kembali ke area berpenduduk dan berisiko menimbulkan konflik.
Macan kumbang bernama Mancak, yang diselamatkan di Kampung Sepang, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Banten, Rabu (26/3/2025) lalu, terpapar virus. Apakah macan usia 1-2 tahun ini bisa dikembalikan ke alam habitatnya?
Yohana Tri Hastuti, dokter hewan senior yang menangani Mancak, mengatakan sejak pertama tiba di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, proses identifikasi penyakit tersebut tidak instan.
Mancak datang dalam kondisi stres, tidak mau makan beberapa hari. Respons tidak lazim bagi satwa liar yang baru ditangkap.
“Tiga hari pertama, ia diam. Diberi makan hanya dicium, tidak disentuh,” ujar Yohana yang merupakan Life Sciences Manager-Senior Veterinarian TSI Bogor, Kamis (19/11/2025).
Prosedur medis tidak langsung dilakukan. Tim menunggu hingga Mancak beradaptasi untuk mengurangi stres akut.
Setelah 7 April, sekitar sepuluh hari sejak kedatangannya, pemeriksaan fisik lengkap dan pengambilan sampel darah filakukan untuk keperluan screening.
Hasilnya mengejutkan. Walau uji antibodi negatif, PCR mengonfirmasi dua virus infeksius, yaitu Canine Distemper Virus (CDV) dan Feline Panleukopenia Virus (FPV).
“Kalau PCR positif, artinya virusnya ada. Itu berarti ia terinfeksi.”

Karena kedua penyakit ini disebabkan virus, tidak ada obat khusus yang bisa menghilangkan secara langsung. Penanganan yang diberikan, lebih fokus pada penguatan daya tahan tubuh, seperti vitamin, perawatan suportif, pengawasan berlaku, serta isolasi penuh agar tidak menular ke macan tutul lain.
Disamping itu, kondisi neurologis dan insting alamiah Mancak jadi perhatian.
“Dari awal, ia tidak menunjukkan perilaku liar. Tidak agresif, tidak ada respons memangsa yang kuat. Ini jadi catatan kemungkinan dilepasliarkan,” terangnya.
Agustus lalu, tim melakukan pemeriksaan lanjutan dan menemukan infeksi parasit darah (filaria). Untungnya, bisa diatasi.
Kini, kondisi fisiknya stabil, nafsu makan meningkat, gerakannya aktif, dan ia mulai menunjukkan pola perilaku lebih wajar. Namun, status infeksi viralnya belum dinyatakan bersih.
“Untuk pastikan virusnya tidak aktif atau sudah terbentuk antibodi, kami perlu pemeriksaan ulang. Itu belum dilakukan.”

Meski demikian, Yohana jelaskan, proses pemantauan tidak pernah berhenti. Setiap hari, keeper mencatat detil jumlah makan, respons terhadap lingkungan, kotoran, postur, hingga perubahan kecil. Laporan ini diteruskan kepada dokter penanggung jawab kawasan untuk dianalisa lebih lanjut.
Sebagai langkah mitigasi agar virus tidak menyebar, Mancak tidak pernah disatukan dengan macan tutul lain. Protokol biosekuriti juga diperketat, dengan disinfeksi rutin kandang, penggunaan alat pelindung diri saat perawatan, dan pembatasan kontak langsung.
“Itu standar paling aman.”

Pertimbangan ke alam liar
Terkait peluang dilepasliarkan, Yohana hati-hati menjawab. Menurutnya, keputusan penuh berada di tangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) JAwa Barat, sebagai pemilik mandat konservasi.
TSI hanya berperan sebagai tim perawatan dan pengelolaan fasilitas. Namun, dari persepektif medis, ada hal-hal yang mesti dipertimbangkan secara serius. Selain risiko penularan jika Mancak masih jadi carrier, aspek perilakunya juga penuh tanda tanya.
“Kalau macan tutul liar, biasanya agresif, responsif, dan punya naluri berburu kuat. Mancak ini berbeda sejak awal. Bila dilepasliarkan, apakah bisa bertahan? Itu perlu kajian mendalam.”
Meski demikian, tidak menutup kemungkinan Mancak kembali ke habitat aslinya -asal seluruh kajian kesehatan dan perilaku menyatakan aman. Ini mencakup pemeriksaan ulang CDV dan FPV, pengamatan intensif mengenai kemampuan berburu, orientasi ruang, respons terhadap ancaman, hingga survival skills lainnya.
“Kami siap mengikuti arahan pemerintah. Tapi yang terpenting, keputusan harus memastikan keamanan Mancak dan satwa lain di alam,” jelasnya.

Dihubungi Senin (17/11/2025) untuk menanggapi perkembangan kondisi Mancak, Agus Arianto, Kepala Balai BKSDA Jawa Barat, belum memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan Mongabay.
Namun, dalam pemberitaan sebelumnya, pria yang pernah menjabat Kepala BKSDA Jakarta itu menegaskan, proses pelepasliaran satwa liar, termasuk macan tutul, tidak sesederhana membuka kandang dan membiarkannya kembali ke hutan.
“Tidak bisa dipaksa kalau kondisinya belum siap,” tuturnya.
Seluruh aspek kesehatan dan perilakunya harus diverifikasi terlebih dahulu. Melepas hewan yang belum pulih sepenuhnya, justru bisa membuatnya kembali ke area berpenduduk dan berisiko menimbulkan konflik.
Agus menambahkan, kondisi habitat juga harus ditelaah. Ini mulai dari kecukupan makanan alami, kemampuan lingkungan penopang kehidupan satwa, hingga ancaman aktivitas manusia.
*****