- Danau Sentani menyimpan sejarah panjang, kearifan ekologis, dan tradisi budaya masyarakat yang masih berlanjut hingga sekarang.
- Fosil moluska, fosil kayu, dan rahang bawah kanguru ditemukan di sekitar Sentani. Temuan ini menegaskan keterhubungan Papua dengan Australia (Paparan Sahul) pada masa lalu, serta menjelaskan proses geologi terbentuknya danau dari bekas teluk laut.
- Hingga kini masyarakat masih melestarikan praktik kuno seperti membuat kapak batu, gerabah, dan lukisan kulit kayu dengan motif khas, menunjukkan kesinambungan budaya dari masa prasejarah ke masa kini.
- Situs arkeologi seperti Tutari menyimpan pesan kearifan masa lalu tentang keseimbangan manusia, alam, dan Tuhan. Nilai ini menjadi penting sebagai dasar strategi konservasi modern, misalnya melalui penanaman kembali pohon sagu untuk menjaga keseimbangan hidrologis dan kelestarian danau.
Danau Sentani di Papua bukan sekadar panorama air yang indah dari udara ketika pesawat hendak mendarat di Jayapura. Ia adalah ruang hidup yang memadukan sejarah panjang, kearifan ekologis, dan tradisi budaya yang masih berdenyut hingga kini.
Dari rumah panggung yang terapung di tepian, hutan sagu yang menjadi sumber pangan, hingga lukisan kulit kayu yang merekam jejak leluhur, danau ini menghadirkan kisah keterhubungan manusia dengan alam yang jarang ditemui di tempat lain.
Namun, keindahan itu juga dibayangi tantangan yang menggerus jantung ekosistem Danau Sentani. Bagi arkeolog Hari Suroto, tanda-tanda ini menunjukkan bahwa danau tengah menghadapi “penyakit” serius yang hanya bisa diatasi dengan kesadaran kolektif untuk kembali pada nilai-nilai kearifan masa lalu.
Dalam wawancara melalui episode program Bincang Alam pada 7 Agustus 2025 bertajuk ‘Membaca Masa Lalu, Menjaga Masa Depan: Konservasi Danau Sentani dari Perspektif Arkeologi Lingkungan’, Mongabay Indonesia mengundang Hari Suroto yang merupakan Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Melalui penelitian dan pengalamannya, Hari Suroto mengajak kita melihat Danau Sentani lebih dari sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang kehidupan yang rapuh sekaligus penuh makna, yang harus dijaga agar tetap menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Berikut adalah rangkuman diskusi, yang tata bahasanya telah disesuaikan untuk penulisan artikel ini.
Mongabay: Mengapa anda sebagai arkeolog memilih untuk fokus meneliti Danau Sentani?
Hari Suroto: Penelitian di Danau Sentani sudah dilakukan sejak 2010 hingga 2021, hampir setiap tahun dengan kegiatan ekskavasi. Lokasinya yang dekat dengan Balai Arkeologi Papua membuat aksesnya sangat mudah, beda dengan banyak situs arkeologi lain di Papua yang umumnya sulit dijangkau, seperti yang ada di pegunungan yang perlu pesawat kecil atau di pulau lepas pantai yang memerlukan perahu cepat.
Karena itu, setiap ada laporan temuan dari masyarakat, tim bisa segera hadir di lapangan.
Ketertarikan pada Danau Sentani muncul bukan hanya karena luas dan indahnya pemandangan, tetapi juga karena kehidupan prasejarahnya masih dapat disaksikan hingga kini.
Tradisi seperti pembuatan kapak batu, gerabah, dan lukisan kulit kayu masih berlangsung, dengan motif yang memiliki keterkaitan dengan situs Megalitik Tutari. Selain itu, saat saya penelitian sering pula tersaji kuliner tradisional dengan bumbu sederhana dan bahan segar dari alam sekitar.
Mongabay: Seperti apa gambaran lanskap ekologis di Danau Sentani?
Hari Suroto: Danau Sentani memiliki udara segar, langit biru, dan air yang jernih. Dari pesawat yang mendarat di Bandara Sentani, danau ini tampak jelas dengan bentuk menyerupai huruf S memanjang dari timur ke barat.
Danau ini dikelilingi Pegunungan Cycloop di utara dan perbukitan di selatan, dengan 21 pulau kecil di tengahnya. Fungsi danau sangat beragam: sarana transportasi, sumber air minum, serta penyedia makanan, terutama ikan.
Dahulu, ikan hiu gergaji pernah ditemukan di sini hingga 1970-an, bersama fauna lain seperti buaya nugini dan kanguru di perbukitan sekitarnya.
Masyarakat setempat tinggal di rumah panggung di atas air serta menggunakan perahu tradisional untuk beraktivitas dan bertransportasi.
Secara geologi, Danau Sentani dulunya merupakan teluk laut yang terputus akibat pengangkatan daratan, lalu berangsur menjadi danau air tawar dengan 17 mata air dari Pegunungan Cycloop.
Danau ini berada di ketinggian sekitar 90 meter di atas permukaan laut, memiliki kedalaman maksimal 70 meter, luas 9.200 kilometer persegi, dan keliling sekitar 100 kilometer.

Mongabay: Seperti apa proses penemuan artefak dan seperti apa contoh penemuan di Danau Sentani?
Hari Suroto: Penelitian di Danau Sentani sempat terhenti selama COVID-19 karena tidak ada kegiatan lapangan, sehingga kajian difokuskan pada artefak yang tersimpan di kantor.
Salah satunya adalah ekofag berupa fosil moluska bivalvia (kerang-kerangan) yang ditemukan di sekitar Danau Imfote (dikenal juga sebagai Danau Love) di bagian tenggara.
Fosil kerang ini menjadi bukti terjadinya pengangkatan daratan pada masa lalu yang memisahkan Teluk Sentani dari Samudra Pasifik, hingga akhirnya terbentuk Danau Sentani sebagai danau air tawar.
Mongabay: Apakah fosil-fosil ini dengan mudah dapat ditemukan?
Hari Suroto: Fosil ini dapat ditemukan saat survei di perbukitan sekitar Danau Sentani. Kawasan perbukitan tersebut berupa savana berumput tinggi yang mudah terbakar, sehingga ketika rumput terbakar dan permukaan tanah terlihat bersih, fosil tampak di permukaan tanpa perlu penggalian.
Temuan ini masih terbatas pada fosil yang muncul di permukaan, belum melalui ekskavasi. Selain fosil moluska, juga ditemukan fosil kayu di tepi Danau Sentani, tepatnya di area perbukitannya.
Mongabay: Adakah contoh fosil mamalia yang bisa ditemukan?
Hari Suroto: Fosil mandibula (rahang bawah) kanguru ditemukan di Nimboran, Jayapura. Temuan ini menjadi bukti bahwa pada masa Pleistosen, sekitar 18–20 ribu tahun lalu saat last glacial, Papua dan Australia merupakan satu daratan yang dikenal dalam geologi sebagai Paparan Sahul.
Pada masa itu, penurunan muka air laut memungkinkan pergerakan fauna dari Australia ke Papua, dan sebaliknya.
Kesamaan flora dan fauna di kedua wilayah masih terlihat hingga kini. Mamalia Papua memiliki ciri khas berupa kantung, seperti kuskus, kanguru, hingga tikus tanah, sama seperti mamalia Australia.
Begitu pula dengan kasuari yang ada di Papua maupun Australia. Bedanya, kanguru di Papua berukuran lebih kecil karena beradaptasi di hutan hujan tropis, sedangkan kanguru Australia lebih besar karena hidup di sabana terbuka.

Mongabay: Selain itu, adakah situs prasejarah yang dapat ditemukan di Danau Sentani?
Hari Suroto: Ya, seperti Situs Yomokho terletak di Sentani bagian timur dan merupakan salah satu situs hunian prasejarah. Berdasarkan hasil penelitian melalui carbon dating pada arang yang ditemukan saat penggalian, aktivitas manusia di situs ini sudah ada sekitar 2.500 tahun lalu.
Dari sisi arkeologi, hal ini menegaskan pentingnya Yomokho sebagai jejak awal hunian manusia di kawasan Danau Sentani.
Dalam tradisi lisan masyarakat, Yomokho juga diyakini sebagai salah satu dari tiga tempat tujuan leluhur Orang Sentani ketika bermigrasi dari arah timur, yakni dari wilayah Jayapura atau Pasifik, menuju ke barat dan akhirnya bermukim di kawasan Danau Sentani.

Mongabay: Bagaimana dengan peninggalan prasejarah lainnya?
Hari Suroto: Di Situs Megalitik Tutari terdapat batu bergambar yang dibuat dengan cara melukai permukaan batu gabro menggunakan batu yang lebih keras, sehingga muncul warna putih. Motif yang tergambar antara lain kasuari, ikan hiu gergaji, dan matahari.
Kasuari dan hiu gergaji merupakan satwa endemik yang hidup di Papua dan Danau Sentani, sementara simbol matahari berkaitan dengan tradisi masyarakat Sentani yang menyebut wilayah ini sebagai ‘negeri matahari terbit.’
Dalam sistem adat pun, pemimpin tertinggi digambarkan sebagai matahari.
Nama Tu Tari sendiri berasal dari dua kata: Tu berarti matahari, dan Tari berarti lingkaran. Situs ini merefleksikan tiga konsep keselarasan, yaitu hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta. Karena itu, Tutari dipandang sebagai situs religi.

Mongabay: Seperti apa kehidupan masyarakat di sekitar Danau Sentani?
Hari Suroto: Kampung Yoboi di Danau Sentani dikenal sebagai kampung wisata, bahkan pernah meraih penghargaan ketika Sandiaga Uno menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kampung ini juga populer dengan Festival Ulat Sagu.
Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari hutan (dusun) sagu di belakang kampung serta hasil ikan dari danau. Hasil sagu tidak hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membantu membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Alat-alat yang digunakan masyarakat sehari-hari dibuat dari bahan alam sekitar. Kayu dipakai sebagai gagang centong untuk mengaduk papeda, sementara perahu tradisional Sentani menjadi sarana utama transportasi.
Dari perairan kampung, terlihat hamparan Pegunungan Cycloop yang membentang timur-barat, memisahkan Samudera Pasifik di utara dengan Danau Sentani di selatan. Cycloop menjadi sumber mata air danau, sekaligus penyedia sandang, pangan, dan papan.
Secara tradisional, masyarakat Sentani menggunakan kulit kayu dari pohon kombo sebagai bahan sandang. Untuk papan dan tiang rumah, mereka memanfaatkan kayu suang (soang), yang sangat keras dan mampu bertahan ratusan tahun di dalam air. Pegunungan ini juga menjadi tempat berburu dan sumber pangan tambahan.
Sebenarnya Cycloop sendiri diberikan oleh pelaut Prancis pada tahun 1768, merujuk pada raksasa bermata satu dalam mitologi Yunani (cyclops), sementara nama aslinya dalam bahasa Sentani adalah Dafonsoro, pelafalan lain menyebutnya Dobonsolo.


Mongabay: Dengan kentalnya budaya dan peninggalan perserajah, seperti apa masyarakat Danau Sentani sudah mulai berubah menyesuaikan dengan perubahan jaman?
Hari Suroto: Masyarakat Sentani menunjukkan kemandirian dalam ketahanan pangan dan energi. Di Kampung Abar, misalnya, telah dipasang pembangkit listrik tenaga surya bantuan Komisi Eropa dengan teknologi dari Jerman.
Meski letaknya dekat Bandara Sentani dan ibu kota kabupaten, kampung ini tidak terjangkau listrik PLN, sehingga dijadikan contoh penerapan energi terbarukan.
Selain itu, warga Sentani juga berinovasi memanfaatkan limbah sagu. Ampas hasil penokokan yang biasanya terbuang diolah menjadi briket arang dengan perekat dari pati sagu. Briket ini digunakan sebagai bahan bakar. Ampas sagu juga dimanfaatkan sebagai media tanam sayuran, seperti yang dilakukan di Kampung Jogwai.
Kemandirian ini terbukti saat pandemi COVID-19. Ketika mobilitas dibatasi, masyarakat di kampung-kampung sekitar Danau Sentani tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil sagu, ikan, dan sayuran lokal, sehingga tidak perlu bergantung pada pasar. Bahkan, pada masa itu tidak ditemukan kasus COVID-19 di kampung-kampung sekitar danau.

Mongabay: Apa ancaman yang saat ini dihadapi oleh budaya maupun lingkungan di Danau Sentani, dan bagaimana peran masyarakat serta budaya lokal dalam menghadapi ancaman tersebut?
Hari Suroto: Di Danau Sentani saat ini terdapat sejumlah permasalahan serius yang mengancam keberlanjutan lingkungan dan budaya. Kondisi danau dapat dikatakan sedang ‘sakit’ akibat pencemaran yang terus meningkat.
Limbah rumah tangga, baik cair maupun padat, termasuk sampah plastik, langsung dibuang ke danau sehingga merusak kualitas air. Selain itu, kawasan hutan sagu di bagian utara Danau Sentani telah banyak beralih fungsi menjadi permukiman.
Pegunungan Cycloop, yang berperan penting sebagai sumber mata air utama bagi danau, juga menghadapi ancaman kerusakan. Perambahan hutan dan kegiatan galian C di wilayah Nifaar telah merusak sebagian kawasan. Lebih jauh lagi, ditemukan adanya kandungan nikel laterit di Cycloop, yang kini menjadi sasaran rencana pertambangan.
Penemuan potensi nikel di Cycloop pertama kali dilakukan oleh ahli geologi dari Pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat pada masa Jenderal MacArthur, kemudian dilanjutkan dengan penelitian Belanda di kawasan seperti Kambolger.
Hasilnya menunjukkan adanya keterkaitan geologi antara Cycloop dan Raja Ampat sebagai wilayah dengan cadangan nikel.
Prospek pertambangan nikel untuk memenuhi kebutuhan global, termasuk industri mobil listrik, menimbulkan kekhawatiran besar. Jika eksploitasi benar-benar dilakukan, maka Pegunungan Cycloop, yang dipandang sebagai “ibu” dan penopang kehidupan masyarakat di sekitar Danau Sentani, berisiko mengalami kerusakan.

Mongabay: Bagaimana pendekatan arkeologi lingkungan dapat membantu merumuskan strategi konservasi yang sesuai bagi Danau Sentani dan ekosistemnya dan strategi seperti apa yang dianggap paling ideal untuk upaya konservasi Danau Sentani?
Hari Suroto: Dari perspektif penelitian arkeologi, kawasan Danau Sentani memiliki sejumlah situs penting seperti Tutari dan lainnya. Ekskavasi yang dilakukan ditujukan untuk menemukan data kronologi dan konteks arkeologis.
Bagi saya situs-situs tersebut juga menyimpan pesan dari masa lalu untuk generasi sekarang. Nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang tercermin melalui simbol-simbol yang mereka tinggalkan.
Sebagai contoh, di situs Tutari terdapat puluhan batu dengan ratusan gambar yang dilukis. Motif-motif itu berasal dari flora dan fauna lingkungan sekitar, yang merefleksikan kearifan ekologis sekaligus aspek religi.
Tutari, misalnya, dipandang sebagai jalur penghubung antara Danau Sentani dan Pegunungan Cycloop. Konsep ini mirip dengan prinsip Tri Hita Karana di Bali, atau tata ruang budaya di Yogyakarta yang menghubungkan Gunung Merapi, Malioboro, Keraton, hingga Laut Selatan.

Dari Tutari, saya menarik kesimpulan adanya tiga relasi utama: hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Bila salah satu dari ketiganya rusak, keseimbangan kehidupan pun terganggu. Nilai inilah yang seharusnya digali kembali untuk menjawab tantangan kehidupan modern.
Relevansinya tampak nyata saat menghadapi ada bencana. Misalnya, banjir besar tahun 2019. Solusi yang dapat diambil bukan hanya mengandalkan pengetahuan modern, tetapi juga memulihkan kearifan lokal melalui penanaman kembali pohon-pohon endemik, termasuk sagu dan pohon kombo.
Akar pohon sagu, misalnya, mampu menyimpan air dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan hidrologis.
Nenek moyang masyarakat Sentani telah beradaptasi dengan kerasnya lingkungan sejak lama, sehingga nilai-nilai tradisional itu patut dijadikan dasar dalam merumuskan strategi konservasi masa kini.
*****