Solidaritas Penyelamatan Karst Kendeng, Mahasiswa Sumut Semen Kaki

Aksi semen kaki juga dilakukan di Medan, Sumut sebagai wujud protes pada karst Kendeng yang terancam tambang semen. Foto: Ayat S Karokaro

 

 

Pada Kamis sore (23/3/17),  puluhan mahasiswa dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Medan, menggelar aksi tutup mulut dan mengecor kaki dengan semen sebagai bentuk dukungan pada para pejuang karst Kendeng. Di Jakarta, aksi cor semen warga Pegunungan Kendeng dan para pendukung di depan Istana Presiden Negara, Jakarta, memasuki, pekan kedua.

Berbagai tulisan menolak pembangunan pabrik semen di Karst Kendeng oleh PT Semen Indonesia, mereka bawa. Para mahasiswa juga mendesak pemerintah segera melaksanakan reforma agraria sejati.

Aksi mahasiswa ini mendapat simpati pengguna jalan di Bundaran Gatot Subroto, Medan. Pengendara menyempatkan diri berhenti sejenak dan mengangkat tangan kiri sebagai bentuk simpati perjuangan bagi rakyat Kendeng.

Rahmad Syahputra Sianipar, koordinator aksi, mengatakan, aksi ini bentuk solidaritas bagi masyarakat di Kendeng yang menolak pabrik semen.

Tambang dan pabrik semen telah melanggar aturan dan cacat hukum, karena putusan Mahkamah Agung (MA) sudah memenangkan tuntutan masyarakat warga. MA minta izin lingkungan dicabut, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, cabut izin tetapi keluarkan yang baru.

“Gubernur Ganjar sebenarnya pro siapa? Rakyat yang terancam lingkungan rusak atau perusahaan? Kami sesalkan kepala daerah tak pro rakyat,” katanya seraya bilang saham BUMN ini, tak 100% milik negara, hanya 51%, 49% publik (swasta).

Mereka juga mengucap duka atas kepergian Bu Patmi yang meninggal dunia diduga serangan jantung kala berjuang menyemen kaki di Jakarta.

 

 

Menurut dia, aneh juga tambang dan pabrik semen terus buka di tengah produksi berlebih. Dari kebutuhan 62 juta ton, katanya, produksi semen sudah 102 ton. “Ini lucu, ada upaya penghancuran karst Kendeng dan lahan pertanian masyarakat demi produksi terus menerus.”

Dalam aksi,  para mahasiswa juga mengheningkan cipta. Mereka diam menundukkan kepala.

Kala Kongres Masyarakat Adat di Deli Serdang, pekan lalu, Gunarti, perempuan adat Sedulur Sikep dari Sukolilo, Pati, mengatakan, hak-hak masyarakat adat belum terlindungi seperti di Pegunungan Kendeng.

Dia sedih, karena saudara-saudaranya dari Kendeng mengecor kaki di depan Istana Negara, menuntut perlindungan lingkungan mereka  dari tambang.

“Mari kita ingatkan dan dorong Presiden Jokowi menuntaskan kasus Kendeng. Ini darurat, sedulur sampai sekarang mengecor kaki meminta Pak Jokowi tegas. Saya kok merasa ini Presiden seperti dibawahkan oleh gubernur. Ini macam apa ini. Maaf kalau saya berlebihan, ” katanya.

 

Aksi tutup mulut dan cor semen mahasiswa di Medan sebagai wujud solidaritas perjuangan warga Kendeng. Foto: Ayat S Karokaro

 

 

 

Kredit

Topik

Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa

Ancaman kepunahan Elang Jawa tetap membayangi akibat perburuan liar, pola baru perdagangan satwa melalui platform digital, dan hilangnya ruang hidup yang terus menyempit. Upaya konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade sejak era 1990-an harus beradu cepat dengan tekanan ekonomi. Berbagai aksi penyitaan satwa oleh otoritas menjadi bukti nyata bahwa status hukum saja tidak cukup […]

Artikel terbaru

Semua artikel