Foto: Proses Operasi Orangutan Yang Buta dan Tuli Akibat Terjangan 104 Peluru

Mata Aan setelah menjalani operasi mengeluarkan peluru. Foto: BKSDA Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

Foto-foto ini dirilis dari proses operasi yang sudah dijalani oleh orangutan bernama Aan, yang ditembak oleh warga di wilayah Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah tanggal 10 Oktober 2012 silam. Setelah menjalani operasi pengangkatan peluru.

Dokter berhasil mengeluarkan 32 peluru, dari 104 peluru yang bersarang di tubuh Aan. Operasi dilakukan oleh dr. Zulfiqri, dokter hewan di Orangutan Foundation bersama dengan dokter spesialis bedah dari Rumah Sakit Imanuddin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah selama 3 jam untuk mengeluarkan 32 peluru tersebut.

Inilah hasil rontgen kepala Aan sebelum dioperasi, titik-titik itu adalah jumlah peluru yang bersarang di kepala Aan. Silakan dihitung sendiri… Foto: BKSDA Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

Setelah operasi, meski pihak Orangutan Foundation ingin melepaskan kembali orangutan ini kembali ke habitatnya, namun nampaknya kecil kemungkinan Aan bisa kembali ke habitat aslinya. Hal ini dikhawatirkan akan menjadikan Aan menjadi sasaran empuk pemburu karena kondisi tubuhnya yang tidak lagi sempurna.

Seperti diberitakan sebelumnya, Aan ditembaki oleh warga karena memasuki perkebunan kelapa sawit milik penduduk. Tak kurang 104 peluru bersarang di tubuh dan kepala Aan, dan mengakibatkan orangutan ini kini menjadi buta dan tuli.

Jalannya operasi yang dilakukan tim dokter untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Aan. Foto: BKSDA Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah
Pemeriksaan dokter dan tim medis terhadap kondisi Aan sebelum menjalani operasi. Foto: BKSDA Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah
Hasil pemeriksaan rontgen di tubuh Aan, titik-titik putih tersebut adalah jumlah peluru yang ada di sekujur tubuhnya. Foto: BKSDA Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

Kredit

Topik

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Artikel terbaru

Semua artikel