Hutan dataran rendah memiliki struktur vegetasi yang sangat komplek dan beragam. Hutan ini seringkali dirujuk sebagai hutan hujan. Pohon terbesar memiliki diameter lebih dari satu meter dengan tinggi pohon pencuat (emergent) mencapai 70 m. Lapisan bawah hutan umumnya tidak tersinari matahari dengan cukup.
Lantai hutan penuh dengan anakan pohon dan benih tanaman. Batang pohon banyak ditumbuhi epipit (Ghazoul & Sheil 2010). Kanopi utama hutan ini mencapai 30-45 m dengan pohon pencuat mencapai 60 m (Kartawinata 2013). Hutan dataran rendah berada di bawah elevasi 1000 m dpl.
Hutan dataran rendah merupakan habitat bagi pepohonan dari famili Dipterocarpaceae. Sejumlah marga utama dari famili ini yang terdapat pada tipe hutan ini diantaranya Anisoptera, Balanocarpus, Cotylelobium, Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Parashorea, Shorea, Upun, dan Vatica. Meski demikian banyak marga, ternyata jenis yang paling banyak ditemukan di hutan dataran rendah berasal dari famili Euphorbiaceae.
Hutan dataran rendah dengan dominiasi jenis pohon Dipterocarpaceae berada di wilayah Malesia bagian barat (Sumatera, Kalimantan). Sumatera miliki 125 spesies Dipterocarpaceae, sementara Kalimantan 203 speseies. Disebabkan kekayaan jenis Diperocarpacea yang sangat tinggi, maka hutan dataran rendah di wilayah tersebut juga dinamakan hutan Dipterokarpa.
Sayangnya, perwakilan tipe hutan dataran rendah dengan dominiasi spesies dari famili Dipterocarpaceae di Jawa sudah sangat sulit ditemui, dimana tercatat ada sembilan speseies.
Berbeda dengan di Malesia bagian barat, hutan dataran rendah yang terletak di Malesia bagian timur (Sulawesi, Maluku, Papua-Nugini) hanya memiliki 21 jenis Dipterocaropaceae yang terdiri dari marga Anisoptera, Hopea, Shorea, dan Vatica.
Secara khusus, di Sulawesi hutan dataran rendah di dominiasi oleh Diospyros celebica, Elmerillia ovalis, Eucalyptus deglupta, dan Koordersiodendron pinnatum. Di wilayah ini juga banyak ditemukan Agathis dammara. Di Maluku, lima suku tumbuhan yang penting adalah Burseraceae, Guttiferae, Lauraceae, Myristicaceae, dan Myrtaceae. Marga yang khas pada wilayah ini diantaranya Eugenia dan Garcinia, termasuk Agathis.
Hutan dataran rendah di Papua didominasi oleh Terminallia spp. dan Pometia pinnata. Contoh hutan dataran rendah non dipterokarp yang masih dapat ditemui di Jawa di antara Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Hutan dataran rendah merupakan ekosistem yang mengalami kerusakan paling parah dari aktivitas Hak Pengelolaan Hutan. Hutan dataran rendah menjadi tempat tumbuh paling baik kayu-kayu komersil. Indonesia memiliki 238 jenis Dipterocarpaceae, dari 386 jenis yang ada di seluruh kawasan Malesia.
Jika hutan dataran rendah dalam kondisi masih bagus, maka secara fisik di lapangan dapat terlihat dengan mudah. Cirinya antara lain lantai hutan yang bersih dari semak dan belukar dengan pepohonan utama yang tinggi.
Hutan dataran rendah di Sumatera dan Kalimantan menjadi habitat bagi spesies mamalia besar. Gajah, harimau, tapir, beruang, rusa, dapat ditemukan pada wilayah dataran rendah. Ekosistem ini banyak dirujuk sebagai hutan hujan tropis yang sebenarnya. Hutan hujan tropis dataran rendah sejauh ini menjadi sumber utama pemanenan kayu. Selain karena kekayaan jenis kayu komersil, secara ekonomi hutan dataran rendah juga memudahkan akses pengangkutan kayunya.

