- Mangrove yang sempat pulih secara alami di Lampung Timur kini mengalami kematian massal. Perubahan tata air, sedimentasi, dan variabilitas iklim diduga berperan, tetapi penyebab pastinya masih diteliti.
- Di Sungai Gelam, Jambi, gambut yang berulang kali terbakar masih menyimpan biodiversitas, termasuk 22 jenis burung dan indikasi jalur perlintasan harimau sumatera.
- Penelitian I-CAN IPB melalui Living Laboratory menguji pemulihan ekosistem yang dipadukan dengan pengembangan penghidupan masyarakat. Keberhasilan ekologis dan ekonominya masih memerlukan pemantauan.
- Menjelang COP17 Konvensi Keanekaragaman Hayati, pengalaman kondisi gambut dan mangrove di Lampung dan Jambi mengingatkan kita bahwa keberhasilan restorasi tidak cukup dinilai dari luas kawasan atau jumlah pohon, tetapi juga pada kemampuan ekosistem untuk pulih dan bertahan.
Di pesisir Lampung Timur, hutan mangrove yang sempat tumbuh kembali secara alami kini mengalami kematian massal. Padahal, mangrove tersebut pernah menjadi harapan bagi pemulihan kawasan pesisir yang rusak akibat pembukaan tambak dan abrasi.
Pada 1990-an, abrasi dan banjir rob di kawasan Hutan Lindung Muara Sekampung membuat masyarakat kehilangan tambak, bahkan tempat tinggal. Berkurangnya vegetasi mangrove akibat pembukaan tambak ikut memperbesar kerentanan pesisir.
Perlahan, mangrove kembali tumbuh. Sekitar 2007, mangrove jenis Avicennia tumbuh secara alami hingga mencapai sekitar 500 hektare. Namun, sebagian besar tegakannya kini kembali mati, fenomena yang dikenal sebagai dieback. Lalu apa penyebab mangrove yang sempat pulih justru mati kembali?
Pertanyaan lebih dalam, maka sampai sejauh mana alam mampu bertahan ketika tekanan lingkungan terus berlangsung?

Hal ini menjadi perhatian para peneliti di IPB Centre for Applied Research in Nature-based Solutions (I-CAN), pusat studi NbS di IPB University. Lewat pendekatan Living Laboratory, I-CAN menerapkan dan menguji solusi berbasis alam secara langsung di kawasan gambut Jambi serta ekosistem mangrove di Lampung dan Jambi.
Peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang diduga saling berkaitan di Lampung Timur. Temuannya, sedimentasi mengubah topografi dan pola genangan. Sementara itu, variabilitas iklim, termasuk fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), ikut memengaruhi curah hujan dan kondisi perairan.
Genangan berkepanjangan diduga mengurangi ketersediaan oksigen bagi akar. Sebaliknya, ketika tanah mengering, oksidasi pirit dapat meningkatkan keasaman tanah dan air. Seberapa besar pengaruh masing-masing faktor terhadap kematian mangrove masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Padahal dampaknya bukan sekadar hilangnya kawasan hutan dan pepohonan. Kawasan ini juga menjadi habitat burung migran pada jalur Asia Timur–Australasia, termasuk bangau bluwok (Mycteria cinerea) dan gajahan timur (Numenius madagascariensis).
Perubahan ekosistem juga berpotensi mengganggu habitat ikan, kepiting, dan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Gambut Terbakar, Kehidupan Masih Bertahan
Fenomena di Sungai Gelam, Jambi, memiliki persoalan yang berbeda. Lanskap gambut dalam di kawasan ini berulang kali mengalami kebakaran, antara lain pada 2019, 2023, dan 2026.
Keberadaan kanal besar membuat gambut lebih rentan mengering. Di sisi lain, sebagian masyarakat menggantungkan penghasilan dari perkebunan kelapa sawit. Memulihkan kawasan ini bukan hanya soal memperbaiki tata air, tetapi juga bagaimana masyarakat tetap dapat memperoleh penghasilan.
Melalui observasi yang dilakukan oleh Living Laboratory, I-CAN dan masyarakat menguji agroforestri yang memadukan tanaman asli gambut, seperti jelutung, balangeran, pulai, dan tembesu, yang dipadukan tanaman ekonomi seperti kopi liberika, nanas, dan pinang.
Di tengah kerusakan itu, ternyata masih ada kehidupan yang bertahan.
Kajian awal I-CAN mencatat 22 jenis burung di area pengamatan. Pohon-pohon yang selamat dari kebakaran masih menjadi tempat bertengger sejumlah burung, termasuk elang ular bido. Peneliti juga menemukan jejak cakaran dan mendapat keterangan masyarakat mengenai perjumpaan harimau sumatera. Temuan ini mengindikasikan kemungkinan kawasan tersebut menjadi jalur perlintasan satwa dilindungi itu.
Di bawah permukaan gambut, peneliti menemukan spora fungi mikoriza arbuskula hingga kedalaman 90 sentimeter. Jamur yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman ini berpotensi membantu pemulihan vegetasi.
Gambut yang mengalami gangguan ternyata belum sepenuhnya kehilangan potensi biologisnya. Meski begitu, keberadaan sejumlah spesies belum cukup untuk menyatakan bahwa biodiversitasnya telah pulih.

Pertanyaan Penting: Di Mana Batas Kemampuan Alam untuk Pulih?
Ekosistem memiliki kemampuan menghadapi gangguan dan memulihkan diri. Dalam kajian ekologi, kemampuan ini dikenal sebagai daya lenting atau resilience. Tetapi, kemampuan tersebut juga memiliki batas.
Ketika kebakaran, kekeringan, perubahan tata air, atau tekanan lainnya terus berulang, kondisi ekosistem dapat berubah hingga semakin sulit kembali seperti sebelumnya.
Kondisi di Lampung dan Jambi memperlihatkan dua sisi yang menarik. Mangrove yang sempat tumbuh kembali ternyata dapat mengalami kematian, sementara gambut yang berulang kali terbakar masih menyimpan keanekaragaman hayati.
Namun, apakah kedua kawasan itu telah mendekati atau melewati batas kemampuan pemulihannya? Temuan awal I-CAN belum cukup untuk menjawabnya. Masih perlu waktu pemantauan jangka panjang terhadap kondisi air, regenerasi vegetasi, keberadaan satwa, serta perubahan tekanan lingkungan untuk mengetahui sejauh mana ekosistem masih mampu bertahan.

Pemulihan Alam dan Penghidupan Masyarakat
Persoalan ekologis di kedua kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.
Di Pangkal Babu, Jambi, mangrove yang tumbuh kembali di bekas tambak membuka peluang ekowisata sejak 2018. Pendapatan wisata yang dibagikan kepada pekerja lokal terhitung mencapai Rp70,62 juta sepanjang 2024 dan Rp84,04 juta selama tujuh bulan pertama 2025.
Sementara di Sungai Gelam, kelompok perempuan mulai mengembangkan usaha olahan nanas. Mereka telah mendapat pelatihan, tetapi masih menghadapi keterbatasan peralatan dan tempat produksi.
Melalui pendampingan kelompok dan pengembangan usaha yang digagas oleh I-CAN upaya ini berupaya mempertemukan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan perlindungan kawasan. Harapannya, masyarakat memiliki pilihan penghasilan tanpa harus menambah tekanan terhadap lingkungan.
Namun, proses ini masih berjalan. Pendampingan bisnis yang baru berlangsung sekitar tiga bulan belum cukup untuk menyimpulkan adanya peningkatan pendapatan sebagai dampak program. Hasilnya terus dipantau.
Satu hal yang jelas. Bagi masyarakat yang hidup tergantung dari sumberdaya alam, –seperti di ekosistem gambut dan mangrove,– kemampuan beradaptasi juga ditentukan oleh pilihan penghidupan mereka, akses kepada pasar, dan dukungan kelembagaan. Tanpa pilihan dan strategi yang layak, maka upaya untuk bertahan hidup ini justru dapat memperbesar tekanan terhadap ekosistem.

Di Balik Target Restorasi Global
Pengalaman I-CAN amat relevan menjelang Konferensi Para Pihak ke-17/Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP17/ CBD) yang berlangsung di bulan Oktober 2026 ini, ketika negara-negara dunia meninjau kemajuan pelaksanaan Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework. Kerangka global ini menargetkan sedikitnya 30% ekosistem terdegradasi berada dalam proses restorasi yang efektif pada 2030.
Namun, apa yang terjadi di Lampung memperlihatkan bahwa vegetasi yang kembali tumbuh belum tentu mampu bertahan menghadapi perubahan lingkungan. Di Jambi, keberadaan satwa dan vegetasi yang tersisa juga belum cukup untuk memastikan fungsi ekologis gambut telah pulih.
Alam masih memiliki kemampuan untuk pulih. Tetapi, kemampuan itu bukan tanpa batas. Mangrove yang sempat tumbuh kembali dapat kembali mengalami kematian, sementara gambut yang berulang kali terbakar ternyata masih menyimpan kehidupan.
Secara ekologis, tantangannya juga bukan hanya memulihkan apa yang telah rusak, tetapi juga memahami kapan tekanan mulai melampaui kemampuan alam untuk bertahan, sebelum kerusakan benar-benar mencapai titik yang tidak bisa kembali dipulihkan.
Di tengah upaya dunia memperluas restorasi ekosistem, pengalaman di Lampung dan Jambi mengingatkan bahwa keberhasilan pemulihan tidak hanya cukup dihitung hanya dari berapa luas kawasan yang telah direstorasi atau jumlah pohon yang ditanam. Tetapi juga kepada upaya pemulihan ekosistem yang memerlukan investasi pada kemampuan masyarakat untuk mengelolanya.
Referensi:
Maes, S. L., Perring, M. P., Cohen, R., et al. (2024). Explore before you restore: Incorporating complex systems thinking in ecosystem restoration. Journal of Applied Ecology, 61(5), 922–939. https://doi.org/10.1111/1365-2664.14614
IPCC. (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Working Group II Contribution to the Sixth Assessment Report, Chapter 16: Key Risks Across Sectors and Regions. https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg2/chapter/chapter-16/
Convention on Biological Diversity (CBD). (2022). Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework, Target 2: Restore 30% of All Degraded Ecosystems. https://www.cbd.int/gbf/targets/2
Permana, R. D., Irawati, F. D., Dwiputera, M. A., Annisa, D., & Firmanto, A. (2025). Oceanic index variability and its role in mangrove dieback events in East Lampung. BIO Web of Conferences, 168, 01005. https://doi.org/10.1051/bioconf/202516801005
Nurrochmat, D. R., Sahide, M. A. K., & Fisher, M. R. (2022). Making sustainable forest development work: Formulating an idea for a more appropriate green policy paradigm. Frontiers in Environmental Science, 10, 783718. https://doi.org/10.3389/fenvs.2022.783718
*****
Foto utama: Warga bersama personel gabungan melakukan pemadaman di lahan gambut yang terbakar di Desa Gambut Jaya, Muaro Jambi pada karhutla 2025 lalu. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia