- Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam sukses mengembangkan model budidaya lobster dengan persentase kehidupan di atas 90%. Modeling ini menjadi harapan baru di tengah sulitnya pengembangan budidaya lobster di Indonesia.
- Modeling budidaya lobster BPBL lakukan di atas lahan seluas 1 hektar yang terbagi ke dalam beberapa petak. Dari penebaran 30 ribu Benih Bening Lobster (BBL), BPBL telah memanen 1,7 ton pada September 2025.
- Ipong Adi Guna, Kepala BPBL menyebut, pemberian pakan merupakan salah satu kunci keberhasilan budidaya ini. Pihaknya hanya memberi pakan daging kerang untuk lobster berukuran di bawah 5 gram. Untuk ukuran lobster di atasnya, 30% pakan adalah kerang, dan sisanya ikan.
- Wasty Ayu Diamahesa dalam jurnal berjudul Perkembangan Pakan Lobster Berkelanjutan: Tinjauan Nutrisi, Binder, dan Dampak Lingkungan mengatakan, budidaya lobster telah menjadi sektor penting dalam akuakultur global, namun menghadapi tantangan utama dalam formulasi pakan yang berkelanjutan dan efisien.
Puluhan lobster berukuran 50 gram bergelantungan di keramba jaring apung Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL), di Pesisir Pulau Setokok, Batam, Kepulauan Riau, 20 November 2025. Seorang petugas berkeliling menyebar pakan yang terbuat dari daging ikan dan kerang hitam yang sudah halus.
“Kalau umur lobster segini sudah bisa makannya dicampur, 30%kerang, selebihnya ikan. Tetapi kalau ukuran dibawah lima gram hanya daging kerang,” kata Ipong Adi Guna, Kepala BPBL Batam.
Luas keramba BPBL ini hampir satu hektar yang terbagi beberapa petak. Di lokasi ini pula Gibran Rakabuming, Wakil Presiden memanen lobster perdana 1,7 ton pada September 2025.
Sayangnya, keberadaan proyek pembangkit listrik yang berjarak sekitar 400 meter dari lokasi BPBL menimbulkan kebisingan.
Ipong mengatakan, salah satu tantangan dalam modeling budidaya lobster di BPBL Batam adalah tata ruang kota yang tidak mengakomodir pembudidayaan ikan.
Meski modeling lobster BPBL ini sudah memiliki izin pembudidayaan, daerah sekitar justru pemerintah proyeksikan untuk kegiatan non perikanan.
Sejatinya, budidaya lobster sangat bergantung pada aktivitas di sekitar lokasi tempat keramba. Dalam konteks Batam, masalah utama budidaya lobster ada pada ketiadaan ruang untuk mendukung budidaya ini. Sebab, pemerintah memproyeksikan daerah ini untuk industri.
“Jadi Batam ini kan memang tidak menyediakan zona secara khusus terkait dengan budidaya laut. Bahkan mungkin budidaya darat juga ya, karena Batam ini kan memang diprioritaskan untuk industri,” kata Ipong.
Karena itu, budidaya lobster BPBL sebatas modeling, bukan untuk produksi reguler. Harapannya, hasil modeling budidaya ini bisa masyarakat terapkan di tempat atau daerah lain.
Terhitung sejak Oktober 2024, BPBL menebar 30.000 benih lobster dan sudah panen 1,7 ton pada September 2025.
“Jadi kalau ngomong setiap tahun panen berapa, saya tidak bisa pastikan, karena tergantung input. Paling tidak kita sudah tau teknologinya, harapannya metode ini bisa direplikasi oleh masyarakat.”
Ipong katakan, beberapa lokasi seperti Lingga, Karimun, Bintan, Anambas dan Natuna cukup layak untuk budidaya ini.
Karena itu, dia pun menyarankan kepada pemerintah setempat untuk mengalokasikan tata ruang yang secara khusus terhadap kegiatan budidaya dalam bentuk peraturan daerah (perda).
“Seluruhnya kawasan itu masih luas untuk zonasi budidaya, Batam sudah kecil kemungkinannya,” katanya.
Selain tata ruang, kata Ipung, budidaya lobster ini juga perlu memperhatikan oseanografi yaitu data kondisi kualitas air. Begitu juga infrastruktur pembesaran seperti kolam dan jaring apung.
“Kalau mau pendederan seperti kita, ya harus punya infrastruktur di darat. Kalau infrastruktur sudah, tantangan selanjutnya adalah pakan,” katanya.
Dalam proses pengembangan modeling ini, mereka sudah mencoba tiga pakan, yakni, daging ikan, cumi dan kerang.
Dari hasil pengamatan, pakan kerang memiliki tingkat kelulusan hidup lebih tinggi. Itulah alasan kenapa budidaya lobster konvensional memiliki tingkat kelulusan hidup yang rendah. “”Kan kasih makannya sembarangan.”

Pakan penting
Batam memiliki dua jenis kerang, yakni hijau dan hitam. Karena banyak masyarakat yang mengonsumsi kerang hijau, BPBL pilih kerang hitam untuk bahan pakan.
“(Kerang hijau) sebenarnya bagus, tetapi kan dimakan orang, tentu harganya akan lebih mahal, jadi kita ambil kerang hitam.”
Kerang hitam dengan nama latin Mytilus Galloprovincialis ini mirip dengan kerang hijau tetapi dia agak lebih kecil. Tantangannya, kerang ini hanya ada di kawasan Tanjung Uma Batam. Itu pun di musim-musim tertentu, sekitar 2-3 bulan dalam setahun.
“Yang di Tanjung Uma itu kerangnya tumbuh alami, tetapi kita membuatkan sarana tumbuhnya seperti membuat keramba jaring apung (KJA) yang menggunakan tali, nanti secara alami kerang akan tumbuh di tali itu. Dan itu kami kerjasamakan dengan,” kata Ipong.
Masyarakat yang menjadi mitra akan menyerahkan kerang hitam untuk pakan. Sedangkan kerang hijau, mereka ambil untuk dijual. Bagaimana jika tidak ada panen kerang hitam? Ipong terpaksa mencarinya ke berbagai tempat.
Agar tidak tergantung pada musim panen, Ipong merencanakan untuk melakukan pembenihan kerang menggunakan teknologi modern.
“Kami rencanakan tahun pembenihannya, agar tidak bergantung lagi kepada kerang yang ada di alam.”
Budidaya kerang dan lobster sejatinya bisa berdampingan. Meskipun keduanya hidup di air yang berbeda. Kerang tumbuh di perairan yang punya bahan organik tinggi seperti perairan berlumpur. Dengan begitu, pembenihan tidak bisa di area lobster yang mengharuskan kondisi air dalam keadaan bersih.
“Jadi harus cari tempat lain nanti, mungkin bisa saja dalam bentuk tambak di darat pembenihan kerangnya. Tetapi paling tidak, budidaya lobster dan kerang itu bisa terintegrasi,” katanya.
Modeling lobster di Batam sudah berlangsung sejak Oktober 2024. Saat itu, BPBL mendapat mandat untuk mencari solusi tentang budidaya lobster.
Setelah melalui proses uji coba selama setahun, usaha itu membuahkan hasil dan bisa diadopsi masyarakat maupun pengusaha.
“Jadi permasalahan di Indonesia itu, BBL-nya banyak, tapi kok budidayanya gak berkembang, seperti di Vietnam,” katanya.

Tiga fase
Dalam proses modeling, ada tiga segmen penting kata Ipong. Pertama segmen pendederan, pembesaran lobster dari benih bening lobster (BBL) ke benih lobster lima gram. Fase ini cenderung memiliki tingkat kelulusannya sangat rendah. Sehingga perlu perhatian khusus, termasuk pakan yang cocok.
“Kami sudah mencoba tiga pakan pada fase ini, cumi, ikan dan kerang, yang cocok memang kerang, tingkat hidup lobsternya tinggi,” kata Ipong.
Selama ini, menjaga tingkat kelulusan hidup menjadi problem utama budidaya lobster secara tradisional di masyarakat.
Bahkan, katanya, tingkat kehidupan hanya 5%. Misalnya, dari 100 ekor BBL yang dibudidayakan, hanya 5% yang berhasil tumbuh besar.
Segmen kedua, yaitu, dari ukuran benih lobster lima gram menjadi 30 gram atau 50 gram. Pada fase ini, budidaya lobster sudah bisa di laut.
“Di segmen ini lobster sudah stabil. Stabil untuk berlanjut ke pembesaran, karena tingkat kelulusan hidupnya semakin meningkat sekitar 60-70%.”
Segmen ketiga atau terakhir, adalah pemeliharaan pembesaran dari 100 gram sampai panen. Saat ini, kata Ipong, budidaya lobster paling banyak adalah spesies lobster pasir.
Karena di Indonesia dari 10 lobster yang jenis mutiara hanya 10%saja. Benih lobster yang ada di modeling BPBL Batam ini kata IPong berasal dari berbagai daerah, seperti Lombok, dari Bengkulu, dari Sukabumi.
Menurut Ipong, kualitas benih lobster tidak tergantung daerah. Tetapi, bergantung pada penanganannya saat dalam perjalanan ke Batam (handling). “Namanya lobster ini masih bayi, memberlakukannya harus seperti bayi juga.”
Di Kepri, kata Ipong, sebenarnya juga ada lobster. Tetapi, tidak ada nelayan yang menangkapnya.

Revisi Permen 7/2024
Pemerintah tengah melakukan revisi terhadap Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 7 Tahun 2024, terutama bagian yang mengatur tentang umur lobster yang bisa didistribusikan.
Sebelumnya, distribusi lobster bisa untuk dibawah 5 gram dan di atas 100 gram. “Nah nanti di Permen 7 yang akan direvisi itu, masukannya adalah ukuran 5 gram, 30 gram, 50 gram juga boleh didistribusikan antar daerah.”
BPBL akan membantu masyarakat mempersiapkan lobster 50 gram. Pelaku budidaya setelah itu tinggal melakukan pembesaran.
“Jadi kalau permen itu sudah ada, kami fokus memproduksi benih, masyarakat diberi bantuan benih untuk dibesarkan.”
Karena ukuran tersebut sudah cukup kuat untuk budidaya, sekaligus memotong siklus budidaya. “Misalnya dari Lombok itu lobster yang dikirim 50 gram, jadi masyarakat disini tinggal membesarkan menjadi 100 gram atau lebih, tetapi pengiriman ukuran itu tidak boleh di Permen 7 tersebut,” jelas Ipong.
Wasty Ayu Diamahesa dalam jurnal berjudul Perkembangan Pakan Lobster Berkelanjutan: Tinjauan Nutrisi, Binder, dan Dampak Lingkungan mengatakan, budidaya lobster telah menjadi sektor penting dalam akuakultur global, namun menghadapi tantangan utama dalam formulasi pakan yang berkelanjutan dan efisien.
Lobster memerlukan protein tinggi (>45%) terutama pada fase larva dan juvenil untuk pembentukan jaringan dan eksoskeleton, dengan lipid (<10%) dan karbohidrat (20–35%)
sebagai pendukung energi. Pakan alami seperti mussel (kerang-kerangan) dan Artemia (udang renik air asin) memberikan hasil pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang baik.
Riset lain, “Teknik Pembesaran Lobster (Panulirussp.) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung” disebutkan, sumberdaya perairan menjadi sektor utama yang mendukung perekonomian di negara Indonesia terutama dalam bidang perikanan dan kelautan.
Indonesia berpeluang menjadi produsen spesies bernilai ekonomi tinggi, salah satunya lobster.
Dalam praktik, pembesaran budidaya lobster jauh tertinggal dari Vietnam. Perkiraan produktivitas usaha pembesaran lobster di KJA yang rata-rata berukuran tiga meter kubik di Pulau Lombok adalah sebesar 50 kilogram per KJA, lebih rendah dibandingkan produktivitas usaha pembesaran lobster di Vietnam yang mencapai 57,7 kilogram per KJA.
*****