Kepedulian Tiada Pudar Kaka Slank untuk Pulau Bangka

 

Kaka Slank, menyerukan penyelamatan Pulau Bangka, lewat petisi di change.org. Kaka khawatir keindahan pulau ini akan hilang dengan kehadiran tambang. Foto: Save Bangka Island

 

Hampir empat tahun lalu, pentolan grup Band Slank, Kaka, membuat petisi untuk menyelamatkan Pulau Bangka, Minahasa Utara, Sulawesi Utara dari usaha penambangan yang merusak lingkungan. Petisi di Change.org ini ditandatangani puluhan ribuan orang.

Kaka kini kembali menyuarakan kepeduliannya, ikut memelihara keindahan laut Bangka bersama Yayasan Terumbu Rupa. “Saya senang sekali, keren abis idenya. Terharu dengan visi misi dengan teman-teman di Terumbu Rupa,” ujar Kaka, di Plaza Semanggi, Jakarta, akhir pekan lalu.

Kaka kagum ketika melihat maket artificial reef karya seniman Teguh Ostenrix yang berbentuk piramida dengan ornamen dugong. Karya ini diberi nama Domus Piramidis Dugong.

 

Baca: Konflik Tambang Pulau Bangka Memanas, Kaka Slank Bikin Petisi

 

Karya dari besi yang dipasang dengan teknik biorock sebesar 800 kilogram, akan dipasang di laut sekitar Pulau Bangka, pada kedalaman enam meter. Karya ini diharapkan bisa menumbuhkan terumbu karang dan menjadi rumahnya ikan-ikan.

 

 

Bagi Slank, Pulau Bangka itu seperti tempat bermain yang indah. Yang harus dijaga keasriannya. Kaka pun mengajak masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi dalam upaya penanaman terumbu karang dengan mengadopsi karangnya. Selain itu dia juga dia mengingatkan kita semua untuk  tidak membuang sampah sembarangan.

Kaka, rupanya pernah punya pengalaman kurang menyenangkan ketika hendak menyelam di suatu tempat. Saat itu, dia diundang untuk manggung dengan grupnya. Sebelum manggung, dia berkesempatan untuk menyelam. Saat hendak menyelam itu keasyikannya terganggu.

 

Pulau Bangka, Sulut, yang mulai rusak karena kehadiran tambang PT MMP. Menteri ESDM sudah cabut izin operasi dan produksi perusahaan, giliran pemulihan pulau ini. Foto: Save Bangka Island

 

Diving-nya Senin, sampahnya banyak banget,” ujarnya. Sampah-sampah itu, kata dia, biasanya sisa para wisatawan yang berakhir pekan tak jauh dari tempat tersebut. “Mestinya, orang-orang kota yang selalu diingatkan soal sampah.”

 

Baca juga: Kaka Slank: Ada Tambang, Pulau Bangka Bisa Hilang

 

Kaka pun pernah hendak menyelam di titik lokasi penyelaman yang diunggulkan, bernama Nemo Garden. Tapi ironinya, tak ada ikan nemo di sana. Rupanya terumbu karang itu sudah rusak. “Banyak yang patah-patah, saya bilang ke bupati setempat, lebih baik perbaiki dulu wilayahnya sebelum mempromosikannya.”

 

Kaka Slank, dukungannya pada kelestarian Pulau Bangka, Minahasa Utara, sulawesi Utara, tidak pernah surut. Foto: Asti Dian

 

Dari cerita dan pengalamannya itu, Kaka ingin mengajak anak-anak muda terutama orang perkotaan untuk ikut menjaga lingkungan. Hal terkecil yang bisa dilakukan seperti tidak buang sampah sembarangan. “Ini kelihatannya sepele, tapi pengaruhnya fatal, besar. Lingkungan kita sampai laut, kotor oleh sampah.”

Ia pun menerapkan prinsip tersebut di keluarganya, untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kaka mengajari anaknya untuk menyimpan sampah sebelum menemukan tempat sampah. “Saya ajari dia, kadang-kadang sampah yang dikantongi itu baru kebuang besoknya saat ketemu tempat sampah,” ujarnya penuh semangat.

 

 

Kredit

Editor

Topik

Ramadan di Garis Depan Alam

Ramadan di Nusantara terekam sebagai denyut ibadah yang berkelindan erat dengan kedaulatan pangan, kelestarian pesisir, dan pertahanan ruang hidup. Perjuangan masyarakat lokal dalam menjaga benih padi purba serta tradisi kuliner asida hadir di tengah ancaman reklamasi dan ekspansi tambang yang kian masif. Melalui lensa ekologi, bulan suci ini bertransformasi menjadi aksi nyata pembersihan sampah mangrove […]

Artikel terbaru

Semua artikel