
Unduh buku di sini: Kisah Gajah Sumatera [2025]
Kata Pengantar
Gajah sumatera pernah menjadi bagian dari kehidupan kita, manusia Indonesia. Bukti sederhananya adalah banyak tempat di Sumatera yang ada nama gajahnya. Hal yang menunjukkan bahwa gajah pernah dihormati serta mendapat tempat di hati masyarakat.
Di Pidie, Aceh, ada nama Desa Pulo Gajah Mate. Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, ada wilayah bernama Desa Gajah Mati dan Desa Lebung Gajah.
Di Riau, ada Desa Gajah Sakti dan Desa Lubuk Mandian Gajah. Di Kabupaten Muarojambi, Jambi, ada Desa Pematang Gajah. Di Bengkulu, ada Desa Gajah Makmur dan Desa Renah Gajah Mati. Sementara di Lampung, ada Desa Kota Gajah.
Bila kita telusuri lagi, nama desa yang dibarengi dengan gajah akan bertambah.
Jika kita flashback, pada masa Kerajaan Sriwijaya, gajah digunakan sebagai simbol kekuasaan seorang raja atau kerajaan. Baik sebagai kendaraan prajurit untuk berperang atau sebagai tenaga kerja.
Gajah juga memiliki peran sebagaimana perahu, membangun negeri maritim yang dipelopori Sriwijaya. Jika perahu menghidupkan sungai dan laut, maka gajah menghubungkan antar-permukiman manusia, baik di pegunungan maupun dataran rendah.
Begitu pula pada masa Kerajaan Aceh, yang begitu memuliakan gajah. Gajah digunakan sebagai kendaraan dan simbol kebesaran kerajaan. Gajah Po Meurah adalah kendaraan kebanggaan Sultan Iskandar Muda. Secara umum, masyarakat di Aceh menjuluki gajah adalah Teungku Rayeuk, bentuk pentingnya gajah dalam kehidupan masyarakat dan kerajaan, saat itu.
Mengapa sekarang berbeda? Mengapa gajah diperlakukan tidak adil, hingga dianggap hama?
Fenomena inilah yang menggelitik kami, jurnalis Mongabay Indonesia, untuk membuka tabir apa yang terjadi dengan mamalia cerdas tersebut. Secara khusus, sejak 2021-2023, kami menelusuri sejumlah tempat di Sumatera, terutama yang dulunya merupakan habitat gajah untuk melihat langsung perkembangannya. Bukan hanya kondisi ekologi, kami juga melihat dari perspektif sejarah dan budaya, terutama kearifan masyarakat setempat dalam menghormati dan memperlakukan satwa dilindungi tersebut.
Tentu saja, hasil liputan lapangan ini kami padukan dengan tulisan yang telah diunggah sebelumnya di situs Mongabay Indonesia, sejak 2014-2024. Tujuannya, memberikan gambaran lebih luas dan informasi lebih komprehensif perihal Elephas maximus sumatranus.
Hasilnya, buku ini kami susun dalam lima bab yang disesuaikan dengan tema bahasan.
Bagian pertama Gajah Sumatera dan Jejak Peradaban Bangsa Indonesia, mengulas tentang membunuh gajah merupakan perbuatan menghancurkan peradaban bangsa serta hubungan historiografi gajah dengan manusia.
Bagian kedua Gajah di Kehidupan Kita, mengupas spesies gajah diIndonesia, hingga bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan gajah.
Bagian ketiga Kearifan yang Hilang, terutama persahabatan manusia dengan gajah yang kini berubah menjadi permusuhan, serta bagaimana upaya kita menyelamatkan kehidupan gajah sumatera di alam liar.
Bagian keempat Kisah-kisah Viral, membahas perlakuan kejam manusia kepada gajah yang menyebabkan cacat tubuh dan tidak jarang berujung kematian.
Bagian kelima Masa Depan Gajah Sumatera, tentang kepedulian dan keoptimisan kita yang bukan hanya dilihat dari upaya melestarikan spesies gajah sumatera, tetapi juga menyelamatkan habitatnya, hutan. Rumah masa depannya, yang rusak akibat perbuatan tangan manusia.
Ucapan terima kasih, kami ucapkan kepada semua pihak yang telah menjadi narasumber tulisan, serta yang terlibat langsung dalam penyusunan buku ini.
Harapan besarnya, buku ini memberikan energi positif dalam setiap pikiran dan tindakan, sekaligus menjadikan kita manusia yang lebih peduli pada satwa liar dan lingkungan Indonesia.
Selamat membaca
Tim Penyusun
Kisah Gajah Sumatera. Liputan Jurnalistik Mongabay Indonesia. Cetakan pertama, Januari 2025 x + 295 halaman; 23 cm x 15 cm. Diterbitkan oleh Mongabay Indonesia. Dipublikasikan oleh Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara. Editor: Rahmadi Rahmad, Ridzki R. Sigit, dan Taufik Wijaya. Fofografer: Junaidi Hanafiah. Penulis: Ahmad Supardi, Akhyari Hananto, Elviza Diana, Fransisca N. Tirtaningtyas, Junaidi Hanafiah, Lili Rambe, Nuswantoro, Petrus Riski, Rahmadi Rahmad, Rahmi Carolina, Ridzki R. Sigit, Suryadi, dan Taufik Wijaya.


