- Gempa magnitudo 7,7 di Flores menimbulkan kerusakan besar, dengan puluhan ribu rumah terdampak dan ratusan ribu warga mengungsi. Data BNPB hingga 30 Agustus mencatat 95.567 rumah terdampak di tujuh kabupaten, termasuk 27.414 rumah rusak berat, sementara 111 orang meninggal dunia.
- Besarnya kerusakan dinilai menunjukkan kelemahan sistemik dalam pembangunan bangunan tahan gempa. Meski Flores telah dipetakan sebagai wilayah dengan tingkat bahaya gempa sedang hingga tinggi dan Indonesia memiliki standar bangunan tahan gempa, penerapan melalui perizinan, pengawasan, dan pendampingan teknis—terutama bagi rumah swadaya—dinilai masih lemah.
- Arsitektur dan pengetahuan konstruksi lokal berpotensi menjadi bagian dari solusi mitigasi. Bangunan kayu, bambu, dan material ringan memiliki massa lebih kecil sehingga berpotensi menerima gaya gempa lebih rendah. Namun, ketahanan bangunan tetap bergantung pada kualitas material, sambungan, pondasi, serta keterikatan seluruh sistem struktur. Rumah yang bertahan dari gempa juga perlu dipelajari sebagai bahan pembelajaran untuk pembangunan Flores ke depan.
- Kerusakan akibat gempa tidak hanya ditentukan kekuatan guncangan, tetapi juga kondisi tanah dan kualitas bangunan. Kajian BMKG menunjukkan variasi kerusakan bahkan pada wilayah dengan tingkat guncangan yang serupa. Efek sumber gempa, jalur rambatan energi, kondisi tapak lokal, jenis struktur, material, mutu konstruksi, hingga usia bangunan bersama-sama menentukan besarnya dampak.
Maria Anfrida bersama keluarga terbangun saat tanah tempatnya tinggal tiba-tiba berguncang, Sabtu (15/8/26). Bersama anak dan kedua orang tuanya, mereka menyelamatkan diri melalui pintu samping diikuti sumainya, Gonsales Lorang yang lari lewat pintu depan.
“Saya sudah di halaman ketika bangunan rumah ambruk. Terlambat sedikit saja pasti saya terkena reruntuhan,” kata Gonsales, warga Desa Mekendetung, Kabupaten Sikka, kepada Mongabay, Selasa (25/8/26).
Perlu dua tahun bagi Gonsales bekerja sebagai buruh perkebunan di Kalimantan untuk bisa membangun rumah tembok beratap seng itu. Hanya dalam sekejap, hasil jerih payahnya itu rata dengan tanah, tak kuat menahan guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 itu.
Beberapa rumah lain di desanya juga alami kondisi serupa.
Gonsales bingung. Kampung mereka jauh di pegunungan, sedang rumah-rumah di Kota Maumere, nyaris tak ada yang ambruk.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 Agustus, 95.567 rumah di tujuh kabupaten di Pulau Flores terdampak. Rinciannya, 46.161 rusak ringan, 21.992 rusak sedang dan 27.414 rumah rusak berat.
Selain itu, peristiwa itu juga sebabkan 111 orang meninggal dunia, 1.631 luka-luka, dengan 223 luka berat dan 1.408 luka ringan serta, 188.161 orang mengungsi.
Kelemahan sistemik
Norman Riwu Kaho, Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) NTT, mengatakan, saat ini, prioritas penanganan masih fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga, i seperti berupa air bersih, pangan, hunian darurat dan sanitasi.
Juga termasuk pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pembukaan akses jalan yang masih terputus serta pendataan penyintas berdasarkan nama dan alamat. Mengingat, kata Norman, hampir 9 dari 10 pengungsi berada di luar tempat evakuasi terpusat.
Dia meminta pemerintah memberi menandai tingkat kelayakan hunian terdampak. Selain itu, mempercepat Kajian Kebutuhan Pasca Bencana (JITUPASNA) sebagai dasar penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.
Norman memberi catatan atas peristiwa ini. Menurut dia, besarnya kerusakan akibat gempa NTT bukan semata karena kekuatan guncangan. Lebih jauh, hal itu menunjukkan sebagian besar bangunan di NTT belum ramah gempa.
“Tingginya angka kerusakan itu tentu bukan kebetulan, melainkan menunjukkan kelemahan sistemik pada cara kita membangun,” jelasnya, Minggu (28/8/26).
Persoalannya juga tidak terbatas pada rumah swadaya. Faktanya, 2.126 bangunan rusak merupakan satuan pendidikan, 418 kantor pemerintahan, 384 fasilitas kesehatan, dan 410 rumah ibadah.
“Bahkan tiga korban meninggal dunia di Kabupaten Sikka tertimpa runtuhan ruang tunggu Pelabuhan Larens Say Maumere. Kelemahan teknisnya berulang dan sudah lama dikenal, akan tetapi masih terulang sampai saat ini,” sesalnya.
Rumah adat bertahan saat gempa
Indonesia, memiliki panduan teknis bangunan tahan gempa berstandar nasional (SNI). Praktiknya, hal itu tak banyak berlaku. Proses perizinan pendirian bangunan yang seharusnya menjadi instrumen memaksimalkan panduan tersebut tak berjalan.
“Sudah ada peta bahaya gempa nasional yang telah menempatkan Flores pada zona percepatan sedang-tinggi. Yang belum tersedia adalah penegakan melalui instrumen perizinan, pendampingan teknis bagi masyarakat yang membangun secara swadaya.”
Norman mencatat fenomena lain dari kejadian gempa ini. Bahwa arsitektur rumah adat NTT yang terbuat dari kayu dan bambu dengan atap ringan justru lebih tahan terhadap guncangan. Sisi lain, konstruksi tembok tanpa detail struktur yang benar pada akhirnya meningkatkan risiko.
Dia pun mendorong agar ke depan, rehabilitasi bangunan benar-benar memperhatikan kondisi Flores yang memang berada di zona patahan. Jadi, detil konstruksi bangunan harus tahan gempa guna menghindari kerusakan dan korban lebih parah lagi.
Dia meminta, desain purwarupa (prototype) rumah tahan gempa mereka bagi cuma-cuma di setiap kantor desa. “Penetapan hasil mikrozonasi BMKG sebagai lampiran wajib Rencana Tata Ruang Wilayah dan dasar penerbitan izin,” pesannya.
Hal lain tak kalah penting adalah memperkuat mitigasi. Menurutnya, setelah gempa dan tsunami tahun 1992, nyaris tak terlihat upaya penguatan struktur bangunan yang lebih tahan gempa. Pelatihan kesiapsiagaan juga jauh dari harapan.
“Penanganan pasca gempa yang benar tidak cukup hanya sekedar memulihkan keadaan, tetapi harus sekaligus mengerjakan apa yang tidak kita kerjakan sebelum gempa terjadi,” sarannya.
Daya tahan
Aleksius Boer, dosen arsitektur Universitas Nusa Nipa (Unipa) katakan, gempa bumi sudah menjadi realitas kehidupan masyarakat Flores. Karena itu, setiap kejadian seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai bencana, tetapi juga kesempatan mengevaluasi diri.
“Dari perspektif arsitektur, bangunan yang bertahan maupun yang mengalami kerusakan sama-sama memberikan pelajaran penting bagi pembangunan Flores ke depan,” sebut Aleksius.
Pasca gempa, rumah-rumah di Kabupaten Sikka, khususnya di sekitar Kota Maumere, tetap berdiri di tengah bangunan lain yang mengalami kerusakan.
Apakah hal itumenunjukkan bahwa masyarakat sudah semakin sadar membangun rumah yang lebih kuat?
Leksi, sapaan Aleksius, belum dapat menyimpulkannya hanya berdasar pengamatan visual. Ketahanan bangunan terhadap gempa merupakan hasil dari banyak faktor. Mulai dari besarnya guncangan, kondisi tanah, bentuk bangunan, sistem struktur, material, kualitas sambungan, hingga kualitas pengerjaan.
“Tetapi, pengalaman masyarakat menghadapi gempa dari waktu ke waktu memang dapat membentuk pengetahuan lokal,” ucapnya.
Masyarakat yang mengalami gempa biasa memiliki pengalaman dalam memilih material, menentukan bentuk rumah, dan memahami bagian-bagian bangunan yang rentan. Namun pengalaman tersebut belum tentu sama dengan penerapan prinsip struktur tahan gempa secara teknis.
Leksi menyarankan, rumah yang tetap bertahan perlu dilihat sebagai objek pembelajaran. Karena itu, perlu mendokumentasikan dan membandingkan rumah yang bertahan dengan rumah yang rusak untuk mengetahui faktor apa yang sebenarnya membuatnya lebih mampu menghadapi guncangan.
“Ini merupakan pekerjaan penting bagi pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Flores. Jangan hanya melakukan pendataan terhadap rumah yang roboh. Rumah yang bertahan juga harus dipelajari,” pesannya.
Dia bilang, di balik rumah-rumah itu terdapat pengetahuan konstruksi lokal yang selama ini berkembang secara turun-temurun dan dapat dikombinasikan dengan prinsip arsitektur serta teknologi struktur modern.
Rumah di Sikka masih banyak yang menggunakan kayu dan setengah tembok. Sejak turun temurun, rumah berdinding bambu belah (Halar) jadi kearifan lokal masyarakat.
Menurut Leksi, secara prinsip, bangunan yang lebih ringan mempunyai massa yang lebih kecil sehingga gaya akibat guncangan gempa juga lebih kecil.
“Inilah salah satu alasan mengapa konstruksi kayu dan material ringan memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di daerah rawan gempa seperti Flores.”
Namun, dia tidak tepat menyimpulkan bahwa rumah kayu otomatis tahan gempa. Dia bilang masih memperhatikan kualitas material, sambungan, pondasi, pengaku, dan hubungan antar-elemen struktur tetap dapat mengalami kerusakan atau keruntuhan.
Demikian pula rumah beton tidak otomatis berbahaya. Bangunan beton dapat memiliki kinerja yang baik jika dirancang dan dibangun sesuai prinsip ketahanan gempa.
“Persoalan utama bukan sekadar memilih antara kayu atau beton, melainkan bagaimana seluruh komponen bangunan bekerja sebagai satu kesatuan.”
Pada akhirnya, menurut Leksi, menghentikan gempa jelas tidak mungkin. Begitu pula kondisi alam Flores, tak akan berubah. Namun, setidaknya, mitigasi maksimal dan mengikuti pandungan bangaunan tahan gempa dapat mengurangi derajat kerusakan dan kemungkinan jatuhnya korban.
Rumah yang sederhana, ringan, memiliki struktur yang saling terikat, serta berada di lokasi berpeluang lebih besar untuk bertahan ketika gempa terjadi. “Flores tidak harus berhenti membangun karena gempa. Flores harus belajar membangun dengan benar karena gempa,” pesan Leksi.
Banyak faktor
Teguh Rahayu Dkk, dari tim Kedeputian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam ulasannya menyatakan, tingkat kerusakan akibat gempa bumi tidak selalu sama, meski pada lokasi yang relatif berdekatan.
Dampak gempa, tulisnya, tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di sumber gempa. “Tetapi, juga oleh apa yang terjadi selama energi tersebut bergerak menuju permukaan,” jelasnya.
Teguh gunakan Peak Ground Acceleration (PGA) atau percepatan tanah maksimum sebagai salah satu parameter mengukur pergerakan tanah.
“Guncangan yang sampai di suatu lokasi merupakan hasil dari beberapa proses yang saling berkaitan, yaitu efek sumber, efek jalur rambatan, dan efek tapak lokal,” sebut hasil penelitian itu.
Menurut Teguh, rekaman PGA memperlihatkan adanya variasi tingkat guncangan. Beberapa bagian Manggarai dan Manggarai Timur menunjukkan guncangan relatif tinggi, sementara wilayah lainnya memperlihatkan tingkat guncangan berbeda.
Di Manggarai dan Manggarai Timur, kawasan yang mengalami guncangan relatif tinggi juga menunjukkan sejumlah kerusakan sedang hingga berat. Namun, pada beberapa lokasi, tingkat kerusakan berbeda meskipun berada dalam kawasan dengan tingkat guncangan serupa.
“Sebaliknya, terdapat pula wilayah dengan PGA yang lebih rendah tetapi tetap mengalami kerusakan,” sebutnya.
PGA penting untuk menggambarkan seberapa kuat gerakan tanah yang diterima suatu lokasi, tetapi belum cukup untuk menjelaskan seluruh variasi dampak gempa. Hasil sementara survei mikrozonasi BMKG di sejumlah wilayah terdampak menunjukkan bahwa kondisi tapak di Flores tidak seragam.
Bangunan yang berada berdekatan tidak selalu mengalami tingkat kerusakan yang sama. Banyak faktor lain yang ikut berperan, seperti jenis struktur, material bangunan, mutu konstruksi, usia bangunan, konfigurasi struktur, dan kemampuan bangunan dalam menahan beban gempa.
Menurut Teguh, kondisi tapak mempengaruhi respons tanah terhadap gelombang gempa. Sementara itu, karakteristik bangunan menentukan bagaimana struktur tersebut merespons guncangan.
“Gempa dimulai di sumber, tetapi dampaknya dibentuk sepanjang perjalanan energi hingga akhirnya berinteraksi dengan tanah dan bangunan di permukaan,” tulis dalam laporan itu.
*****