- Gurita karang dapat mengubah warna dan tekstur kulitnya secara instan dalam waktu kurang dari satu detik—lebih cepat dari kedipan mata manusia.
- Penelitian menunjukkan gurita mampu belajar, mengingat, bahkan menyesuaikan strategi bersembunyi berdasarkan pengalaman.
- Studi Cambridge (2025) mengungkap hubungan evolusioner antara kecerdasan dan kamuflase pada gurita yang disebut sebagai camocognitive hypothesis.
- Tanpa cangkang pelindung, gurita menjadikan tubuhnya sendiri sebagai alat bertahan, menegaskan kejeniusan kehidupan laut dan simbol evolusi laut tropis.
Di antara bebatuan dan karang mati di dasar laut, sesosok gurita perlahan muncul dari kamuflasenya. Sekilas, tubuhnya nyaris tak bisa dibedakan dari pasir dan karang di sekitarnya. Namun begitu ia bergerak, terlihat jelas delapan lengannya yang lentur dan kulitnya yang bergelombang.
Fenomena ini saya jumpai saat melakukan penyelaman malam hari di sebuah kawasan terumbu karang dangkal.
Berdasarkan ciri fisik—kulit bertekstur kasar dengan papila menonjol—kemungkinan besar gurita ini adalah Octopus cyanea, atau gurita karang. Spesies ini umum dijumpai di perairan Indo-Pasifik, termasuk Indonesia, dan dikenal sebagai salah satu ahli kamuflase paling cerdas di laut tropis.
Saat itu, si gurita menempel di substrat berbatu, seolah menjadi bagian dari karang mati dan spons di sekitarnya. Dalam hitungan detik, kulitnya berubah menyerupai warna pasir pucat. Yang lebih mengagumkan, karena pengaruh cahaya dari lensa kamera, bentuknya kembali berubah—kali ini menyerupai ikan predator bermulut lebar. Beberapa detik kemudian, dengan kecepatan luar biasa, ia menghilang kembali di antara celah batuan berpasir di dasar karang.

Si Bunglon Laut yang Cerdas dan Gesit
Sering kali kemampuan ini membuat gurita dijuluki “bunglon laut”. Namun apakah antara makhluk darat dan makhluk laut ini memiliki sistem biologi yang sama?
Ternyata berbeda: bunglon sebagai reptil mengubah warna tubuh lewat proses hormonal yang lambat, sedangkan gurita melakukannya melalui kendali saraf langsung dari otak ke sel pigmen, yang berlangsung dalam waktu kurang dari satu detik.
Mekanisme ini menandakan tingkat kecerdasan visual dan saraf yang luar biasa pada seekor invertebrata.
Seperti diulas Mongabay Indonesia (2021), gurita bukan hanya ahli berkamuflase, tetapi juga memiliki kemampuan belajar dan mengingat. Bahkan ia dapat membuka tutup toples, meniru gerakan, hingga menyusun strategi berburu.

Dari Mana Kemampuan Gurita Menyamar Berasal?
Seperti yang ditulis oleh Mongabay Indonesia (2022), kemampuan menakjubkan ini berasal dari kombinasi chromatophore, iridophore, dan leucophore di kulitnya.
Chromatophore berisi pigmen yang bisa melebar atau mengecil untuk menghasilkan warna cokelat, abu-abu, merah, hingga kekuningan. Sementara iridophore dan leucophore memantulkan cahaya dan meniru warna lingkungan, membuat gurita tampak seperti karang mati, pasir, bahkan spons laut.
Penelitian oleh Hanlon (2007) dalam Current Biology menjelaskan bahwa sistem saraf gurita dapat mengatur jutaan chromatophore secara simultan untuk meniru tekstur dan warna lingkungan seketika.
Dalam eksperimennya, Hanlon menunjukkan bahwa perubahan warna dan pola dapat terjadi dalam waktu kurang dari 0,3 detik setelah gurita mendeteksi perubahan latar. Mekanisme ini melibatkan hubungan langsung antara mata, otak, dan sel kulit—salah satu contoh koordinasi neurobiologis paling kompleks di dunia hewan tanpa tulang belakang.
Sementara itu, penelitian terbaru oleh Lane dan Clayton (2025) dari Universitas Cambridge memperkenalkan konsep “camocognitive hypothesis”—gagasan bahwa kamuflase dan kecerdasan pada gurita serta cephalopoda lainnya berevolusi secara bersamaan.
Mereka berpendapat bahwa perilaku menyamar tidak semata-mata refleks visual yang dikendalikan saraf, melainkan juga mencerminkan proses kognitif tingkat tinggi. Dengan kata lain, gurita adalah makhluk laut yang berpikir mandiri dan secara harfiah “menampilkan pikirannya di kulitnya”.

Cerdas, Lentur, dan Adaptif
Meski semua jenis gurita memiliki kemampuan berkamuflase, tidak semuanya secerdas dan seadaptif gurita karang. Spesies laut dalam umumnya tidak memerlukan kamuflase seaktif gurita karang karena hidup di wilayah minim cahaya dengan tekanan predator lebih rendah.
Sebaliknya, gurita karang hidup di perairan dangkal yang penuh ancaman—dari ikan karnivora seperti barakuda, kerapu, dan belut moray (famili Muraenidae) hingga hiu kecil dan mamalia laut seperti lumba-lumba.
Karena tubuhnya lunak tanpa cangkang pelindung, satu-satunya pertahanan efektif gurita adalah menyatu dengan lingkungan.
Dalam hitungan detik, ia dapat mengubah warna dan tekstur tubuh sesuai substrat yang diinjaknya. Gurita adalah pengingat bahwa evolusi bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang belajar beradaptasi dengan cara yang nyaris sempurna.

Referensi
Hanlon, R. T. (2007). Cephalopod dynamic camouflage. Current Biology, 17(11), R400–R404.
Lane, W. M., & Clayton, N. S. (2025). Towards an Integrated Study of Camouflage and Cognition in Cephalopods. Psychological Topics, 34(1), 25–51. Department of Psychology, University of Cambridge, UK. https://doi.org/10.31820/pt.34.1.2
*****