- Noken tidak hanya jadi lambang budaya. di Komunitas Mama Noken, ia jadi lambang perlawanan terhadap pencaplokan hutan adat.
- Meski baru bergerak 2021, ide membuat Komunitas Mama Noken ini sudah muncul tahun 2019. Inspirasi untuk menggerakan komunitas akar rumput ini Devianti Sesa dapat dari berbagai macam pelatihan yang sempat dia ikuti. Salah satunya, menjahit dan menenun. Namun, kemampuan itu bukan budaya orang Papua, melainkan Nusa Tenggara Timur.
- Idenya muncul dari anak muda di Papua yang sudah tidak bisa membuat noken dan memilih membeli yang sudah jadi, dan dijual di toko-toko. Atau, membeli tas plastik untuk kebutuhan tas harian mengangkut bahan-bahan dari kebun.
- Selain generasi muda yang gagap membuat noken, hal yang paling mengancam budaya ini menurut Devi adalah kehilangan hutan adat yang jadi sumber kehidupan. Apalagi, beberapa wilayah adat mereka mulai terintervensi berbagai macam program konservasi yang dapat membatasi aktivitas masyarakat.
Devianti Sesa, perempuan adat Suku Nafswa, Papua Barat Daya, begitu bersemangat keluar-masuk hutan adat yang masih terjaga dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan tutupan vegetasi yang lebat. Hutan adalah sumber penghidupan baginya dan warga Kampung Magis, Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan.
Dia tidak merasa khawatir saat berada di dalam hutan, dengan bebas melanglang buana di sana dan manfaatkan semua yang ada untuk menunjang sumber penghidupan. Obat-obatan alami pun dan sumber pangan bisa dia dapatkan dari tanaman yang tumbuh di hutan adatnya.
“Tidak perlu keluar uang banyak, asal hutan masih ada, semua kebutuhan hidup bisa terpenuhi,” ucapnya kepada Mongabay.
Selain aktif berkegiatan di kebun, perempuan 37 tahun ini juga rajin membuat noken. Kebutuhan bahan baku kerajinan itu dia dapat dari hutan. Memanfaatkan pohon-pohon melinjo atau genemo yang tumbuh alami di wilayah adatnya.
Kerajinan menganyam noken sudah menjadi tradisi dan budaya bagi Orang Papua. Devi, sapaan akrabnya, bilang, noken melambangkan kehidupan. Ia memiliki banyak fungsi, untuk mengangkut hasil kebun dan hasil hutan.
Dalam pernikahan, noken seringkali jadi syarat utama. Tidak boleh sembarangan pakai yang berbahan plastik atau tali yang terjual di pasaran. Harus dari hutan (kulit kayu).
“Sudah jadi ketentuan adat seperti itu. Noken bagi kami adalah lambang budaya dan tradisi adat. Dan juga noken ini erat hubungannya dengan hutan. Semua sumber utama noken berasal dari hutan adat yang kami jaga.”
Namun, tantangan mulai muncul. Baginya, generasi muda kurang meminati tradisi membuat noken dan tidak ada lagi yang mau melanjutkan dari generasi berikutnya. Jika ini terjadi, pikirnya, budaya asli Orang Papua dan identitasnya akan turut hilang.
“Di beberapa kampung di Papua yang lain, banyak anak muda tidak bisa membuat noken, karena tidak diajarkan oleh orang tuanya atau tidak ada aktivitas atau ruang yang menjadi wadah pembelajaran di kampung,” keluhnya.
Dia pun resah anak muda di Papua sudah tidak bisa membuat noken dan memilih membeli yang sudah jadi, dan dijual di toko-toko. Atau, membeli tas plastik untuk kebutuhan tas harian mengangkut bahan-bahan dari kebun.
“Padahal noken itu bagian dari Orang Papua, budaya kita. Kita bisa membuatnya. Kalau bergantung pada pembelian di toko, uang kita bisa habis. Tapi bayangkan kalau kita bisa bikin noken, tidak perlu repot-repot beli tas plastik. Bikin noken sudah dapat banyak keuntungan. Uang tidak habis, karena bahan ada di hutan. Noken juga bisa kita jual kembali.”
Karenanya, dia inisiatif membuat satu komunitas belajar bersama perempuan adat di kampungnya. Supaya, budaya membuat noken dari para orang tua tidak luntur dan diteruskan ke generasi muda di kampung.
Inisiatif ini muncul dalam bentuk “Komunitas Mama Noken” di kampungnya bersama mama-mama di kampung. Harapannya, komunitas ini bisa memfasilitasi ruang-ruang yang mulai hilang bagi Orang Papua mempertahankan adat dan budaya mereka.
“Paling penting, ketika hutan mulai hilang, budaya membuat noken juga ikut berdampak, serta kehidupan Orang Papua. Gerakan membuat komunitas ini, ya, tujuannya untuk terus menjaga hutan agar budaya dan kehidupan Orang Papua terus berlanjut.”
Menjaga budaya tak hilang
Meski baru bergerak 2021, ide membuat Komunitas Mama Noken ini sudah muncul tahun 2019. Inspirasi untuk menggerakan komunitas akar rumput ini dia dapat dari berbagai macam pelatihan yang sempat dia ikuti. Salah satunya, menjahit dan menenun. Namun, kemampuan itu bukan budaya orang Papua, melainkan Nusa Tenggara Timur.
“Saya bisa membuat dan mengikuti budaya orang lain, sedangkan budaya sendiri saya tidak bisa membuat sendiri. Akhirnya muncul di situ pikiran untuk bikin komunitas Mama Noken dan bikin wadah untuk menjaga budaya noken di kalangan anak-anak muda dan orang tua.”
Selain generasi muda yang gagap membuat noken, hal yang paling mengancam budaya ini menurutnya adalah kehilangan hutan adat yang jadi sumber kehidupan. Apalagi, beberapa wilayah adat mereka mulai terintervensi berbagai macam program konservasi yang dapat membatasi aktivitas masyarakat.
Kekhawatirannya memuncak ketika mendengar sebagian hutan adat yang selama ini mereka jaga masuk ke dalam kawasan konservasi yang pemerintah tetapkan sepihak dan tanpa memberitahu masyarakat di kampung.
“Kami juga tidak tahu kenapa tiba-tiba sudah jadi hutan konservasi. Ini baru saya tahu juga beberapa bulan belakangan ini. Semua informasi penetapan kawasan hutan di kampung hanya orang-orang tua yang tahu kenapa bisa ditetapkan sebagai kawasan hutan konservasi. Kami tahu ternyata sebagian hutan adat kami menjadi milik negara,” katanya geram.
Penetapan kawasan konservasi itu sepihak tanpa melibatkan masyarakat kampung ini, menurutnya, merupakan pengelabuan negara atas klaim hutan adat mereka. Padahal, sebagian wilayah hutan adat yang masuk kawasan konservasi itu merupakan jantung utama masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan.
Dia bilang, bisa saja mendapatkan bahan baku noken dari tempat lain, tapi perlu mengeluarkan uang dan biayanya tidak sedikit. Sementara, selama ini, semua bahan itu gratis dari hutan adat yang mereka jaga.
“Kalau sudah jadi hutan milik negara, kami nanti terbatas mengaksesnya.”
Namun, dia tidak tinggal diam. Komunitas Mama Noken menjadi alat perjuangan warga kampung. Mereka terus berkegiatan di hutan adat yang telah negara tetapkan sebagai kawasan konservasi. Tujuannya, agar pemerintah tahu hutan adat ini bukanlah tanah yang kosong tanpa ada manusia di dalamnya.
Sehingga, dia berharap, penetapan kawasan konservasi itu segara negara cabut dan kembalikan pada masyarakat. Agar, masyarakat, khususnya perempuan adat, dapat mengakses hutan yang memiliki hubungan erat dengan aktivitas mereka.
“Perempuan Papua jika kehilangan hutan akan merasakan dua kali lipat kesedihannya dibandingkan dengan para laki-laki. Kehilangan hutan bagi perempuan bukan hanya kehilangan pohon-pohon dan isinya, tapi kehilangan budaya dan kehidupan orang Papua itu sendiri.”
Bagi Devi, Komunitas Mama Noken ini bukan hanya sekadar wadah biasa, tapi alat memperjuangkan haknya yang tidak pernah pemerintah dan negara libatkan dalam setiap penetapan keputusan, yang dapat berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak.
Sumber pendapatan kolektif
Tidak hanya membuat noken, ada aktivitas lain seperti membuat gelang, manik-manik untuk kalung, dan hasil tenunan kain dalam komunitas noken ini. Anggota komunitas yang dulu hanya berjumlah 5 orang kini terus bertambah menjadi 15 orang. Anggotanya pun berusia beragam, dari perempuan muda yang berusia 20-an hingga mama-mama 50 tahun.
Untuk hasil anyaman, biasanya mereka menjualnya di sekitar kampung atau di pusat Kabupaten Sorong Selatan. Harga penjualan dari setiap produk juga tergantung pada tingkat kesulitan anyaman atau produk.
Misalnya, hasil penjualan dari satu barang paling kecil Rp150.000 sampai barang paling besar dengan harga Rp500.000.
“Itu harga noken saja. Belum yang lain. Sebulan itu bisa sampai 1 juta hingga 2 jutaan yang dihasilkan oleh penjualan produk,” jelas Devi.
Pembagian hasil penjualan kepada anggota komunitas Mama Noken sesuai kesepakatan yang sudah terbahas dalam setiap pertemuan. Misal, hasil noken yang terjual dari komunitas untuk biaya operasional. Kalau penjualan secara pribadi atau individu, maka keuntungan penjualan masuk ke anggota komunitas.
Dia mencontohkan mekanisme kerja di komunitas Mama Noken. Misal, dia akan membuat noken untuk pribadi, juga untuk kelompok atau komunitas. Ada tiga noken yang dibuat: 1 untuk pribadi dan 2 noken lainnya untuk komunitas. Keuntungan dari hasil untuk ke komunitas akan jadi biaya operasional, sedangkan keuntungan dari penjualan noken pribadi masuk ke kantong pribadi.
“Uang yang masuk ke kelompok itu biasanya kita pakai untuk beli bahan. Misalnya, di kampung kesusahan cari bahan untuk membuat noken. Uang yang dari hasil penjualan kelompok itu kita pakai untuk membeli bahan lagi. Berlaku untuk semua produk yang dibuat, bukan hanya noken saja,”
Selain membeli bahan, hasil penjualan kelompok juga untuk membeli makanan saat komunitas berkumpul mengerjakan anyaman atau sedang membuat produk. Pengelolaan keuangan kelompok memang untuk keuntungan bersama-sama dan semua anggota merasakannya secara adil dan merata.
Hanya saja, kendala saat ini di pemasaran. Komunitas Mama Noken belum memiliki akun media sosial khusus untuk jualan. Cara mereka masih dengan metode pesanan.
Geliat ekonomi dan budaya ini lah yang membuatnya merasa hilangnya hutan akan berpengaruh besar bagi masyarakat. Semua keuntungan yang mereka dapatkan saat ini karena mereka menjaga hutan dan alam tetap terjaga. Agar dapat memberikan hasil yang terbaik bagi para perempuan adat dan masyarakat di kampung.
“Kita harus mempertahankan hutan. Kalau hutan hilang, di mana lagi kita bisa cari pangan lokal, bahan baku noken, berburu. Karena semua aktivitas orang papua itu khususnya di kampung ini dekat sekali dengan hutan. Kalau hutan hilang makan bukan cuman budaya hilang, tapi kehidupan juga hilang.”
*****
Mengenang Decky Rumaropen, Penggerak Kemandirian Ekonomi Orang Papua