- Paus biru sepanjang 20,5 meter berhasil diselamatkan setelah terdampar di NTT. Paus biru (Balaenoptera musculus) ditemukan hidup di perairan dangkal pesisir Pulau Kolong, Kabupaten Ngada, Jumat (30/10/26). Setelah proses evakuasi yang berlangsung sekitar 12 jam, tim gabungan BKSDA, TNI, Polri, dan masyarakat berhasil mendorongnya kembali ke perairan lebih dalam.
- Perairan NTT merupakan habitat sekaligus koridor migrasi megafauna laut. Penelitian di Perairan Solor mengidentifikasi 11 jenis paus. Sementara itu, Laut Flores, Perairan Solor, Laut Sawu, Kupang, hingga Rote menjadi jalur migrasi dan tempat singgah sementara hiu paus, terutama saat periode upwelling Mei–Oktober. Hiu paus dari Teluk Saleh, Sumbawa, bahkan terpantau singgah di perairan Flores Timur selama satu hingga dua bulan.
- Ancaman terhadap hiu paus datang dari aktivitas manusia, termasuk penangkapan ikan dan konsumsi satwa terdampar. Tiga hari sebelum penyelamatan paus biru, seekor hiu paus yang terdampar di Kabupaten Sikka justru ditarik ke daratan, disembelih, dan dagingnya dibagikan kepada warga. Selain itu, hiu paus kerap terjerat jaring nelayan. Data Mongabay mencatat 12 kejadian hiu paus terkena jaring sepanjang 2016–2023; sembilan selamat dan tiga mati di Manggarai Barat serta Flores Timur.
- Penelitian di Flores Timur menyebut bycatch hiu dan pari mencapai 16% dari seluruh hasil tangkapan, termasuk hiu paus. Kajian tersebut merekomendasikan zonasi penangkapan dan peningkatan kesadaran nelayan tentang pentingnya habitat hiu dan pari. Praktik tradisional seperti penggunaan aroma jeruk limau atau daun sirih pada jaring serta bunyi-bunyian untuk menghalau satwa juga disebut sebagai cara pencegahan yang telah dikenal nelayan.
Satu paus biru (Balaenoptera musculus) berukuran 24 meter terdampar di pesisir Pulau Kolong, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (30/10/26) pagi. Meski susah payah, spesies dengan ukuran yang lebih besar dari bus itu akhirnya berhasil didorong kembali ke perairan lepas.
Adhi Nurul Hadi, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT katakan, kabar insiden itu pertama kali dilaporkan anggota Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MPP), sekitar pukul 05. 30. Satu jam kemudian, petugas dari Resor KSDA Wilayah Riung tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi.
“Paus Biru ini ditemukan terdampar pada perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 2-3 meter di areal pesisir dalam blok perlindungan bahari kawasan TWAL 17 Pulau. Ditemukan dalam kondisi hidup,” katanya melalui keterangan tertulisnya kepada Mongabay, Sabtu (31/10/26).
Dia bilang, dari hasil identifikasi, spesies itu merupakan paus Biru (Balaenoptera musculus) dengan panjang tubuh 20, 5 meter, lebar kepala 3, 25 meter dan lebar badan tengah/lingkar perut 4, 3 meter.
Dari pengukuran, panjang ekor paus malang itu memiliki panjang 4 meter dengan labar 4, 75 meter. Lalu, panjang sirip 2, 35 meter, panjang kepala 4, 55 meter serta lebar tubuh bagian ekor 4, 22 meter. Spesies ini memiliki aktivitas semburan dalam rentang 1,7 menit.
Upaya penyelamatan
Ukuran paus yang sangat besar membuat proses evakuasi berlangsung sulit. Petugas bahkan harus menunggu bantuan dari satuan lain. Sembari itu, petugas dan relawan terus menyirami badan paus dan menjaga lubang napas (blowhole) tidak tertutup pasir atau air laut.
“Ukurannya sangat besar. Jadi, evakuasi juga tetap mempertimbangkan keselamatan petugas dan masyarakat yang terlibat,” sebut Adhi.
Menjelang petang, sekitar pukul 17. 30, tim gabungan yang juga terdiri dari kepolisian dan TNI akhirnya berhasil mendorong paus itu ke perairan lebih dalam.
Petugas menunggu beberapa saat di lokasi untuk memastikan kondisi paus dan berenang ke laut lepas.
“Kami berterima kasih kepada MMP yang cepat melapor, kepada TNI, Polri,Dinas Peternakan, pemerintah desa, dan masyarakat Riung yang bahu-membahu menyelamatkan paus ini sehingga paus tersebut dapat kembali ke habitatnya dengan selamat,” ujarnya.
Penelitian Yayasan Misol Baseftin 2016–2017 berjudul “Megafauna Laut di Perairan Solor, Flores Timur” mengidentifikasi 11 jenis paus berada di perairan ini. Meliputi, paus minke (Balaenoptera acutorostrata), paus pemandu sirip pendek (Globicephala macrorhynchus), paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens).
Ada juga, paus biru (Balaenoptera musculus), dan paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata), paus brydei (Balaenoptera brydei), paus pembunuh (Orchinus orca), paus kepala semangka (Peponocephala electra), paus sperma (Physeter macrocephalus), paus sperma kerdil (Kogia sima), dan paus beaked (Ziphiidae spp).
Selanjutnya, komposisi spesies paus pada tahun 2016-2017 secara signifikan didominasi oleh paus pembunuh kerdil.
Peristiwa kedua
Tiga hari sebelumnya, seekor hiu paus (whale shark atau Rhincodon typus) juga terdampar di Lowolabo, Desa Paga Timur, Kabupaten Sikka, NTT. Sayangnya, bukannya menyelamatkannya, warga justru menariknya ke daratan dan menyembelihnya.
“Saat terdampar kondisinya masih hidup. Warga pun menangkap dan membunuhnya. Dagingnya pun dibagikan untuk dikonsumsi,” terang Fransiskus Ignasius Sino Satwas PSDKP Wilker Maumee, kepada Mongabay, Kamis (29/10/26).
Fransiskus mengetahui kejadian dari postingan di media sosial yang kemudian melakukan pengecekan. Dari informasi yang dia himpun di lapangan, warga yang mengetahui kejadian itu kemudian menarik dan memotong spesies malang itu. “Dagingnya dibagikan ke sesama warga.”
Laiknya paus biru, menurut Fransiskus, hiu paus merupakan spesies ikan dengan perlindungan penuh yang itu berarti terlarang untuk ditangkap, apalagi mengonsumsinya. Bahkan, saat mati pun, perlu penanganan khusus.
“Kami tidak bisa serta merta melakukan tindakan hukum, karena warga mungkin saja belum mengetahui bahwa satwa ini dilindungi. Jadi, kami akan mengintensifkan lagi sosialisasi kepada warga,” kata Fransiskus.
Selama ini, wilayah perairan di Indonesia timur menjadi habitat dan jalur migrasi megafauna laut. Berbagai riset bahkan menyebut wilayah Teluk Saleh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Teluk Cenderawasih di Papua sebagai lokasi favorit.
Kedua teluk tersebut menjadi lokasi pengasuhan (nursery) bagi hiu paus jantan anakan hingga remaja karena bisa melindunginya dari predator, seperti paus orca. Selain itu, kedua lokasi itu juga kaya akan sumber makanan sepanjang tahun.
Hiu paus mencari sumber makanan stabil sehingga bisa bertumbuh dengan baik. “Dari data tag satelit, hiu paus bisa bertahan hanya di teluk dan tidak bergerak keluar hingga 3 tahun,” kata Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia.
Menurut Iqbal, setelah beranjak dewasa, hiu paus akan meninggalkan teluk guna melanjutkan fase kehidupan mereka. Dari beberapa identifikasi, mereka meruya jauh di perairan Laut Banda, Laut Sawu, hingga ke Samudera Pasifik.
Sebagian besar hiu paus di kedua lokasi ini berukuran di bawah tujuh meter yang secara umum masuk kategori remaja. Sementara fase dewasa yang umumnya lebih dari 9 meter sudah sangat jarang ditemui.
Karena itu, menurut Iqbal, sangat penting untuk menjaga stabilitas teluk guna mendukung pemulihan populasi ini. “Caranya dengan memastikan populasi dan habitat nya tidak terganggu baik dari perikanan, pencemaran dan dari wisata,” ucapnya.
Berdasar studi yang Iqbal lakukan, perairan NTT memang menjadi koridor migrasi dan tempat singgah sementara spesies megafauna. Jalur itu tersebar mulai dari Laut Flores, Perairan Solor, Laut Sawu, Kupang hingga Rote. Perairan ini menjadi habitat mencari makan sementara selama periode upwelling dari Mei- Oktober.
Beberapa hiu paus dari Teluk Saleh, Sumbawa dia amati beberapa kali bergerak ke wilayah ini dan menetap beberapa waktu 1-2 bulan. Mereka memilih meninggalkan sementara Teluk Saleh untuk mendapatkan variasi makanan atau menghindari kompetisi saat sumber makanan menipis.
“Mereka mencari alternatif area makan seperti di Perairan Flores Timur.”
Hiu paus sering terlilit jaring nelayan dan ditemukan mati di perairan Flores Timur termasuk di Selat Solor dan Selat Lewotobi. “Ini sudah mulai musimnya hiu paus banyak berada di perairan Selat Lewotobi,” ujar Kanisius Laran Wutun Uran, Ketua Pokmaswas Lewotobi.
Anis sapaannya katakan, nelayan di desanya semua sudah dibekali pengetahuan bagaimana melepas hiu paus bila terjerat pukat hanyut (Gillnet). Meski begitu, dia kerap beberapa kali mendapati hiu paus terjerat jaring kapal di sekitar Selat Lewotobi.
Menurut Anis, perairan ini banyak terdapat zooplankton dan ikan-ikan kecil yang menjadi makanan hiu paus. Itu karena Selat Lewotobi berada di dekat gunung berapi aktif Lewotobi. Kelimpahan zooplankton di perairan ini sangat dipengaruhi oleh limpasan nutrisi vulkanik dari daratan dan interaksinya dengan arus laut.
Data yang Mongabay himpun, sejak 2016-2023, terdapat 12 hiu paus terkena jaring, 9 diantaranya selamat, 3 lainnya mati yang berlokasi di Manggarai Barat dan Flores Timur. Seperti di Sikka, NTT, warga pun memotong dan membagikan daging hius paus yang mati itu.
Ada solusinya?
Penelitian Penilaian Risiko Bycatch pada Perikanan Gillnet Skala Kecil, Perikanan Hiu dan Pari Mobula di Flores Timur oleh Muhammad Ghozaly Salim, Dkk., menjelaskan ancaman gillnet. Penggunaan gillnet oleh nelayan menjadi ancaman bagi hiu paus sebab memiliki hasil tangkapan samping berupa hiu, pari dan penyu.
“Bycatch hiu dan pari menyumbang sebanyak 16 persen dari seluruh hasil tangkapan termasuk hiu paus,” sebut penelitiaan.
Kecenderungan nelayan menangkap di sekitar pulau-pulau kecil juga turut meningkatkan peluang hiu dan pari yang menjadi bycatch.
Penelitian itu pun menyarankan adanya pemberlakukan zonasi penangkapan dan penyadaran akan pentingnya lingkungan perairan dan keberadaan habitat hiu dan pari dalam struktur ekosistem perairan.
Meski begitu, penelitian itu juga menyebut, secara tradisional nelayan telah memiliki beberapa cara pencegahan tersangkutnya hiu dan pari pada pukat hanyut. Misalnya, memberi aroma jeruk limau atau mengikat daun sirih pada pukat sebelum digunakan.
“Nelayan juga membuat bunyi-bunyian yang berasal dari parang dan batu ketika terlihat adanya hiu atau pari yang mendekat,” tulis laporan itu.
*****