- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, sangat berdampak pada kehidupan orangutan.
- YIARI mengevakuasi sebanyak 51 orangutan di Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat. Banyak orangutan mengalami luka bakar, dehidrasi, malnutrisi, anemia, hingga gangguan pernapasan.
- Orangutan bertahan di habitat yang rusak, termasuk induk dan anak yang masih menyusu. Kondisi panas, asap, dan akses terbatas menyulitkan upaya evakuasi orangutan di area kebakaran.
- Kemenhut mencatat 232 satwa liar diselamatkan akibat karhutla di enam provinsi, termasuk 71 orangutan. Namun, masih ada satwa yang kemungkinan mati, berpindah, atau bertahan di habitat rusak.
Bagaimana nasib orangutan kalimantan yang bertahan di hutan terbakar?
Pengalaman fotografer independen Victor Fidelis Sentosa, mendokumentasikan penyelamatan primata yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi ini di Ketapang, Kalimantan Barat, memperlihatkan kondisi orangutan yang tak hanya kehilangan ruang hidup. Namun jugaa, mengalami kelaparan, dehidrasi, dan malnutrisi.
Victor mengikuti tiga kali operasi penyelamatan orangutan, selama tujuh hari di Ketapang. Dalam pengamatannya, kondisi habitat yang terdampak kebakaran, jauh lebih parah dari yang dibayangkannya.
Pepohonan meranggas, tutupan vegetasi menghilang, dan panas dari lahan terbakar membuat tim penyelamat bekerja keras.
“Ini seperti medan perang. Hancur,” kata Victor, menggambarkan kondisi kawasan yang didatanginya, Jum’at (16/10/26).
Sebelum berangkat, Victor membayangkan masih ada bagian hutan hijau di lokasi penyelamatan. Namun, setelah melihat dokumentasi awal dari tim penyelamat, dia menyadari kondisi lapangan jauh berbeda.
Victor bergabung dengan tim Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), untuk mendokumentasikan proses penyelamatan Pongo pygmaeus di kawasan yang aksesnya terbatas.
Satu operasi yang diikutinya melibatkan enam individu primata cerdas ini, dalam satu titik lokasi. Sebelumnya, tim melakukan survei beberapa hari untuk mengetahui keberadaan dan jumlah individu, sebelum menjalankan misi penyelamatan.
Pengalaman membekas baginya adalah saat seekor induk dan anaknya dievakuasi. Saat proses penyelamatan berlangsung, Victor mendengar anak pongo itu berteriak saat terpisah dari induknya.
“Itu sungguh sedih.”
Orangutan malnutrisi
Kondisi primata 96-97% DNA yang sama dengan manusia ini, tak hanya menyisakan kesedihan saat evakuasi, tetapi juga pemeriksaan medis mengungkap persoalan lebih mendasar.
Menurut Victor, tim medis YIARI menyatakan bahwa orangutan yang diselamatkan saat karhutla, mengalami dehidrasi, kelaparan, dan malnutrisi. Pada satu induk, produksi air susu dilaporkan tak mencukupi sehingga anaknya tak lagi menyusu.
“Dugaannya, kekurangan makanan dan air.”
Ada perbedaan kondisi tubuh cukup mencolok. Di lokasi penyelamatan, menurut Victor, orangutan terlihat lebih kurus dibanding individu yang pernah didokumentasikan di habitat lebih sehat.
“Orangutan yang berada dalam kondisi buruk cenderung tidak banyak bergerak.”
Dalam salah satu dokumentasi yang menarik perhatiannya, seekor orangutan terlihat bergelantungan pada ranting hampir tak berdaun. Di sekitarnya, asap menyelimuti kawasan.
Lanskap di belakang orangutan itu merupakan area perkebunan sawit. Digambarkannya, lokasi itu sebagai kawasan perbatasan antara area hutan dan perkebunan. Kerja tim penyelamat sangat penting, terutama saat datang laporan keberadaan satwa di lokasi kebakran terus berdatangan.
“Kalau kita melihat orangutan jadi korban akibat ambisi manusia, moral kita benar-benar hancur,” jelasnya.
Evakuasi 51 orangutan
Heribertus Suciadi, Senior Manajer Media dan Komunikasi YIARI, mengatakan pihaknya telah mengevakuasi 51 orangutan dari sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, yang terdampak karhutla (kebakaran hutan dan lahan).
Sebagian besar orangutan ditemukan dalam kondisi memprihatinkan, mulai dari tubuh kurus, luka bakar, hingga dehidrasi dan malnutrisi.
Kondisi orangutan yang dievakuasi beragam. Meski ada yang ditemukan tanpa luka dengan kondisi tubuh baik, namun lebih banyak yang mengalami gangguan kesehatan serius.
“Ada yang luka terbuka, luka bakar cukup parah di bagian tangan dan kaki, anemia parah, dehidrasi, malnutrisi, gejala ISPA, bahkan ada yang ditemukan sekarat dan kemudian mati beberapa jam setelah diselamatkan,” jelas Heribertus, Sabtu (17/10/26).
Menurutnya, angka 232 satwa liar yang diselamatkan dari karhutla merupakan gambaran upaya penyelamatan yang telah dilakukan, bukan keseluruhan dampak kebakaran terhadap satwa liar.
Tidak semua satwa terdampak bisa ditemukan tim penyelamat. Sebagian kemungkinan mati akibat kebakaran, melarikan diri ke wilayah lain, atau bertahan hidup di habitat yang rusak tanpa terdeteksi.
“Besarnya dampak karhutla perlu diketahui melalui kajian dan pemantauan sistematis.”
Heribertus ingatkan, dampak kebakaran terhadap orangutan bisa berlangung jauh setelah api padam dan asap menghilang. Berdasarkan pengalaman YIARI menangani karhutla pada 2015-2019, kerusakan habitat mengurangi ketersediaan pohon pakan, pohon sarang, serta ruang untuk bergerak dan berkembang biak.
Habitat yang terfragmentasi juga bisa mempersempit wilayah jelajah orangutan dan mengurangi sumber makanan. Kondisi ini berpotensi mendorong mereka memasuki kebun warga atau perkebunan untuk mencari makan, sehingga meningkatkan risiko konflik dengan manusia.
“Pemulihan hutan tidak cukup diukur dengan kembalinya tutupan hutan. Hutan yang kembali hijau belum tentu mampu menyediakan pakan dan pohon sarang yang diperlukan orangutan seperti sebelum kebakaran,” tandasnya.
Sebelumnya, Kementerian Kehutanan menyebut telah menyelamatkan 232 individu satwa liar di enam provinsi yang terdampak karhutla di Indonesia. Informasi ini disampaikan Ristianto Pribadi, Kepala Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut. Dari jumlah itu, 71 satwa adalah orangutan.
*****
Kisah Sedih Novita dan Penderitaan Puluhan Orangutan Kalimantan Akibat Hutannya Terbakar