- Pada Agustus 2026, kantor imigrasi Jayapura mendeportasi pasangan suami istri asal Tiongkok yang berburu satwa dilindungi di Papua, salah satunya adalah kasuari. Pada saat melakukan perburuan, keduanya melakukan siaran langsung melalui platform Douyin di China.
- Kasuari adalah burung purba, spesies paling unik di planet ini; burung terberat ketiga di dunia, penebar biji terbesar di hutan hujan Papua, dan satu dari sedikit burung paling berbahaya.
- Jejak tradisi perburuan kasuari telah berlangsung selama lebih dari 18.000 tahun (sejak akhir Pleistosen hingga Holosyen). Pada masa lalu pemanfaatan kasuari berlangsung secara adaptif dalam batas daya dukung lingkungan, namun perburuan kasuari hari ini dihadapkan pada ancaman yang jauh lebih berat, seperti kerusakan atau fragmentasi habitat hutan hujan, perburuan tak terkendali, dan ancaman dari predator introduksi (seperti babi atau anjing).
- Kasuari bukanlah sekadar burung eksotis. Ia adalah penjaga hutan, spesies kunci yang kehadirannya menjaga keseimbangan ekosistem yang telah terbentuk selama jutaan tahun. Ketika kasuari menghilang, bukan hanya satu spesies yang punah. Seluruh jaringan ekologis yang bergantung padanya ikut runtuh.
Pasangan suami istri berinisial YH dan NZ, warga negara Tiongkok, dideportasi dari Indonesia setelah kedapatan berburu satwa dilindungi di Papua, salah satunya adalah kasuari. Dalam pemeriksaan ditemukan adanya foto dan rekaman video kegiatan berburu satwa yang dilindungi seperti burung kasuari, kuskus, dan satwa lainnya. YH tercatat bolak-balik ke Indonesia lebih dari 10 kali sejak 2023 dan selama perburuan dia menyiarkannya secara daring ke Tiongkok melalui platform Douyin.
YH dan istrinya, NZ, kini telah dideportasi. Ben Yuda Karubaba, Kepala Kantor Imigrasi Jayapura, menjelaskan bahwa petugas menemukan foto dan rekaman video perburuan satwa dilindungi saat memeriksa pasangan itu. Kegiatan tersebut, katanya dikutip dari iNews, dilakukan YH bersama warga kampung Skanto yang sudah lama dikenal dan dianggap keluarga. Keduanya dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berdasarkan Pasal 75 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.
Perkara ini ditangani sebagai pelanggaran izin tinggal dan tidak merinci berapa satwa yang ditangkap atau dibunuh. Namun, yang mereka buru bukan sekadar burung. Kasuari adalah spesies paling unik di planet ini; burung purba terberat ketiga di dunia, penebar biji terbesar di hutan hujan Papua. Ironisnya, ancaman terbesar kelestariannya datang dari manusia yang memburunya.
Kasuari adalah burung raksasa yang tak bisa terbang. Di Australia, kasuari selatan betina beratnya bisa mencapai 76 kilogram, dengan cakar belati lebih dari 12 sentimeter. Di balik tampang garang itu, ia menjalankan tugas yang penting: menanam hutan. Para ekolog menyebut kasuari sebagai frugivora obligat, yakni pemakan buah yang hidupnya bergantung pada buah.
“Penyebaran tumbuhan berbiji besar oleh kasuari adalah interaksi spesies kunci yang menopang regenerasi hutan,” tulis Anderson dan rekan dalam penelitian berjudul, “Range-Wide Camera Trapping for the Australian Cassowary Reveals Habitat Associations With Rainfall and Forest Quality” di jurnal Ecology and Evolution (2025).
Dalam publikasi ini dijelaskna bahwa kasuari memiliki peran ekologis sangat vital sebagai spesies kunci (keystone species) dan frugivor obligat (pemakan buah utama) di hutan hujan tropis. Peran-peran ekologis utama kasuari sebagai penebar biji, misalkan menjadi penebar tunggal biji berukuran sangat besar, dan kasuari mengonsumsi buah berdaging lebih dari 1.500 spesies tumbuhan.
Di Australia, kasuari merupakan satu-satunya penebar biji berukuran paling besar yang masih ada di hutan. Layanan ekologis ini tidak dapat digantikan oleh vertebrata lain yang berukuran lebih kecil, sehingga peran kasuari setara dengan gajah atau burung enggang di hutan tropis Asia dan Afrika.
“Kasuari memiliki mobilitas tinggi dan mampu membawa serta menebarkan biji hingga jarak 1,5 km dari pohon induknya. Kemampuan ini memfasilitasi pergerakan dan konektivitas tumbuhan asli di antara fragmen atau petak-petak hutan,” tulis Anderson, dkk.
Dikatakan lagi, aktivitas penyebaran biji oleh kasuari secara langsung memperbaiki kualitas habitat pada koridor antarfragmen hutan dan mendukung pemulihan komunitas tumbuhan di lanskap hutan yang mengalami degradasi. Berbeda dengan spesies invasif seperti babi hutan (Sus scrofa) yang menghancurkan dan mematikan biji, saluran pencernaan kasuari memungkinkan biji tetap utuh dan siap berkecambah.
Meskipun penelitian ini dilakukan di Australia, namun hasil ini memberikan indikator dan prinsip ekologis penting yang dapat menjadi acuan bagi studi kasuari di ekosistem hutan hujan tropis Pulau Papua, termasuk di Indonesia.
Kasuari dan jejak perburuan 18.000 tahun
Hasil penelitian arkeolog Kristina Douglass dan kolega. dalam “Late Pleistocene/Early Holocene sites in the montane forests of New Guinea yield early record of cassowary hunting and egg harvesting”, dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (2021), memberikan perspektif sejarah ekologi yang sangat erat kaitannya dengan peristiwan perburuan dan pemanfaatan kasuari di Papua masa kini.
Penelitian arkeologi dari situs Yuku dan Kiowa di pegunungan Papua Nugini menunjukkan bahwa kelompok pemburu-pengumpul purba telah memanfaatkan kasuari sejak zaman Plistosen Akhir hingga Holosen.
Kasuari merupakan satwa vertebrata terbesar yang tersisa di pulau New Guinea/Papua dan memiliki nilai budaya serta ekonomi sangat tinggi. Perburuan kasuari, pemanfaatan daging, penggunaan tulang untuk belati/alat, serta bulu untuk hiasan kepala di Papua hari ini bukanlah fenomena baru, melainkan kelanjutan dari tradisi hubungan manusia dan kasuari yang telah berlangsung selama lebih dari 18.000 tahun (sejak akhir Pleistosen hingga Holosyen).
Satu temuan utama riset ini adalah bahwa masyarakat pemburu di masa lalu lebih banyak memanen telur kasuari ketimbang berburu burung dewasa. Analisis mikrostuktur cangkang telur menunjukkan bahwa telur dipanen pada tahap perkembangan embrio akhir (mendekati penetasan). Pola ini mendukung hipotesis bahwa sejak akhir Pleistosen, manusia telah mengumpulkan telur untuk ditetaskan dan dibesarkan.
Jika pada masa lalu pemanfaatan kasuari berlangsung secara adaptif dalam batas daya dukung lingkungan, perburuan kasuari hari ini dihadapkan pada ancaman yang jauh lebih berat. Sebut saja, kerusakan atau fragmentasi habitat hutan hujan, perburuan tak terkendali, dan ancaman dari predator introduksi (seperti babi atau anjing).
Penelitian ini mengingatkan bahwa ekologi reproduksi kasuari (proses pengeraman yang panjang oleh jantan dan produktivitas tahunan yang rendah) membuat populasinya sangat rentan terhadap gangguan habitat dan pengambilan telur secara berlebihan. Menghubungkan riset sejarah ini dengan perburuan modern mempertegas pentingnya kearifan lokal dan pengelolaan berbasis konservasi agar keberadaan kasuari di hutan Papua tetap lestari.
Etika perburuan tradisional
Menariknya, penelitian lainnya yang dilakukan oleh Freddy Pattiselanno dan kolega dengan judul “Target, tool, tenure and timing: the four T’s limiting the impact of traditional hunting in Indonesian Papua”di Frontiers in Conservation Science (2024), mengkaji praktik perburuan tradisional oleh enam kelompok etnis di Papua dan Papua Barat, Indonesia, dengan menganalisis bagaimana pembatasan adat yang dikenal sebagai empat unsur utama (target, alat, kepemilikan wilayah, dan waktu) berfungsi untuk melindungi keanekaragaman hayati.
Studi ini mencatat dua jenis kasuari yang menjadi target perburuan, yaitu kasuari gelambir tunggal/kasuari utara (Casuarius unappendiculatus) dan kasuari kerdil (Casuarius bennetti). Tujuan perburuan ada dua, pertama, untuk konsumsi keluarga, daging kasuari diburu untuk memenuhi kebutuhan protein dan konsumsi rumah tangga, antara lain oleh Suku Karon, Sebyar, dan Napan. Kedua, untuk upacara dan perayaan adat, yang dilakukan oleh Suku Karon secara khusus berburu kasuari utara sebagai bagian dari perayaan pesta pernikahan.
Penelitian ini menemukan bahwa masyarakat adat menerapkan aturan lokal yang ketat; seperti larangan berburu di hutan keramat, pembatasan spesies tertentu, penggunaan senjata tradisional, serta pengaturan musim berburu, yang secara efektif membatasi tekanan terhadap satwa liar.
“Meskipun aturan formal pemerintah sering kali kurang ditaati, sanksi sosial dan budaya yang diwariskan turun-temurun terbukti sangat kuat menjaga kelestarian lingkungan,” ungkap para peneliti.
Namun, penelitian ini juga menyoroti ancaman nyata keberlanjutan kasuari akibat pergeseran dari perburuan subsisten ke komersial, serta penggunaan teknologi modern seperti senapan angin yang didorong oleh pertumbuhan populasi dan perluasan infrastruktur. Para penulis studi menyarankan agar tata kelola tingkat kampung dan praktik adat dipadukan dengan hukum daerah dan nasional, sembari menghormati warisan budaya dan pengetahuan ekologi lokal.
Kasuari bukanlah sekadar burung eksotis. Ia adalah penjaga hutan Papua, spesies kunci yang kehadirannya menjaga keseimbangan ekosistem yang telah terbentuk selama jutaan tahun. Ketika kasuari menghilang, bukan hanya satu spesies yang punah. Seluruh jaringan ekologis yang bergantung padanya ikut runtuh.
Referensi:
Anderson, S. E., Amir, Z., Bruce, T., & Luskin, M. S. (2025). Range-wide camera trapping for the Australian cassowary reveals habitat associations with rainfall and forest quality. Ecology and Evolution, 15(6), Article e71464. https://doi.org/10.1002/ece3.71464
Douglass, K., Gaffney, D., Feo, T. J., Bulathsinhala, P., Mack, A. L., Spitzer, M., & Summerhayes, G. R. (2021). Late Pleistocene/Early Holocene sites in the montane forests of New Guinea yield early record of cassowary hunting and egg harvesting. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(40), Article e2100117118. https://doi.org/10.1073/pnas.2100117118
Pattiselanno, F., Ziembicki, M., Nasi, R., & Krockenberger, A. (2024). Target, tool, tenure and timing: The four T’s limiting the impact of traditional hunting in Indonesian Papua. Frontiers in Conservation Science, 4, Article 1266321. https://doi.org/10.3389/fcosc.2023.1266321
*****
Pohon Keluarga Ini Menunjukkan Evolusi Cepat Burung Pasca Era Dinosaurus
