- Sebanyak 11 orangutan kalimantan yang berada di kandang evakuasi di Kilometer 38 Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menanti kembali ke Sekolah Hutan di Samboja yang di kelola Yayasan Jejak Pulang.
- Di kandang, orangutan tidak mendapat stimulasi yang biasa mereka peroleh di hutan. Ruang gerak mereka terbatas dan pakan hutan yang tersedia jauh lebih sedikit. Di hutan, mereka bebas bermain, berayun antarkanopi dan bergelantungan pada pohon.
- Sebelas orangutan ini adalah bagian dari program rehabilitasi Yayasan Jejak Pulang, lembaga yang berfokus merawat orangutan yatim piatu. Pusat rehabilitasinya berada di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
- Luas KHDTK sekitar 3.514 hektar yang 130 hektar digunakan sebagai Sekolah Hutan, tempat orangutan belajar hidup seperti di alam. Mereka belajar mencari pakan, memanjat, dan membuat sarang di pohon. Setiap orangutan didampingi penjaga yang merawat dan menemani mereka selama di hutan.
Lestari duduk di lantai kandang dengan kedua tangan memegang jeruji. Ia menatap ke arah pepohonan yang menjadi pagar alami kandang itu. Beberapa helai daun berserakan di dekat kakinya. Tidak banyak yang bisa ia lakukan di ruang sempit itu.
Orangutan betina usia 8,5 tahun ini biasa menghabiskan hari di Sekolah Hutan. Berayun dari satu pohon ke pohon lain, mencari pakan, dan bermain dengan sesamanya. Kini, geraknya dibatasi dinding dan jeruji.
Di kandang sebelah, Indra sadar ada yang merekamnya dan langsung mendekat ke arah kamera. Orangutan jantan usia 7,5 tahun itu berdiri di antara tumpukan dedaunan, menatap lurus dari balik tiang kandang. Sebagaimana Lestari, ia juga sedang berada jauh dari tempat yang biasa dikenalnya.
Lestari diselamatkan dari Sangatta, Kutai Timur. Indra berasal dari Bengalon, kabupaten yang sama. Keduanya adalah 2 dari 11 orangutan yang kini tinggal di kandang evakuasi di Kilometer 38 Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Siti Nur Badriyah, Kepala Departemen Orangutan Yayasan Jejak Pulang, mengatakan perilaku mereka berubah sejak dipindahkan. “Mereka tampak bosan di kandang,” jelasnya, Jumat (25/10/26).
Di kandang, orangutan tidak mendapat stimulasi yang biasa mereka peroleh di hutan. Ruang gerak mereka terbatas dan pakan hutan yang tersedia jauh lebih sedikit.
Di hutan, mereka bebas bermain, berayun antarkanopi dan bergelantungan pada pohon. Mereka juga bermain dengan memanfaatkan tumbuhan di hutan. Perawatan di kandang tidak bisa menggantikan itu semua itu.
“Di kandang, mereka hanya bisa mendapatkan perawatan maksimal, namun itu semua tidak cukup.”
Siti mengatakan, proses rehabilitasi tidak terhenti meski orangutan berada di kandang. Tim tetap memberikan kegiatan agar orangutan tetap bisa mengekspresikan perilaku yang biasa mereka lakukan di hutan.
Satu caranya adalah dengan membuat furnitur kandang, yakni perlengkapan yang meniru situasi hutan. “Biasanya mereka berayun melalui liana, kanopi. Jadi, kami pasang tali yang biasa mereka gunakan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.”
Sekolah Hutan di Samboja
Sebelas orangutan ini adalah bagian dari program rehabilitasi Yayasan Jejak Pulang, lembaga yang berfokus merawat orangutan yatim piatu. Pusat rehabilitasinya berada di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kawasan ini masuk wilayah delineasi IKN (ibu Kota Nusantara).
Luas KHDTK sekitar 3.514 hektar yang 130 hektar digunakan sebagai Sekolah Hutan, tempat orangutan belajar hidup seperti di alam. Mereka belajar mencari pakan, memanjat, dan membuat sarang di pohon. Setiap orangutan didampingi penjaga yang merawat dan menemani mereka selama di hutan.
Bagi orangutan yang diselamatkan sejak kecil dan tidak punya induk yang mengajari, sekolah hutan adalah tahap penting menuju kemandirian.
Sebelumnya, Pada Selasa (1/9/26), api muncul di areal penggunaan lain (APL) yang berbatasan langsung dengan KHDTK Samboja.
Rahmat Novirsal, General Manager Yayasan Jejak Pulang, mengatakan tim tidak menemukan tanda ancaman pada pagi hari. Patroli dilakukan tiga kali sehari. Pada pagi itu memang ada bara, tetapi belum mengancam.
Api mulai terlihat siang hari dan membesar. Tim berupaya memadamkan lebih dulu, tetapi angin kencang membuat upaya tersebut tidak cukup. “Angin sangat kencang,” jelasnya, Jumat (25/10/26).
Sekitar pukul 16.00 WITA, api masuk ke areal KHDTK. Tim Manggala Agni turun melakukan pemadaman dan api benar-benar padam sekitar pukul 18.30.
Di Departemen Orangutan, status emergensi diberlakukan. Penjaga diminta membawa orangutan keluar dari sekolah hutan. Sehari sebelumnya, mereka sudah diarahkan mendekat sungai, yang lebih dingin dan dekat pintu keluar sekolah hutan.
Sekitar dua jam setelah status emergensi berlaku, ke-11 orangutan sudah berada di kandang di Kilometer 38 Samboja. Kandang itu semula dipakai sebagai kandang karantina dan kini disebut kandang evakuasi.
Menurut Rahmat, evakuasi itu bukan keputusan mendadak. Kesiapsiagaan sudah dilakukan sejak 16 Juni, karena musim kering akibat El Nino diperkirakan panjang.
“Pada dasarnya ini adalah antisipasi dan hasilnya bergantung pada kesiapan maksimal, dan terbukti.”
Tetri Regilya, Dokter Hewan Yayasan Jejak Pulang, mengatakan semua orangutan dalam kondisi baik dan normal. Mereka masih dalam masa observasi yang berlangsung lebih dari satu hari. Belum ada gejala flu dan gangguan kesehatan berkaitan kebakaran hutan dan lahan.
“Kondisinya baik dan normal,” jelasnya.
M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, menyebut evakuasi sebagai pilihan paling tepat saat itu. Keputusan tersebut disepakati bersama pihak yayasan, dengan mempertimbangkan kesejahteraan dan keselamatan satwa, serta perkembangan rehabilitasi yang sudah berjalan.
“Ini yang kami apresiasi,” ujarnya, Rabu (30/9/26).
Ari mengatakan, pemantauan kondisi orangutan dilakukan secara ketat oleh tenaga medis, penjaga satwa, dan BKSDA. Dia mengakui ada keterbatasan sarana di kandang evakuasi.
“Meski begitu, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mereka sehat dan aman,” tegasnya.
*****