Mongabay.co.id

Cerita Para Perempuan Nelayan Karaka dari Kampung Atuka

  • Kampung Atuka, salah satu daerah penghasil karaka atau kepiting bakau di Papua Tengah. Para perempuan jadi garda terdepan sebagai penangkap karaka. Mama-mama mencari beragam biota laut, seperti ikan, kerang dengan karaka jadi target utama. Mereka turun ke pantai secara berkelompok. Hasilnya, mereka jual juga untuk pangan keluarga.
  • Karaka adalah salah satu komoditas ekspor andalan dari Papua Tengah. Data Balai Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan menunjukkan, periode Januari hingga Juni 2026, volume ekspor karaka dari Papua Tengah sudah mencapai mencari 661 ton.
  • Amatus Tamaweyau, tokoh Masyarakat Kampung Atuka mengatakan, pengetahuan merawat hutan sudah warisan turun-temurun masyarakat. Selain merawat hutan mangrove yang tumbuh alami, penting juga menanam mangrove.
  • Hamparan ekosistem mangrove di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Mimika menjadi rumah bagi tumbuh kembang karaka. Di Kampung Atuka, luas hutan mangrove mencapai 7.281,72 hektar.

Para perempuan menelusuri pantai Kampung Atuka, Papua Tengah, pagi itu.  Ada Mama Paulina Imiriyu, Mama Balbina Mapupia, Mama Oda Kurunumu, dan Mama Karolina Mamoyao.

Mereka sudah ada di ujung barat kampung, bersiap menelusuri tepian pantai mencari karaka dan biota lain, 28 Agustus lalu.

Noken berisi kapak, parang, dan gae-gae, besi panjang dengan gagang kayu. Hari itu mereka mencari karaka di Waukatiri, pulau yang biasa warga sebut kampus biru.

“Pulau-pulau seperti kampus biru itu karaka banyak. Kalau di atas dekat mangi-mangi kurang,” kata Mama Balbina.

Perahu melaju menyusuri sungai. Dengan kampung berkeliling hutan mangrove, sungai sudah seperti jalan raya bagi orang Atuka. Ia penghubung ke tempat-tempat penting di luar kampung, ke kota, kebun-kebun yang jauh, atau ke hutan mencari karaka.

Sisi kiri dan kanan, hutan mangrove rapat tegak berdiri. Sesekali burung-burung bertengger di dahan-dahan yang menjulur ke arah badan sungai.

Batas tertinggi permukaan sungai membentuk garis di sepanjang akar mangrove. Air sedang surut. Air surut merupakan waktu bagi para perempuan di kampung untuk mencari karaka.

Di dalam perahu, keempat mama duduk dengan sabar. Sesekali melempar percakapan di antara mereka, menaikkan suara karena harus berlomba dengan bunyi mesin perahu. Kampus biru mereka tempuh kurang lebih satu jam.

Meski perjalanan mencari karaka secara berkelompok, menangkapnya mereka lakukan masing-masing. Dari tepi hutan, keempatnya menyebar, mengambil jarak satu sama lain, dan mulai mencari karaka yang bersembunyi dalam lubang-lubang tanah di antara akar-akar mangrove.

Karaka bakau dengan nama latin Scylla sp. adalah biota penting bagi kelangsungan ekosistem mangrove, antara lain aktivitas bioturbasi mereka.

Menurut buku Wildan, D. M., Yulianto, G., Kurniawan, F, Ervinia, A., Aida, G. R., & Pramithasari, berjudul “Fungsi Ekologis Kepiting Bakau (Scylla sp.) di Ekosistem Mangrove”, bioturbasi merupakan aktivitas karaka menggali lubang, memakan tanah dan mengeluarkan kembali membantu oksigen masuk ke tanah hutan mangrove yang pekat dan minim oksigen.

Lubang-lubang ini juga menjadi habitat-habitat kecil di dalam mangrove tempat udang, ikan berkembang biak, maupun bakteri yang tumbuhan serap.

“Kita tahu mereka ada di dalam, lihat dari bekas kaki. Ada bekas kaki ini berarti dia ada masuk. Lalu mama kore begini,” kata Paulina menunjukkan bekas kaki karaka dan memasukkan ujung besi ke dalam lubang.

Hutan mangrove rapat di Kampung Atuka. Foto: Asrida Elisabeth/Mongabay Indonesia

Seketika bunyi ujung besi beradu dengan cangkang karaka. Paulina terus menggerakkan besi mengikuti posisi karaka.

Karaka  muncul di permukaan. Paulina pun pelan-pelan melipat capit karaka dan mengangkatnya keluar.

“Jadi kita tidak bisa kasi masuk tangan langsung. Itu bahaya.”

Mama-mama ambil karaka dengan hati-hati. Capit yang patah atau tubuh karaka luka bisa mengurangi nilai jual. Pelan-pelan Karaka hasil tangkapan mereka bungkus, dan ikat dengan daun mangrove, lalu simpan dalam noken.

Proses mengambil karaka tidak selalu mulus. Karaka bisa  bersembunyi lebih jauh ke dalam lubang. Waktu mengeluarkan dari lubang bisa lebih panjang, tak jarang mama-mama gagal mendapatkannya.

Sembari menyusuri hutan mangrove, mama-mama ini sesekali mengambil kerang-kerang yang menempel di akar mangrove. Meski mencari karaka adalah tujuan utama, kerang-kerang ini juga jadi pangan pesisir.

“Saya dapat karaka besar tiga dan karaka kecil lagi. Siput yang banyak,”  kata Balbina.

Mama Oda berbicara sambil mengingat keluarga di rumah.

“Dapat karaka, dapat siput, bisa pulang masak dan makan dengan keluarga.”

Sementara  Carolina akan menjual karake ke pengepul. “Saya dapat karaka, bia panjang, bia bulat. Sebentar saya akan bawa karaka ke Moses.”  Moses adalah nama salah satu pengepul karaka di Kampung Atuka.

Kepiting bakau atau karaka dari Kampung Atuka. Nelayan perempuan jadi motor utama Atuka sebagai salah satu daerah penghasil kepiting bakau di Papua Tengah. Foto: Asrida Elisabeth/Mongabay Indonesia

Perputaran ekonomi karaka di Kampung Atuka

Kampung Atuka terletak di pesisir selatan Papua. Kampung ini adalah pusat Distrik Mimika Tengah,  Kabupaten Mimika yang kini menjadi Papua Tengah.

Dari Kota Timika, ke kampung dengan 1.411 jiwa ini kurang lebih tiga jam gunakan mobil dan perahu.

Masyarakat Suku Kamoro yang mendiami kampung ini terdiri dari tiga klan atau taparau, yaitu, Barkimara, Amautiri, dan Bukuruwe.

Hamparan mangrove yang mengelilingi kampung menjadi rumah bagi berbagai berbagai jenis biota termasuk bahan pangan seperti karaka.

Tiap hari para perempuan mencari karaka. Mereka hanya berhenti saat air sedang pasang.

“Kalau nasib bisa 10 ada, 12 ada. Kalau kurang bisa dapat hanya empat atau enam [karaka].  Kalau air meti (surut) bisa dapat lumayan. Bisa dapat sampai 20 [karaka],” kata Balbina.

Perempuan-perempuan di Kampung Atuka  mencari karaka di pulau-pulau sekitar kampung, dari satu pulau berpindah ke pulau lain jika belum banyak hasil.

Sembari mengumpulkan karaka, mereka juga mengumpulkan bahan makanan lain seperti kerang dan tambelo atau ulat bakau.

Sepulang dari hutan mencari karaka, mereka biasa ke rumah membersihkan diri dan beristirahat sebelum ke pengepul.

 Balbina mengatakan, pernah mendapat sampai Rp500.000. Sebagian uang biasa dia pakai untuk membeli kebutuhan rumah langsung di kios pengepul, sebagian dia simpan.

Meski tiap hari mencari dan menjual karaka, perempuan-perempuan di Kampung Atuka tak banyak tahu soal perkembangan harga.

Informasi harga sepenuhnya mereka dapat dari pengepul. “Biasa pengusaha kasi tahu. Ibu-ibu karaka harga sudah naik. Jadi ibu-ibu mau cari pilih yang besar-besar saja.”

Di hari lain, pengepul akan meminta berhenti mencari karaka karena pengepul harus pergi ke kota.

Dominikus Karel Widodo,  pengepul di Kampung Atuka mengatakan, perdagangan karaka di situ sudah sejak 1994/1995.

Saat itu dia membeli karaka dari kampung dan menjual ke pasar di Kota Timika. Dalam sehari mereka bisa mengumpulkan hingga 3.000 karaka.

“Itu ibu-ibu di Kampung Atuka saja. Satu hari beli langsung penuh. Paling sedikit 30-40 karung 50 kilogram kami dapat.”


Pada tahun-tahun itu, dia mulai kenal dengan pembeli karaka dari Taiwan, yang tidak hanya memberi modal, juga melatih cara mengikat karaka.

Karaka yang dia bungkus dengan daun dan tali hutan oleh mama-mama biasa dilepas dan diikat dengan teknik baru gunakan tali rafia.

Domi juga membeli ikan, udang, hingga sapu lidi dari warga. Sebagai pengepul, Domi juga berganti-ganti jaringan bisnis karaka. Dia pernah harus berganti rekan bisnis karena tertipu harga.

Sekitar 2000-an, pengepul mulai masuk ke kampung-kampung di pesisir Mimika, saat harga karaka terus naik.

Di Atuka saja saat ini ada empat pengepul. Seperti Domi, mereka juga membeli hasil laut lain dan mengelola kios yang menjual bahan pokok warga.

Saat ini,  pengepul di Atuka membuat semacam perjanjian dengan nelayan. Pengepul menyediakan bahan bakar sekitar 15 liter jika dekat atau 30 liter untuk perahu. Sebagai gantinya, seluruh hasil karaka wajib jual kepada pengepul penyedia bahan bakar.

Sistem ini dia anggap merugikan pengepul. Pasalnya, beberapa waktu terakhir para pengepul kesulitan mendapatkan bahan bakar. Di Timika, bahan bakar beli gunakan barcode dan perlu antri.

“BBM sudah dapat, terus nelayan dikasi gratis.”

Ada juga pemilik perahu pakai sebagian bahan bakar untuk jual kembali.

Domi pun memutuskan berhenti membeli karaka. Sudah dua bulan warga tak lagi menjual karaka ke tempatnya.

Ketergantungan pada perahu motor adalah salah satu perubahan yang Domi saksikan di Kampung Atuka.

Dulu,  tiap rumah memiliki perahu dayung buatan sendiri maupun mesin ketinting. Biaya produksi bisa lebih rendah.

Banyaknya bantuan perahu motor pemerintah membuat kebudayaan membuat perahu pelan-pelan hilang. Mencari karaka pun perlu perahu besar dengan biaya bahan bakar besar pula.

Bagi perempuan-perempuan di Kampung Atuka, ketika perahu motor sulit,  mereka tetap bergerak ke dusun-dusun mencari karaka.

Mereka bisa menuju kampus biru, pulang pergi berjalan kaki menyusuri pinggiran pantai.

Mama-mama Papua, nelayan karaka di Kampung Atuka. Foto: Asrida Elisabeht/Mongabay Indonesia

Sampai ke pasar ekspor

Karaka adalah komoditas ekspor paling besar dari Papua Tengah. Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah menunjukkan, periode Januari-Juni 2026, volume ekspor karaka mencari 661.843 kg atau sekitar 56,6% dari dua komoditas lain, yaitu bawal 272.640 kg (23,3%) dan kakap 237.860 kg (20,2%).

“Berarti kalau hitung rata-ratanya bisa sampai tiga ton per hari,” kata Anton Panji Mahendra, Kepala Balai Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah.

Ekspor karaka dari Papua Tengah masih melalui pintu Makassar dan Jakarta.  Ada dua negara yang jadi tujuan ekspor langsung dari Mimika yaitu Singapura dan Malaysia.

Negara lain yang berpotensi jadi pasar ekspor langsung kepiting dari Papua Tengah adalah China. Ekspor ke China bisa 4-6 ton, dan pada masa Imlek, perdagangan karaka dari Mimika bisa mencapai 9 ton per hari.

“Kita coba progres pengembangan dengan China dengan cara melakukan pendaftaran unit usaha atau instalasi yang kita ajukan ke Pemerintah China.”

Adapun tugas Balai Karantina adalah memastikan karaka bebas dari penyakit dan proses sesuai standar. Tujuannya, agar tidak mengalami risiko penolakan, termasuk memastikan ukuran sesuai permintaan negara tujuan.

“Biasanya kami sertifikasi tempat instalasi dengan sertifikasi karantina ikan yang baik. Proses di instalasi dilakukan pemeriksaan dan monitoring sebulan sekali.”

Anton mengatakan, karaka ekspor ini sebagian besar berasal dari pesisir Mimika. Sepanjang garis pantai selatan Papua Tengah ini penghasil kepiting karena memiliki hutan mangrove.

Meski sumber daya besar, kata Anton, biaya produksi masih tinggi karena  jalur distribusi panjang daripada di wilayah Indonesia Tengah atau Barat.

“Mereka punya penerbangan langsung. Kita belum, masih ada transit ke Makassar atau Jakarta.”

Warga Kampung Atuka, hidup bergantung mangrove sekaligus penjaga ekosistem mangrove turun menurun. Foto: Asrida Elisabeth/Mongabay Indonesia

 Penjaga ekosistem mangrove

Anton juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem mangrove, menghormati  kearifan masyarakat yang menjaganya turun temurun dan memastikan kesejahteraan mereka.

“Kalau ekosistem hutan bakau terjaga, feedback-nya hasil alam itu. Kita harus menghargai kearifan lokal juga karena mereka yang punya wilayah, punya adat, mereka yang punya potensi. Makanya mereka yang harus menikmati.”

Di Kampung Atuka, luas hutan mangrove mencapai  7.281,72 hektar dari hasil pemetaan wilayah kelola Kampung Atuka oleh masyarakat bersama Blue Forest, lembaga yang fokus pada penguatan masyarakat adat dan konservasi di pesisir di Mimika.

Rofin Daton, Koordinator Blue Forest wilayah Mimika-Asmat mengatakan, hamparan hutan mangrove yang terjaga di wilayah ini adalah bukti nyata bagaimana kearifan masyarakat adat dalam mengelola hutan selama berabad-abad.

“Mangrove bagus ini dari dulu sampai sekarang siapa yang jaga? Masyarakat.”

Pemetaan ini juga mendokumentasikan keanekaragaman hayati di wilayah Atuka. Data Blue Forest menunjukkan,  ada 28 jenis mangrove sejati di wilayah ini.

Dari empat jenis kepiting bakau di Indonesia, dua ada di Atauka yaitu,  Scylla olivacea dan Scylla Serrata.

Amatus Tamaweyau, tokoh Masyarakat Kampung Atuka mengatakan, pengetahuan merawat hutan sudah warisan turun-temurun masyarakat.

Mereka punya pengetahuan tentang kapan tumbuhan seperti sagu atau kayu perahu layak tebang. Warga juga tidak bisa menebang sembarang pohon-pohon mangrove.

“Kalau sudah tua tumbang bisa jadi kayu bakar. Kalau busuk bisa jadi tambelo dan dimakan. Orang sakit kalau makan, sembuh.”

Selain merawat hutan mangrove yang tumbuh alami, kata Amatus, penting menanam mangrove. Pulau-pulau yang terbentuk dari proses sedimentasi di sekitar kampung harus mereka tanami mangrove. Pada 2014, Amatus Dinas Kehutanan Kabupaten Mimika percayakan memimpin kelompok menanam ribuan pohon mangrove di Atuka.

Hasilnya, pulau di sebelah barat Kampung Atuka sudah jadi hutan mangrove dan sumber makanan termasuk karaka.

Konon mangrove di pulau-pulau lebih banyak karaka karena karaka betina cenderung menyukai mangrove dengan tingkat kadar garam tinggi.

Amatus berharap, dua wilayah lain yang masih kosong yaitu Weyataweyau  dan Kinimirimu bisa segera mereka tanami mangrove.

“Itu harus tanam karena manfaatnya ada. Kalau air naik berarti simpan ikan, udang. Kalau kering simpan siput, karaka. Hewan lain juga banyak di situ seperti kuskus, kelelawar, biawak. Burung pun ada di situ. Kalau dibiarkan saja, tidak ada kehidupan. Kosong.”

Di Atuka, hutan mangrove adalah penyedia kehidupan tempat perempuan-perempuan bekerja keras untuk menopang keluarganya.

Sebagaimana kata Balbina, tidak ada kata berhenti keluar masuk hutan mangrove. “Tiap hari. Ingat anak-anak ini untuk mereka punya uang jajan, uang sekolah. Jadi tiap hari.”

Para perempuan Kampuang Atuka, bersiap mencari karaka di ekosistem mangrover. Foto: Arida Elisabeth/Mongabay Indonesia

 

*****

 

Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman

Exit mobile version