Mongabay.co.id

Burung Migran Tak Lagi Singgah di Pesisir Tibang

  • Kawasan pesisir Banca Aceh, Aceh, dengan ekosistem mangrovenya merupakan lokasi singgah burung migran. Kini, semua berubah. Ekosistem mangrove beralih fungsi jadi beragam kepentingan dari pemukiman hingga berbagai infrastruktur.
  • Pesisir timur Aceh yang membentang dari Aceh Tamiang hingga Banda Aceh merupakan titik krusial bagi burung-burung pantai (shorebird) migran dunia. Karakteristik geografis yang datar, berlumpur, kaya hutan mangrove serta berhadapan langsung dengan Selat Malaka menjadikan habitat yang tak tergantikan dalam jalur migrasi internasional.
  • Heri Tarmizi, peneliti burung migran Aceh mengatakan, di atas lumpur itu burung-burung mencari cacing laut dan krustasea (udang-udangan) kecil guna mengisi cadangan lemak tubuh sebelum kembali terbang jauh ke negara tempat mereka berbiak. Tanpa energi yang cukup dari pesisir Aceh, perjalanan ribuan kilometer menuju belahan bumi lain bisa berakhir dengan kematian di tengah udara.
  • Insyafrizal, Kepala bidang Fungsional Konservasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Aceh, akui degradasi pantai terjadi hampir di seluruh Aceh, dengan dampak paling terlihat di pesisir Banda Aceh. Ada dua faktor penyebab degradasi wilayah pesisir, yaitu, perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Pagi itu, Zakaria berkali-kali melemparkan jala ke permukaan air yang keruh. Selang beberapa menit, dia menarik tali perlahan, jala terangkat. Hanya tiga ikan tersangkut di sela-selanya.

“Sekarang susah dapat ikan,” katanya, Juni lalu.

Pria 73 tahun ini, nelayan yang lebih dari 20 tahun menangkap ikan secara tradisional di sekitar pesisir Tibang, Banda Aceh.

Pesisir Tibang masih menyisakan lumpur, mangrove, dan aliran sungai tetapi kondisi tak seperti dulu. Lumpur, rawa, dan hutan mangrove yang dulu luas, kini menjadi permukiman, jalan, dan infrastruktur penunjang ekonomi lainnya.

Dalam satu dekade terakhir, wajah pesisir Banda Aceh bergeser dalam kecepatan yang mencemaskan. Zakaria menyaksikan bagaimana bentang pesisir berubah perlahan.

Dia tahu perubahan arus, pasang surut, hingga titik-titik tempat ikan berkumpul kini telah berubah. Di beberapa sudut, tambak-tambak tua pun mulai ditinggalkan.

Deretan rumah dan kompleks perumahan baru berdiri makin dekat dengan pesisir. “Di sini dulu banyak kali burung, sekarang semua sudah kurang,” ujar Zakaria.

Kondisi pesisir sekarang dengan 20 lalu tidak lagi sama. Ikan makin sulit. Sebagian tambak tiram juga warga tinggalkan karena produksi terus menurun.

Saat air surut, hamparan lumpur terbuka di sepanjang muara. Lumpur berwarna cokelat kehitaman membentang di antara akar-akar mangrove, saluran tambak, dan tepian sungai yang mengarah ke Selat Malaka.

Dulu, katanya, lumpur itu selalu ramai dengan burung. Dia tidak mengenal jenis spesiesnya, tetapi ingat bagaimana kawanan burung datang saat air surut, berjalan cepat di atas lumpur sambil sesekali mematuk sesuatu di permukaan.

Kini, suara burung-burung pun redup berganti deru kendaraan.

Kawasan perumahan berdiri berdampingan dengan vegetasi mangrove di Gampong Tibang, Syiahkuala, Banda Aceh, 15 Juni 2026. Ekspansi pembangunan permukiman di kawasan pesisir mengubah lanskap alami yang sebelumnya didominasi mangrive dan lahan basah, seiring mneingkatnya kebutuhan ruang hunian di perkotaan. Foto: Riska Munawarah untuk Mongabay Indonesia

Persinggahan burung migran

Pesisir timur Aceh yang membentang dari Aceh Tamiang hingga Banda Aceh merupakan titik krusial bagi burung-burung pantai (shorebird) migran dunia.

Karakteristik geografis yang datar, berlumpur, kaya hutan mangrove serta berhadapan langsung dengan Selat Malaka menjadikan habitat yang tak tergantikan dalam jalur migrasi internasional.

“Banda Aceh dan Aceh Besar berada di ujung Pulau Sumatera hingga menjadi lokasi penting bagi burung migran,” kata Heri Tarmizi, peneliti burung migran Aceh, Juni lalu.

Dia mengatakan,  di atas lumpur itu burung-burung mencari cacing laut dan krustasea (udang-udangan) kecil guna mengisi cadangan lemak tubuh sebelum kembali terbang jauh ke negara tempat mereka berbiak.

Tanpa energi yang cukup dari pesisir Aceh, perjalanan ribuan kilometer menuju belahan bumi lain bisa berakhir dengan kematian di tengah udara.

Kawasan itu, katanya, berfungsi sebagai tempat beristirahat (resting site), mencari makan (feeding site), dan tempat transit untuk mengisi energi sebelum lanjut migrasi.

Umumnya, burung migran yang singgah di pesisir pantai timur Aceh datang dari wilayah beriklim dingin di Asia Timur dan Siberia.

Mereka bergerak mengikuti jalur penerbangan global yang dikenal sebagai East Asian-Australian Flyway. Setelah terbang jauh berhari-hari, burung-burung ini singgah untuk beristirahat dan mengisi energi sebelum lanjut perjalanan panjang mereka.

Namun, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, jam biologis itu kacau, sebagian mereka tak pernah lagi kembali ke pesisir Aceh.

Ilustrasi. Burung cerek krenyut  yang masih terlihat di pesisir Tibang. Burung ini ketika dijumpai seringkali berpasangan ataupun berkelompok. Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia.

Lanskap pesisir Aceh yang menjadi tempat krusial penopang hidup itu perlahan-lahan mulai berubah fungsi.

“Burung bisa mati karena tidak cukup makanan dan tidak memiliki tempat beristirahat.”

Heri sudah meneliti burung migran selama 17 tahun, mengenang bagaimana Lampulo dahulu menjadi salah satu surga transit bagi burung-burung dunia.

“Sebelum pembangunan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Lampulo dan berbagai penimbunan lahan, kawasan Lampulo merupakan lokasi penting bagi burung migran.”

Setelah ada TPI dan kawasan penimbunan pesisir, banyak spesies burung tidak ada lagi. Yang tersisa hanya beberapa spesies saja dan jumlah jauh berkurang. Sekarang sekitar empat spesies masih terlihat, seperti trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir Tibet, dan trinil pembalik batu.

Jumlah keempat spesies itu, kata Heri, jauh berkurang. Dahulu, dia bisa menemukan 2.000-an, sekarang mungkin hanya 100-an burung.

Burung migran, katanya,  mewariskan DNA navigasi yang sama. Mereka akan bermigrasi ke jalur yang sama. Ketika tempat migrasi itu berubah, mereka perlu waktu terbang lebih lama untuk mencari tempat migrasi baru.

“Secara global, salah satu tekanan terbesar terhadap burung migran adalah kehilangan habitat di wilayah persinggahan mereka selama musim migrasi,”  katanya.

Perubahan lanskap pesisir Tibang menjadi kawasan perumahan terlihat dari atas jembatan di Banda Aceh, Aceh, 15 Juni 2026. Ekspansi pembangunan permukiman dikawasan pesisir mengubah lanskap alami yang sebelumnya didominasi mangrive dan lahan basah, seiring mneingkatnya kebutuhan ruang hunian di perkotaan. Foto: Riska Munawarah untuk Mongabay Indonesia

Pesisir Aceh terdegradasi

Hilangnya burung-burung ini adalah sinyal keras bagi manusia. Burung pantai bertindak sebagai spesies indikator. Ketika mereka tak lagi datang, itu sinyal awal bahwa fungsi ekologis pesisir sedang mengalami degradasi.

Insyafrizal,  Kepala bidang Fungsional Konservasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Aceh, akui degradasi pantai terjadi hampir di seluruh Aceh, dengan dampak paling terlihat di pesisir Banda Aceh.

“Banda Aceh paling jelas karena pertumbuhan penduduk dan permukiman pesisir lebih tinggi dibanding daerah lain,” katanya, Juni lalu.

Dia bilang, ada dua faktor penyebab degradasi wilayah pesisir, yaitu, perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Alih fungsi lahan untuk permukiman dan aktivitas komersial, katanya,  memaksa area yang seharusnya menjadi zona penyangga alami hilang.

Heri pun menambahkan, ancaman tak hanya datang dari darat, juga dari perubahan iklim makro. Pola migrasi burung yang selama berabad-abad konsisten, kini mulai menunjukkan anomali.

“Sekarang ada spesies yang terlambat bermigrasi sekitar satu minggu atau bahkan lebih,” katanya.

Dia bahkan mendapati beberapa spesies masih bertahan di pesisir Aceh hingga Juni, padahal normalnya mereka sudah harus kembali ke wilayah berbiak di belahan bumi utara pada Mei.

Selain mengacaukan navigasi waktu, peningkatan suhu bumi turut memukul ketersediaan pangan mereka. Cacing laut, sumber protein utama bagi burung pantai, mulai sulit karena perubahan kondisi lingkungan lumpur dan naiknya suhu air laut pesisir.

Semua jenis burung pantai (shorebird), kata Heri,  rentan perubahan iklim. Perbedaannya,  hanya pada tingkat ketahanan masing-masing spesies.

Insyafrizal bilang, pola iklim sudah berubah. “Kalau dulu enam bulan musim hujan, enam bulan kemarau, sekarang prediksi makin sulit,” katanya.

Cuaca ekstrem dan tak menentu ini akhirnya merusak ritme gelombang, pasang surut, hingga tatanan ekosistem laut lepas. Lanskap kehidupan berubah, baik di darat maupun di air.

Dia bilang, sudah upayakan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) hingga restorasi hutan mangrove.

Di kawasan Pelabuhan Lampulo, misal, sebagian lahan kini jadi Mangrove Park dengan harapan bisa mengembalikan habitat satwa yang hilang.

“Kami mengalokasikan lebih 10% kawasan pelabuhan sebagai ruang terbuka hijau. Salah satu tujuannya mempertahankan habitat, termasuk habitat burung yang selama ini kehilangan tempat hidup akibat kerusakan ekosistem,” ujar Insyafrizal.

Rehabilitasi mangrove juga Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, lakukan di beberapa lokasi seperti Aceh Besar, Lepung, Aceh Jaya, Aceh Tamiang, Simeulue, dan lain-lain.

Dinas juga meninjau kembali peruntukan zonasi agar sesuai kondisi perubahan. “Tujuan restorasi ini adalah mengembalikan habitat mangrove sekaligus memperkuat fungsi mitigasi pesisir,” kata Insyafrizal.

 

*****

 

Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?

 

Exit mobile version