- Kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini kembali muncul. Sejauh ini ada 11 kasus.
- Satu dugaan yang kukang tersengat listrik adalah karena krisis iklim, termasuk fenomena El Nino. Iklim yang berubah mempengaruhi kondisi hutan, termasuk ketersediaan buah yang menjadi sumber pakan kukang.
- Perubahan hutan bisa mempengaruhi ketersediaan pakan kukang. Namun, hubungan antara krisis iklim dengan kasus kukang tersengat listrik tidak dilihat sebagai hubungan sebab-akibat tunggal.
- Alih fungsi hutan jadi permukiman, kebun, jalan, maupun kawasan lain membuat jalur alami kukang terputus. Pepohonan yang mulanya berdekatan sehingga memungkinkan kukang berpindah dari satu tajuk ke tajuk lain, kini berjarak jauh. Dalam kondisi itu, kabel listrik bisa jadi penghubung alternatif.
Apakah ada kaitannya kasus kukang tersengat listrik dengan krisis iklim yang terjadi saat ini?
Indri Saptorini, Dokter Hewan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), mengatakan kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini kembali muncul.
“Kami sempat membahas fenomena ini secara internal. Satu dugaan yang muncul adalah karena krisis iklim, termasuk fenomena El Nino. Iklim yang berubah mempengaruhi kondisi hutan, termasuk ketersediaan buah yang menjadi sumber pakan kukang,” jelasnya, Senin (21/9/26).
Kukang satwa arboreal, sebagian besar aktivitasnya berlangsung di pepohonan. Primata ini punya kemampuan bergerak dari satu pohon ke pohon dan sangat jarang turun ke permukaan tanah.
Saat sumber makanan di hutan berkurang, pilihan satwa dilindungi ini jadi tidak sederhana.
Dugaannya, kondisi iklim yang lebih panas, termasuk saat El Nino, bisa mempengaruhi musim berbuah tumbuhan di hutan. Saat buah-buahan hutan gagal berproduksi seperti biasa, kukang diduga terdorong keluar dari habitatnya untuk mencari sumber pakan lain.
“Mereka keluar dari hutan, melewati kabel-kabel listrik untuk cari makan.”
Kukang memang bisa bergerak di pepohonan, namun lanskap di luar hutan tidak selalu ada jalur alami berupa tajuk pohon yang terhubung. Di kawasan terfragmentasi jalan, permukiman, perkebunan, maupun infrastruktur manusia, kabel listrik jadi jalur yang dilalui kukang.
“Kabel listrik akhirnya jadi semacam jembatan buatan bagi kukang yang pindah. Namun, jalur tersebut punya risiko mematikan.”
Luka sengatan listrik
Indri menjelaskan, untuk kasus kukang yang tersengat listrik, masa pemulihan terlama yang pernah dia tangani mencapai 10 bulan. Ini hanya untuk memastikan luka bekas sengatan dan amputasi sembuh.
“Setelah luka fisik pulih, proses belum selesai.”
Tingkat keparahan luka juga beragam, mulai luka bakar ringan hingga kerusakan jaringan parah.
Pada kasus berat, sengatan listrik bisa membakar jaringan tubuh hingga tulang terlihat. Matanya juga bisa mengalami kerusakan serius. Tidak semua individu yang mengalami kondisi demikian mampu bertahan.
“Korban sengatan listrik jadi kasus paling menantang dalam rehabilitasi kukang.”
Tahun ini, IAR menerima 11 kukang korban sengatan listrik. Tiga di antaranya mati akibat luka bakar parah.
“Semacam ada kenaikan kejadian,” terang Indri.
Krisis iklim bukan satu-satunya jawaban
Pandangan serupa sekaligus memperkaya penjelasan fenomena tersebut disampaikan Wirdateti, peneliti kukang yang merupakan pensiunan Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Wirdateti, perubahan hutan bisa mempengaruhi ketersediaan pakan kukang. Namun, dia mengingatkan agar hubungan antara krisis iklim dengan kasus kukang tersengat listrik tidak dilihat sebagai hubungan sebab-akibat tunggal.
“Kondisi iklim itu mempengaruhi, tetapi tidak signifikan,” jelasnya, Rabu (23/9/26).
Dia mencontohkan, perubahan musim bisa mempengaruhi tumbuhan berbuah. Saat pohon seperti rambutan tidak menghasilkan buah, kondisi tersebut juga berdampak pada serangga yang berkaitan dengan proses penyerbukan.
Berkurangnya serangga dan buah berkaitan erat dengan sumber makanan kukang.
Kukang tak hanya makan buah, namun juga serangga dan getah. Habitat yang berupa hutan sekunder maupun kebun dengan banyak pohon buah bisa jadi tempat penting bagi kukang.
Saat ditanya faktor utama yang menyebabkan kukang berjalan di kabel listrik, Wirdateti menunjuk persoalan lebih mendasar. Kehilangan habitat akibat perubahan penggunaan lahan.
“Rumahnya terganggu.”
Alih fungsi hutan jadi permukiman, kebun, jalan, maupun kawasan lain membuat jalur alami kukang terputus. Pepohonan yang mulanya berdekatan sehingga memungkinkan kukang berpindah dari satu tajuk ke tajuk lain, kini berjarak jauh.
Dalam kondisi itu, kabel listrik bisa jadi penghubung alternatif.
Dia menilai, solusi tak cukup hanya dengan memindahkan kukang yang ditemukan di sekitar kabel listrik. Perlu ada upaya menjaga atau memulihkan konektivitas habitat.
Salah satu pendekatan yang pernah dilakukan, yaitu memasang jembatan buatan berupa pipa atau tali yang menghubungkan pepohonan. Di Cipaganti, Garut, misalnya, pipa air pernah digunakan sebagai jalur penghubung agar kukang tidak perlu turun ke tanah atau menggunakan kabel listrik.
*****