- Kemarau panjang picu krisis air di wilayah pegunungan Tidore. Warga Gurabunga dan Kalaodi harus berjalan naik-turun bukit hingga sekitar satu kilometer untuk mendapatkan air. Mata air dan bak penampungan hujan yang menjadi sumber utama mulai mengering, sementara distribusi PDAM dan BPBD belum mampu menjangkau seluruh permukiman di daerah berketinggian.
- Beban perempuan dan kehidupan sehari-hari warga semakin berat. Kelangkaan air membuat warga harus menghemat air untuk kebutuhan paling mendesak seperti minum dan memasak. Perempuan menghadapi beban berlapis karena tetap harus menyediakan air, memasak, mencuci, dan mengurus keluarga, sementara sebagian warga harus mencari lokasi lain untuk mandi dan mencuci.
- Krisis air mengancam perkebunan dan mata pencaharian petani. Kekeringan tidak hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mengancam puluhan hektare perkebunan cengkih dan pala yang sebagian pohonnya mulai mengering. Petani bahkan terpaksa membiarkan lahan sayuran tidak ditanami karena tidak tersedia air untuk menyiram tanaman.
- Krisis lebih parah terjadi di Pulau Dowora yang minim sumber air. Warga pulau kecil di Halmahera Selatan bahkan harus menggali tanah di pesisir untuk mendapatkan air melalui infiltrasi air laut atau pergi ke daratan utama untuk mengambil air. Pemerintah berencana mengidentifikasi sumber air tanah dan mengupayakan sumur bor serta pengiriman air menggunakan kapal tangki.
Kemarau panjang membuat warga di Kelurahan Gurabunga, Tidore, Maluku Utara (Malut) kelimpungan. Hajar Ibrahim dan Maryam Jafar misalnya. Mereka harus naik turun bukit untuk mendapatkan air bersih.
Membawa keranjang berisi jeriken berukuran 20 liter, mereka berjalan kaki sepanjang satu kilometer menuju Ake Goa, satu-satunya mata air tersisa saat kemarau seperti sekarang ini.
“Mau bagaimana, air ini kebutuhan utama jadi biar susah harus torang ambil. Kalau trada torang mau mandi pake apa,” terang Maryam.
Selama ini, air bersih memang menjadi persoalan bagi warga di Gurabunga. Untuk keperluan sehari-hari, warga kerap memanfaatkan air hujan yang mereka tampung di kolam penampungan sekitar rumah. Namun, kemarau panjang membuat bak penampungan berukuran 4×5 meter itu nyaris kosong.
Praktis, kini warga hanya mengandalkan pasokan air dari Ake Goa, meski belakangan debitnya terus menurun. Itu pun, mereka harus antre hingga berjam-jam. “Jika sebelumnya kita ambil air di sini –Ake Goa, tidak perlu antri, sekarang warga harus antri,” kata Nurlaila Mahmud saat Mongabay temui di lokasi.
Menurut dia, krisis air yang terjadi memaksa warga untuk lebih berhemat karena persediaan yang kian menipis. Air dari Ake Goa hanya warga gunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti memasak. Untuk mencuci pakaian, mereka ke rumah kerabat yang memiliki pasokan melimpah.
Bagi Nurlaila, kemarau seperti ini membuat beban perempuan semakin berat. Selain, menyediakan air bersih, juga harus memasak maupun mengurus anak, keluarga dan mencuci.
“Saat kemarau seperti sekarang torang (kita, red) harus saling membantu terutama dengan suami.”
Pemerintah melalui PDAM dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memang mendistribusikan air kepada warga. Namun, jumlahnya sangat terbatas, masing-masing rumah hanya mendapat jatah dua galon.
Masalah lainnya, selain kondisi permukiman yang menyebar, Gurabunga berada di dataran tinggi, lebih dari 800 meter di atas permukaan laut (MDPL). Dengan begitu, tak semua rumah warga bisa terjangkau mobil tangki.
Cengkih-pala mati
Krisis air bersih tidak hanya menjadikan kehidupan warga di Gurabunga kesulitan. Kebun-kebun warga yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka, seperti pala dan cengkih juga terancam mati karena kekurangan air.
Sebagian petani membiarkan lahan sayur mereka mangkrak karena pasokan air yang benar-benar tak ada. “Tidak bisa pula tanam sayur, air tidak ada,” kata Nurlaila.
Kondisi tak lebih baik juga warga Kelurahan Kalaodi, Tidore Timur alami. Desa ini berjarak sekitar 10,5 kilometer dari Gurabunga, yang sama-sama berada di punggung gunung. Selain menyebabkan 510 jiwa penduduk terdampak, krisis air yang terjadi juga sebabkan sebagian tanaman perkebunan warga mati.
Samsudin Ali, warga Kalaode menyebut, kemarau kali ini merupakan yang terparah ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Betapa tidak, sudah lebih dari 30 tahun dia manfaatkan bak penampungan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Baru kali ini, kolam berukuran 3,5×4 meter benar-benar kosong.
“Benar-benar mengering. Lebih dari empat bulan ini tak ada setetespun hujan turun.’
Seperti halnya di Gurabunga, menurut Samsudin, warga harus naik turun bukit untuk mendapatkan air bersih.
“Kampung kita di atas sementara ada sumber air ada di bawah itu yang bikin susah kita ambil atau tarik pakai alat.”
Kelurahan ini punya empat lingkungan, yakni, Dola (atau Fola), sebagai pusat pemerintahan kelurahan; Kola yang berada di lereng gunung; Golili dengan area perkebunan di sekitarnya dan Suwom yang berada paling jauh dengan pusat kelurahan. Keempat lingkungan ini mengalami krisis air cukup serius.
Samsudin mengatakan, sudah ada bantuan air bersih dari Pemkot Tidore tetapi hanya cukup untuk masak dan minum. Karena persediaan air makin menipis, warga Kalaodi yang laki-laki tidak lagi mandi dan mencuci di rumah. Sebagia besar mencari sumber-sumber air yang masih ada di bukit-bukit untuk mandi.
Debit terbatas
Di Kaloadi, ada sumber air dari gunung yang warga tampung untuk kemudian mereka salurkan ke rumah warga. Namun, debitnya sangat terbatas. “Debitnya sangat kecil. Dua jam diambil sudah habis. Jadi, nunggu lama sampai air benar-benar terkumpil,” tambahnya.
Suplai air dari PDAM pun sama, tak bisa menjangkau semua warga yang rumahnya di lereng-lereng gunung. “Warga yang rumahnya mudah diakses di tepi jalan, kantor kelurahan Kalaodi bisa terbantu dari PDAM tetapi tidak semua bisa terjangkau,” katanya.
Samsudin khawatir, jika kemarau makin lama mereka harus mencari sumber air dari barangka/sungai yang sangat jauh dari kampung dan naik dan turun bukit.
“Sekarang untuk MCK sudah sulit karena air hujan di bak sudah hampir kering. Kita berharap dan berdoa semoga kemarau tidak terlalu lama,” katanya.
Di Kalaodi tidak hanya soal air yang jadi masalah pelik. Ancaman nyata kematian massal perkebunan cengkih dan pala milik petani juga sedang terjadi. Ada puluhan hektar perkebunan cengkih dan pala yang kini teramcam imbas krisis air ini.
Di sepanjang jalan kurang lebih 4 kilometer dari dalam pusat Kota Tidore menuju ke Kelurahan Kalaodi cengkih dan pala mulai terlihat mengering. Warga tak bisa menyiram tanaman karena air yang tak tersedia.
Sampai saat ini, katanya, belum ada data pasti berapa kebun-kebun cengkih warga yang mati. Yang pasti, kemarau panjang ini benar-benar menghadirkan ancaman bagi para petani. Apalagi usia pohon cengkih dan pala itu sudah 30 tahun bahkan sampai 50 tahun. Di mana sekali panen dalam semusim bisa puluhan kilogram pala.
“Kami tak lagi memikirkan air menyiram tanaman, makan minum saja kami sudah susah. Krisis air ini sudah memuncak, jika makin lama tidak hanya tanaman mati kekeringan, kami warga di Kalaodi juga terancam,” kata Samsudin.
Banyak kelurahan terdampak
Di Pulau Tidore ada beberapa kelurahan di ketinggian, tidak hanya Kelurahan Kalaodi ada juga Talaga dan Topo, warga terpaksa menempuh hingga hampir satu kilometer melewati perbukitan untuk mengambil air.
Di Kelurahan Folarora Lingkungan Ngosi misalnya tidak bisa terakses bantuan air dari PDAM. Tak ada pilihan warga naik turun bukit untuk mengambil air dari pegunungan yang berjarak sekitar satu kilometer. Di Kelurahan Jaya dan Afa-Afa, kondisinya pun sama.
Muhammad Abubakar, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tidore Kepulauan mengatakan, mereka membentuk Satuan Tugas Darurat guna atasi krisis air di wilayahnya.
“Jadi daerah yang terdampak di pegunungan, Topo, Kalaodi, Gurabunga dan sejumlah kelurahan lainnya pemerintah siaga membantu mereka,” katanya, Senin (14/9/26).
Di Kelurahan Topo dan Kalaodi, suplai air melalui truk tangki masih berlangsung, baik untuk rumah tangga maupun pertanian. Namun, di Gurabunga, suplai air sedikit terganggu karena akses yang sulit. Satgas masih berupaya mencari alternatif membuat bak penampungan dengan memanfaatkan sumber air.
BPBD mengimbau, masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan krisis air bersih yang bakal berlangsung lebih lama. Untuk informasi kedaruratan, katanya, masyarakat dapat menghubungi Call Centre BPBD 0813 8274 4481.
Kemarau sudah memasuki bulan keempat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dalam keterangannya menyebut September sebagia puncak kemarau tahun ini. Namun, hingga menjelang pergantian bulan, belum ada tanda-tanda hujan.
Berburu resapan air laut
Di Pulau Dowora, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, Malut, krisis air bersih berlangsung lebih parah. Selain menggali sumur, sebagian warga harus pergi ke daratan utama di Halmaera untuk mendapatkan air bersih.
Eli Saleh, Kepala Desa Dowora mengatakan, kontur pulau yang didominasi batu karang membuat pulau ini tak banyak memiliki sumber air. Warga bahkan harus menggali tanah di sekitar pesisir guna mendapatkan air dari infiltrasi air laut.
“Selama ini warga hanya mengandalkan air dari hujan. Ini sudah berbulan-bulan tidak turun hujan.”
Dia berharap, pemerintah bisa segera memberi solusi atas persoalan ini. Apalagi, krisis air bersih sudah berlangsung lama.
Sarbin Sehe, Wakil Gubernur Malut meminta jajarannya bergerak cepat untuk atasi krisis air di Dowora, termasuk melakukan identifikasi potensi sumber air di sana.
“Berdasarkan informasi awal, masih ada potensi sumber air tanah sehingga diusulkan pembuatan sumur bor,.”
Untuk jangka pendek, dia mengupayakan bantuan armada kapal tangki untuk mendatangkan air dari daratan utama.
*****