- Rumah sakit khusus hewan menjadi pilar penting terpenuhinya kesejahteraan satwa liar di lembaga konservasi/ex-situ.
- Satwa liar yang berada di rumah sakit khusus hewan ini harus terhindar luka maupun penyakit, akibat kandang maupun sumber penyakit lain, terhindar dari pakan yang tidak segar, serta interaksi dengan manusia atau sebaliknya yang dapat menyebabkan transfer penyakit.
- Rumah sakit hewan memiliki fungsi vital dalam pemeliharaan kesehatan, pemulihan pascasakit dan penanganan kasus emergency. Rumah Sakit Hewan (RSH) dapat memberikan pelayanan semua hewan, mulai hewan peliharaan, ternak, satwa exotik, hingga satwa liar.
- Satwa yang masuk rumah sakit harus melalui tahap screening oleh keeper satwa, yang melaporkan kondisi satwa rawatannya. Hasil pematauan dan pemeriksaan akan menentukan satwa akan menjalani rawat inap atau rawat jalan.
Rumah sakit khusus hewan menjadi pilar penting terpenuhinya kesejahteraan satwa liar di lembaga konservasi/ex-situ, yaitu satwa yang hidup di luar habitat aslinya.
Satwa liar yang berada di rumah sakit ini harus terhindar luka maupun penyakit, akibat kandang maupun sumber penyakit lain, terhindar dari pakan yang tidak segar, serta interaksi dengan manusia atau sebaliknya yang dapat menyebabkan transfer penyakit.
Lima prinsip dasar kesejahteraan satwa secara internasional harus menjadi acuan. Syaratnya adalah satwa bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari rasa tidak nyaman; bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit; bebas berperilaku normal dan alami; serta bebas dari ketakutan dan penderitaan.
Intan P Hermawan, dokter hewan dan dosen interna Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, mengatakan rumah sakit hewan memiliki fungsi vital dalam pemeliharaan kesehatan, pemulihan pascasakit dan penanganan kasus emergency. Rumah Sakit Hewan (RSH) dapat memberikan pelayanan semua hewan, mulai hewan peliharaan, ternak, satwa exotik, hingga satwa liar.
“RSH dilengkapi fasilitas pelayanan medis mumpuni dan tenaga medik veteriner handal,” jelasnya, awal September 2026.
Rumah sakit hewan dilengkapi dengan fasilitas dasar, seperti pemeriksaan darah, X-Ray, USG, EKG, PCR dan alat penunjang medis lainnya. Tidak hanya dapat melayani rawat jalan dan opname, juga operasi minor dan mayor.
“RSH konservasi dilengkapi pula ruangan isolasi, opname, surgery, rehabilitasi, laktasi dan perawatan pascatraumatik.”
Intan menilai pentingnya rumah sakit hewan di setiap lembaga konservasi, bukan hanya skala klinik.
“Satwa dilindungi maupun tidak, perlu mendapatkan perawatan medis bila sakit atau cedera.”
Intan menyontohkan, penyakit infeksius seperti tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang orangutan serta mamalia lain, juga bisa berdampak pada kesehatan manusia yang berkontak langsung. Sesuai prinsip animal welfare, yaitu bebas dari sakit dan bebas mengekspresikan perilaku alami (animal behavior), penyelenggara lembaga konservasi perlu memikirkan keberadaan rumah sakit khusus bagi satwa liar.
“Hal ini jadi perhatian bersama penanganan kesehatan hewan untuk satu kesehatan (one health),” tandasnya.
Rumah sakit satwa
Lembaga konservasi satwa ex-situ yang memiliki rumah sakit khusus satwa adalah Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor. Rumah sakit seluas sekitar 4.200 meter persegi ini dilengkapi ruang operasi, rawat inap, rawat jalan, ruang X-Ray, CT Scan, hingga fasilitas laboratorium PCR untuk mengetahui penyakit satwa liar.
Tony Sumampau, Founder Taman Safari Indonesia (TSI), ditemui di Bogor pada, mengatakan rumah sakit satwa ini juga memiliki penampungan sperma biopsi di tempat khusus dengan suhu sesuai, yang dapat dimanfaatkan di kemudian hari, terutama untuk pelestarian satwa liar.
“Semua fasilitas lengkap, sehingga satwa besar bisa masuk. Kalau perlu, gajah masuk juga agar bisa diperiksa lebih nyaman dan terpusat di satu tempat. Ada 10 dokter siaga yang memiliki kemampuan melakukan operasi dan spesialisasi lainnya,” jelasnya di Bogor, Minggu (23/8/26).
Menurut Tony, lembaga konservasi, baik kebun binatang maupun taman satwa, diharapkan melengkapi fasilitasnya dengan rumah sakit satwa, agar diagnosa dapat segera dilakukan bila satwa sakit.
“Saat ini banyak penyakit menular yang terbawa dari alam,” ujarnya.
Setyaningsih, dokter hewan RS Satwa TSI Cisarua, mengatakan satwa yang masuk rumah sakit harus melalui tahap screening oleh keeper satwa, yang melaporkan kondisi satwa rawatannya. Hasil pematauan dan pemeriksaan akan menentukan satwa akan menjalani rawat inap atau rawat jalan.
“Kami siapkan perawatan sesuai ukuran satwa. Misalkan burung atau reptil, dimasukkan ke ruang treatment kecil. Untuk herbivora atau karnivora besar, dimasukkan ke ruang treatment besar,” jelasnya.
Khusus satwa dengan penyakit tertentu, atau terkena virus, fasilitas laboratorium PCR dapat digunakan untuk mengetahui penyebabnya dalam waktu sehari.
Perilaku satwa juga dapat menjadi pertanda perubahan kondisi kesehatan, misal tiba-tiba dan tidak nafsu makan, badan lemas, serta malas beraktivitas.
“Biasanya, keeper langsung konsultasi, jika satwa terindikasi sakit bisa dibawa atau kami kunjungi ke kandang.”
Hewan yang mengalami kecelakaan saat beraktivitas juga melalui prosedur pemeriksaan yang sama. Setiap dokter, bertugas menanganai satwa berdasarkan area dengan berbagai jenis satwa. Namun, secara keseluruhan, semua dokter harus dapat melakukan operasi pada semua satwa.
Rumah sakit ini juga memiliki biobank untuk menjaga keragaman genetik satwa, faktor penetu kesinambungan masa depan satwa melalui inseminasi buatan.
“Kita juga mengurus sperma, ovum, dan darah satwa. Untuk beberapa satwa endemik seperti harimau sumatera, anoa, macan tutul jawa, gajah, dan banteng jawa, spermanya ada di rumah sakit ini.”
Laboratorium PCR khusus menjadi fasilitas terbaru yang perannya sangat vital mendeteksi dan menanganai penyakit satwa, khususnya disebabkan virus. Setyaningsing menyontohkan, screening awal dengan mengambil sampel semua anak gajah usia dibawah 18 tahun dilakukan sekali setiap tahun. Tujuannya, mendeteksi virus yang menyerang dan dapat menyebabkan kematian, karena belum tersedia obat atau vaksinnya.
“Jika ada yang terinfeksi, akan dilakukan isolasi, tapi sejauh ini masih belum ada. Penularan bisa melalui urine, saliva, feses, juga kontak langsung antargajah karena hidupnya berkelompok,” ujarnya.
*****
Sepasang Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Mendolo, Tanda Ekosistem Hutan Terjaga
