- Kebakaran gambut kembali melanda Desa Persiapan Air Merah, Muaro Jambi, tahun ini‚ mengulang pola yang sudah warga kenali, kebakaran besar datang kira-kira setiap lima tahun sejak 2015.
- Sri Wilarso Budi, Guru Besar di Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University, mengatakan, pengelolaan gambut tak bisa sepetak-sepetak, melainkan harus sebagai satu kesatuan bentang alam yang utuh. Banyak yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting lahan atau konsesi tidak terbakar. Padahal, tidak bisa seperti itu, harus satu kesatuan.
- Proyek Fincapes, kerja sama Universitas Waterloo (Kanada) dan IPB University dengan dana Global Affairs Canada, memasang sistem peringatan dini kebakaran murah dan bisa dirakit sendiri di kawasan HKm Air Merah, akhir Agustus lalu.
- Di lanskap gambut HKm Air Merah, tim IPB dan Fincapes tengah merestorasi 47 hektar lahan lewat reforestasi, MPTS dan agroforestri. Dengan, menyisipkan tanaman endemik gambut di antara kebun nanas dan pinang milik warga, dengan target jadikan model restorasi berbasis masyarakat pada 2028.
Jalan gambut berdebu. Siang itu, bersepeda motor Tahang membawa sekeranjang penuh nanas. Tubuh dan keranjang bergoyang terkena jalan bergelombang. Pada Agustus lalu itu, cuaca panas menguap dari celah-celah gambut kering. Lebih dari sebulan, Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi, Jambi, tak hujan.
Di kejauhan, asap tipis muncul samar-samar di balik kebun pinang, di areal hutan kemasyarakatan. Tatang terus melaju, pengepul nanas sudah menunggu.
Di tempat pengumpulan nanas, tak jauh dari kantor Koperasi Multi Usaha Mandiri lokasi, Tahang bertemu Ali dan Haidir.
“Lihat api nggak tadi?”
“Ada, tapi kecil,” jawab Haidir.
Ali kembali ke kebun mengambil sisa nanas. Tahang pulang ke rumahnya di Desa Muara Medak, Sumatera Selatan, untuk beristirahat.
Tak seorang pun menyangka asap tipis itu akan berubah menjadi kebakaran besar.
Beberapa jam kemudian, api dengan cepat membakar ilalang kering, lalu menjalar ke gambut sampai akhirnya meledak.
“Dum…meledak, setengah tiga api itu jadi besar,” kata Tahang.
Dia menghubungi Amin, bendahara koperasi, mengabarkan ada api, lalu menyaut motornya membawa mesin air dan menuju lokasi kebakaran.
“Sampai sana, api sudah mendekati parit satu. Orang dari Manggala Agni, BPBD sudah banyak, tapi air payah.”
Bersama puluhan warga, Tahang berusaha memadamkan api. Kemarau tahun itu membuat air kanal mengering.
“Kami madamin api dari jam 05.00 sore sampai jam 02.00 malam.”
Paginya, api sudah menyeberang melewati tiga parit, bergerak lebih dari satu kilometer dari titik awal. Tahang memperkirakan, luas kebakaran lebih 130 hektar.
“Kami nggak sanggup lagi madamin, air gak ada,” kata lelaki 53 tahun itu.
Sekitar 300 personel darat berjibaku di tengah kepungan asap. Tiga helikopter water bombing berkali-kali menjatuhkan ribuan liter air untuk memadamkan api yang menjalar di dalam gambut. Api baru padam 10 hari kemudian.
Hingga 3 September 2026, KKI Warsi mencatat luas karhutla di Jambi lebih 10.000 hektar, hampir dua kali lipat dari pekan sebelumnya.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya terjadi di Muaro Jambi, juga di Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Tebo, dan Batang Hari.
Gambut kehilangan air, peringatan sejak awal tetapi…
Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Air Merah seluas 1.764 hektar dengan pengelola Koperasi Multi Usaha Mandiri. Kawasan hutan ini berupa gambut dalam. Degradasi yang terjadi membuat kawasan ini makin rentan kebakaran.
“Pada 2015, 2019 habis terbakar, 2023, 2024 terbakar tapi sedikit, 2026 ini kebakaran lagi,” kata Tahang.
Kawasan itu merupakan bekas konsesi penebangan kayu. Setelah izin berakhir, lahan itu tanpa pengelolaan. Sejak 2002, budidaya sawit mulai menekan fungsi ekosistem gambut. Kanal-kanal di sekitar HKm mengganggu tata kelola air gambut.
“Saya tandai, setiap lima tahun pasti ada kebakaran besar,” kata Tahang.
Sri Wilarso Budi, Guru Besar di Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. mengatakan, kebakaran gambut berulang menunjukkan persoalan serius.
Gambut, katanya, kehilangan air; kanal mengeringkan lahan, pembukaan kawasan, lemahnya pengawasan hingga pencegahan terlambat.
Kebakaran tahun ini, katanya, sebetulnya sudah bisa ada perkiraan sejak awal. Peringatan mengenai kekeringan dan kemarau panjang karena fenomena El-Nino “Godzilla” sudah ada, bahkan jauh sebelum kebakaran.
“Harusnya kan sudah diantisipasi. Jadi jangan sampai api sudah besar baru semuanya bergerak. Itu akan terlambat.”
Ahli silvikultur Institut Pertanian Bogor itu menjelaskan, kondisi hutan dan tutupan lahan menentukan kemampuan tanah menyimpan air.
Pada ekosistem yang baik, tajuk pohon memperlambat jatuhnya hujan. Bahan, organik dan organisme tanah membantu membentuk pori-pori hingga air dapat meresap dan tersimpan.
Kondisi berbeda ketika tutupan lahan telah rusak. Air hujan lebih banyak mengalir di permukaan. Cadangan air di dalam tanah jauh berkurang.
“Panas kemudian menguapkan air yang sedikit tadi. Akibatnya, rawan kebakaran,” ujar Wilarso.
Warsi mencatat, Jambi memiliki 14 kesatuan hidrologis gambut (KHG) seluas 617.562 hektar, yang penting untuk menjaga keseimbangan tata air (hidrologi) secara terintegrasi. Juga, untuk mencegah kebakaran lahan, dan melindungi cadangan karbon global dalam mengendalikan perubahan iklim. Namun, katanya, kerusakan di satu titik akan merusak seluruh gambut sekitar.
Wilarso mengatakan, pengelolaan gambut tak bisa sepetak-sepetak, melainkan harus sebagai satu kesatuan bentang alam yang utuh.
“Banyak yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting lahan atau konsesi tidak terbakar. Padahal, tidak bisa seperti itu, harus satu kesatuan,” katanya.
Asmadi Sa’ad, Ketua Pusat Perguruan Tinggi Reklamasi Lahan melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: tata air gambut.
Menurut dia, pembukaan lahan gambut dan pembangunan kanal dalam skala besar jadi salah satu pemicu kebakaran di Jambi terus berulang. Sekat kanal, bangun hampir selalu terlambat.
“Semestinya, sebelum kering, sekat kanal sudah dibuat, bukan sudah kering baru dibuat sekat kanal,” katanya.
Dia melihat tinggi muka air di sejumlah lokasi kebakaran pernah berada 1,5 hingga dua meter di bawah permukaan tanah. Hujan lebat yang turun setelah kebakaran, tak serta-merta mengembalikan kondisi gambut.
Untuk itu, katanya, perlu tiga sampai empat tahun agar air di dalam gambut kembali stabil dengan pengaturan sekat kanal yang konsisten.
“Kalau sekat kanal tidak dibuat ya kering terus setiap tahun.”
Dosen ilmu tanah Universitas Jambi itu mengatakan, perlu puluhan bahkan ratusan tahun hanya untuk mengembalikan 10 sentimeter gambut yang terbakar.
“Karena proses pembentukan gambut sangat lambat, sekitar 0,1-2 milimeter per tahun,” kata Asmadi.
Sedangkan keanekaragaman hayati yang hilang karena kebakaran hampir mustahil kembali seperti semula.
“Yang bisa dipulihkan itu hanya fungsi gambutnya, sebagai hidrologi, fungsi biodiversitas dan lainnya. Itu bisa dikembalikan, walau tidak penuh,” katanya.
Sistem peringatan dini
Pendekatan menghadapi kebakaran perlu bergeser dari pemadaman menjadi pencegahan. Sistem peringatan dini, katanya, bisa jadi salah satu alatnya.
Perubahan tinggi muka air, misal, dapat menjadi tanda awal bahwa gambut mulai mengering. Jika kondisi terpantau, pemerintah dapat mengumumkan kepada masyarakat agar segera mengantisipasi.
“Saya percaya, kita bisa membuat itu sendiri. Tidak perlu beli mahal-mahal dari luar negeri,” katanya.
Akhir Agustus 2026, proyek kolaborasi dengan dukungan Fincapes, kerja sama kerja sama antara Fakultas Matematika dan Fakultas Lingkungan Universitas Waterloo yang didanai Global Affairs Canada, memasang dua sistem peringatan dini kebakaran Do-It-Yourself (DIY) di hutan kemasyarakat Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam.
Sistem itu menggabungkan sejumlah sensor lingkungan untuk membaca kondisi kawasan: asap, temperatur, tinggi muka air, arah angin, curah hujan dan kelembapan tanah.
Data sensor menggunakan sistem komputasi tertanam dan dikirim melalui jaringan komunikasi. Tujuannya, mendeteksi tanda-tanda awal bahaya kebakaran dan memberikan peringatan secara real-time.
“Sirine akan menyala jika sensor menunjukkan kondisi berbahaya,” jelas Mawardi Muhammad, Program Officer Flood Risk Fincapes.
Data kondisi gambut di Sungai Gelam juga dapat terakses melalui situs web hingga bisa terpantau langsung masyarakat.
Sistem ini, katanya, terancang dengan biaya rendah dan bisa rakit sendiri. Sejumlah komponen bahkan dapat dengan mudah melalui toko daring. Perawatannya juga murah agar dapat masyarakat dapat gunakan dalam jangka panjang.
Ke depan, pengembangkan sistem ini agar peringatan dapat langsung kepada masyarakat melalui WhatsApp atau sistem notifikasi lainnya.
Restorasi gambut bersama warga
Bagi Mindawati Azmi, Program Officer Nature-based Solutions Fincapes, pemulihan gambut tidak bisa memisahkan persoalan ekologi dan kehidupan masyarakat.
Bentang alam gambut Sungai Gelam merupakan bagian KHG Sungai Batanghari–Sungai Kumpeh dengan kedalaman 3-11 meter. Gambut itu lumbung penyimpanan karbon alami bernilai tinggi, sekaligus habitat berbagai satwa.
Sedikitnya 22 spesies burung tercatat di lanskap itu. Kawasan itu juga menjadi habitat satwa seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), rusa sambar (Rusa unicolor) dan babi hutan (Sus scrofa).
Ekosistem itu menghadapi tekanan panjang karena izin penebangan kayu masa lalu, sistem drainase, budidaya sawit yang tak sesuai dengan karakter gambut, dan kebakaran berulang.
Kanal-kanal besar di sekitar hutan kemasyarakatan mengganggu siklus hidrologi, mempercepat pengeringan dan meningkatkan risiko kebakaran.
Dampaknya berlapis: muka air gambut turun, vegetasi alami hilang, emisi karbon meningkat dan mata pencaharian masyarakat menjadi makin rentan terhadap perubahan iklim.
Menurut Azmi, infrastruktur pembasahan kembali‚ termasuk sekat kanal bersama sistem pemantauan dan peringatan dini‚ jadi kunci pengelolaan gambut yang adaptif.
Sungai Gelam dia nilai punya potensi kuat sebagai kawasan restorasi gambut berbasis sains. Dengan kelimpahan jamur mikoriza alami di sana membantu proses revegetasi pada tanah gambut yang asam dan miskin unsur hara.
I-CAN, pusat riset multidisiplin di bawah Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang fokus pada solusi berbasis alam, dengan dukungan Fincapes, tengah mengembangkan model restorasi lahan gambut lewat reforestasi, multi-purpose tree species (MPTS) dan agroforestri. Ada 47 hektar lahan yang menjadi target restorasi.
Agroforestri, kata Zami, menawarkan jalan untuk pemulihan vegetasi dan fungsi ekosistem sembari mempertahankan produksi lahan.
“Masyarakat kan sudah nanam nanas dan pinang, kita selipi dengan tanaman endemik gambut seperti jelutung rawa, balangeran, pulai dan lainnya. Ada juga kopi liberika, kopi juga butuh naungan.”
Ada dua blok demplot terbagi-bagi menjadi beberapa petak. Setiap petak memiliki kombinasi tanaman berbeda. Total akan tanam 80.000 bibit.
“Kami ingin mencoba beberapa model restorasi, nanti mana yang paling efektif untuk pemulihan ekologi dan ekonomi masyarakat.”
Targetnya, pada 2028 lanskap gambut Sungai Gelam dapat menjadi model restorasi praktis berbasis masyarakat.
Tatang dan warga lain penuh harap dengan ada alat ini.
Siang itu, Tahang memandang hamparan lahan gambut yang kering. Dia sadar, api tak selalu datang dengan kobaran besar. Kadang bermula dari tanah yang makin kering, asap tipis atau panas yang bertahan berhari-hari tanpa hujan.
Selama bertahun-tahun, tanda-tanda seperti itu warga baca dengan pengalaman. Mereka melihat asap, mencari sumber, lalu membawa pompa dan selang sebelum api merambat lebih jauh ke dalam gambut.
Pengalaman saja tidak cukup ketika gambut mengering dan api bergerak terlalu cepat.
“Kalau gambut sudah terbakar, itu bahaya!”
Kini, dua perangkat peringatan dini terpasang di dalam HKm Air Merah. Sensor-sensor mulai membaca apa yang sebelumnya hanya warga rasakan. Mereka bisa lihat perubahan suhu, kelembapan tanah, curah hujan, arah angin, asap, dan muka air gambut.
Dampaknya belum terlihat, tetapi di tengah masyarakat yang berkali-kali berhadapan dengan api, keberadaan alat ini menawarkan satu perubahan penting: kesempatan mengetahui bahaya lebih awal.
*****