Mongabay.co.id

Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]

  • Jelajah Meratus bagian kedua mengupas ihwal melimpahnya buah-buahan dan fauna di Desa Juhu.
  • Desa Juhu satu-satunya lokasi di Meratus yang menghasilkan buah-buahan. Padahal, akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang musim kemarau parah.
  • Mohamad Hanif Wicaksono, pelestari dan pengembang buah lokal atau endemik Kalimantan, menyebut letak geografis Juhu di dataran tinggi, sekitar 540 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat kondisi lingkungan di kawasan itu berbeda dengan wilayah dataran rendah. Termasuk suhu, kelembapan, kabut, dan pola hujan.
  • Fauna di kawasan Meratus, secara khusus Desa Juhu juga masih relatif terjaga. Burung-burung yang juga turut membantu penyerbukan bunga secara alami menjadi salah satu satwa yang mudah terlihat sepanjang perjalanan, baik saat melintasi jalur menuju Desa Juhu maupun dalam perjalanan kembali ke Desa Hinas Kiri.

Setelah menempuh perjalanan dua hari, tim tiba di Desa Juhu, tertinggi di Pegunungan Meratus. Di sana, kami ke rumah Pinan, warga lokal sekaligus pemandu, dan terkesima dengan aneka buah-buahan yang memenuhi ruang tamunya.

Dia bilang, desa mereka jadi satu-satunya lokasi di Meratus yang menghasilkan buah-buahan. Padahal, akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang musim kemarau parah.

“Di tempat lain tidak ada yang berbuah. Hanya disini yang ada, aneh juga,” katanya, heran.

Pinan jelaskan nama lokal buah itu satu persatu. Mulai dari yang cukup terkenal hingga jenis yang mulai langka dan hanya tumbuh di pedalaman hutan.

Salah satunya kapul atau tampui (Baccaurea macrocarpa). Buah eksotis ini masih berkerabat dengan menteng, rambai, dan manggis.

Ada juga kulidang atau keledang (Artocarpus lanceifolius), dari keluarga Moraceae atau nangka-nangkaan. Buah ini berkerabat dengan mentawa, kluwih, pintau, cempedak, sukun, selanking, benda, dan nangka.

Kata Pinan, buah kulidang kini makin jarang warga temukan seiring berkurangnya hutan alami.

“Ini tidak ada di Banua (sebutan bagi wilayah hulu Banjar), kan?”

Keledang mulai langka di berbagai wilayah di Borneo. Buah ini memiliki banyak nama lokal, antara lain bangsal, binturung, bunon, kayu dadak, emputu, kakian, sedah, dan tempunang.

Durian menjadi salah satu yang paling melimpah ketika kami tiba di Juhu. Buah berduri itu berjatuhan dari pohonnya di jalur perjalanan.

“Durian kita, kah ini, Abah?” tanya Ayyub Muhajad, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat.

Bagi masyarakat setempat, buah itu sudah menjadi bagian dari keseharian dan kami pun bisa makan sepuasnya.

“Banyak durian di sini,” ucap Pinan.

Beberapa jenis buah berduri itu di Juhu antara lain maharawin, atau mahrawin (Durio oxleyanus) buah langka yang menjadi bagian dari kekayaan hayati pedalaman, serta durian  lahung (Durio dulcis), salah satu durian hutan endemik yang terkenal karena kulit buahnya berwarna merah tua.

Meski melimpah, durian di Juhu tidak warga jual. Jarak tempuh ke desa terdekat yang memakan belasan kilometer jadi alasan utama.

Bagi mereka, butuh perjuangan ekstra untuk memikul durian-durian ini dengan berjalan kaki ke Desa Hinas Kiri. Karena itu, supaya tidak mubazir, warga Juhu mengolah durian jadi tempoyak, semacam hidangan olahan dari daging durian yang sudah matang.

Orang Juhu juga menyulap durian-durian itu jadi makanan yang menyerupai dodol. Orang Dayak Meratus menyebutnya lapat durian. Mereka menghaluskan daging durian, lalu membungkusnya menggunakan upih (kelopak pinang) atau daun.

Rubi, Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan menjelaskan secara singkat cara pembuatannya.

“Setelah dibungkus pakai upih diletakkan di atas bara api atau disimpan di dalam salayan hingga durian di dalamnya kering dan matang,” ucap orang asli Juhu itu.

Walau tidak disimpan dalam lemari pendingin, lapat durian dapat bertahan satu hingga dua tahun. Sehingga tidak hanya dapat nikmatinya saat musim panen, tetapi untuk konsumsi jauh setelah buah-buah segarnya habis.

Rijani memperlihatkan buah kulidang. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Kondisi geografis mendukung

Mohamad Hanif Wicaksono, pelestari dan pengembang buah lokal atau endemik Kalimantan, menyebut letak geografis Juhu di dataran tinggi, sekitar 540 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat kondisi lingkungan di kawasan itu berbeda dengan wilayah dataran rendah. Termasuk suhu, kelembapan, kabut, dan pola hujan.

Karena itu, meski wilayah lain mulai memasuki musim kemarau, Juhu masih memungkinkan mendapat hujan ringan atau terselimuti kabut. Ia membuat kelembaban di sekitar tanaman terjaga dan dapat memengaruhi pertumbuhan serta siklus pembungaan pohon buah.

“Yang jelas 500 mdpl ke atas pasti beda situasinya dengan yang di bawah. Sebab kebanyakan kawasan di Kalsel yang banyak pohon buah rasanya kada (tidak) sampai 300 mdpl dan hanyar (baru) mulai bekambang,” katanya.

Perbedaan ketinggian tersebut berpengaruh terhadap kondisi mikroklimat di suatu kawasan. Sederhananya, lingkungan di dataran tinggi dapat memiliki suhu dan kelembaban yang berbeda ketimbang wilayah yang lebih rendah. Faktor-faktor itu kemudian ikut menentukan bagaimana tanaman berfotosintesis hingga merespons perubahan musim.

Hal ini, katanya, terlihat pada tanaman dari genus durio, kelompok yang mencakup berbagai jenis durian. Pada tanaman itu, berkurangnya ketersediaan air di dalam tanah dapat menjadi salah satu kondisi yang memicu pembungaan.

Di kawasan hutan hujan tropis, perubahan suhu, ketinggian tempat, kelembapan udara, curah hujan, dan ketersediaan air tanah berlangsung sebagai satu kesatuan. Kombinasi kondisi itu dapat memberikan sinyal bagi tanaman untuk memasuki fase berbunga.

“Untuk durio, salah satu pemicu pembungaan itu ketika air tanah mulai berkurang. Jadi bukan berarti kemarau itu tidak berpengaruh, tetapi kondisi kemarau dan lingkungan di dataran tinggi seperti Juhu bisa memberikan respons yang berbeda pada tanaman.”

Senada, Wiji Cahyadi, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya, menyebut, hujan di Juhu terpengaruhi topografi Meratus yang berada di dataran lebih tinggi, hingga dapat memicu hujan orografis atau hujan yang terjadi ketika angin mendorong udara basah yang mengandung uap air menaiki lereng pegunungan.

“Hujan orografis karena faktor topografi wilayahnya dataran agak tinggi. Tapi hujannya juga hujan ringan dan tidak tiap hari, karena saat ini masuk periode musim kemarau,” katanya, 15 Agustus.

Ketua Kelompok Kerja Pengelolaan Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan ini bilang, dalam dalam dua dekade terakhir, pola curah hujan di Kalsel menunjukkan karakter yang berbeda antar wilayah.

Di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, misal, curah hujan tahunan selama 2005–2025 berfluktuasi cukup tajam dari tahun ke tahun. Meski demikian, dalam jangka panjang, terdapat kecenderungan peningkatan lemah, dengan rata-rata kenaikan sekitar 44 milimeter per tahun.

Sementara di Kelumpang Barat, Kabupaten Kotabaru, juga masih di kawasan pegunungan Meratus, variabilitas curah hujan juga tergolong tinggi. Namun, dalam jangka panjang polanya relatif stabil, dengan rata-rata kenaikan sekitar 2,5 milimeter per tahun.

Perbedaan tersebut jelasnya menunjukkan perubahan curah hujan di Kalimantan Selatan tidak berlangsung seragam antar wilayah.

Dinamika iklim global juga memengaruhi variasi iklim. Misal, ENSO (El Niño–Southern Oscillation) di Samudra Pasifik, yang memicu fenomena El Niño dan La Niña, serta IOD (Indian Ocean Dipole) di Samudera Hindia turut mempengaruhi pola cuaca dan curah hujan di Indonesia, termasuk Kalsel.

Periode 2020–2022 curah hujan tergolong tinggi, dengan puncaknya pada 2021. Kondisi tersebut beriringan dengan banjir di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan dan turut berdampak pada tanaman buah.

Curah hujan tinggi dalam periode panjang membuat tanaman cenderung lebih banyak menumbuhkan daun dibandingkan bunga sehingga produksi buah menurun.

“Pada 2021 itu puncak musim hujan. Termasuk banjir dari 2020 sampai 2022, curah hujan di Kalimantan Selatan cukup tinggi. Pada periode itu, tanaman buah bisa dibilang sangat minim. Jika dihubungkan dengan faktor iklim, kondisi tersebut memang berkaitan.”

Selain faktor global, bentang alam juga berperan dalam membentuk perbedaan pola iklim. Pegunungan Meratus yang memanjang benteng alami memengaruhi distribusi hujan dan menciptakan perbedaan karakter antara wilayah barat dan timur.

Di wilayah barat, seperti Banjarbaru, kira-kira 100 hingga 120 kilometer dari meratus hingga kawasan Hulu Sungai, musim hujan umumnya mulai sekitar Desember hingga Januari.

Sebaliknya, wilayah timur yang menghadap laut, seperti Sungai Danau dan Kintap, dapat mengalami puncak musim hujan sekitar Mei. Perbedaan waktunya dapat mencapai sekitar dua bulan.

Di sejumlah wilayah timur, musim hujan bahkan dapat berlangsung lebih panjang hingga sekitar sembilan bulan.

Hingga, kondisi itu turut membentuk lingkungan yang berbeda bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa, termasuk ketersediaan buah lokal dan pembungaan pada tanaman.

Karena itu, fenomena berkurangnya hingga kembali buah dan bunga hutan di Meratus kata dia perlu lihat dalam konteks perubahan lingkungan dan iklim yang lebih luas.

Buah kapul dan durian lokal Desa Juhu. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Musim madu

Seiring munculnya bunga pada berbagai jenis tanaman pada musim berbuah, warga Desa Juhu juga mulai melihat tanda-tanda kembalinya lebah madu hutan yang selama ini mereka jaga.

Alliyidin, warga sekaligus petani madu hutan, memperkirakan panen madu kembali terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Padahal, empat tahun terakhir, sarang lebah madu hutan sulit mereka temui di kawasan Pegunungan Meratus sekitar Juhu.

Tanda-tanda terlihat pada perilaku lebah yang bersarang di pohon-pohon besar.

Dia menduga berkurangnya lebah berkaitan dengan perubahan iklim hingga kondisi tanaman di sekitar kampung yang tidak berbuah maksimal dalam beberapa tahun terakhir. Ketika bunga dan buah sedikit, sumber pakan lebah ikut berkurang sehingga koloni sulit bertahan dan produksi madu pun menurun.

“Sempat empat tahun tidak ada sama sekali madu, kosong sarangnya,” ujarnya.

Kini, perubahan mulai terlihat. Berbagai tanaman kembali berbuah dan menyediakan nektar yang menjadi sumber pakan Apis dorsata.

Dalam perjalanan menuju Desa Juhu, Alli bahkan menunjukkan dua sarang lebah madu hutan yang berada di atas pohon dengan ketinggian sekitar 20 meter. Ribuan koloni tampak bergerombol mengelilingi sarangnya.

“Paling lama satu bulan sudah bisa kita puay (panen).”

Dua sarang lebah madu hutan Apis Dorsata di hutan Meratus. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Ragam rangkong

Fauna di Meratus, secara khusus Desa Juhu juga masih relatif terjaga. Burung-burung yang juga turut membantu penyerbukan bunga secara alami menjadi salah satu satwa yang mudah terlihat sepanjang perjalanan, baik saat melintasi jalur menuju Desa Juhu maupun dalam perjalanan kembali ke Desa Hinas Kiri.

Rangkong, salah satunya, paling sedikit kami temui lima jenis. Alliyudin menyebutkan,  nama burung-burung itu dalam bahasa daerah. Nama lokal itu kemudian kami cocokkan dengan data identifikasi melalui aplikasi Merlin Bird ID.

Aplikasi seluler gratis buatan Cornell Lab of Ornithology yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu siapa saja mengenali jenis burung lewat foto, suara kicauan secara langsung (real-time), atau melalui pertanyaan panduan seputar ukuran, warna, dan perilaku burung.

Lima jenis rangkong yang kami deteksi yakni rangkong gading (Rhinoplax vigil) atau batu bulu, enggang jambul (Berenicornis comatus) atau sing koy-koy, enggang cula (Buceros rhinoceros) atau anggang, enggang khilingan (Anorrhinus galeritus)  atau ala-alak, serta julang emas (Berenicornis comatus) atau bainah.

Dari lima jenis itu, julang emas menjadi yang paling sering melintas di langit Meratus. Walau tidak terlihat secara jelas, kepakan sayapnya terdengar bergemuruh dari balik pepohonan besar, sesekali memperlihatkan siluet tubuhnya yang melayang di antara tajuk hutan.

Sementara jenis yang paling langka, katanya, ialah rangkong gading. Informasi yang dia dapati di sekitar Meratus, burung itu jadi target buruan orang-orang luar kampung sekitar empat tahun lalu, sehingga sulit mereka temui sekarang.

“Itu burung (enggang jambul) yang paling sedikit, kalau bainah, anggang itu banyak, apalagi kalau ada musim buah kariwaya (sebutan lokal di Kalimantan Selatan untuk pohon beringin Ficus spp) itu banyak,” katanya.

Para pemburu biasanya bermalam di hutan bahkan dalam waktu satu minggu, sehingga dapat membawa pulang kurang lebih sekitar dua puluh ekor burung enggang jambul.

“Batunya (gading yang menempel di kepala burung) mahal dijual sekitar lima juta per onsnya. Kalau terkumpul itu mereka jual sampai dua hingga tiga puluh juta.” (Bersambung.)

Proses membuat tempoyak yang dilakukan oleh Alliyudin warga Desa Juhu di dapur rumah Pinan. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

*****

Jelajah Meratus, Menuju Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [1]

Exit mobile version