Mongabay.co.id

Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas

  • Titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terus meningkat di wilayah Papua. Di Pulau Biak, kebakaran lahan dan kabut asap menganggu aktivitas masyarakat.
  • Anak-anak dan lansia mengalami gangguan pernapasan sehingga membutuhkan perawatan medis. Kegiatan sekolah pun libur sudah dua minggu yang lalu.
  • Jumlah titik panas di Papua sangat tinggi dan upaya pemadaman masih menghadapi keterbatasan. Pada 1 Agustus–2 September 2026 tercatat ribuan titik panas di wilayah Papua, sementara masyarakat dan petugas di beberapa daerah kekurangan alat pemadam, masker, dan fasilitas pendukung lainnya.
  • Kebakaran menunjukkan pola berulang dan berkaitan dengan wilayah konsesi serta proyek skala besar. Sejumlah titik panas ditemukan di kawasan gambut, konsesi kehutanan, dan wilayah food estate, terutama di Papua Selatan, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa pembukaan lahan dapat memperbesar risiko kebakaran.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua terus meningkat. Di Kabupaten Biak Numfor, Papua, misal, aktivitas di sejumlah sekolah, pemerintah dan masyarakat terdampak akibat kabut asap.

“Asap mengepung dan menguasai kota, sekolah libur. Dari minggu lalu anak-anak diliburkan sampai saat ini,” kata  Mananwir Apolos Sroyer, Ketua Dewan Adat Manfun Kawasa Byak kepada Mongabay melalui telepon, Sabtu (29/8/26).

Asap karhutla mengepung Kota Biak, Distrik Samofa, Yendidori, Biak Timur, dan Biak Barat. Paparan asap ini, kata Apolos, kemungkinan meluas di wilayah lain karena kemarau panjang dan tidak ada hujan.

“Yang terdampak sekali itu kepada anak-anak dan lansia menghirup asap sehingga menjadi sesak nafas, ada yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis,” katanya.

Apolos mengatakan, kebakaran hampir satu bulan ini, upaya pemadaman kebakaran hanya di pinggiran-pinggiran jalan saja karena alat yang kurang memadai.

”Pemerintah mesti melihat kalau pake mobil tidak bisa kenapa tidak pakai helikopter atau pesawat yang kapasitas besar untuk memadamkan api,” katanya.

Kebakaran lahan di Provinsi Biak, Agustus 2026. Dokumentasi Aleks Abrauw, Warga Distrik Biak Utara

Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan sejak tanggal 1 Agustus-2 September 2026, sebaran titik panas di Papua mencapai 2.169 dengan tingkat kepercayaan tinggi atau di atas 80%. Yakni, Papua Selatan (1.212), Papua Tengah (374), Papua Pegunungan (300), Papua Barat Daya (38), dan Papua (12).

Pada periode sama, di Biak terdapat empat titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 383 tingkat kepercayaan sedang. Angka ini terbilang tinggi dari wilayah Papua lainnya.

Aleks Abrauw, masyarakat Distrik Biak Utara menyebutkan,  sudah dua minggu kebakaran terjadi dan wilayah paling parah di Distrik Biak Utara, Yendidori, dan Biak Timur. Bersama komunitasnya, mereka pun mengantisipasi kebakaran terus menyebar namun fasilitas pemadaman terbatas.

“Api ini lebih banyak daripada alat-alat pemadam. Kabut asap ini penuh di kota, di rumah-rumah jadi aktivitas masyarakat juga terganggu sekali. Jadi saya juga ikut teman-teman Komunitas Karang Taruna turun lapangan membagikan dan drop masker buat masyarakat, karena tidak ada kesediaan sekali,” katanya, Jumat (28/8/26).

B. Wisnu Raditya, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah Papua, mengatakan, kebakaran di Biak Numfor diduga itu terjadi pembakaran secara sengaja dan sporadis, mulai dari Biak Utara dan Biak Barat.

Kebakaran lahan secara serentak di Pulau Biak menghasilkan kabut asap yang sampai mengganggu aktivitas masyarakat. Warna langit kian merah di Asarkir, Distrik Biak Barat, Papua. Dokumentasi: Cliff Marlessy

“Jadi misalnya kita melihat ada ancaman kemarin di Biak Utara kita tangani di Biak Utara tapi ternyata di Biak Barat mereka ada bikin lagi,” kata Wisnu Raditya. Sehingga, banyak titik tidak termonitor dan berdampak asap yang pekat dan mengganggu kesehatan.

Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusdatin Kebencanaan BNPB pun memberikan perkembangan terkini terkait karhutla di Papua. Dia menyebutkan ada 35 titik panas  dan delapan titik api di  Papua. Luasnya mencapai 2.496 hektar dengan jarak pandang 5-9 kilometer.

“Upaya satgas darat terus bekerja dan melakukan pemantauan dan pemadaman dengan alat-alat yang sudah dikirimkan sebelumnya, dengan water bombing dan satu unit helikopter Puma,” ujarnya saat konferensi pers pada (30/8/26).

Meski begitu, dampaknya pada wilayah objek vital nasional yakni terhentinya pengoperasian kilang LNG Tangguh wilayah kerja Berau dan Genting Oil Kasuari. “Helikopter fokus menangani karhutla di wilayah Tofoi, Teluk Bintuni dan wilayah lainnya di Papua,” ujarnya.

Sementara itu, di Papua Barat, ada 19 hotspot dan sudah melakukan pemadaman dengan dua helikopter water bombing. “Prioritas operasi udara yang berdekatan dengan area Tangguh LNG dengan potensi kemudahan terbakar masih tinggi sampai sangat tinggi hingga 5 September, terutama di Teluk Bintuni dan Fakfak,” ujar Berton pada konferensi pers pada 1 September lalu.

Pengerahan helikopter water bombing untuk pemadaman karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (28/8). Dokumentasi BNPB
Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.

Risiko kebakaran masih cukup tinggi

Berdasarkan hasil monitoring atmosfer dan laut BMKG, El-Nino mulai aktif pada periode Mei-Agustus 2026. Saat ini telah mencapai level sangat kuat. Prediksinya, bertahan sampai awal tahun 2027. Di wilayah Papua, saat ini sudah memasuki periode kemarau, puncaknya Agustus-September 2026.

Arif Setiawan, Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Wilayah V Jayapura, menjelaskan, kondisi cuaca atau udara di wilayah Papua ini sedikit lebih kering.

“Sehingga ini dapat mempengaruhi intensitas curah hujan di wilayah Papua, dimana akan mengalami penurunan. Kombinasi dari puncak musim kemarau dengan fenomena El-Nino ini sendiri yang menyebabkan potensi kekeringan dan juga nanti berdampak terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Dalam pantauan titik panas yang dipantau BMKG pada 27-28 Agustus 2026, ada sekitar 2.082 hotspot di seluruh wilayah Papua. Dari 2.082 itu terdapat 83 titik api.

“Terbanyak itu yang pertama ada di wilayah  Fak-Fak ada 32 titik, Merauke ada 17 titik, Nabire ada enam titik dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ujarnya.

Bagi  masyarakat yang berada di sekitar wilayah-wilayah itu, katanya, agar  tetap waspada dengan potensi kebakaran hutan.

 

Kondisi kebakaran lahan secara serentak di Asarkir, Distrik Biak Barat, Papua. Dokumentasi: Cliff Marlessy

B. Wisnu Raditya mengklaim karhutla di Papua sampai saat ini secara umum titik-titik api sudah melandai dan Biak Numfor itu sudah teratasi.

“Karena lahan yang terbakar bukan daerah gambut sehingga bisa cepat penanganannya,” katanya.

BPBD pun meminta untuk membentuk Kampung Tangguh Bencana untuk bisa menjadi ujung tombak dalam mengedukasi masyarakat terkait dampak pembakaran lahan dan hutan.

Arif bilang, kerentanan karhutla masih cukup tinggi hingga beberapa bulan ke depan. “Masyarakat tetap menjaga, jangan melakukan aktivitas kebakaran yang dapat memicu kebakaran lahan.”

Dengan pemerintah, katanya, mereka juga selalu berkoordinasi hingga jika ada potensi kebakaran lahan akan langsung melakukan tindak lanjut. “Hingga tidak tersebar lebih meluas,” katanya.

Upaya pemadaman api ebakaran lahan di Provinsi Biak, Agustus 2026. Dokumentasi Aleks Abrauw, Warga Distrik Biak Utara

 

Kebakaran berulang

Analisa Pantau Gambut menyebutkan, sepanjang Agustus 2026, titik panas di Kesatuan Hidrologis Gambut melonjak hingga 1.006,6% menjadi 166.728 titik dibandingkan bulan sebelumnya. Papua Selatan, menjadi satu dari lima provinsi dengan sebaran hotspot terbanyak. Yakni, 15.126 titik panas.

Titik panas juga ada di wilayah konsesi, izin perizinan usaha pemanfaatan hutan, PT Damai Setiatama Timber (607 titik) dan PT Selaras Inti Semesta (439). Pantau Gambut juga menganalisa ada 9.536 hotspot di wilayah food estate Boven Digul, Mappi dan Merauke (Papua Selatan).

Sejalan dengan temuan Pantau Gambut, Maikel Primus Peuki, Direktur Walhi Papua juga mencatat ada lebih dari 3.000 hotspot di Papua per Agustus 2026. Peningkatan signifikan terjadi di Papua Selatan, Papua Pegunungan dan Papua Tengah.

“Kebakaran di Tanah Papua kini terkonsentrasi di Papua Selatan, terkait ekspansi PSN food estate Merauke, dan Papua Tengah di Nabire, karena kekeringan ekstrem. Pola berulang setiap musim kemarau yang tumpang tindih dengan wilayah konsesi, seperti food estate, PBPH, sawit dan kawasan gambut (KHG) berkerentanan tinggi,” ujarnya.

Di Merauke, kata Maikel, ada sekitar 116,13 hektar lahan yang terbakar dan berdampak pada Suku Yei dan Marga Kwipalo. Sementara itu, di Nabire, Papua Tengah, ada 396,13 hektar hutan dan lahan terbakar dan berdampak pada tujuh distrik. Yakni, Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur.

Pola titik api di kawasan PSN dan konsesi Papua Selatan, katanya, mengulang pola yang sebelumnya. “Papua kini mengikuti jejak ‘episentrum kebakaran’ yang lebih dulu terjadi di pulau lain saat lahan gambut atau hutan dibuka untuk proyek skala besar.”

 

*****

Kebakaran Gambut Kalbar Tak Kunjung Padam

Exit mobile version