Mongabay.co.id

Akibat Karhutla, 7 Individu Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang

  • Sepanjang Agustus 2026, sebanyak 7 individu orangutan dievakuasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akibat paparan asap karhutla.
  • Kasus terbaru terjadi di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Minggu (30/8/26). Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit.
  • Asap karhutla dapat berdampak serius terhadap sistem pernapasan orangutan. Pada kondisi paparan berat, terutama ketika asap sangat pekat dan berlangsung beberapa hari, orangutan dapat mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen atau hipoksia.
  • Tingginya karhutla di Ketapang juga tidak terlepas dari karakter wilayah tersebut berupa bentang alam gambut cukup luas. Kawasan gambut yang teridentifikasi terbakar berada pada gambut budidaya. Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan tata ruang yang terjadi dari waktu ke waktu.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sepanjang Agustus 2026 berdampak langsung terhadap kehidupan orangutan. Paparan asap membuat sejumlah orangutan keluar dari habitatnya dan masuk kebun sawit maupun kebun buah warga.

“Ada tujuh individu yang diselamatkan selama Agustus ini,” kata Heribertus Suciadi, Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI, Senin (31/8/26).

Kasus terbaru terjadi di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Minggu (30/8/26). Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit.

Sarbandi, staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat, mengatakan orangutan itu diduga bergeser dari habitatnya akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Pagi hari kami menerima informasi dari masyarakat dan langsung melakukan pengecekan lapangan,” jelasnya, melalui keterangan tertulis, Minggu (30/8/26).

Komara, Dokter hewan YIARI, menambahkan asap karhutla dapat berdampak serius terhadap sistem pernapasan orangutan.

“Pada kondisi paparan berat, terutama ketika asap sangat pekat dan berlangsung beberapa hari, orangutan dapat mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen atau hipoksia.”

Menurut Komara, kondisi Sampurna mengarah pada dugaan tersebut. Sampurna dievakuasi ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri untuk pemeriksaan paru-paru dan organ dalam lainnya.

Orangutan bernama Sampurna ini diselamatkan akibat terpapar asap karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Foto: Dok. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Sebelumnya, tim menyelamatkan Mama Yayuk dan anaknya, dari area kebun sawit perusahaan di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang. Tim menemukan keberadaan mereka berupa bekas sarang, pada 27 Agustus 2026, lalu mengevakuasi sehari setelahnya.

Setelah memastikan induk dan anak orangutan tersebut dalam kondisi sehat, Mama Yayuk dan Yayuk dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Palung. Kawasan ini dipilih karena aman, memiliki tutupan hutan bagus, serta memiliki sumber pakan memadai.

Pada 6 Agustus 2026, tim juga mengevakuasi Wak, orangutan jantan yang masuk ke kebun buah warga di Desa Kuala Tolak. Berikutnya, pada 21 Agustus 2026, tim mengevakuasi Mama Yuni, Pura, dan Yuni dari kebun warga di Desa Tanjungpura. Kebakaran mengancam habitat dan memutus jalur pergerakan ketiganya. Mereka kemudian dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Palung.

Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, mengatakan pihaknya dalam kondisi siaga menghadapi karhutla dan menyelamatkan satwa liar.

“Setiap laporan masyarakat secara langsung maupun melalui call center tentang satwa liar yang perlu dievakuasi, kami tindaklanjuti sesegera mungkin,” terangnya, Jumat (28/8/26).

Argitoe Ranting, Direktur Operasional YIARI, mengatakan kejadian karhutla membuat tim medis dan penyelamatan siaga penuh untuk merespons laporan masyarakat. Masyarakat hendaknya tidak mendekati, mengejar, memberi makan, maupun melukai orangutan yang masuk ke kebun atau permukiman.

“Dampak karhutla terhadap satwa liar tidak selalu dalam bentuk luka bakar. Paparan asap juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius, sehingga setiap laporan mengenai satwa dalam kondisi lemah atau tidak normal perlu segera ditindaklanjuti,” ujarnya, Minggu (30/8/26).

Orangutan jantan bernama Sampurna ini ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit di Ketapang, Kalbar. Foto: Dok. YIARI.

Ketapang wilayah kebakaran

Indra Syahnanda, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Kalimantan Barat, menjelaskan data sebaran titik panas (hotspot) dan luasan indikatif kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat sepanjang 2026, berdasarkan hasil olahan data satelit Sipongi KLHK.

“Berdasarkan analisa, Ketapang menjadi kabupaten dengan tingkat hotspot terbanyak di Kalimantan Barat,” ujarnya, Senin (31/8/26).

Periode 1 Januari hingga 27 Juli 2026, tercatat 17.236 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi di seluruh wilayah Kalimantan Barat. Ketapang menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi, yakni 3.715 titik. Berikutnya, Kubu Raya (3.096 titik), Mempawah (1.964 titik), dan Sanggau (1.847 titik).

Memasuki Agustus, aktivitas karhutla kembali meningkat. Pada 1-25 Agustus, terpantau 4.638 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Ketapang menjadi wilayah dengan titik panas tertinggi (1.941 titik), diikuti Sanggau (679 titik), Sintang (345 titik), Melawi (325 titik), dan Kubu Raya (268 titik).

“Setidaknya, ada 1.900 titik hotspot, dengan tingkat kepercayaan tinggi,” katanya.

Sepanjang Agustus 2026, tim YIARI telah menyelamatkan 7 individu orangutan akibat karhutla di Ketapang, Kalbar. Foto: Dok. YIARI.

Peningkatan titik panas tercermin dari luasan lahan yang terindikasi terbakar. Secara akumulatif, luasan indikatif karhutla di Kalimantan Barat sepanjang Januari hingga 25 Agustus 2026 mencapai 38.310 hektar.

Ketapang menjadi daerah dengan luasan terbakar paling besar, mencapai 12.443 hektar. Disusul Kubu Raya (8.614 hektar), Mempawah (6.144 hektar), Kayong Utara (4.228 hektar), Sambas (2.318 hektar), Bengkayang (1.596 hektar), Landak (853 hektar), dan Sanggau (620 hektar).

Indra mengatakan tingginya karhutla di Ketapang juga tidak terlepas dari karakter wilayah tersebut berupa bentang alam gambut cukup luas.

“Rata-rata dipenuhi kawasan hidrologis gambut,” ujarnya.

Namun, kawasan gambut tersebut juga telah bersinggungan dengan berbagai perizinan konsesi.

“Dan sekarang, ada beberapa konsesi yang sebetulnya terbakar di Ketapang.”

Tampak satu individu orangutan dewasa sedang minum di sungai gambut area Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Menurut dia, kawasan gambut yang teridentifikasi terbakar berada pada gambut budidaya. Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan tata ruang yang terjadi dari waktu ke waktu.

“Gambut-gambut ini, dulunya ada yang berada di kawasan lindung. Kemudian karena tata ruangnya berubah, ada gambut lindung yang kemudian menjadi gambut budidaya dan diberikan pada konsesi. Ini sebetulnya perubahan tata ruang juga menjadi persoalan,” tegasnya.

 

*****

 

Kebakaran Gambut Kalbar Tak Kunjung Padam

Exit mobile version