- Masyarakat Pesisir Tangerang, Banten, seperti di Desa Dadap, hidup dalam kesusahan. Nelayan makin sulit dapatkan hasil laut. Dulu, nelayan Dadap mencari kerang hijau di alam tanpa harus budidaya. Seiring perubahan lanskap pesisir dan Teluk Jakarta, nelayan kini kesulitan mencari kerang di alam.
- Pesisir Dadap sebagai penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Mereka budidaya kerang hijau dengan metode keramba jaring apung, terbuat dari jeriken-jeriken plastik terikat mengitari perairan. Mayoritas keramba apung punya orang luar sebagai pemodal. Nelayan Dadap hanya menjadi buruh kupas dan mengurus budidaya itu.
- Perempuan pesisir turut terdampak kemerosotan pendapatan ekonomi keluarga nelayan. Fatimah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Tangerang mengatakan, perempuan harus memutar otak untuk mengelola keuangan keluarga. Mereka juga berinisiatif mengolah hasil tangkapan menjadi berbagai produk seperti ikan asin, lauk siap konsumsi, kerupuk, ikan, dan macam-macam produk UMKM lain.
- Kondisi sulit masyarakat pesisir Dadap tidak membuat generasi muda berdiam diri. Mereka terus menyuarakan persoalan-persoalan Kampung Dadap lewat festival musik dan seni yang digelar sejak 2020. Tahun ini, Festival Dadap sukses mereka gelar pada 18-19 Juli lalu, dengan mengangkat tema “Swasembada Pesisir End Climate Corruption”. Pelbagai pertunjukan, mulai dari video mapping di tanggul laut, pengamatan burung pesisir, hingga pertunjukan band Sukatani. Deddy Sopian, inisiator Festival Dadap bilang, istilah Swasembada Pesisir dalam tema festival merupakan sindiran terhadap pemerintah yang dinilai gagal memberikan kehidupan layak bagi masyarakat Dadap.
Tangan Ida, cekatan mengupas kerang hijau pagi itu. Perempuan pesisir Dadap, Tangerang, Banten ini memisahkan daging kerang dari cangkangnya lalu memasukkan ke kantong.
Sehari Ida bisa “ngopek kerang” 12–15 kilogram dengan upah Rp4.000 untuk sekilogram kerang. Dalam sehari, perempuan dua anak itu hasilkan uang Rp50.000–Rp60.000.
“Dari dulu orang Dadap ngopek kerang. Kalo banyak kerangnya hasilnya lebih besar lagi,” katanya saat ditemui Mongabay Indonesia medio Juli 2026.
Sepanjang perjalanan mengitari Kampung Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten, aktivitas “ngopek kerang” jadi rutinitas perempuan. Pagi hingga sore mereka sibuk mengupas kerang berkarung-karung.
Para lelaki memanen kerang dan merebus hingga matang, juga memasang dan merawat keramba jaring.
Dulu nelayan tangkap di laut, kini buruh keramba
Dadap sebagai penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Mereka budidaya kerang hijau dengan metode keramba jaring apung, terbuat dari jeriken-jeriken plastik terikat mengitari perairan.
Mayoritas keramba apung punya orang luar sebagai pemodal. Nelayan Dadap hanya menjadi buruh kupas dan mengurus budidaya itu.
Bikin keramba perlu modal besar, itu juga alasan nelayan lokal tak memiliki keramba kerang sendiri. Investasi awal untuk budidaya kerang hijau mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Dulu, nelayan Dadap mencari kerang hijau di alam tanpa harus budidaya. Seiring perubahan lanskap pesisir dan Teluk Jakarta, nelayan kini kesulitan mencari kerang di alam.
Rico saputra, nelayan Dadap, mengatakan, pembangunan di pesisir, termasuk reklamasi Teluk Jakarta merusak ekosistem laut. Aktivitas itu membuat laut jadi dangkal dan air tercemar.
Hutan mangrove, rumah bagi biota laut termasuk kerang hijau, juga turut tergusur pembangunan. Padahal, kata Rico, akar mangrove merupakan tempat berkembang biak ikan, kepiting, hingga rajungan.
Kerusakan ekosistem turut mengubah metode budidaya kerang hijau di Dadap.
Dulu, nelayan memakai metode bagan tancap bambu permanen. Kini mereka menggunakan keramba apung yang dapat berpindah bila kondisi perairan tidak lagi mendukung aktivitas budidaya.
Kalau sekitar tiga bulan kerang tidak berkembang karena kualitas air buruk, lokasi budidaya pindah ke perairan yang lebih jauh dan lebih baik.
“Sekarang keramba apung kerang sudah sampai ke ujung Pulau Jawa jauhnya, sekitar satu kilometer dari pesisir,” katanya kepada Mongabay Indonesia.
Daya lenting perempuan pesisir
Perempuan pesisir turut terdampak kemerosotan pendapatan ekonomi keluarga nelayan. Fatimah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Tangerang mengatakan, perempuan harus memutar otak untuk mengelola keuangan keluarga.
Kehidupan keluarga nelayan makin sulit. Fatimah bahkan mengkritik pembangunan tidak membawa keuntungan bagi masyarakat pesisir Dadap.
Dia bilang, perempuan pesisir melakukan pelbagai cara agar dapur keluarga tetap mengepul. “Ada yang bekerja mengupas kerang, jadi asisten rumah tangga, ngojek, berdagang keliling, hingga menjual hasil laut,” ucap Imah, sapaan akrabnya.
Mereka juga berinisiatif mengolah hasil tangkapan menjadi berbagai produk seperti ikan asin, lauk siap konsumsi, kerupuk, ikan, dan macam-macam produk UMKM lain.
Imah contohkan, ikan kecil seperti sangge dan samadar kurang pasar minati, mereka olah jadi kerupuk hingga bernilai ekonomi.
Menurut dia, usaha pengolahan itu memang tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan, tetapi cukup membantu pendapatan keluarga.
Banyak juga keluarga nelayan terjerat utang. Awalnya, mereka meminjam kepada bank keliling yang memberikan pinjaman dengan sistem pembayaran berkala mingguan.
Ketika utang tidak mampu mereka lunasi, kembali meminjam kepada bank keliling lain untuk menutup pinjaman sebelumnya.
Kondisi itu mendorong sebagian warga beralih kepada rentenir dengan bunga jauh lebih tinggi. “Kalau rentenir pinjam Rp1 juta harus kembalikan sebesar Rp1,3 juta dengan cara tunai. Kalau gak bisa bayar segitu, kita harus bayar bunganya doang Rp300.000, utang pokoknya tetap Rp1 juta.”
Kondisi perempuan pesisir juga makin parah dengan beban ganda karena kerusakan ekosistem laut dan krisis iklim. Mereka harus membersihkan rumah kala banjir rob datang setiap hari.
“Banjir datang otomatis rumah kami kemasukan sampah dan lumpur. Mestinya kami bisa cari uang, jadi harus menambah kerjaan bersihkan rumah,” ucap Imah.
Beban ganda itu, berdampak pada kesehatan mental perempuan pesisir. Ketika lelah dan letih terus menumpuk membuat kondisi emosional mereka tidak stabil.
Kondisi demikian, kata Imah, membuat perempuan mudah emosi ketika anak-anak mereka meminta perhatian tertentu.
“Ketika anak nangis, tambah ruwet karena saya sudah lelah. Jadi akhirnya dampaknya ke anak juga.”
Berbagai tantangan nelayan
Kerusakan ekosistem laut juga berdampak pada hasil tangkapan nelayan seperti Rico. Sekali melaut dia hanya mampu membawa pulang paling banyak lima kilogram rajungan. Kalau dulu, dia bisa bawa tangkapan sampai 10 kilogram.
“Dulu, pendapatan paling sedikit Rp500.000 per hari hingga Rp1 juta. Sekarang dapat Rp300.000 aja udah sangat sulit,” ujar pria 44 tahun ini.
Rico biasa menangkap rajungan dengan cara menyelam atau spearfishing hingga kedalaman sekitar 10-20 meter. Dia pakai peralatan sederhana seperti senter, masker selam, tombak, dan wadah hasil tangkapan.
Dia bilang, kondisi perairan mempengaruhi aktivitas penyelaman dan keberadaan ikan. Empat tahun terakhir ini, perairan berubah drastis–air laut kerap berubah warna menjadi merah dengan partikel kecil menyerupai butiran beras.
Dia mengatakan, perubahan kualitas air menyebabkan populasi ikan menurun dan berpindah-pindah.
Dahulu, satu lokasi penangkapan dapat dimanfaatkan hingga sekitar seminggu, karena ikan menetap di kawasan itu. Kini, lokasi yang sama hanya menghasilkan tangkapan selama satu hari. Nelayan harus berpindah ke lokasi lain.
Faktor iklim juga mempengaruhi aktivitas nelayan penyelam. Menurut Rico, cuaca saat ini sulit diprediksi. Ketika Mongabay Indonesia temui Juli lalu, ia sudah tiga hari tidak melaut karena cuaca buruk.
“Di darat memang sedang kemarau, tetapi di laut angin kencang dan gelombang tinggi.”
Suja’i, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tangerang, mengatakan, perbandingan tangkapan nelayan dulu dan sekarang. Pada periode 2007–2010, nelayan sekali melaut minimal dapat 10 kilogram rajungan, bahkan mencapai 25–30 kilogram ketika musim tertentu.
Hasil itu, hanya dengan menebar dua rangka jaring berukuran masing-masing 200 meter–yang terendam di laut semalaman.
“Kalau dibandingkan sekarang, paling dapat dua kilo[gram]. Untuk mencapai dapat 10 kilogram udah sulit,” ujar Suja’i.
Dia bilang, banyak spesies laut yang dulu jadi tangkapan utama nelayan Dadap, kini sudah jarang bahkan menghilang. Pelbagai biota laut itu antara lain, kepiting batu, cumi-cumi, ikan kembung, tenggiri, tongkol, hingga layur.
Pembangunan di pesisir Dadap juga menghambat akses para nelayan. Suja’i mengatakan, jalur menuju lokasi penangkapan makin panjang hingga nelayan harus memutar lebih jauh.
Akibatnya, biaya operasional meningkat karena waktu tempuh lebih lama dan konsumsi bahan bakar bertambah.
“Dulu, 15 menit jarak tempuh. Sekarang 30–60 menit paling cepat. Dulu kebutuhan solar lima liter pulang-pergi; sekarang 10 liter. Naik dua kali lipat.”
Kondisi sulit membuat nelayan beralih profesi jadi buruh harian. Tarman, misal, semula nelayan jaring–kini bekerja di pengolahan rajungan.
Tiga tahun terakhir ini, Tarman merebus dan mengupas rajungan milik pengepul besar. Dia bekerja mulai pukul 4.00 subuh hingga menjelang magrib, dengan upah Rp120.000–Rp150.000 tergantung banyaknya olahan rajungan.
“Sekarang susah jadi nelayan, banyak reklamasi jadi jauh. Kalau dulu enak deket melaut,” ucapnya.
Bersuara lewat Festival Dadap
Kondisi sulit masyarakat pesisir Dadap tidak membuat generasi muda berdiam diri. Mereka terus menyuarakan persoalan-persoalan Kampung Dadap lewat festival musik dan seni yang digelar sejak 2020.
Tahun ini, Festival Dadap sukses mereka gelar pada 18-19 Juli lalu, dengan mengangkat tema “Swasembada Pesisir End Climate Corruption”. Pelbagai pertunjukan, mulai dari video mapping di tanggul laut, pengamatan burung pesisir, hingga pertunjukan band Sukatani.
Deddy Sopian, inisiator Festival Dadap bilang, istilah Swasembada Pesisir dalam tema festival merupakan sindiran terhadap pemerintah yang dinilai gagal memberikan kehidupan layak bagi masyarakat Dadap.
Idealnya, pemerintah memberikan akses pelayanan publik seperti air bersih dan turut mengelola pesisir dengan baik. Namun, katanya, masyarakat harus mandiri memenuhi kebutuhan tersebut.
“Swasembada pesisir dalam konteks Dadap itu mulai dari tata kelola lingkungan tidak diperhatikan. Solusi krisis iklim seperti banjir rob itu tidak maksimal.”
Dia contohkan, pemerintah bangun tanggul laut untuk atasi banjir rob pada 2024 tetapi tak benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Dadap. Rumah-rumah warga, katanya, masih tetap terendam banjir walau sudah ada tanggul laut.
Lewat festival musik dan seni ini, pemuda Dadap juga mengkritik pembangunan pesisir yang mengabaikan hak-hak masyarakat. “Tata kelola itu diatur bukan untuk kepentingan warga, tanpa melibatkan warga.”
Deddy bercerita awal muncul inisiatif Festival Dadap. Ketika itu, nelayan gencar memprotes pembangunan di pesisir Dadap. Lalu dua nelayan kena tangkap karena dianggap memprovokasi warga.
Peristiwa itu lalu mendorong pemuda dan masyarakat bersolidaritas melalui sebuah festival. Kini, Festival Dadap bertransformasi menjadi media perlawanan masyarakat terhadap berbagai ketimpangan sosial.
Deddy bilang, festival musik dan seni itu juga dapat menjadi sarana edukasi bagi anak muda agar peduli dengan lingkungan sekitar. Anak muda, katanya, harus paham persoalan yang dihadapi Kampung Dadap.
Deddy lahir dan besar di Dadap. Dia merasakan perubahan besar yang tanah kelahirannya alami.
Dulu, dia kerap bermain di pesisir dan hutan mangrove.
“Sekarang, mangrove sudah tidak ada. Sudah penuh bangunan-bangunan, entah untuk kepentingan siapa,” ujarnya.
Dia berharap, Festival Dadap bisa terus jadi wadah perlawanan masyarakat hingga ketimpangan sosial benar-benar sirna dari Kampung Dadap.
“Kita akan semampu mungkin terus bersuara sampai kita mendapatkan keadilan.”
*****
Para Perempuan Pesisir Lombok Hasilkan Cuan dari Limbah Cangkang Kepiting