Mongabay.co.id

Ekspor Monyet Ekor Panjang Tidak Sejalan dengan Prinsip Kesejahteraan Satwa Liar

  • Rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan penelitian dinilai tidak sejalan dengan prinsip kesejahteraan satwa liar.
  • Jakarta Animal Aid Network (JAAN) menolak pemanfaatan Macaca fascicularis dalam bentuk apapun.
  • Penolakan ini terutama berkaitan dengan kaidah kesejahteraan hewan. Persoalan tak hanya muncul saat monyet berada di laboratorium, tapi sejak ditangkap, dipindahkan, ditangkarkan, hingga dikirim ke lokasi penelitian.
  • Meski macaca punya kemiripan dengan manusia dari sisi genetik, anatomi, fisiologi, dan perilaku, namun penggunaannya sebagai hewan penelitian tetap perlu mempertimbangkan status konservasi. Perkembangan non-animal models atau new approach methodologies, perlu jadi bagian arah penelitian ke depan.

Apakah rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan penelitian, telah mempertimbangkan prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa liar?

Benvika, Co-Founder sekaligus National Director Jakarta Animal Aid Network (JAAN), mengatakan pihaknya pada prinsipnya menolak pemanfaatan Macaca fascicularis.

“Kami selalu menolak pemanfaatan monyet ekor panjang dalam bentuk apapun,” jelasnya, usai diskusi Mongabay Indonesia bertema ‘Menguak Rantai Eksploitasi Alam Indonesia’ di Jakarta, Rabu (19/8/26).

Penolakan ini terutama berkaitan dengan kaidah kesejahteraan hewan. Persoalan tak hanya muncul saat monyet berada di laboratorium, tapi sejak ditangkap, dipindahkan, ditangkarkan, hingga dikirim ke lokasi penelitian.

Satu alasan pemerintah menggunakan skema budidaya adalah memastikan monyet yang diekspor tak berasal dari tangkapan alam. Namun, Benvika mempertanyakan sejauh mana penangkaran itu benar-benar berjalan dalam skala besar, tanpa mengambil individu dari alam.

Penangkaran satwa sosial seperti macaca yang hidup dalam kelompok dengan struktur sosial tertentu, bukan perkara sederhana. Keterbatasan ruang bisa mempengaruhi perilaku dan kondisi psikologisnya.

“Kalau penangkaran, saya pikir jarang yang berhasil.”

Monyet ekor panjang akan diekspor untuk kebutuhan penelitian, yang rencana ini dinilai tidak sejalan dengan prinsip penerapan kesejahteraan satwa liar. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Daya jelajah luas

Di alam, monyet ekor panjang punya ruang jelajah luas. Kondisinya berbeda ketika mereka ditempatkan di kandang.

“Mereka akan cepat stres. Apalagi, kalau penangkaran jangka panjang untuk kebutuhan ekspor,” jelasnya.

Persoalan berikutnya, keterlacakan asal-usul. Pemerintah menyatakan, monyet yang diekspor tak boleh berasal dari tangkapan alam. Namun, bagaimana mekanisme pengawasan dijalankan? Jika permintaan monyet meningkat, masyarakat bisa menangkapnya dari alam.

“Bila pihak penangkar melakukan pembelian, itu bisa memancing masyarakat untuk memasuki kawasan konservasi.”

Dalam situasi tersebut, masyarakat bisa melihat penangkapan monyet sebagai aktivitas menguntungkan. Untuk itu, memastikan keterlacakan (traceabelity) jadi hal sangat penting.

Isu ekspor juga tak dapat dipisahkan dari persoalan hubungan manusia dan macaca di sejumlah wilayah. Monyet kerap dianggap pengganggu saat masuk permukiman atau mengambil makanan manusia.

Benvika juga tak sepakat bila konflik dianggap sebagai bukti populasi yang berlebih. Menurutnya, istilah konflik perlu dilihat dari sudut pandang lebih luas.

“Satu spesies pun, kalau keluar dan masuk atau mengacak-acak, itu sudah konflik atau interaksi negatif. Harus diingat, manusia juga telah mengambil banyak ruang hidup macaca,” jelasnya.

Monyet ekor panjang masih diperdagangkan di sejumlah pasar hewan di Indonesia. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Populasi berlebih

Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menjelaskan sejumlah penelitian pada 2024-2026, terutama wilayah Sumatera, menunjukkan kepadatan monyet ekor panjang, yakni sekitar 5-9 individu per hektar.

Tetapi, angka tersebut tidak bisa disimpulkan bahwa populasi primata dikenal dengan kethek ini aman atau berlebih. Ukuran kelompok di setiap habitat sangat bervariasi. Bahkan, terdapat kelompok yang jumlah kurang 15 individu.

“Untuk pertahankan populasi, satu kelompok monyet ekor panjang perlu jumlah individu minimal,” jelasnya melalui keterangan tertulis, Minggu (23/8/26).

Populasi total yang besar dalam satu habitat, belum tentu menunjukkan kondisi aman apabila individu-individu tersebut tersebar ke dalam banyak kelompok kecil.

Daya tahan kelompok dengan jumlah individu sedikit justru dapat menjadi rendah. Karenanya, penilaian populasi perlu mempertimbangkan bukan hanya jumlah keseluruhan, tetapi juga struktur dan ukuran masing-masing kelompok.

Fahma juga mengingatkan penggunaan istilah ‘hama’ yang perlu hati-hati.

Dalam jumlah populasi kecil, monyet bisa dianggap sebagai pengganggu apabila habitatnya tidak mencukupi atau mengalami gangguan.

“Sebaliknya, populasi besar tidak otomatis jadi hama apabila habitat alaminya mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.”

Monyet ekor panjang yang biasanya terlihat berkelompok. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Meski macaca punya kemiripan dengan manusia dari sisi genetik, anatomi, fisiologi, dan perilaku, namun penggunaannya sebagai hewan penelitian tetap perlu mempertimbangkan status konservasi. Perkembangan non-animal models atau new approach methodologies, perlu jadi bagian arah penelitian ke depan.

“Harus ada upaya untuk mengurangi dan menggantikan penggunaan monyet ekor panjang dengan metode lain.”

Fahma berpendapat, kebutuhan penelitian terhadap macaca tak serta merta ekspor dari Indonesia terus dilakukan. Penggunaan primata non-manusia perlu dipertimbangkan hati-hati, termasuk melihat perkembangan metode penelitian yang bisa mengurangi ketergantungan terhadap hewan.

Ekspor dari Indonesia mungkin bisa dilakukan dengan pembatasan jumlah individu dan sumber populasi yang ketat. Indonesia menempatkan M. fascicularis dalam CITES Appendix II, sehingga perdagangan internasionalnya dikendalikan melalui sistem kuota dan Non-Detriment Finding. Monyet ekor panjang yang akan diekspor, harus dipastikan berasal dari populasi penangkaran terstandar dengan pengawasan ketat, tanpa memberikan tekanan terhadap populasi di alam liar.

 

*****

 

Mengapa Monyet Ekor Panjang Masih Diperdagangkan?

Exit mobile version