Mongabay.co.id

Air Telaga Merdada Kritis Diterjang El Nino Godzilla

  • Air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, kritis menghadapi kemarau El Nino Godzilla.
  • Telaga seluas 25 hektar itu diapit Bukit Pangonan dan Bukit Semurup, menjadi tumpuan petani, terutama petani kentang, saat kemarau melanda.
  • Dibandingkan rata-rata klimatologis, musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Jawa Tengah datang lebih awal. Puncaknya, terjadi Agustus.
  • Stasiun Klimatologi Jawa Tengah merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dengan kondisi iklim yang diprediksi terjadi. Petani diminta memilih varietas yang tahan kering.

Suhu udara 10 derajat Celcius, tidak menyurutkan para petani mendatangi Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Telaga seluas 25 hektar itu diapit Bukit Pangonan dan Bukit Semurup, menjadi tumpuan petani saat kemarau. Tahun ini ketika El Nino Godzilla menerjang, mereka mulai khawatir karena volume airnya berkurang.

Setiap hari, ribuan liter air dari telaga ini dialirkan ke areal pertanian di dataran tinggi Dieng.

“Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” kata Zaenuri (45), petani asal Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Minggu (16/8/26).

Selain Zaenuri, masih ada 200 petani dari tiga desa yakni Karangtengah, Butuh, dan Bakal yang menggantungkan irigasi dari Telaga Merdada.

“Setiap pagi, saya datang ke sini.”

Air diperlukan karena sumber pengairan untuk lahan pertaniannya mulai mengering.

Sudah dua bulan, dia menyedot air dari Telaga Merdada. Untuk lahan kentang sekitar 2.500 meter persegi, Zaenuri mengoperasikan pompa yang membutuhkan tujuh liter pertalite per hari. Harga per liter sekitar Rp11.000.

“Sepertinya, air telaga hanya cukup dua bulan mendatang.”

Hanif (41), petani Desa Buntu, juga telah menggunakan pompa selama sekitar dua bulan. Tanpa penyedotan air, tanaman kentang berisiko kekurangan air.

“Kebutuhan air tidak bisa ditunda. Kentang harus mendapat pasokan berkala agar produktivitas tidak turun sebelum panen,” jelasnya, Minggu (16/8/26).

Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, yang airnya berkurang drastis akibat kemarau. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.

Farid (44), petani Karangtengah, mulai memanfaatkan air Telaga Merdada sejak Mei. Dia menggunakan tiga mesin pompa untuk mengairi lahannya seluas satu hektar.

“Semoga musim kering segera berakhir karena penurunan permukaan telaga mulai terlihat.”

Kasno (51), petani Karangtengah, mulai menyedot air Telaga Merdada pertengahan Juni. Air yang dipompa harus dialirkan sejauh satu kilometer ke kebun kentangnya.

Setiap kali pompa dioperasikan, Kasno butuhkan lima liter solar yang dibeli dari pengecer seharga Rp10.000. Untuk lahan setengah hektar, diperlukan 15 kali penyiraman hingga tanaman memasuki masa panen.

“Ongkos produksi lebih tinggi saat kemarau dibandingkan musim penghujan,” ujarnya.

Para petani kentang menyedot air di Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk mengairi kebun mereka. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.

Kondisi kritis 

Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, mengatakan hasil analisis data iklim terbaru menunjukkan, dibandingkan rata-rata klimatologis, musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Jawa Tengah datang lebih awal. Puncaknya, terjadi Agustus.

Durasi musim kemarau diprediksi antara 16–18 dasarian hingga 19–21 dasarian, atau sekitar 5-7 bulan yang telah dimulai sejak Mei-Juni lalu.

“Artinya, kemarau tahun ini diperkirakan bisa terjadi hingga Oktober-November mendatang.”

Stasiun Klimatologi Jawa Tengah merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dengan kondisi iklim yang diprediksi terjadi. Petani diminta memilih varietas yang tahan kering.

“Pengelolaan cadangan air menjadi priorotas,” ujarnya.

Telaga Merdada menjadi tumpuan petani saat kemarau. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.

Telaga Merdada disebut menghadapi tekanan ekologis akibat aktivitas pertanian intensif di kawasan sekitarnya.

Riset yang dilakukan Anindya Kusumawati dan L.W. Santosa dari Fakultas Geografi UGM bersama S. Hadisusanto dari Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menjelaskan penggunaan pupuk pada lahan kentang berpotensi meningkatkan kandungan nutrien di badan air dan memicu eutrofikasi atau pengayaan nutrien berlebihan di danau.

“Penggunaan pupuk secara intensif dan aktivitas pertanian berlebihan dapat mengekspos ekosistem air tawar di Danau Merdada sehingga mengakibatkan eutrofikasi.”

Tata guna lahan di sekitar Telaga Merdada perlu dilakukan berdasarkan daya dukung lingkungan. Zonasi kawasan dan penerapan regulasi menjadi penting guna menjaga keberlanjutan ekosistem telaga.

“Perencanaan penggunaan lahan, seperti zonasi, sehubungan dengan daya dukung danau dan peraturan pokok penting dilaksanakan,” jelas penelitian tersebut.

Referensi:

Kusumawati, A., Santosa, L. W., & Hadisusanto, S. (2010). Kajian status trofik sebagai dasar strategi penataan lingkungan di Telaga Merdada. Majalah Geografi Indonesia, 24(1), 10–25. https://journal.ugm.ac.id/mgi/article/view/13338

 

*****

 

El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende

Exit mobile version