Mongabay.co.id

Populasi Orangutan Tapanuli Sekitar 716 Individu, Apakah Baik-baik Saja?

Habitat orangutan tapanuli di kawasan hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, berada sekitar 32 km arah barat dari Batang Toru. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

  • Jumlah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di alam liar saat ini diperkirakan sekitar 716 individu. Estimasi tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan sepanjang 2021–2023 di seluruh bentang alam Batang Toru, Sumatera Utara.
  • Di Batang Toru, peneliti menyusuri 57 kilometer transek dan mencatat 330 sarang, yang dianalisis menggunakan distance sampling dan pemodelan spasial untuk memperkirakan populasi.
  • Populasi orangutan tapanuli diperkirakan 716 individu yang seluruhnya hidup di bentang alam Batang Toru seluas 102.185 hektar. Sebanyak 514 individu (72 persen) berada di Batang Toru Barat, 159 individu di Batang Toru Timur, dan 43 individu di Sitandiang–Sibualbuali, dengan kepadatan rata-rata 0,70 individu per kilometer persegi.
  • Para peneliti juga mengingatkan, estimasi 716 individu belum memperhitungkan dampak Siklon Senyar pada akhir 2025. Bencana tersebut merusak sekitar 8.303 hektar hutan di Batang Toru Barat dan sebuah studi pada 2026 memproyeksikan sekitar 33–58 orangutan tapanuli mati akibat longsor, pohon tumbang, dan banjir.

Jumlah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di alam liar saat ini diperkirakan sekitar 716 individu. Estimasi tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan sepanjang 2021–2023 di seluruh bentang alam Batang Toru, Sumatera Utara.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Global Ecology and Conservation edisi 20 Juni 2026, berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023.”

Survei yang dipimpin Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman itu, menggunakan 208 jalur transek sarang sepanjang 198 kilometer, di habitat orangutan sumatera dan orangutan tapanuli.

Di Batang Toru, peneliti menyusuri 57 kilometer transek dan mencatat 330 sarang, yang dianalisis menggunakan distance sampling dan pemodelan spasial untuk memperkirakan populasi.

“Hasilnya, populasi orangutan tapanuli diperkirakan 716 individu yang seluruhnya hidup di bentang alam Batang Toru seluas 102.185 hektar. Sebanyak 514 individu (72 persen) berada di Batang Toru Barat, 159 individu di Batang Toru Timur, dan 43 individu di Sitandiang–Sibualbuali, dengan kepadatan rata-rata 0,70 individu per kilometer persegi,” tulis Adhi dan kolega.

Dibandingkan estimasi 2011 sekitar 767 individu, jumlah tersebut menunjukkan penurunan.

“Namun, perbandingan harus dilakukan hati-hati karena metode dan cakupan survei sebelumnya berbeda.”

Penelitian ini juga menegaskan orangutan tapanuli memiliki demographic buffer yang sangat kecil, sehingga kematian sekecil apapun dapat mengancam kelangsungan populasi.

“Kepadatan orangutan sangat bergantung pada hutan yang masih utuh, sementara tekanan manusia seperti perambahan, konflik, perburuan, dan hilangnya habitat tetap menjadi ancaman utama.”

Riset menjelaskan, sekitar 78,6 persen populasi berada di kawasan hutan lindung, hanya 9,5 persen di kawasan konservasi. Sisanya, di hutan produksi dan areal penggunaan lain (APL) yang rentan terhadap alih fungsi lahan.

“Strategi konservasi harus berfokus pada zero additional mortality atau mencegah setiap kematian orangutan.”

Para peneliti juga mengingatkan, estimasi 716 individu belum memperhitungkan dampak Siklon Senyar pada akhir 2025. Bencana tersebut merusak sekitar 8.303 hektar hutan di Batang Toru Barat dan sebuah studi pada 2026 memproyeksikan sekitar 33–58 orangutan tapanuli mati akibat longsor, pohon tumbang, dan banjir.

“Populasi orangutan tapanuli saat ini sangat mungkin jumlahnya di bawah 716 individu,” jelas peneliti.

Orangutan tapanuli berada di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Peringatan bagi konservasi

Syafrizaldi Jpang, Direktur Eksekutif Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL–OIC), menyebut hasil survei tersebut merupakan peringatan keras masa depan orangutan tapanuli.

“Ini peringatan yang harus dijawab dengan tindakan nyata. Dengan data ini, kita mengetahui secara pasti tantangan yang dihadapi,” jelasnya, Sabtu (18/7/26).

Publik perlu memahami, angka 716 individu menggambarkan kondisi populasi sebelum bencana besar yang melanda Batang Toru pada November 2025.

“Artinya, populasi saat ini sangat mungkin lebih buruk dari jumlah tersebut.”

Indonesia memiliki perangkat konservasi cukup lengkap, mulai patroli lapangan, penyelamatan satwa, rehabilitasi, penelitian, hingga berbagai lembaga konservasi yang bekerja di tingkat tapak.

Namun, ancaman kerusakan habitat akibat ekspansi infrastruktur, pembukaan kawasan hutan, hingga aktivitas pertambangan terus mengancam. Perdagangan satwa liar juga merupakan persoalan serius. Setiap bayi orangutan yang diperdagangkan hampir selalu diawali dengan pembunuhan induknya di alam.

“Hasil survei ini dapat dijadikan dasar evaluasi kebijakan tata ruang, pembangunan infrastruktur, pemberian izin, hingga aktivitas lain yang berpotensi mengurangi kualitas habitat orangutan tapanuli,” ujarnya.

Orangutan tapanuli yang habitatnya terancam. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Bukan kabar baik

Onrizal, Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), menjelaskan estimasi 716 individu orangutan tapanuli bukan kabar baik. Secara ekologis spesies tersebut berada di ambang krisis.

“Konektivitas habitat sama pentingnya dengan jumlah individu.”

Namun, angka pasti belum dapat ditentukan karena estimasi populasi (645–792 individu) maupun proyeksi dampak Siklon Senyar (18–120 individu, dengan nilai tengah 58) sama-sama memiliki rentang ketidakpastian.

“Diperlukan survei pascabencana dengan metode yang sama untuk mengukur perubahan populasi secara ilmiah.”

Batang Toru terus menghadapi tekanan pembukaan lahan, pembangunan jalan, aktivitas ekstraktif, konflik manusia-orangutan, dan perburuan.

“Dampak pembangunan tidak hanya diukur dari luas hutan yang hilang, tetapi juga terputusnya tajuk hutan, terbukanya akses baru, dan meningkatnya fragmentasi habitat. Selain itu, konservasi juga harus melibatkan penyelesaian persoalan sosial di sekitar hutan.”

Hutan Batang Toru, Sumatera Utara, merupakan habitat orangutan tapanuli dan juga siamang beserta primata lainnya. Foto drone: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Onrizal mengingatkan, orangutan tapanuli hampir tidak memiliki demographic buffer karena betina hanya melahirkan satu anak setiap 7-9 tahun. Tambahan kematian satu persen per tahun, dapat mengancam kelangsungan populasi.

“Hasil survei ini harus menjadi dasar evaluasi tata ruang Batang Toru. Pemerintah perlu menjaga tidak hanya tutupan hutan, tetapi juga struktur hutan, pohon pakan, dan koridor penghubung antarblok habitat.”

Dia optimis, orangutan tapanuli dapat diselamatkan karena habitat penting dan individu reproduktif masih tersisa. Prioritas yang harus dilakukan adalah menghentikan fragmentasi habitat, mewujudkan nol kematian orangutan, menegakkan hukum, serta membangun program pemulihan habitat dan populasi yang memiliki target.

“Tujuan kita bukan sekadar mencegah kepunahan, tetapi memastikan populasi orangutan tapanuli cukup besar, saling terhubung, mampu menghadapi tekanan pembangunan dan krisis iklim,” tandasnya.

 

Referensi:

Hadi, A. N., Siregar, J. P., Anugrah, N., Kuswanda, W., Manalu, J. H. B., Nasution, N., … & Buckley, B. J. (2026). Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021-2023. Global Ecology and Conservation, e04302. https://doi.org/10.1016/j.gecco.2026.e04302

 

*****

 

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Exit mobile version